Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Rencana Makan Malam


__ADS_3

Nathan tidak menolak ketika Vivian memintanya untuk mampir sebentar ke rumahnya. Sejak mereka bertemu kembali, ini pertama kalinya Nathan singgah di rumah gadis itu, karena sebelumnya Nathan selalu menolak jika Vivian memintanya untuk masuk.


Rumah Vivian sangat besar dan megah. Meskipun hanya tinggal sendiri, tapi rumahnya rapi dan bersih. Dihalaman depan Nathan melihat taman kecil yang ditumbuhi bunga tulip.


Ada kolam kecil yang airnya jernih di tengah-tengah taman, dengan patung berbentuk peri bersayap yang memegang sebuah kendi yang terus mengucurkan air. Sedangkan di dalam banyak dihiasi benda-benda yang terbuat dari kristal, salah satunya adalah lampu gantung.


Lantai, dinding dan tiang penyangganya terbuat dari marmer dengan kualitas terbaik. Nathan tidak perasa heran, mengingat jika ayah Vivian adalah salah satu konglomerat terkaya di London.


"Kau hanya tinggal sendiri di rumah sebesar ini?"


"Lalu dengan siapa? Biasanya Sania menginap disini, tapi dua hari terakhir ini dia tidak datang kemari karena harus menemani Ibunya di rumah sakit. Oya, kau mau minum apa? Dingin atau panas?"


"Wine dingin,"


"Hah!!"


Nathan mendengus geli. "Reaksimu sungguh lucu, Nona. Aku hanya bercanda dan kenapa kau menanggapinya dengan serius. Tidak usah, kebetulan aku tidak haus." Ucapnya.


"Kau yakin?" Nathan mengangguk. "Huft, baiklah kalau begitu. Oya, besok malam kau sibuk tidak? Bisa temani aku pergi bertemu dengan kakak dan ipar ku, dia ingin mengenalkan aku dengan suaminya. Aku tidak ingin terlihat bodoh karena pergi sendirian."


"Jam berapa?"


"Tujuh malam. Tapi kau harus memakai pakaian yang sedikit lebih sopan. Jangan sampai mereka menilaimu buruk karena penampilan. Kau mengerti kan maksudku?"


Nathan mengangkat bahunya. "Bukan hal yang sulit dilakukan. Baiklah, besok malam aku akan menjemputmu tepat waktu. Sudah malam, aku pulang dulu, tidak enak kalau sampai dilihat oleh orang-orang sekitar. Apalagi kau hanya tinggal sendiri di rumah ini," ujar Nathan.


Setelah berpamitan. Nathan pun langsung meninggalkan rumah Vivian. Dia tidak ingin jika Vivian sampai dicap buruk oleh orang lain karena memasukkan pria ke dalam rumahnya sementara tidak ada siapa pun di sana.


-


-


Deru suara mobil yang memasuki halaman mengalihkan perhatian Silvia. Wanita itu mengintip ke jendela kamarnya dan mendapati suaminya yang baru saja turun dari mobil mewahnya.


Silvia tak beranjak satu inci pun dari kamarnya apalagi pergi keluar untuk menyambut sang suami. Dia tetap sibuk membersihkan riasan tipis di wajah cantiknya. Pintu kamar dibuka dan sosok Vano kemudian berjalan masuki kamar.


"Kau belum tidur?"

__ADS_1


"Hm, tumben pulang agak malam. Apa kau pergi bertemu teman-temanmu?" Tanya Silvia sambil menatap Vano dari cermin di depannya.


Vano menggeleng. "Aku tidak sengaja menabrak gadis muda yang baru terusir dari rumahnya, kemudian mengantarkan dia ke apartemen lamaku. Dia tidak memiliki tempat tinggal jadi aku memintanya untuk tinggal di sana." Jelas Vano.


"Oh,"


Tidak ada cemburu sedikit pun meskipun dia mendengar jika suaminya baru saja mengantarkan seorang perempuan untuk tinggal di apartemen pribadi miliknya. Bagi Silvia itu bukanlah masalah, mau Vano berhubungan dengan ratusan wanita sekali pun, ia tidak peduli, karena itu bukan urusannya.


"Besok aku akan membawamu bertemu adikku. Dia ingin sekali bertemu kakak iparnya,"


"Kau sudah bertemu dengannya?"


Silvia mengangguk. "Ya, hari ini di kampusnya. Dia menuntut agar aku mempertemukannya denganmu dan aku menyetujuinya." Jawab Silvia.


"Baiklah, jam berapa?'


"Jam 7 di restoran biasa kita makan malam."


"Kebetulan sekali, besok aku memang sedang free. Aku juga ingin bertemu dan mengenal adikmu, karena hanya dia satu-satunya keluargamu yang tidak aku tau. Oya, lalu apa kau sudah menemukan pria yang dulu mencampakan adikmu sampai membuatnya terpuruk?"


Silvia menggeleng. "Belum,"


"Memecahkan telornya, aku akan membuat dia membayar mahal apa yang telah dia perbuat pada adikku dulu. Jujur saja aku muak pada pria seperti itu. Mengorbankan cintanya hanya demi kepentingan pribadi keluarganya. Dan sebagai kakak, aku ingin melindungi adikku!!"


"Aku akan membantumu memberi pelajaran pada bajingan itu setelah kau menemukannya. Aku mandi dulu, kalau lelah sebaiknya segera tidur." Silvia mengangguk.


Tanpa Vano minta sekali pun, dia sudah mau tidur. Sekujur tubuhnya terasa lelah. Hari ini benar-benar menjadi hari paling melelahkan baginya.


-


-


Nathan menghentikan motor besarnya di halaman luas sebuah mansion mewah yang memiliki tiga lantai. Pemuda itu turun dari motor besarnya dan melenggang masuk ke dalam. Suasana di dalam begitu sepi dan hening, maklum saja mengingat ini sudah larut malam.


Dengan langkah tenang. Dia berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Nathan sangat lelah dan mengantuk, ia ingin segera tidur dan mengistirahatkan tubuhnya. Karena besok dia harus bangun pagi-pagi untuk kuliah.


Baru saja Nathan hendak membaringkan tubuhnya, tapi sesuatu berkilauan yang menyentuh kakinya membuat perhatiannya teralihkan. Benda itu terjatuh saat Nathan melepas Vest V-Neck abu-abunya. Sebuah liontin dan Nathan mengenal benda cantik tersebut.

__ADS_1


Sudut bibirnya tertarik keatas. Dia menggenggam benda itu lalu meletakkannya disamping kunci motor dan ponselnya. "Aku akan mengembalikan padanya besok." Ucapnya lalu membaringkan tubuhnya.


Benda berkilauan itu adalah kalung milik Vivian yang tidak sengaja tersangkut di pakaiannya. Mungkin terlepas saat dia menariknya ketika mereka nyaris tertabrak tadi.


-


-


Pandangan tidak suka mereka tunjukkan ketika Marissa menginjakkan kakinya di halaman kampus. Beberapa diantaranya saling berbisik-bisik, bahkan ada yang terang-terangan melemparkan kata-kata tajam dan menyakitkan padanya.


Tangan Marissa terkepal kuat. Telinganya benar-benar panas mendengar cibiran dan cacian mereka yang sangat jelas ditunjukkan padanya.


Bruggg...


Langkah Marissa terhenti saat sebuah tomat dan telur busuk menghantam kepala dan wajahnya. "Kau sama busuknya dengan tomat dan telor-telor itu." Seru salah seorang mahasiswi sambil menyeringai kearah Marissa.


Beberapa mahasiswa keluarkan bergabung dan melempari Marissa dengan tomat dan telor tersebut. Dan disaat bersamaan, seorang pemuda langsung menarik Marissa dan melindungi dia. Pemuda itu memeluknya dan menggunakan punggungnya sebagai tameng untuk melindunginya.


"Jangan takut, aku akan selalu ada untuk melindungimu." Ucap pemuda itu yang pastinya adalah Mario.


Bukannya ucapan terimakasih, Marissa malah mendorongnya dan memakinya habis-habisan.


"Kau tidak perlu bersikap sok baik padaku. Pemuda miskin sepertimu kau pikir layak melindungiku, bahkan tubuhku sangat haram untuk disentuh oleh orang miskin sepertimu!!" Bentak Marissa.


Vivian yang baru saja tiba di kampusnya merasa kasihan pada pemuda itu. Mario begitu baik dan tulus padanya. Tapi Marissa selalu bersikap buruk dan memandang ketulusannya dengan sebelah mata.


Sementara itu. Marissa yang melihat keberadaan Vivian menjadi semakin marah. Dia menghampiri orang-orang yang melemparinya tadi. Dia mengambil beberapa tomat dan telor busuk lalu membawanya pada Vivian.


"Ini semua karena dirimu, jika bukan karena kau, aku tidak mungkin dipermalukan seperti ini!!" Teriak Marissa. Dia melemparkan telor dan tomat itu kearah Vivian.


Dan disaat bersamaan. Seseorang menarik lengannya lalu memeluknya dengan erat. Orang itu melindungi Vivian dengan punggungnya, alhasil tubuh dan pakaiannya lah yang menjadi bulan-bulanan Marissa, sementara Vivian tidak tersentuh sedikit pun.


Mata Vivian dan Marissa sama-sama membelalak sempurna. Saat melihat siapa yang melindungi gadis berdarah campuran tersebut.


"Nathan?!"


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2