
Melupakan...
Adalah hal paling tersulit yang pernah Luis lakukan di dalam hidupnya. Dan tidak terasa, ini adalah tahun ketujuh sejak saat itu. Hari-hari tidak penting yang berisi hal-hal yang membosankan.
Kalau saja manusia bisa membunuh lalu mengembalikan waktu, mungkin hidupnya sekarang tidak akan membosankan seperti ini.
Yah, setidaknya itu yang dirasakan oleh Luis sejak malam itu. Lebih tepatnya sejak wanita itu pergi dari hidupnya. Dan hidup yang dia jalani sekarang tak lagi terasa sama.
Luis memijat kepalanya. Dia sangat lela, dan siapa lagi biang keroknya jika bukan tumpukan dokumen gila-gilaan di depannya. Siapapun yang baru melihatnya saja pasti akan muntah, terkecuali untuk Luis yang sudah terbiasa.
"Tuan, rapat pemegang saham akan segera dimulai, sebaiknya Anda segera bergegas." Kris masuk dan mengalihkan perhatian Luis.
"Aku sedang kurang enak badan, sebaiknya kau saja pergi menggantikan ku." Ucapnya.
Kris mengangguk. Dia tidak bisa menolak perintah Luis dan beralasan, lagi pula Kris sudah sangat terbiasa menggantikan Luis menghadiri rapat penting. "Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu," Luis membungkuk dan pergi begitu saja.
Selepas kepergian Kris, hanya tersisa Luis satu-satunya orang di ruangan tersebut. Dia mengambil bingkai foto yang ada diatas meja kerjanya, foto yang selalu berada di tempat yang saja sejak 7 tahun yang lalu.
Sambil tersenyum getir. Luis meraba permukaan foto itu. "Jika saja malam itu aku menahanmu, apakah kau tetap memutuskan untuk pergi?" Ucap Luis tanpa melepaskan pandangannya dari foto tersebut.
Kemudian Luis meletakkan foto itu di tempat semula. Dia bangkit dari kursinya dan melenggang pergi. Mungkin jalan-jalan keluar mencari angin segar akan membuatnya lebih baik.
-
-
Sepasang mata Hazel itu terus menatap pada seorang bocah berusia 6 tahun yang sedang sibuk dengan laptop di pangkuannya. Meskipun usianya baru 6 tahun, tapi anak laki-laki itu memiliki kemampuan yang tak dimiliki oleh kebanyakan anak seusianya.
Tatapannya sendu. Membuat sosok paruh baya yang duduk disampingnya lantas memicingkan mata. "Papa perhatikan dari tadi kau terus menatap, Nathan. Apa yang membuatmu terlihat begitu sedih, Jess?" Tanya paruh paya itu pada putrinya 'Jesslyn'
__ADS_1
Jesslyn menggeleng. "Tidak ada, Pa. Aku hanya merasa kasihan pada anak itu, sejak bayi dia tumbuh dan besar tanpa ayahnya. Terkadang aku melihat kesedihan dimatanya saat melihat anak lain bersama ayahnya," Tutur Jesslyn.
Membicarakan tentang ayah Luis, seketika Tuan Erik teringat sesuatu. Sebenarnya dia ingin sekali bertanya pada Jesslyn, tapi bibirnya selalu terkunci dan enggan untuk terbuka, dia takut menyinggung perasaan putrinya.
"Jess, katakan dengan jujur, siapa sebenarnya ayah kandung Nathan? Sudah sejak lama Papa ingin menanyakan hal ini padamu, tapi tidak pernah sampai." Tuan Eric menatap putrinya dengan serius.
Dari ayahnya, lalu pandangan Jesslyn bergulir pada putranya. Jesslyn mengambil napas panjang dan menghelanya. Tidak ada gunanya dia terus merahasiakan siapa ayah kandung Nathan. Tuan Eric adalah ayahnya, dia berhak tau siapa ayah biologis dari cucunya.
"Luis Qin, CEO dari Qin Empire!!" Jawab Jesslyn pada akhirnya.
Itu dia.. Itu yang Nathan tunggu-tunggu, sudah sejak lama dia ingin mengetahui siapa ayah kandungnya, tapi Jesslyn selalu menolak ketika dia bertanya.
Dan hari ini, Nathan akhirnya mengetahui siapa ayah kandungnya. Dengan begitu, keinginannya untuk menyatukan kembali orang tuanya semakin terbuka lebar.
Sementara itu, Tuan Eric tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya setelah dia mengetahui siapa pria yang dulu pernah berhubungan dengan putrinya. Dia sangat syok, saat mengetahui jika ayah kandung dari cucunya bukanlah orang sembarangan.
"Jesslyn, jangan main-main apalagi mengarang cerita. Bagaimana jika ada orang yang mendengarnya dan menganggapmu gila?!"
Kemudian dia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto kebersamaannya dengan Luis agar sang ayah percaya. "Ini adalah salah satu buktinya, jika aku dan dia pernah bersama." Tuan Eric mengambil ponsel itu dari tangan Jesslyn dan mendesah berat.
"Lalu kenapa dia tidak pernah datang menemui putranya? Apa dia bukan tipe pria yang bertanggung jawab?!"
"Seperti yang aku katakan sebelumnya, hadirnya Nathan karena sebuah kecelakaan. Jangankan Luis, bahkan aku sendiri tidak menduga jika Nathan akan hadir. Saat itu kami sedang mabuk berat, jadi Luis tidak mengingat apapun dan aku juga tidak mengatakan apapun perihal yang terjadi makan itu." Tutur Jesslyn.
"Saran, Papa. Sebaiknya segera temui dia dan beritahu tentang Nathan, dia adalah ayah biologisnya dan ia berhak tau tentang putranya."
Jesslyn menggeleng. "Aku belum siap untuk bertemu dengannya, Pa. Aku belum siap menghadapinya," Jesslyn menundukkan kepalanya.
Saat ini batinnya bergejolak hebat. Sebenarnya Jesslyn sangat merindukan Luis, tapi dia tidak pernah memiliki keberanian untuk menemuinya, karena ia sendiri yang memutuskan untuk pergi sebelum kontrak pernikahan mereka berakhir.
__ADS_1
"Pa, aku lelah. Aku istirahat dulu." Jesslyn bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.
Tidak ada yang perlu dipersalahkan, karena sejak awal hubungan mereka adalah sebuah kesalahan. Hubungan yang berawal dari saling menguntungkan justru menumbuhkan benih-benih cinta yang tidak seharusnya ada.
"Mi, tunggu!!" Seru Nathan menghentikan langkah Jesslyn. "Boleh aku pinjam ponsel, Mami? Ponselku baterainya habis dan aku perlu menghubungi salah satu temanku."
Jesslyn menatap putranya itu lalu mengangguk. Dia memberikan ponselnya pada Nathan. "Kau pakai saja, setelah selesai langsung simpan di kamar, Mami." Jesslyn mengusap kepala Nathan dan melenggang pergi.
Tak lama setelah kepergian Jesslyn, seorang pria menghampiri cucu dan kakek itu. Dia membawa coklat dan mainan-mainan mahal.
"Mau apa Paman naga datang lagi kesini? Menemui, Mami?! Dia sedang istirahat dan tidak bisa diganggu. Jadi sebaiknya Paman pergi saja!!" Dan kedatangannya tak disambut baik oleh Nathan.
"Astaga, Nathan. Tidak bisakah kau berbicara lebih lembut sedikit. Kenapa ucapanmu sangat pedas seperti cabe Carolina Reaper?!" Ucap pria itu.
"Kau terlalu berisik!! Pergi sana, jangan ganggu Mamiku lagi," usir Nathan dan pergi begitu saja. Nathan tidak suka jika ada pria lain yang mengganggu Ibunya.
"Ayolah, Nathan, jangan begitu. Paman punya niat baik loh, meskipun kau bukan putra kandung Paman, tapi aku bersedia menjadi ayahmu. Lagipula kau tidak tau siapa ayah kandungmu," pria itu mencoba membujuk Nathan supaya mau menerima dirinya. "Dan lihatlah, apa yang Paman bawakan untukmu!!"
"Aku bukan anak kecil lagi, Paman!! Jadi aku tidak perlu mainan-mainan itu!! Dan satu hal lagi, jangan pernah menghina ayahku. Meskipun kami belum pernah bertemu, tapi aku yakin jika dia bukan pria br*ngsek!! Karena aku sendiri yang akan menyatukan kembali mami dengannya. Jadi jangan banyak berharap!!"
-
-
Bersambung.
-Spoiler Bab Selanjutnya-
"Datanglah ke Inggris, ada seseorang yang ingin sekali bertemu denganmu!!"
__ADS_1
"Jadi kau yang memintaku untuk datang, siapa kau ini sebenarnya, Nak?!"
"Aku adalah kecebong yang pernah kau tanam di rahim ibuku. Aku, adalah putra kandungmu!!"