Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Layar Tancap


__ADS_3

Semburat merah sang penguasa hari masih dapat terlihat di ujung kaki langit. Cahayanya tampak bagai tudung merah besar yang menutupi langit. Suara-suara burung camar pun mulai terdengar, melayang terbang bagaikan sekumpulan biri-biri putih yang menghiasi langit senja.


Sang penguasa hari mulai kehabisan waktunya. Terbenam dan kembali ke-peraduannya.


Langit senja menantikan sang Dewi malam untuk segera merajai langit yang mulai menghitam, menemani para manusia kelelahan menghabiskan harinya yang tersisa, sebelum sang penguasa mimpi mengambil alih kesadaran mereka.


"Pa, tehnya." Jesslyn meletakkan secangkir teh hangat di atas meja tempat duduk ayahnya.


Tuan Eric tersenyum lebar. "Terimakasih, Jess. Dimana suamimu, Papa tidak melihatnya dari tadi."


"Dia ada di kamar. Luis agak sedikit pusing jadi aku memintanya untuk istirahat." Jawabnya.


Jesslyn menggigit bibir bawanya. Dia ingin membicarakan hal yang sangat penting dengan sang ayah, tapi Jesslyn takut jika itu akan mempengaruhi hubungannya dengan Luis.


"Jess, sebenarnya ada hal penting yang ingin sekali Papa katakan padamu, dan ini mengenai ibumu. Sebenarnya, alasan ibumu meninggalkan kota adalah ayah Luis. Papa ingin sekali memberitahumu, tapi Papa ragu. Papa takut itu akan mempengaruhi hubungan kalian berdua."


Jesslyn terkejut. Jadi sebenarnya ayahnya sudah tau jika orang yang selama ini bersama dengan ibunya adalah ayah Luis. Tapi Tuan Eric sengaja menyembunyikan hal itu darinya karena dia takut hubungannya dan Luis memburuk.


"Jadi sejak awal Papa sudah tau jika yang membawa kabur perempuan itu adalah ayah Luis." Tuan Eric mengangguk.


"Ya, Papa sudah mengetahuinya sejak lama. Tapi semua sudah menjadi masa lalu. Jadi untuk apa diungkit lagi, bukankah tidak ada gunanya. Toh sekarang kita sudah bahagia meskipun tanpa ibumu."


Jesslyn mengangguk. "Ya,"


-


-


Disebuah tanah lapang, tampak orang-orang sedang berkerumun di satu titik. Sebuah layar besar tertancap di sana. Train To Busan, adalah film yang akan diputar malam ini. Para warga desa begitu antusias, mereka saling melepaskan lelah dengan berkumpul bersama keluarga dan tetangga setelah seharian lelah bekerja.


"Huaaa... Jadi ini ya perwujudan dari layar tancap. Sangat luar biasa," seru Tao dengan hebohnya.


"Lihatlah para warga desa, bahkan mereka sangat antusias. Aku jadi penasaran film apa yang akan diputar malam ini," ucap Rio.


"Train To Busan," sahut seseorang dari arah belakang. Sontak ketiganya menoleh, seorang gadis cantik dan bertubuh indah berdiri tepat di depan mata mereka bertiga.


"Ya Tuhan, apakah aku sedang bermimpi, apakah aku sudah mati sehingga bisa melihat bidadari." Ucap Marcell setengah bergumam.


"Tao Hyung, coba cubit lenganku. Dan katakan jika ini bukan mimpi," Rio mengulurkan tangannya dan meminta Tao untuk mencubitnya. Dia ingin memastikan saja. "Ah, sakit!!" Artinya itu bukan mimpi.


"Halo, Nona. Senang bertemu denganmu, apa kau ingin melihat film juga?" Tao mendorong si kembar untuk menjauh, dia bermaksud untuk mengenal gadis cantik itu sendiri.

__ADS_1


Tuingg...


Senjata tempur Tao seketika berdiri. Menonjol besar dan panjang, membuat beberapa perempuan yang tidak sengaja melihatnya langsung menelan ludah. Tao adalah pria normal, terlewat normal malah, karena saat melihat gadis cantik senjatanya langsung memberi sinyal.


"Ya, kalian orang baru ya. Aku belum pernah bertemu dan melihat kalian sebelumnya."


"Mereka adalah keluargaku," seru Jesslyn menimpali.


Gadis cantik itu tersenyum lebar. Dia berlari menghampiri Jesslyn dan langsung memeluknya. "Kakak Jess, akhirnya kita bertemu lagi. Lili, sangat merindukanmu," ucap gadis cantik itu yang ternyata bernama lili.


"Aku juga merindukanmu. Tapi bisakah kau lepaskan aku, kau membuatku tidak bisa bergerak."


"Ma..Maaf, Lili terlalu bersemangat. Oya, perkenalkan dong mereka satu persatu," pinta Lili sambil menunjuk Tao, Marcell dan Rio.


"Mereka berdua Rio dan Marcell, sedangkan yang mirip panda ini namanya Tao."


"Namanya sangat imut, seimut senjata tempurnya." Lili memerah melihat senjata tempur milik Tao yang tampak jelas dibalik jeans yang dia pakai.


Tao langsung salah tingkah. Apa artinya Lili tertarik padanya. Jika ia dan Lili bisa dekat, alangkah sempurnanya hidup Tao. Lili sangat cantik meskipun agak sedikit mencurigakan, tapi Tao langsung menepis pemikiran konyolnya.


Tao menggeleng. Tidak mungkin Lili wanita jadi-jadian, dia begitu cantik dan kulitnya juga halus. "Lili, bagaimana kalau kau nontonnya denganku saja. Kan Train To Busan itu filmnya sedikit menyeramkan, nanti kalau kau takut kau bisa langsung memelukku, bagaimana?" Usul Tao, dia sedikit malu-malu.


"Oke, oke, ayo kita ke sana." Tao sangat antusias. Dia dan Lily pergi ke tempat yang gadis cantik itu maksud.


Melihat hal tersebut membuat Jesslyn meringis ngilu. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Tao saat tau jika Lily sebenarnya adalah seorang wanita jadi-jadian. Mungkin dia langsung pingsan.


Kecantikan Lili yang begitu alami memang sering kali membuat kaum Adam terkecoh, tapi sebenarnya dia adalah mahluk yang berbatang bukan berlubang.


"Kenapa ekspresimu aneh begitu?" Luis memicingkan matanya melihat ekspresi Jesslyn.


Jesslyn menarik lengan suaminya lalu berbisik di telinga Luis. Mata Luis sontak membulat, dia menatap Jesslyn tak percaya, dan wanita itu mengangguk membenarkan.


"Sepertinya Tao sedang menerima karmanya, sudah biarkan saja. Kita nikmati saja filmnya," ucap Luis, Jesslyn mengangguk.


Si kembar sudah pergi entah kemana, mereka memisahkan diri sedari tadi. Sedangkan Nathan dia memilih tetap di rumah bersama kakeknya, Nathan tidak menyukai keramaian, itulah kenapa dia memilih tidak pergi kemana-mana.


"Lu, kita pulang saja. Aku sangat lelah dan mengantuk, lagi pula tidak ada yang spesial ditempat ini. Aku sudah sering menonton saat masih remaja dulu."


Luis mengangguk. Sebenarnya Luis juga tidak berminat sama sekali, dia hanya penasaran saja. Memang sangat ramai, tapi agak sedikit membosankan. Apalagi mereka semua adalah orang-orang asing yang tak pernah dia kenal sebelumnya.


Lagipula berada di keramaian seperti ini bukan hobinya. Seperti putranya, Luis juga membenci keramaian.

__ADS_1


-


-


"Hai, boleh aku kesitu?"


Perhatian Nathan sedikit teralihkan. Seorang gadis kecil memanggilnya dan bertanya apakah dia boleh ke tempatnya atau tidak. Nathan tidak tau siapa gadis kecil itu, tapi sepertinya dia adalah salah satu penduduk desa.


Nathan hanya mengangguk tanpa mengatakan apa-apa. Mimik wajahnya tetap dingin dan ekspresinya datar, bahkan setelah gadis kecil itu sudah ada di depannya.


"Perkenalkan, aku Marissa, rumahku disebelah sana. Kau bukan anak sini ya?"


"Bukan, aku dari Seoul. Aku kesini untuk mengunjungi kakekku." Jawabnya dingin.


"Berapa lama kau disini? Apa ini pertama kalinya kau datang kemari? Bagaimana kalau besok aku ikut aku jalan-jalan, aku akan mengajakmu pergi ke bukit angin, bagaimana?"


Nathan mengangkat bahunya. "Entah, aku agak malas. Kita lihat saja besok. Pergilah, aku lelah dan mau istirahat." Nathan beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja.


"Tapi siapa namamu, kau belum memberitahuku namamu!!" Seru Marissa.


Nathan berhenti lalu menoleh. "Nathan," ucapnya singkat dan melenggang pergi.


Gadis kecil bernama Marissa itu tersenyum lebar. Dia senang setelah mengetahui siapa nama anak itu. "Nathan, nama yang sangat bagus. Aku harus bisa berteman dengannya."


-


-


Seorang gadis kecil berdiri di depan jendela kamarnya. Mata bulatnya memandang langit dengan pandangan tak terbaca. Jam di dinding kamarnya baru menunjuk angka 4 dini hari, tapi dia sudah bangun dari mimpi-mimpinya.


Sepi dan hampa...


Gadis kecil itu merasa kosong di dalam jiwanya. Dia sudah tidak memiliki semangat lagi untuk pergi bersekolah, bukan karena anak-anak di sekolahnya nakal dan jahil. Tapi karena dia baru saja kehilangan teman baiknya.


Tidak bisa dikatakan teman baik juga, karena anak itu selalu bersikap dingin dan acuh padanya. Tapi gadis kecil itu tidak pernah ambil pusing dan tetap mau berteman dengannya, meskipun dia selalu ditolak dan dianggap sebagai hama yang menyebalkan.


"Nathan, apa di sana kau mengingatku juga? Aku... Sangat merindukanmu!!!"


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2