
"NATHAN!!"
Gerakan tangan Nathan yang hendak memukul lawannya terhenti di udara setelah mendengar teriak seseorang yang sangat familiar. Sontak pemuda itu menoleh, matanya sedikit membelalak melihat siapa yang menatapnya dari kejauhan itu.
"Daddy?!"
.
.
Keheningan sesaat menyelimuti kebersamaan dua laki-laki berbeda usia tersebut. Laki-laki yang lebih tua itu terlihat menghela nafas berat, dia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kaca besar yang menghubungkan kamar sang putra dengan pemandangan kota New York.
Pemuda berusia 22 tahun itu menatap sang ayah dengan pandangan datar. "Kenapa?Kenapa aku harus pindah kampus, Dad?!" Tanya pemuda itu menatap sang ayah penuh tanya.
Pria itu yang pastinya adalah Luis lantas berbalik dan menatap putra sulungnya itu dengan tenang, namun penuh ketegasan.
"Sudah jelaskan, jika kau harus memperbaiki sikapmu yang penuh dengan kesombongan dan keangkuhan itu. Dan sikapmu itu, menjadikanmu seperti seorang berandalan di jalanan!! Suka berkuasa, berbuat onar, balap liar, tawuran antar geng dan mabuk-mabukan!!"
"Daddy tahu, jika kita adalah donatur paling besar di Universitas tempatmu kuliah, tapi kau memanfaatkannya untuk berkuasa dan merendahkan setiap orang!" Ujar Luis dengan tegas dan menatap sang putra tajam.
Sedangkan Nathan hanya membuang muka. Dia muak mendengar ocehan ayahnya. "Cih, siapa yang memberitahumu? Dosen sialan itu?!" Decih Nathan datar.
"Jaga ucapanmu itu, Nathan Qin!" Bentak Luis sedikit marah. "Lihatlah, sikapmu itu secara tidak sadar telah membuat rendah nama keluarga Qin! Aku berkata seperti itu untuk kebaikanmu, dan... Segera putuskan hubunganmu dengan gadis merah itu"
Lalu Nathan mengangkat wajahnya dan menatap ayahnya. "Apa maksud Daddy-"
"Berhenti membantah Nathan, kau tidak menyadarinya, dia hanya ingin menikmati uangmu saja, dan hanya karena kau tampan, dia mau dekat denganmu! Dan Daddy tidak suka dengan wanita seperti itu!!" Potong Luis cepat.
Nathan hanya diam, sejujurnya, baru kali ini dia melihat ayahnya begitu marah. Karena selama ini, dia selalu di manjakan dari kecil oleh sang ayah.
"Kau sudah besar Nak, umurmu sudah 22 tahun. Kau bukan remaja kemarin sore lagi. Daddy pikir dengan mengirimmu kuliah di luar negeri, maka kau bisa menjadi kebanggaan keluarga. Tapi malah sebaliknya. Kau berubah menjadi liar dan berandal!!"
"Mulai dari sekarang Belajarlah untuk melihat mana yang baik dan mana yang buruk. Sebagai orang tua, Daddy hanya tidak ingin kau menjadi pemuda yang boros hanya untuk gadis seperti itu" Jelasnya lagi.
__ADS_1
Nathan menatap ayahnya lama. "Lalu, aku harus bagaimana?" Tanya Nathan mulai menyetujui kata-kata ayahnya.
Luis terdiam sejenak. "Segera kemasi barang-barangmu. Malam ini juga kita kembali ke Korea. Daddy sudah mengurus semuanya termasuk kampus barumu. Dan kau harus mengubah penampilanmu ini menjadi sedikit lebih culun!!"
"Apa maksud Daddy menyuruhku mengubah penampilan? Jangan bercanda!!" Geram Nathan sinis.
"Tenang dulu Nathan, Daddy hanya ingin kau mengetahui setiap gadis yang ingin mendekatimu, apa mungkin mereka mendekatimu dengan cinta yang tulus, bukan cinta kepada hartamu."
"Dan lagipula, itu akan sedikit meringankan bebanmu, karena tidak ada lagi teriakan-teriakan histeris yang melukai kupingmu itu" Jelas Luis lalu berjalan kearah pintu.
Sebenarnya jika dipikir-pikir, yang dikatakan ayahnya ada benarnya juga, dia jadi bisa berkonsentrasi dalam belajarnya. Jangan salah, Nathan adalah mahasiswa terpintar di kampusnya, tapi satu yang membuat ia jelek, Sikapnya yang angkuh dan brandal itu.
Nathan masih terdiam di tempatnya memikirkan sesuatu, lalu dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya untuk menelpon seseorang. Setelah sambungan tersambung, Nathan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
'Halo, Baby!'
"Kita Putus!"
'A..Apa?!'
Nathan membuang nafas kasar. "Mungkin tidak ada salahnya jika aku mencoba" Gumam Nathan lalu merebahkan tubuhnya pada kasur king size-nya.
-
Dua laki-laki berbeda usia dan penampilan, terlihat berjalan dengan santai menuju pesawat tujuan Korea. Suasana cukup lenggang di bandara internasional New York, mengingat hari sudah malam, dan pasti mereka akan memilih untuk beristirahat ketimbang melakukan perjalanan di udara.
Luis sesekali memperhatikan pemuda yang berjalan disampingnya. Helaan napas berat berkali-kali keluar dari sela-sela bibirnya. Dia tidak tau bagaimana reaksi Jesslyn nanti saat melihat penampilan putranya yang tak ubahnya seperti berandalan.
Celana belel hitam, tak top putih dengan kemeja kotak-kotak hitam tanpa lengan sebagai luarannya, dua-tiga pricing pada telinga kanannya. Luis seperti tidak mengenali putranya lagi.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Ada yang salah pada penampilanku?"
"Sebaiknya ganti pakaianmu dan lepas anting-antingmu. Daddy tidak ingin jika mamimu sampai pingsan saat melihat penampilanmu yang buruk ini!!"
__ADS_1
Nathan berdecak lidah sambil memutar jengah matanya. "Dasar merepotkan!!" Dia mempercepat langkahnya dan berjalan mendahului ayahnya.
Luis berhenti sejenak di depan tangga penghubung pesawat yang akan lepas landas beberapa menit lagi. Ia mengusap dada, Luis juga pernah muda, dia juga pernah menjadi remaja nakal, tapi tidak sampai separah Nathan.
"Ya Tuhan, kembalikanlah putraku yang sedang tersesat ke jalan yang benar. Nathan, penampilanmu membuat Daddy merinding sendiri!!"
-
Seorang gadis dengan rambut panjang terurai terlihat menuruni tangga melingkar disebuah rumah mewah yang memiliki dua lantai. Padahal jam dinding baru menunjuk angka 06.00 pagi, tapi dia sudah bangun dari tidur lelapnya.
Gadis itu kemudian berjalan menuju dapur. Keadaan rumah sangat lengang dan hening, mengingat hanya dirinya sendiri yang menempati rumah super besar itu.
Kedua orang tuanya berada di luar negeri, dan dia hanya tinggal sendiri.
Tokk... Tokk.. Tokk...
Ketukan pada pintu menyita perhatiannya. Gadis itu mematikan kembali kompornya lalu berjalan keluar untuk melihat siapa yang datang di pagi buta begini.
Pintu utama terbuka lebar. Seorang gadis berdiri didepannya sambil menenteng dua kantong besar berisi makanan. "Tidak perlu menyiapkan sarapan, aku membawakan banyak makanan untuk kita berdua." Ucap gadis itu sambil tersenyum lebar.
"Kebetulan sekali, aku memang agak sedikit malas untuk memasak." Jawab si pemilik rumah menimpali.
"Oya, Vi. Apa kau sudah dengar jika kampus kita akan kedatangan mahasiswa baru, dengar-dengar dia pindahan dari New York. Aku jadi penasaran dan tidak sabar untuk melihat seperti apa wajahnya. Tampan atau tidak,"
Gadis itu 'Vivian' menggelengkan kepala. "Aku malah belum mendengarnya. Dasar playgirl, tidak bisa melihat yang bening sedikit matamu langsung hijau!!" Cibir Vivian lalu meletakkan dua sumpit disamping piring kosong.
"Hidup hanya satu kali. Jadi harus dinikmati, lagipula untuk apa kita memiliki mata jika tidak dimanfaatkan, sering melihat yang bening-bening bisa membantu mata tetap sehat." Ucapnya.
"Yeah, terserah kau saja. Jangan ngoceh lagi, sebaiknya kita sarapan sekarang sebelum makanannya menjadi dingin."
Mengabaikan sahabat satu-satunya itu. Vivian mengambil sumpitnya lalu mulai menyantap sarapannya. Meskipun tinggal jauh dari keluarganya, tapi Vivian sangat beruntung karena memiliki sahabat seperti Sania yang selalu ada setiap kali dia membutuhkannya.
-
__ADS_1
Bersambung.