Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Akhir Hidup Marissa


__ADS_3

"A...Apa kalian bilang. Dia melakujannya demi wanita itu?" Wanita itu tidak dapat menahan keterkaitannya setelah mendengar apa yang di sampaikan oleh kedua orang suruhannya. Marissa menggelengkan kepalanya. kenapa Nathan harus nekat demi Vivian?


Sungguh Marissa tidak pernah menduga jika Nathan akan berbuat sampai sejauh ini demi Vivian. Bahkan Nathan rela menjadi iblis hanya untuk wanitanya


"Tidak... Ini tidak benar, Nathan sudah gila. Dia gila, dia gila!!" Teriak Marissa histeris.


Wanita itu turun dari mobil dan berlari kejalan raya. Dia benar-benar terlihat kacau sekali, Marissa menggeleng sambil komat-kamit tidak jelas. Marissa tidak bisa menerima pengorbanan Nathan untuk Vivian.


"Seharusnya aku, kenapa harus wanita itu. Nathan seharusnya hanya mencintaiku, tapi kenapa malah wanita j*lang itu yang mendapatkan cintanya. Nathan milikku, dia milikku!!" Teriak Marissa histeris.


Beberapa pejalan kaki yang berpapasan dengan menyingkir dan menghindar karena mereka berpikir jika Marissa adalah perempuan yang kurang waras. Marissa menghentikan salah seorang pejalan kaki.


"Tuan, Nathan mencintaiku kan. Dia mencintaiku,"


"Apa-apaan kau ini. Lepaskan, jangan pegang-pegang!!"


Lalu Marissa menghentikan pejalan kaki lainnya dan dia mengatakan hal-hal yang sama sekali tak bisa orang mengerti. "Bibi, Nathan itu sangat tampan dan dia adalah calon suamiku dimasa depan. Tapi dia tega mencampakkan ku dan memilih j*lang itu!!"


"Hei, kau tau. Nathan adalah cinta sejatiku, tapi wanita sialan itu malah merebutnya."


"Tunggu, tunggu.. Aku calon istri Nathan, saat kami menikah nanti kau datang ya. Awas ya kalau tidak datang."


Beberapa pejalan kaki menatap jijik pada Marissa yang seperti orang yang kehilangan akal sehatnya. Dia menghentikan para pejalan kaki lalu mengatakan ini dan itu pada mereka. Tiba-tiba Marissa menghentikan langkahnya saat dia teringat mata itu.


"Aaahhhh...!!" Wanita itu kembali histeris. Marissa benar-benar kehilangan kewarasannya karena apa yang telah Nathan lakukan untuk Vivian.


Marissa berlari seperti orang kehilangan arah kejalan raya. Dia berteriak sambil menangis, Marissa bahkan tak menghiraukan teriakan dan makian para pengemudi yang nyaris saja menabraknya.


CKITTT...


BRAKK...


T*buh Marissa terlempar setelah terhantam sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Tak cukup hanya satu kali saja, mobil lain juga ikut menghantam dan menyeret tub*hnya hingga 10 meter jauhnya.


Dan Marissa dinyatakan t*was di tempat dengan keadaan yang sangat-sangat mengenaskan. Benar-benar tidak terkondisikan lagi. T*buhnya tak utuh dan hancur dibeberapa bagian akibat hantaman, lind*san dan ters*ret sejauh puluhan meter.

__ADS_1


Orang-orang berkerumun mengelilinginya. Bahkan ada yang sampai muntah melihat cairan putih dan merah yang keluar dari kep*lanya. Dan inilah akhir dari hidup Marissa.


-


Vivian membuka matanya perlahan. Rasa pusing yang luar biasa mendera kepalanya. Wanita itu menyesuaikan cahaya lampu yang masuk ke dalam retina matanya.


Gadis itu tampak sedikit kebingungan saat mendapati dirinya berbaring di tempat tidur, karena seingatnya ia tadi kedatangan tiga pria yang mengaku sebagai petugas PLN. Kemudian salah satu dari mereka menyemprotkan cairan ke mukanya hingga Vivian tak sadarkan diri.


"Nathan, jadi dia sudah pulang." Serunya.


Vivian bangkit dari berbaringnya dan hendak turun dari tempat tidur untuk menemui suaminya itu. Namun sebuah pemandangan yang di depan matanya membuat bola matanya membelalak seketika.


"NATHAN!!!"


.


.


Vivian tak henti-hentinya menangis di pelukan Jesslyn. Saat ini mereka berada di depan ruang operasi. Dari hasil rekaman CCTV, Vivian bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Ma, Nathan Ma. Bagaimana jika sesuatu yang buruk sampai menimpanya. Dia kehilangan banyak darah,"


"Tenang, Sayang. Kau tidak boleh berpikir negatif, kita harus berdoa supaya Nathan baik-baik saja. Lagipula dia pemuda yang kuat, dan Nathan tidak mungkin meninggalkanmu begitu saja."


Luis menghampiri menantunya. Dengan lembut ia mengusap kepala Vivian. Luis merasa tidak tega melihat Vivian yang tidak henti-hentinya menangis sejak satu jam lalu, sampai membuat matanya memerah dan sedikit bengkak.


"Kuatkan hatimu, Nak. Ini adalah cobaan dari Tuhan. Berdoa, mohon pada Tuhan agar semua baik-baik saja."


Pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter keluar dari dalam sana lalu menghampiri keluarga kecil itu."Dok, bagaimana keadaan putraku? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Luis memastikan.


"Anda tidak perlu cemas, Tuan Qin. Putra Anda baik-baik saja, operasinya berjalan lancar. Dalam waktu satu bulan, putra Anda bisa melihat kembali dengan normal. Beruntung syaraf-syarafnya tidak sampai rusak total sehingga kami bisa melakukan tindakan yang tepat."


Vivian dan Jesslyn bisa merasa lega sekarang. Mereka pikir mata kanan Nathan tidak bisa berfungsi lagi karena cidera itu. Tapi ternyata tidak


Berkat teknologi masa kini yang super canggih ditambah dengan besarnya uang yang harus mereka keluarkan, akhirnya mata Nathan kembali normal meskipun membutuhkan waktu satu bulan untuk bisa berfungsi dengan baik.

__ADS_1


Jesslyn memeluk Vivian. "Kau dengar itu, Sayang. Suamimu baik-baik saja, tidak ada lagi yang perlu Kai cemaskan. Nathan bisa melihat dengan normal lagi."


Vivian mengangguk. "Iya, Ma."


.


.


Mata kiri Nathan terbuka, dan hal pertama yang tertangkap oleh netranya adalah Vivian yang tertidur disampingnya dengan wajah sembab seperti bekas menangis. Nathan menatap gadis itu dengan sendu.


Ia mengangkat sebelah tangannya lalu mengusap kepala Vivian dengan lembut. Dan gerakan tangan Nathan pada kepalanya membuat kelopak mata Vivian perlahan terbuka.


"Nathan," serunya sambil membelalakkan matanya. Nathan tersenyum simpul.


Mata Vivian kembali berkaca-kaca. Tangisnya seketika pecah ketika dia berhambur ke dada suaminya. "Nathan bodoh, gila, tidak waras!!" Teriak Vivian sambil memukul dada Nathan dengan brutal. Gadis itu menangis sejadi-jadinya.


"Jangan menangis lagi, aku mohon." Lirih Nathan setelah berbisik.


"kau diam saja saat pria itu melukaimu? harusnya kau menghindari pukulannya bukannya malah membiarkannya."


Nathan menutup mata kirinya dan menghela napas panjang. Dia tidak menduga dengan respon Vivian yang seperti ini. Nathan pikir Vivian hanya menangis dan tidak sampai sehisteris ini.


Dan bagaimana mungkin Vivian tidak histeris, ketika dia membuka matanya dan mendapati suaminya tak sadarkan diri di lantai dalam keadaan bersimbah darah. "Ini tidak seberapa dengan rasa sakit yang kau rasakan karena kematian Aiden."


Vivian menggeleng. "Aku tidak pernah menyalahkanmu apalagi memintamu untuk bertanggung jawab. Seharusnya kau tahu itu,"


Nathan mengecup kening Vivian. "Kau adalah duniaku, dan hidupku pasti hancur jika sesuatu yang buruk sampai menimpamu. Aku memang tidak bisa menjanjikan dunia ini padamu, tapi aku bisa memberikan hati dan kesetiaanku padamu. Aku mencintaimu, Vi. Sangat-sangat mencintaimu." Tutur Nathan sambil mengeratkan pelukannya.


Vivian menutup matanya dan air matanya kembali mengalir dari pelupuk matanya. "Aku juga mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu." Bisik Vivian parau.


Nathan melonggarkan pelukannya lalu mencium singkat bibir Vivian tanpa pagutan ataupun lum*tan. Ciuman yang menjadi tolak ukur seberapa besar ia sangat mencintai istrinya ini.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2