
Jantung Jesslyn berdetak dua kali lebih cepat ketika Luis mendekatkan wajahnya seraya menarik tengkuknya. Kedua matanya perlahan tertutup saat merasakan sesuatu yang lembut dan basah menyentuh permukaan bibirnya disusul pagutan dan lum*tan lembut pada bibir ranumnya.
Sebelah tangan Luis menarik pinggang Jesslyn dan membunuh jarak diantara mereka. Kedua tangan Jesslyn yang sebelumnya saling meremas di pangkuannya, berpindah dan memeluk leher Luis.
Bibir Luis terus mel*mat dan memagut bibir Jesslyn atas bawah bergantian. Jesslyn begitu terbuai dengan ciuman lembut itu, bahkan dia seakan lupa dimana posisi mereka saat ini.
Namun ciuman itu tak berlangsung lama, Luis mengakhiri ciuman itu saat melihat wajah Jesslyn yang memerah seperti kepiting rebus.
Gadis itu menundukkan kepalanya, jantungnya kembali berdetak hebat. Lagi-lagi Luis membuat jantungnya tidak baik-baik saja.
"Ayo kita makan, kau pasti lapar." Ucap Luis yang hanya dibalas anggukan pelan oleh Jesslyn.
Tiba-tiba angin bertiup. Membuat helaian panjang Jesslyn yang terurai berkibar akibat sapuan sang bayu.
Luis terpana menatapnya, pemandangan di depannya benar-benar begitu luar biasa. Apalagi ketika jari-jari lentik Jesslyn berusaha merapikan rambutnya yang berantakan. Jika boleh jujur, Jesslyn adalah wanita tercantik yang pernah Luis temui di dalam hidupnya, setelah mendiang ibunya.
"Ahhh, tau begini aku tadi membawa ikat rambut. Angin ini benar-benar membuat tatanan rambutku berantakan!!" Keluh Jesslyn mendengus kesal.
Tiba-tiba Luis bangkit dari duduknya lalu berpindah ke belakang Jesslyn, gadis itu menoleh dan menatap bingung pada pria yang tengah berulang tahun tersebut. Luis mengeluarkan sebuah pita dari dalam celananya lalu mengikat rambut Jesslyn dengan pita tersebut.
Sebuah pita merah yang sangat cantik. Jesslyn tidak tau jika Luis bisa menyimpan benda semacam itu.
"Aku membelinya dari seorang anak kecil ketika berangkat ke kantor tadi. Dia mengatakan padaku seorang perempuan akan sangat cantik ketika memakainya, karena kasihan aku membelinya," Luis memberi penjelasan seolah mengerti apa yang sedang Jesslyn pikirkan.
Tangannya kemudian meraba rambutnya yang terikat oleh pita itu. Luis kembali ke tempat semula dan melanjutkan makan siangnya. Sudut bibir Jesslyn tertarik ke atas, rasanya seperti ada jutaan kupu-kupu yang hinggap dan berterbangan di dalam perutnya.
Gadis itu mengambil sumpitnya lalu menyantap makan siangnya dengan tenang. Dan Jesslyn berharap agar hari ini tidak cepat berlalu.
-
__ADS_1
-
Seorang wanita menatap sebuah foto usang dengan tatapan tak terbaca. Jari-jarinya menyentuh foto itu dengan gemetar, kedua matanya berkaca-kaca yang kemudian berubah menjadi lelehan-lelehan bening yang perlahan jatuh dan membasahi foto itu.
Ada rasa sesak yang menghimpit dadanya, 26 tahun telah berlalu, suara tangis bayi masih tergambar jelas di ingatannya ketika dia meninggalkannya.
"Apa itu foto putrimu?"
Wanita itu mengangkat wajahnya dan mendapati sang suami berdiri di belakangnya. Lantas ia menghapus air matanya kemudian mengangguk. "Ya, bayi merah yang aku tinggalkan 25 tahun yang lalu." Jawabnya.
Lalu pria itu mengambil foto tersebut dari tangan istrinya. "Dia sangat cantik, sama sepertimu. Pasti sekarang dia sudah tumbuh dewasa dan menjadi gadis yang sangat cantik. Apa kau tidak ingin mencarinya?" Tanya pria itu lalu mengembalikan foto tersebut pada istrinya.
"Entahlah, aku takut dia tidak mau menerimaku karena aku menelantarkannya saat dia masih bayi dan membutuhkan diriku." Jawabnya.
"Semua keputusan ada di tanganmu. Kau bisa mencarinya kapanpun kau mau. Karena putrimu adalah putriku juga. Hari ini aku berencana untuk menemui Luis, aku harus mendapatkan dukungan penuh darinya untuk memenangkan tender besar itu."
Lantas wanita itu mengangkat wajahnya. "Apa kau yakin dia akan membantumu?! Bukankah dia sangat-sangat membencimu,"
"Tapi bagaimana jika dia menolak untuk membantumu?"
"Gampang, aku hanya perlu memberinya sedikit ancaman. Lagipula aku adalah satu-satunya orang yang tau dimana letak makam wanita itu. Jika Luis ingin tau makam ibunya, berarti dia harus menurut padaku!!"
Wanita itu menyeringai. "Kau memang hebat suamiku. Dan aku akan selalu mendukungmu!! Malam ini aku akan pulang sedikit terlambat, ada acara dengan teman-temanku." Lalu wanita itu memeluk suaminya.
"Oke, pergilah bersenang-senang." Dia memberikan sebuah platinum card pada istrinya. Pria itu memang sangat memanjakan istrinya. Apapun yang ia inginkan pasti akan dia berikan, termasuk nyawa istri pertamanya.
Yuna adalah istri muda ayah Luis. Mereka sudah menjalin hubungan sejak ayah Luis masih bersama istrinya. Dan alasan kenapa wanita itu meninggalkan anak dan suaminya adalah ayah Luis. Dia lebih kaya dan lebih segalanya dari suaminya, dan mampu memberinya segalanya.
-
__ADS_1
-
Sebuah Lamborghini Veneno melaju dengan kecepatan sedang di jalanan pegunungan. Seorang gadis cantik duduk di samping si pengemudi sambil melihat melihat matahari yang nyaris terbenam di ufuk barat.
Sesekali dia memotret pemandangan cantik itu. Sudut bibirnya tertarik keatas melihat hasil jepretannya yang bisa dikatakan nyaris sempurna. Sebuah ide muncul di kepalanya, dia mengarahkan kameranya pada sosok tampan yang sedang mengemudi dengan tenang disampingnya.
"Jesslyn, apa yang kau lakukan?!" Pria itu 'Luis' melayangkan protesnya karena Jesslyn mengambil fotonya dengan seenak jidat.
"Bagus kan, bagaimana kalau kita berfoto bersama?" Usul gadis itu.
"Aku sedang mengemudi, jika tidak ingin terjadi sesuatu. Sebaiknya diam dan duduk dengan manis saja!!" Jesslyn memanyunkan bibirnya. Kenapa dia malah kena omel oleh Luis. Padahal Jesslyn cuma ingin mengambil foto bersama.
"Dasar menyebalkan!!!"
Luis mendengus geli. Dia mengambil alih kamera itu dari tangan Jesslyn setelah menepikan mobilnya. Membuat sudut bibir Jesslyn tertarik keatas, kemudian mereka berfoto bersama. Jesslyn tersenyum lebar, sedangkan Luis hanya tersenyum tipis.
Jesslyn melihat hasil yang Luis ambil dan mendecih sesal. "Sebaiknya jangan memaksakan diri untuk tersenyum, kau terlihat menakutkan!! Baiklah, ayo kita foto sekali lagi." Jesslyn merangkul pundak Luis, kali ini senyum pria itu lebih natural dan hasilnya memuaskan.
"Nah begini dong, ini baru namanya tersenyum. Kalau begitu ayo jalan lagi, tapi ngomong-ngomong kita mau pergi kemana?" Jesslyn menatap Luis penasaran.
"Jeju, aku ingin membawamu menginap disana. Bukankah kau bilang ingin pergi liburan."
"Sungguh?" Luis mengangguk. "Kyyyaaa!!! Kau memang yang terbaik, aku semakin menyukaimu." Serunya.
Jesslyn langsung memeluk Luis dan mencium pipi kanannya saking senangnya. Sedangkan Luis tidak menduga dengan respon gadis ini, Jesslyn memberikan respon di luar dugaannya.
Mendengar kata Jeju, membuat Jesslyn langsung berbinar-binar. Sudah sejak lama dia ingin sekali pergi ke pulau cantik itu, tapi dia tidak pernah memiliki kesempatan. Dan tiba-tiba Luis membawanya pergi ke sana, jadi bagaimana mungkin Jesslyn tidak bahagia.
-
__ADS_1
-
Bersambung.