
Jordan merebahkan tubuhnya di kasur super empuk miliknya, sudah dua malam kasur itu Ia tinggalkan begitu saja. Membuat kasur itu terasa dingin, mungkin karena tidak di tiduri selama beberapa hari.
Pria itu bangkit dari berbaringnya saat merasakan kehadiran seseorang, Luna masuk sambil membawa makan malam untuknya yang terdiri dari roti isi daging, segelas susu panas dan tak lupa salad buah yang lebih di dominan dengan apel dan anggur. Karena Luna tau jika kekasihnya itu sangat menyukai kedua buah tersebut.
"Maaf Ge, hanya ini yang bisa aku siapkan untuk makan malammu." Sesal Luna sambil menundukkan wajahnya.
Sentuhan lembut pada wajahnya membuat perasaan Luna menghangat. "Kemari Lah." Jordan menepuk ruang kosong di sampingnya, Luna mengangguk kemudian duduk di samping kiri pria itu.
Sama-sama bersandar pada sandaran tempat tidur, Jordan menarik selimut tebal miliknya kemudian menyelimuti dirinya sendiri juga Luna. Hanya sebatas perut "Makan dulu, Ge." Pinta Luna.
"Setelah aku puas dengan bibirmu."
"Tapi Ge----- emmpppp.??"
Kalimat Luna di potong oleh lumattan Jordan pada bibirnya, Jordan menyambar bibir gadisnya dan melumatt-nya tanpa ampun. Meskipun ini bukan ciuman pertama mereka, namun Luna tetap kewalahan mengimbangi ciuman panas Jordan.
Jordan merengkuh tubuh Luna dan semakin memperdalam ciumannya, tangan kanan Luna merayap di atas lengan berotot Jordan yang tak tertutup apa-apa karena kemeja lengan terbuka yang dia pakai, menyentuh bagian tribalnya dengan gerakan naik turun berulang-ulang.
Tangan kirinya mencoba membuka kancing kemeja Jordan lalu tangannya merayap di dada bidang sang adonis yang masih berlapis kaus putih tanpa lengan. Jordan menggeram menahan desahannya, karna sentuhan-sentuhan seksuall Luna.
Jordan tampak menguasai permainan lidah yang Ia ciptakan sendiri, tak lama bibirnya turun dan menjelajahi leher jenjang Luna. "Uuggghhh." Membuat gadis itu mengeluh karena rasa geli yang tercipta.
Berkali-kali Luna mendesahh, merasakan sensasi yang tak pernah Ia rasakan sebelumnya, selama menjalin hubungan dengan Jordan. Mereka tak lebih dari french kiss.
Dan desahann erotiis Luna semakin membangkitkan libidoo Jordan untuk segera memakan gadisnya ini."Luna, kau membuatku tidak bisa mengontrol diriku. Malam ini akan ku buat kau tidak tidur dan mendesahh kan namaku hingga pagi, sayang." Bisik Jordan dengan seringai nakalnya.
Mata Luna sontak terbelalak. "APA?!"
Seringai mengerikan Jordan masih belum hilang dari bibirnya, susah payah Luna menelan ludahnya. Tubuhnya menegang karena perlakuan Jordan, dan dia bisa menikmati berbagai ekspresi dari sosok cantik yang kini ada di bawah kungkungan tubuhnya.
"Jangan takut, sayang. Aku akan melakukannya dengan perlahan, aku tau ini yang pertama untukmu. Mungkin akan sedikit sakit, dan ingat. Aku tidak akan berhenti meskipun kau memohon." Jordan kembali memagut bibir Luna tanpa memberikan gadis itu kesempatan untuk membalas ucapannya, permainannya terus berlanjut.
Entah sejak kapan, tubuhh mereka sama-sama polos tanpa ada sehelai benang pun yang melekat di tubuh Jordan maupun Luna, banyak bercak merah menghiasi tubuh gadis itu. Terutama di bagian dada dan beberapa di leher putih jenjangnya, Luna tidak melawan. Ia justru menikmati permainan panas Jordan yang penuh gairah. Ya meskipun awalnya terasa sakit, namun rasa sakit itu tergantikan dengan kenikmatan yang tiada tara.
__ADS_1
Decitan ranjang terdengar nyaring di kamar Jordan yang biasanya sunyi itu, untung saja ruangan itu di buat kedap suara hingga tidak ada yang bisa mendengar apa yang terjadi antara mereka berdua. Malam ini merupakan malam panas bagi kedua insan yang sedang memadu kasih.
Tidak hanya desahhan dan pekikan erotiis dari mereka berdua, mereka tidak melewatkan satu inci pada diri pasangannya. Bagi Jordan maupun Luna, ini sama-sama pertama kalinya. Jordan adalah orang pertama yang memasuki dirinya. Begitupun dengan Jordan, ini adalah pertama kalinya baginya memasuki seorang gadis. Dan gadis itu adalah kekasihnya, gadis yang sangat di kasihinya, Luna.
Malam ini mereka sama-sama menikmati waktu yang mereka miliki, dan mereka sama-sama menghiraukan bagaimana hari esok akan terjadi. Yang ada di pikiran mereka saat ini adalah, melewati malam panjang ini yang penuh dengan gairah.
- - - oOo - - -
Luna turun dari mobil Jordan dengan langkah tertatih-tatih, ada rasa nyeri pada sellangkangnya dan daerah kewanittaannya. Luna ingin sekali mengutuk Jordan karena sudah membuatnya kesulitan berjalan pagi ini "Ugghhh." Keluhnya.
Dari kejauhan tampak seorang gadis bersurai hitam panjang bermata bulat indah, tampak memicingkan matanya melihat sahabat merah mudanya datang dengan langkah tertatih-tatih. Aneh, Luna jalan sedikit mengangkang.
"Tiffy," Luna melambaikan tangannya saat melihat keberadaan Tiffany, lalu berjalan menghampirinya.
"Luna, ada apa dengan cara jalanmu? Kenapa terlihat aneh?" Celetuk Tiffany saat Luna sudah ada di hadapannya.
"Eh," Luna terkejut mendengar pertanyaan Tiffany, matanya bergerak liar mencoba mencari jawaban atas pertanyaan sahabatnya itu.
"Aneh bagaimana? Perasaan memang seperti ini caraku berjalan setiap harinya." Ujarnya, sepertinya Tiffany menaruh curiga pada Luna.
"Hahaha, tidak usah di jawab, Luna Sayang. Aha, aku tau kok jawabannya. Kalian lembur kan semalam? Kira-kira berapa ronde yang kalian habiskan?" Tanya Tiffany dengan seringai jahilnya.
"Ma-maksudmu apa? Aku tidak mengerti, dan jangan asal bicara." Sahut Luna dengan wajah memerah padam.
Luna sangat tau apa maksud Tiffany, sangat tau malah. Tapi Ia memilih menghindari karena tidak mungkin Ia menceritakan yang sebenarnya pada sahabatnya itu karena itu akan sangat memalukan, bisa-bisa dia akan meledeknya sepanjang hari tanpa henti.
Uhh dan jika itu terjadi, pasti itu akan sangat mengerikan. Apalagi jika Luna menceritakan bagaimana liarnya Jordan, pasti beritanya akan langsung menyebar ke seluruh telinga teman-temannya, karena Tiffany adalah ratu gosip.
Sementara itu. Tiffany semakin gencar untuk menggoda Luna. Tiffany tidak ragu lagi jika semalam sahabatnya itu habis bercinta. "Hihihi, berapa ronde yang kalian habiskan? Bagaimana dengan, Tang Songsaenim? Apa dia seliar, Devan, saat bermain denganku?" Goda Tiffany sambil mencolek dagu Luna. "Uhh kalau menurutku Tang Songsaenim sangat tahan lama, sampai-sampai membuatmu kesulitan berjalan begitu."
Mata Luna membulat, memelototi Tiffany karena kalimat vullgarnya itu. Dia benar-benar membuat wajahnya memerah, Luna ingin sekali mengutuk mulut besar Tiffany yang kelewat menyebalkan itu
"Cukup Tiff, ti-tidak sepantasnya kau berkata vulgarr seperti itu.
__ADS_1
"Huhuhu sudah tertangkap basah masih saja mengelak, menyebalkan." Tiffany menggembungkan pipinya. "Luna, ini pertama kalinya hu? Beruntung sekali patung es itu karena berhasil mendapatkan keprrawananmu." Lanjutnya dengan seringai menggoda.
" ... " Luna tidak menjawab dan menundukkan wajahnya, Ia tidak tau lagi bagaimana harus menghadapi Tiffany si ratu gosip.
Luna benar-benar di buat tak berkutik oleh tingkah dan pertanyaan gila Tiffany, untung hanya Tiffany. Jika Karin juga ada di sana. Bisa-bisa Ia melompat dari lantai 50 hotel berbintang.
"Sudah tidak ada alasan untuk menghindar lagi Hahaha akhirnya kau dewasa juga, Tang Songsaenim memang hebat." Luna segera membekap mulut Tiffany sebelum wanita itu semakin banyak bicara.
"Pelan kan suaramu bodoh, kau ingin membuatku malu ya." Marah Luna dengan tatapan tajamnya.
"Seliar apa Tang Songsaenim saat di ranjang , Luna Jangan bilang sepanjang malam kau terus melihat tribal di tubuhnya yang sangat kau kagumi itu? Uhhn pasti dia sangat sexy ya? Sungguh beruntung kau, Luna."
"Tu-tunggu m, ta-tapi dari mana kau tau jika dia liar?" Ucap Luma yang mulai terhanyut dengan obrolan vulgarnya dengan Tiffany.
"Hahahaha." Alih-alih menjawab, Tiffany malah tertawa keras.
"Tiffany!!" Geram Luna marah.
"Maaf ,, maaf , akhirnya kau mengakuinya juga." Tiffany mengerlingkan matanya nakal. "Oya, kau tanya dari mana aku tau dia liar atau tida?? Di balik wajahnya yang dingin dan tenang, pasti dia memiliki sisi liar saat bercinta. Devan contohnya. Dia konyol, jadi sudah pasti memiliki sisi luar seperti pria dingin."
"Awalnya aku mengira dia bukan tipe pria semacam itu, tapi aku salah. Ternyata dia sangat liar dan penuh gaiirah. Kyyyaaa, aku jadi tidak sabar untuk meminta jatahku nanti malam." Tiffany memekik keras, dan tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sejak tadi mengawasi dan mendengarkan perbincangan vullgar keduanya.
Bukannya menegur, orang itu malah terkikik geli. Sampai Ia memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya.
"Hei anak-anak, jangan berisik. Ini di kampus." Hardik orang itu sambil melewati kedua gadis itu, namun langkahnya tiba-tiba berhenti "Dan hentikan obrolan messum kalian, sebelum ada orang lain yang mendengarnya." Lanjutnya, namun langkahnya kembali terhenti.
Menoleh dan menatap Luna dengan seringai jail yang tersembunyi "Luna, jangan cemas. Aku akan merahasiakannya kok. Tapi lain kali beri obat kuat biar Bocah Tang itu lebih tahan lama lagi, hahaha." Dan pergi begitu saja. Membuat Luna dan Tiffany sweatdrop seketika.
"HA!!"
.
.
__ADS_1
Bersambung