Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Amarah Jordan


__ADS_3

"Brengsekk. Bergerak sedikit saja, maka akan ku patahkan lehernya."


Ancam Jordan, sontak saja kedua pria itu menoleh. Mata mereka terbelalak melihat Boy yang hampir kehabisan nafas karena cekikan Jordan. Itu belum apa-apa, Jordan baru mencekiknya belum sampai memukul dan menghajarnya sampai mati.


"He-he-n-ti-kan, ja-ja-n-g-an sen-tuh ga-ga-dis i-i-tu. A-a-ku ti-ti-dak i-ng-in di bu-nuh Ib-lis ini." Ucap Boy terbata-bata


Jordan menyeringai lalu menepuk kepala Boy."Pilihan yang bijak. Lekas pergi sebelum aku berubah pikiran." Titah Jordan dengan suara rendah namun penuh tuntutan.


Tanpa berfikir panjang, Dori menarik tubuh Boy yang tak berdaya dan membawanya meninggalkan S.N.U. Bulu kuduknya berdiri saat melihat tatapan membunuh Jordan.


Martin mengusap dadanya, kini Ia bisa bernafas lega. Sempat was-was bila Jordan sampai melakukan sesuatu yang bisa berakibat fatal, tapi beruntung dia masih bisa sedikit mengontrol emosinya. Martin, Luna dan yang lain berhamburan menghampiri Jordan yang berdiri di tengah lapangan basket dengan nafas naik turun. Bukan karena kelelahan, melainkan emosi yang di tahan.


"Jordan, baguslah. Aku sempat was-was kau lepas kendali tadi." Ucap Martin dingin. Jordan tak merespon, dia hanya menatap dingin sahabatnya itu.


"Kau terluka, segeralah pergi ke UKS dan obati lukamu." Titah Ren sambil menepuk bahu Jordan.


"Sebaiknya rumah sakit saja, lukamu perlu di jahit." Sahut Key, Minho mengangguk setuju.


"Hn."


"Apa perlu aku antar?" Tawar Dean, Jordan menatapnya sekilas lalu menggeleng.


"Ge."


Perhatian ke 6 pria tampan itu teralihkan oleh suara parau seorang gadis yang memanggil Jordan. Ke 6 nya menoleh pada sumber suara dan mendapati Luna berdiri di belakang mereka sambil berlinang air mata. "Jelek, kenapa kau menangis?" ucap Martin menghampiri Luna dan menatapnya bingung.


"Bodoh. Memangnya gadis mana yang tidak akan menangis saat melihat kekasihnya terluka?" Sahut suara baritone dari arah belakang, tanpa menoleh pun dia sudah tau siapa pemilik suara itu.


Lalu Jordan mengulurkan tangan kirinya untuk menyeka air mata Luna, lalu menarik gadis itu kedalam pelukannya, meyakinkan gadisnya jika Ia baik-baik saja. Menuntun wajah Luna menuju dada bidangnya, Jordan meletakkan dagunya di atas kepala berhelaian coklat milik Luna, hingga tanpa sengaja darah yang berasal dari pelipis kanan Jordan mengenai rambut gadis itu.


"Jangan menangis, aku baik-baik saja." Bisik Jordan meyakinkan. Dia mengusap punggung Luna naik turun.


Kemudian Luna mendorong dada Jordan hingga pelukan mereka terlepas. Dia mengangkat wajahnya memandang wajah Jordan dengan tajam. "Baik-baik saja bagaimana? Kau terluka, masih bilang baik-baik saja." Luna menghapus darah di wajah Jordan dengan ujung lengan dress nya.


"Aku, Ugghh..." Jordan menggeram sambil memegangi kepalanya, pandangannya semakin lama semakin mengabur hingga akhirnya?


Bruggg .. !!


Jordan jatuh pingsan di dalam pelukan Luna, karena tidak kuat menopang berat tubuh sang kekasih. Luna ikut terjatuh dengan pria itu yang masih berada di dalam pelukannya. "Jordan!!" Martin berteriak kencang, dengan bantuan teman-temannya, Jordan pun dilarikan ke rumah sakit.


xxx


Onyx Jordan terbuka perlahan, hal pertama yang Ia lihat adalah wajah Luna yang sembab karena terlalu lama menangis, juga ruangan serba putih dengan bau obat-obatan yang menyengat, tanpa bertanya pun dia tau di mana Ia berada.


"Ge, akhirnya kau bangun juga." Seruan Luna mengawali tangis bahagia gadis itu.


Dengan brutal Luna memukul dada Jordan sambil bergumam tidak jelas "Jahat ,, jahat ,,, jahat ,,, Jordan bodoh, menyebalkan, bodoh ,, bodoh ,, bodoh." Jerit Luna tanpa menghentikan aksi brutalnya.


Namun aksi brutalnya segera di hentikan oleh Jordan. Dia menggenggam tangan Luna. "Hentikan, Luna. Begini kah tanggapanmu setelah aku sadar?" Bibir Jordan tertarik keatas, senyum lemah yang meyakinkan Luna jika Ia baik-baik saja.


Luka-luka di wajahnya sudah di obati dan di tutup perban, pelipis kanan Jordan mendapatkan 7-8 jahitan. Luka terparah selain luka di tulang pipi kirinya. Jordan harus menjalani rawat inap selama 1-2 hari, luka jahit di pelipisnya butuh perawatan intensif. Lukanya masih terus mengeluarkan darah meskipun tidak sebanyak sebelum di jahit.


"Malahan aku ingin sekali membunuhmu. Apa kau tau betapa takutnya aku tadi? Kau mengerikan, kau seperti monster kau bodoh. Jelek." Amuk Luna dengan air mata yang kembali mengalir dari mata Hazel-nya.

__ADS_1


"Luna," panggil Jordan dengan lirih.


"Tidak, aku tidak mau mendengar apa pun lagi. Ge, kumohon jangan melakukan hal itu lagi. Aku takut, kau membuatku sangat takut." lirihnya parau.


Jordan memandang wajah penuh air mata itu dengan sendu. Mengulurkan tangannya yang tidak di infus, memberi kode pada gadisnya agar mendekat.


Saat jarak mereka sudah dekat, Jordan menarik bahu itu ke dalam pelukannya. Menyandarkan kepala gadis itu di dada bidangnya, mencium pucuk kepalanya sambil berbisik "Maaf." gumam Jordan.


Luna menutup kelopak matanya, menyembunyikan sepasang mutiara Hazel-nya di sana. Saling diam menikmati kehangatan masing-masing. Jordan melonggarkan pelukannya, tangan besarnya menuntun kepala Luna agar mendekat padanya. Saat jarak diantara mereka tak lagi tersisa, segera Jordan menyatukan bibir mereka. Melumatt bibir Luna penuh kelembutan, atas dan bawah secara bergantian.


BRAKKKK .. !!


"Adik, my bunny sweety. Kakakmu yang tampan ini datang..."


Luna terlonjak kaget oleh suara pintu yang di buka secara tiba-tiba, dan teriakan nyaring David yang datang bersama geng Balsemnya, buru-buru Ia melepaskan tautan bibir Jordan. Gadis itu beranjak lalu berdiri di samping sang kekasih.


"Bodoh, apa kau ingin membunuhku?" Bukannya pelukan kasih sayang, David malah mendapat omelan dari sang adik.


Pria berwajah stoic itu hanya memutar matanya jengah melihat sang kakak merajuk sambil memanyunkan bibirnya.


"Dasar adik durhaka, bukannya menyambut dengan pelukan hangat malah memarahiku." Satu jitakan David hadiahkan pada kepala Jordan dengan keras.


"Sakit bodoh!!"


"Otakmu butuh di cuci adikku yang bodoh. Kakak sangat heran deh, semakin hari mulutmu semakin pedas saja, memangnya berapa banyak cabe yang kau makan hari ini?" Jordan mendecih, berdebat dengan David hanya membuat kepalanya semakin pusing. Ia memang tidak akan pernah menang melawan dia yang kelewat cerewet itu.


Jordan benar-benar tidak habis pikir dengan sang kakak. Kenapa dia bisa bersikap begitu menyebalkan, dan mimpi buruk apa yang dia alami ketika masih dikandungan ibunya, sampai-sampai harus memiliki kakak menyebalkan seperti David Tang.


"Ciihh, percaya diri sekali kau. Tampan dari mana? Dasar keriput." Jordan dengan wajah stoi nya memandang sang kakak dengan tatapan meremehkan.


"Luna, kami merindukanmu."


Perhatian dua kakak beradik itu teralihkan oleh teriakan Leo. Onyx Jordan membulat melihat tubuh sang kekasih berada di dalam kungkungan tangan Leo dan Roy. Tidak mengherankan jika mereka mengenal Luna, karena mereka dan kakaknya bersahabat. Mereka juga dekat dengan keluarganya. Dan dulu mereka sering menginap, itulah yang membuat mereka seperti kakak-adik.


"Luna, kami merindukanmu. Hampir dua bulan tidak bertemu denganmu, kau semakin menggemaskan." Leo mencubit pipi Luna dengan gemas.


Luna terus meronta mencoba melepaskan dirinya dari kungkungan Leo, Reno dan Roy, dia merasa seluruh tulang-tulangnya remuk karena pelukan mereka berdua.


"Ge, selamatkan aku dari mereka. Mereka berdua ingin membunuhku," seru Luna.


"Kalian sudah bosan hidup ya?" Jordan geram sendiri melihat apa yang mereka lakukan pada Luna.


Marah? Bukan, tapi cemburu. Eh? Tentu saja cemburu, memangnya pria mana yang tidak akan cemburu melihat gadisnya di peluk se erat itu oleh pria lain bukan hanya 1 tapi dua pria tampan sekaligus, ya meskipun sebenarnya hanya pelukan sepihak. Karena Luna tidak menyukainya Ia justru meraung ingin di lepaskan.


"Hn, sepertinya akan ada korban baru lagi yang segara aku kirim ke rumah sakit. Selain itu, aku juga harus menyiapkan beberapa peti mati untuk persiapan." Ucap Jordan sambil menatap mereka berdua bergantian.


Glukkk .. !!!


Susah payah mereka berdua menelan ludahnya. Sepertinya Jordan tidak main-main dengan ucapannya, mereka merasakan aura membunuhnya di tambah sorot tajam onyx nya yang sekelam malam itu.


"Oh tidak, demi dewa cinta junjunganku. Jordan, kau sangat menyeramkan Nak. Dan asal kau tau, memeluk, mencubit gemas dan menjitak kepala Luna adalah ritual wajib yang selalu kita lakukan ketika bertemu dengannya. Bahkan sebelum kau mengenalnya, kami selalu melakukannya." Reno angkat bicara mencoba menjelaskan pada Jordan.


Jordan tidak ingin sampai masuk rumah sakit apalagi masuk peti mati. Ia masih harus mengabdikan hidupnya pada Dewa Cinta junjungannya.

__ADS_1


Jordan menarik Luna menjauh dari ke dua, anggota geng Kakak nya, melingkarkan tangannya pada pinggang gadis otu dan memeluknya dengan protektif. Bukannya keberatan dengan sikap Jordan, Luna justru senang dan merasa terselamatkan.


"Dan ngomong-ngomong tentang Dewa Cinta junjungan mu itu, sepertinya ada yang belum memenuhi hukuman." Sahut Leo mengingatkan, membuat wajah Reno memanas seketika.


David menoleh lalu menepuk jidatnya, sepertinya Ia telah melupakan tentang hukuman Reno karena terlalu sibuk dengan hubungan Jordan dan Luna.


"Hari minggu jam 10 pagi di lapangan Sungai Han, tidak ada penawaran. Karena aku telah berbaik hati menunda hukumanmu selama dua bulan." David menambahkan dengan tegas.


"OH TIDAK, DEWA CINTA!!"


Teriak Reno meratapi nasib malangnya.


"HOI ANAK MUDA, JANGAN TERIAK. KAU PIKIR INI HUTAN." Teguran dari nenek-nenek membuat semua terdiam, namun selepas kemudian. Mereka tertawa lepas bersama, kecuali Jordan yang hanya mengulum senyum tipis.


Pandangan Jordan lalu berpindah pada David. Dan merasa di perhatikan, dia pun menoleh. Jade mereka bertemu, David menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia sadar jika saat ini Ia sedang dalam masalah besar.


"Jordan, Itu."


"Ge, aku akan membuat perhitungan denganmu selepas dari rumah sakit ini." Ucap Jordan mengingatkan.


David menelan ludah melihat tatapan membunuh Jordan, sepertinya bocah itu tidak main-main dengan ancamannya. Itulah yang ada dipikiran David, dan satu-satunya jalan terbaik adalah kembali ke Busan sebelum Jordan keluar dari rumah sakit. Ia tidak siap menerima amukan sang adik yang lebih menyeramkan dari seekor Singa jantan yang kelaparan.


"Ahahaa. Jordan, sepertinya kakakmu tampanmu ini harus segera pergi. Jaga diri baik-baik ya. Luna, aku percayakan dia padamu ya." Setelah mengatakan kalimat tersebut, sosok David sudah menghilang di balik pintu. Di susul anggota gengnya yang lainnya, setelah berpamitan pada Jordan dan Luna.


Selepas kepergian David dan gengnya, suasana di dalam ruang rawat Jordan menjadi jauh lebih tenang. Dan dia bisa beristirahat dengan tenang, beruntung malam ini sahabat-sahabatnya tidak datang menjenguknya terutama si berisik Martin.


"Kemari Lah, Lun." Jordan mengulurkan tangannya pada Luna, meminta gadis itu untuk berbaring di sampingnya. Menuntun kepala berhelaian coklat itu untuk bersandar di dadanya. "Kau pasti lelah, tidurlah." Suara rendah Jordan menuntun gadis itu untuk segera menutup matanya, meskipun Ia tak langsung masuk kedalam alam mimpi indahnya.


Luna mengangkat wajahnya, menatap sosok tampan tanpa cacat yang tengah memeluknya. Semua terasa tak bercelah, tanpa noda. Betapa dia merasa bahagia memiliki kekasih seperti Jordan.


Jordan bukanlah tipe pria yang romantis, namun pria itu memiliki cara sendiri untuk mencintainya. Dan Luna menyukai cara dia yang berbeda, meskipun Ia selalu dingin namun ada sisi hangat dalam diri Jordan dan hanya Luna yang dapat merasakannya.


Kembali, Luna menatap wajah tampan yang berbaring di sampingnya. Tangan Jordan masih melingkari tubuhnya, hingga membuat pergerakan gadis itu terbatas.


Namun Ia menyukainya, di benamkan kepalanya di dada sang kekasih. Merasakan detak jantung Jordan yang berdetak normal, dengkuran halus pria itu bagaikan sebuah melody indah penghantar tidurnya. Luna terkikik geli membayangkan jika saat ini Ia dan Jordan telah menikah, pasti rasanya akan sangat berbeda.


"Hhhmm, apa yang kau tertawakan, Luna?" Dan mata Luna terbuka lebar mendengar suara baritone masuk kedalam indera pendengarannya, sontak Ia mendongak dan mendapati Jordan menatapnya intens. Mata Luna bergerak liar, mencoba mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan sang kekasih.


"Emm,,, aku---- emmpphhh," Kalimat Luna terpotong oleh ciuman Jordan.


Perlahan kelopak mata itu tertutup menyembunyikan sepasang mutiara Hazel di sana. Jordan mencium bibir manis itu dengan lembut. Ciuman itu terasa sangat lembut dan manis, membuat dia menjadi candu untuk selalu menikmati bibir tipis itu.


Namun ciuman itu berubah menjadi sangat menggaiirahkan, lidah Jordan menelusup masuk kedalam rongga mulut Luna. Lidahnya mengabsen deretan gigi putihnya, yang kemudian di sambut oleh lidah gadis itu.


Ciuman itu berlangsung hingga beberapa menit."Eengghhh, Ge." Desahh Luna di sela-sela ciumannya.


Luna mengalungkan tangan kirinya pada leher Jordan, sedangkan tangan kanannya Ia gunakan untuk mengusap pelipis dan tulang pipi sang kekasih yang tertutup perban. Mengusapnya hati-hati, takut jika gerakannya akan membuat Jordan merasa kesakitan. Pria itu melepas pagutannya, onyx nya menatap ke dalam Hazel Luna lembut.


"Ini sudah malam sebaiknya kita tidur sekarang, kepalaku agak sedikit pusing dan aku ingin tidur lebih awal." ucap Jordan sambil memijit pelipisnya yang terasa pening.


Luna mengangguk. Meskipun Sebenarnya dia masih belum mengantuk, tetapi Luna mengiyakannya, bagaimanapun juga Jordan harus istirahat.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2