Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Terbukanya Rahasia Luis


__ADS_3

Bram menghisap kembali rokoknya dan menatap serius seorang pria yang usianya lebih muda darinya itu dengan tatapan menyelidik. Sementara itu, yang ditatap terus menundukkan kepala.


"Bagaimana? Apa kau sudah menemukan siapa pemilik saham yang 20% itu?" Tanya Bram pada orang itu.


Pria itu menggeleng kemudian menundukkan kembali kepalanya. "Maaf, Tuan. Saya sudah menyelidikinya. Tapi tetap tidak bisa menemukan siapa pemilik saham itu," jawabnya.


"BODOH!!" Bram berteriak seraya bangkit dari kursi yang ia duduki. "Apa saja yang kau lakukan selama satu Minggu belakangan ini?! Menyelidiki satu hal saja tidak bisa, apa selama ini kau hanya memakan gaji buta?!" Bentak Bram penuh emosi.


Gyuttt...


Pria itu mengepalkan tangannya. Hampir 5 tahun bekerja pada Bram dan istrinya, tapi tak sekalipun dia bisa menghargai kerja keras dan usahanya. Dan hal itu pula yang membuatnya lama-lama merasa muak.


Bram terus memaki dan memarahi pria itu. Dia juga memukul dan mendorong kepalanya dengan jari telunjuknya. Pria itu mundur beberapa langkah kebelakang, Bram terus mengatainya ini dan itu. Memakinya dan melemparkan kata-kata yang tidak pantas padanya.


"Aku tidak tau bagaimana cara ibumu dulu mendidikmu, sampai-sampai kau tumbuh menjadi pria bodoh dan tidak berguna!! Ibumu pasti juga orang yang tidak berguna, sehingga melahirkan anak yang tidak berguna juga!!"


"JANGAN PERNAH MENGHINA IBUKU!!" teriak pria itu sambil memukul wajah Bram dengan keras. Akibatnya Bram terjengkang ke belakang dengan sudut bibir mengeluarkan darah.


Dengan emosi, pria itu menarik pakaian Bram lalu memukulnya dengan keras. Beberapa pukulan mendarat pada wajahnya.


"Aku selalu diam ketika kau menghinaku, tapi jangan sekali-kali kau membawa-bawa ibuku!! Aku tidak terima jika Ibuku kau hina seperti itu. Bahkan derajat Ibuku lebih tinggi darimu meskipun kami dari keluarga yang tidak berada!!" Teriak pria itu sambil terus memukul Bram dengan brutal.


Bram yang tadi berteriak dan berlagak sok berkuasa, bahkan langsung kehilangan tajinya. Jangankan untuk melawan, untuk bergerak pun dia tidak mampu.


Mendengar keributan di ruang pribadi suaminya. Elisa pun langsung datang untuk melihatnya. Matanya membelalak melihat suaminya yang sedang terkapar dengan wajah babak belur.


"Manusia rendahan, apa yang kau lakukan pada suamiku?!" Teriak Elisa, dia menarik pria itu dan mendorongnya menjauh dari Bram.


"Huhuhu... Cepat telfon polisi, laporkan bajingan ini. Dia harus ditahan dan dipenjara karena berani menghajar majikannya!!" Bram menangis.


"Kau bukan majikanku lagi!! Karena kau tidak sudi bekerja pada manusia hina sepertimu!!" Jawab pria itu menimpali.


"Kau~" Elisa menggantung ucapannya sambil menunjuk pria itu.

__ADS_1


Prokkk...


Prokkk...


Prokkk...


Terdengar suara tepuk tangan dari arah pintu. Luis datang dan mengejutkan semua orang yang ada di ruangan itu. Bukan karena kedatangannya, tapi karena dia yang bisa berdiri dengan tegap dan berjalan dengan benar.


"Sungguh pemandangan yang sangat mengharukan!! Anak muda, siapa namamu?" Tanya Luis pada pria itu.


"Huang Tao,"


"Tao, bagaimana kalau mulai hari ini kau bergabung denganku? Menjadi anak buahku, aku adalah kepala keluarga disini. Dan sebagai majikanmu, aku bisa memberikan semua fasilitas yang kau butuhkan. Tempat tinggal yang layak, mobil mewah dan gaji yang tinggi, kau juga bisa membawa ibumu untu tinggal bersamamu. Bagaimana, apa kau menyetujuinya?!"


Tao langsung berlutut di depan Luis. "Tuan, mulai hari ini Anda adalah majikan saya. Dan kesetiaan saat untuk Anda," ucap Tao dengan tegas.


Luis menyeringai. "Bagus sekali. Aku suka anak muda sepertimu. Mulai hari ini kau adalah tangan kiriku, jadi jangan pernah mengecewakanku,"


Luis mengangguk. "Baiklah, tugas pertamamu dariku. Jemput surgamu, dan bawa dia ke rumah barumu. Dia juga berhak mendapatkan tempat tinggal yang layak. Kris, kau ikutlah bersama dia." Luis melirik Kris dari ekor matanya. Pria berkebangsaan China-Kanada itu kemudian mengangguk.


"Baik, Tuan."


Di ruangan itu hanya menyisakan Elisa, Luis dan Bram. Pasangan suami-istri itu kemudian menghampiri Luis dan meminta penjelasan padanya. "Apa maksudnya semua ini, Luis Qin?! Jadi selama ini kau tidak cacat, kau hanya pura-pura lumpuh?!" Tanya Elisa tanpa basa-basi.


"Bukankah sudah jelas, apalagi yang perlu aku perjelas?! Untuk itu mulai sekarang berhati-hatilah, karena tindak-tanduk kalian akan selalu aku awasi. Sebaiknya segera obati luka-lukamu. Bercerminlah, kau mirip badut di alun-alun kota!!" Luis melambaikan tangannya dan pergi begitu saja.


Luis sudah bosan terlalu lama berpura-pura dan menjadi orang lain. Tidak ada gunanya lagi dia terus berpura-pura lumpuh, toh kebusukan Anna dan mereka bertiga sudah terungkap.


Seperti kata Jesslyn waktu itu, dia hanya perlu menjadi dirinya sendiri tanpa perlu berpura-pura lagi menjadi orang lain.


-


-

__ADS_1


"Luis, dimana kursi roda dan perbanmu?!"


Jesslyn memekik kaget saat Luis menghampirinya tanpa kursi roda dan perban yang selama ini selalu menghiasi sebagain wajah tampannya. Pria itu mengangkat bahunya acuh.


Luis mendekati ranjang Jesslyn kemudian berbaring di pangkuan gadis itu. "Yakk!! Apa yang kau lakukan, menyingkir dan jangan seenaknya menjadikan pahaku sebagai bantalan kepalamu!!"


"Diamlah dan jangan berisik. Biarkan aku menutup mata sebentar saja," ucap Luis lalu menutup matanya.


Jesslyn menatap laki-laki ini dengan sebal. Dia tidak menyuruh Luis untuk menyingkir lagi dari pahanya dan membiarkan Luis tetap berbaring seperti ini. Jesslyn mengangkat tangan kanannya, jari-jarinya mengusap rambut pria itu.


Perlahan tapi pasti. Luis memejamkan matanya. Sentuhan Jesslyn pada kepalanya mengingatkan Luis pada mendiang ibunya, dulu saat wanita itu masih ada. Dia juga sering melakukannya.


"Aku akan segera menceraikan Anna," gerakan tangan Jesslyn terhenti. Mata Luis kembali terbuka dan mereka saling menatap selama beberapa detik. "Keputusanku sudah bulat dan tidak bisa dirubah lagi," dia menambahkan.


"Bukankah kita sudah sepakat, kau tidak akan menceraikan Anna sebelum kontrak nikah kita berakhir, tapi kenapa kau malah membuat keputusan seperti ini?! Dan keputusanmu itu sama saja dengan kau melemparkanku ke dalam jurang yang sangat dalam!!"


"Aku sudah memikirkannya baik-baik, Jess. Tidak akan ada masalah yang menyeretmu apalagi membuat namamu buruk, percayalah padaku. Aku pasti akan melindungi nama baikmu."


"Publik tidak akan menyalahkanmu jika aku menyebarkan alasan kenapa menceraikan Anna, dengan semua bukti-bukti itu, apa yang bisa dia lakukan untuk membela dirinya?!" Ujar Luis panjang lebar.


Jesslyn menggeleng. Tetap saja dia tidak setuju dengan keputusan suami kontraknya ini. Meskipun Luis dan Anna berpisah, toh dia juga tidak akan diuntungkan sama sekali. Statusnya pun tidak akan berubah, jadi kenapa Jesslyn harus menyetujui keputusan suaminya?!


"Sebaiknya pikirkan lagi dengan matang, jangan asal ambil keputusan. Apalagi kau dan Anna sudah bersama selama bertahun-tahun, banyak kenangan diantara kalian berdua. Apakah kau akan melepaskannya begitu saja?!"


Luis menatap Jesslyn dingin. "Sudah tidak ada alasan untukku mempertahankan pernikahan ini. Karena aku tidak bisa lagi hidup bersama wanita yang telah mengkhianatiku!! Dan sebaiknya kau jangan terlalu banyak ikut campur, Jesslyn. Ingat posisimu, pernikahan kita hanya sebatas pernikahan kontrak!!" Luis bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.


Jesslyn mendesah berat. Tanpa Luis ingatkan pun, tentu dia tau posisi dan statusnya saat ini. Jesslyn juga tidak akan berharap lebih apalagi sampai melewati batasannya. Dia sadar betul akan posisinya.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2