Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Kejujuran Nathan


__ADS_3

Nathan hanya menatap datar tiga pemuda yang berdiri di depannya. Seperti mahasiswa yang lain, mereka ikut membully dirinya. Dan parahnya lagi, si pemuda yang paling jangkung mengambil lembaran won yang ada disaku kemejanya.


Sepertinya mereka bertiga tidak sadar siapa dirinya. Penampilan Nathan yang berbanding balik dengan yang dulu pasti itu yang membuatnya tidak dikenali, bahkan oleh teman-temannya sendiri.


Ya, mereka bertiga adalah Arya, Dio dan Sean. Sepertinya mereka bertiga benar-benar sudah bosan hidup sampai-sampai berani mengganggu dan membully dirinya.


"Hei, anak baru. Jangan melotot begitu, matamu bisa meloncat keluar nanti. Uangmu buat kami saja ya, sepertinya kau tidak membutuhkannya."


Namun uang itu berpindah tangan dengan cepat. Bukan Nathan sendiri yang merebut uang itu dari tangan Arya, melainkan seorang gadis cantik yang tadi pagi membantu. "Dasar brandal, apa kalian bertiga terlalu miskin sampai-sampai memalak uang orang lain?!"


"Sebaiknya kau tidak usah ikut campur apalagi berlagak sok baik, Nona Xia. Lagipula si cupu ini juga tidak keberatan, kenapa malah kau yang kebakaran jenggot?!" Sahut seorang gadis berpenampilan sedikit tomboy.


"Aku hanya tidak suka ada pembullyan di kampus ini. Dan aku tidak akan segan-segan melaporkan perbuatan kalian pada rektor jika kalian berani mengulanginya lagi!! Thantan, ayo pergi dari sini," gadis itu 'Vivian' menarik lengan Nathan dan membawanya pergi dari sana.


"Oh, Dewiku. Kau semakin membuatku terpesona saja." Ucap Sean sambil menatap Vivian yang semakin menjauh.


"Ck, apa bagusnya gadis seperti dia. Apa semua pemuda di kampus ini buta, seperti tidak ada yang lain saja yang lebih pantas dijadikan primadona!!"


"Yeee, kalau iri bilang saja. Dibandingkan dirimu, jelas lebih baik dia kemana-mana!!"


Marissa berdecak sebal. Lagi-lagi semua orang membela Vivian, dan itu membuatnya kesal setengah mati. Bagus Nathan tidak ada disini, bisa berbahaya jika pemuda itu sampai bertemu dengan Vivian. Bisa-bisa dia menyukainya juga, dan Marissa tidak akan pernah rela.


.


.


Disini mereka sekarang. Vivian dan Nathan berada di atap kampus menikmati pemandangan kota Seoul dari ketinggian. Dari ketinggian, mereka bisa melihat aktifitas dibawah sana. Ini sudah memasuki jam istirahat, jadi banyak mahasiswa dan mahasiswi yang berada di luar kelas masing-masing.


Sejauh ini belum ada percakapan diantara mereka. Keduanya sama-sama diam dalam keheningan. Baik Nathan maupun Vivian saling membisu.


Sesekali Nathan menatap gadis yang berdiri disampingnya. Vivian tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan lebih pemberani, dan satu kelebihan yang dimiliki gadis itu tapi tidak dimiliki gadis lain, Vivian tidak pernah membedakan teman apalagi memandang sebelah mata orang lain. Dia tetap seperti yang dulu Nathan kenal.

__ADS_1


"Vi," panggil Nathan dan mengakhiri keheningan yang sedari tadi mengikat mereka berdua. "Mengenai anak yang kau katakan tadi, maksudku teman masa kecilmu itu. Apa kau pernah berharap bertemu kembali dengannya?"


"Kenapa kau ingin tau?"


Nathan menggeleng. "Tidak, hanya penasaran saja." Jawabnya.


"Sebarnya alasanku ke Korea karena dia. Aku berharap bisa bertemu lagi dengan anak itu, apalagi dia pernah berjanji jika tidak akan pernah melupakanku. Sudah 5 tahun aku disini, tapi sampai detik ini kami belum juga bertemu. Dan sepertinya selama ini aku berharap pada sesuatu yang hampa," ujar Vivian sambil mengukir senyum pilu.


Kata-kata Vivian membuat Nathan terdiam. Jadi selama ini Vivian tidak pernah melupakannya, dan alasan dia datang ke Korea karena ingin bertemu dengannya?


"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah bertemu dengannya? Dan kenapa kau rela jauh-jauh London-Korea hanya untuk bertemu dengannya?" Tanya Nathan tanpa menatap lawan bicaranya.


"Karena aku hanya ingin memastikan apakah selama disini dia menjalani hidupnya dengan baik atau tidak. Anak bodoh itu, dia selalu terlihat dingin di depan orang lain, bersikap seolah tidak peduli dengan semua cacian dan makian orang-orang disekitarnya. Padahal sebenarnya dia merasa sakit, dia hanya mencoba bersikap tegar meskipun kenyataannya dia sangat rapuh."


"Lalu apa yang akan kau lakukan jika saat ini teman masa kecilmu itu ada di depanmu? Apa kau akan memeluknya atau menghajarnya sampai babak belur karena sudah membuatmu menunggu terlalu lama?"


"Aku akan langsung membunuhnya!!" Jawab Vivian yang sebenarnya hanya sebuah candaan.


"Hah?" Vivian menatap pemuda itu dengan bingung.


"Bukankah kau ingin membunuhnya? Maka lakukan, orang itu sekarang ada di hadapanmu!!"


"Apa maksudmu?" Tanya Vivian kebingungan.


Nathan melepas penyamarannya di depan gadis itu. Membuat kedua mata Vivian membulat sempurna saat melihat wajah asli dibalik penampilan cupu itu, ternyata tersimpan wajah yang sangat tampan.


Dan Vivian baru sadar, jika si cupu ini adalah orang yang sama yang dia lihat di Sungai Han kemarin sore. Orang bernama Nathan. Dan yang menjadi pertanyaannya, apakah pemuda ini adalah Nathan teman kecilnya dulu.


"Lama tidak bertemu, Xia Vivian."


Vivian menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya membulat berkaca-kaca. Di depannya ini, bukan orang lain, tapi orang yang berasal dari masa lalunya. Ya, Nathan teman kecilnya.

__ADS_1


Tubuh Nathan terhuyung kebelakang karena pelukan Vivian. Gadis itu memeluknya begitu tiba-tiba. Apa serindu itu dia padanya. Nathan mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Vivian. "Maaf, aku terlambat menemuimu." Bisiknya penuh sesal.


Vivian menggeleng. "Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali," jawabnya. Nathan melepaskan pelukan Vivian dan menatapnya dalam. "Kenapa kau merubah penampilanmu jadi aneh begini?"


"Ini permintaan ayahku dan aku terpaksa menyetujuinya. Dan tolong rahasiakan hal ini dari orang lain. Aku ingin mereka tetap mengenaliku sebagai Thantan, si cupu yang tidak berguna."


Vivian mengangguk. "Baiklah, aku tidak akan memberitahu siapa pun, aku janji." Ucapnya.


Nathan menepuk kepala Vivian. "Turunlah terlebih dulu, aku harus memberi pelajaran pada mereka bertiga." Ucap Nathan sambil menunjuk tiga pemuda yang sedang menuju atap dengan dagunya.


"Apa kau mengenal mereka?"


"Ya, mereka bertiga adalah teman-temanku. Hanya saja mereka tidak mengenaliku yang seperti ini." Ujarnya.


Selepas kepergian Vivian. Nathan berjalan menuju bibi gedung. Posisinya menghadap ke depan dan hanya terlihat punggung dibalik kemeja kedodorannya. Arya, Dio dan Sean yang baru saja tiba segera menghampiri pemuda itu.


Mereka saling memberi kode, dan sudah bisa dipastikan apa yang akan mereka lakukan. Mereka memang terkenal jahil dan suka mengganggu mahasiswi lain, apalagi yang penampilannya 11-12 dengan Nathan.


Dan mereka tidak ada yang sadar jika sebuah kekuatan besar sedang menanti mereka dengan indah.


"Cupu, sendirian aja disini, bagaimana kalau kau ikut bermain dengan kita bertiga. Bermain lompat gedung, kau yang lompat turun dan kita yang melihat dari sini." Ucap Dio yang disusul suara gelak tawa oleh Sean dan Arya.


Nathan menyeringai sinis. "Boleh, asal kalian yang melakukannya terlebih dulu!!" Kemudian pemuda itu berbalik badan. Dan berapa terkejutnya mereka bertiga saat mengetahui siapa yang berdiri di depan mereka ini.


"NATHAN?!"


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2