
Jordan membuka kotak makanan di pangkuannya. Berbagai makanan lezat yang mengiurkan tersaji di depan mata Luna dan Jordan, membuat perut Luna langsung keroncongan. Tidak hanya makanan, ada jus juga. Cacing-Cacing dalam perut Luna menari-nari minta segera di isi.
"Hm, apa kau yang mengirimiku pesan?" Luna mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap mata hitam Jordan yang juga menatap padanya.
"Menurutmu siapa?" dia menjawab singkat. Luna mendengus sebal, bukan jawaban seperti itu yang dia harapkan. Tapi apa yang bisa dia harapkan dari pria dingin seperti Jordan Tang?
Gadis itu terus saja menggerutu tidak jelas. Jordan benar-benar membuatnya kesal setengah mati. Bisa-bisanya ada manusia menyebalkan seperti dia di dunia ini. Dan bertemu dengan seorang Jordan Tang benar-benar mimpi buruk bagi Luna.
"Ada apa, apa kau salah minum obat pagi ini?" Suara dingin Jordan berkaur di telinganya.
Luna mengangkat wajahnya. Matanya bersirobok dengan jade kelam milik sang Dosen tampan nan dingin di hadapannya. Luna merengut kesal. Kemudian Dia memperhatikan Jordan, Ada yang berbeda dari penampilannya. Berapa lama Ia menggerutu, sampai-sampai tidak menyadari saat Jordan membuka 3 kancing kemejanya dan menggulung lengannya hingga atas siku.
Untung masih ada vest yang menjadi luaran kemejanya, hingga dada bidang Jordan tidak terlalu terekspos. Kemudian pandangan Luna bergulir pada lengan kiri Jordan, dia melihat sesuatu menyembul dari balik kemejanya yang terguling. Luna mengangkat alisnya. Mungkinkah dia salah lihat? Ukiran hitam itu mirip dengan... Tatto.
Luna memicingkan matanya dan menatap Jordan penuh selidik. "Apa itu Tatto?" tanya Luna memastikan. Dan Jordan tahu apa yang dimaksud oleh gadis itu.
"Hn," Jordan hanya berdehem, menjawab pertanyaan Luna.
Gadis itu mendengus sebal. Bukan itu jawaban yang Luna inginkan. Memangnya tidak ada kata lain apa? Kenapa harus satu kata menyebalkan itu?! Luna benar-benar kesal dibuatnya.
"Ck, aku tidak tahu. Sebenarnya kau ini memang irit bicara, atau memang malas bicara? Apa tidak ada kata lain selain bahasa planet mu itu?! Misalnya, ya ini tatto, gampang kan. Kenapa harus kata 'Hn' sih?! Itu sangat-sangat menyebalkan!!" ujar Luna menggerutu.
Jordan menatap gadis itu dan mendengus geli. Dalam hidupnya, ini pertama kalinya Jordan bertemu dengan gadis seperti Luna, dan satu-satunya orang yang berhasil selalu membuatnya kesal.
"Mau apa kau?!" Jordan menahan tangan Luna yang terulur padanya.
__ADS_1
Gadis itu mendengus. "Tidak mau apa-apa. Aku hanya ingin menyentuh tatto itu, boleh kan?" Luna menatap Jordan penuh harap, dia sangat-sangat berharap dosen tampan, tapi menyebalkan mengijinkan dirinya menyentuh tribal di lengannya.
Jordan mendengus dan menatap Luna dengan geli. Melihat tatapan dan sorot matanya yang polos seperti seekor anak kucing yang memohon supaya diberi seekor ikan segar.
Jordan menutup matanya dan menghela napas. Mengijinkan Luna melihat tribal di lengannya, itu artinya dia harus menyingkap naik lengan kemeja yang melekat ditubuhnya. Meskipun dengan berat hati, namun Jordan tetap menuruti permintaan Luna, dan memperlihatkan tribal itu padanya.
Luna tidak bisa berhenti mengagumi lukisan tinta hitam di lengan kiri Jordan, jari-jari lentiknya menyusuri lengan kekar sang Dosen dengan gerakan pelan. Dan Luna harus menelan rasa kecewa, karena pergerakannya terhalang oleh lengan kemeja yang Jordan kenakan.
Rasa penasaran kembali memenuhi perasaannya, sampai di mana tribal tatto itu menghiasi kulit sang Adonis. Bukan, tapi dosennya yang amat sangat menyebalkan.
"Indah," gumam Luna dengan lirih. Kemudian dia mengangkat wajahnya, dan matanya bersirobok dengan sepasang manik hitam milik Jordan. "Apa ini juga terlukis ditempat lain?" tanya Luna memastikan. Tapi tak ada jawaban, Jordan memilih untuk diam.
"Cukup mengagumi tribal ini, Luna. Makanlah dulu." Perintah Jordan tak ingin dibantah, suaranya bahkan terdengar lebih berat dan dalam,penuh penekanan. Tak lupa Masih dengan nada dingin dan raut wajah datar miliknya.
Luna menghela napas. Dengan terpaksa dia menarik tangannya dari lengan Jordan. "Huft, baiklah." Dan terlihat jelas Luna akan sedikit kecewa.
"Bukan mulut, untuk apa?" tanya Luna memastikan.
Tanpa menunggu persetujuan dari gadis itu terlebih dulu. Jordan mengarahkan makanan yang di apit dua sumpit ke dalam mulut Luna dan menyuapinya dengan paksa.
Dia terus mengamati wajah serius gadis itu saat mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Bagaimana rasanya, Hm?" Jordan bertanya tanpa mengalihkan pandangan matanya dari wajah Luna yang sedang menikmati makanan itu.
Kelopak mata itu terbuka memperlihatkan sepasang mutiara berwarna Hazel yang berkilau di bawah sinar matahari, sungguh pemandangan yang sangat indah dan menyejukkan. Sorot mata teduh namun menenangkan, membuat seorang Jordan Tang yang tabuh akan cinta bisa terhanyut di dalamnya. Sungguh sebuah prestasi yang luar biasa ya Jordan
__ADS_1
"Lezat, apakah kau membuatnya sendiri?" Luna bertanya dengan antusias.
"Menurutmu?"
"Huaa tidak di sangka, selain sangat menyebalkan dan pandai mengkritik orang Lain. Ternyata kau pandai memasak juga." Ujar Luna tanpa rasa bersalah sedikit pun, akibatnya satu jitakan mendarat mulus di kepalanya.
"Yakk!! Kenapa kau malah menjitak kepalaku?!" seru Luna dengan kesal.
"Makanya jangan asal bicara. Jangan ngoceh lagi, lanjutkan makan siangmu." Pinta Jordan dingin.
Detik berikutnya. Raut wajahnya berubah muram, Luna menunduk sedih sambil menatap makanan itu dengan nanar.
"Aku jadi iri, aku merasa tidak berguna sebagai seorang perempuan. Jangankan memasak, menginjak dapur saja hampir tidak pernah. Mami, dia selalu melarang ku memasuki dapur apalagi menyentuh peralatan masak terutama kompor, alasannya karena aku pernah hampir membakar dapur saat berusaha membuat telur dadar. Dan semenjak saat itu, dia melarang ku masuk dan berkeliaran di dapur." Luna melanjutkan ceritanya,
Jordan tersenyum tipis. Ternyata selain cantik, menyebalkan dan menarik, ternyata Luna adalah gadis yang ceroboh.
"Hn, saranku sebaiknya kau ikut les memasak. Aku rasa itu akan berguna untukmu di masa depan." Nasehat Jordan sambil memasukan sayuran kedalam mulutnya.
Luna diam untuk beberapa detik. Yang di katakan Jordan ada benarnya juga, bagaimana pun Ia adalah seorang wanita. Dan Ia tidak bisa bergantung terus pada ibunya, suatu saat Ia akan menikah dan membina sebuah keluarga. Pasti akan sangat memalukan jika Ia sampai tidak bisa memasak, jika itu terjadi. Maka akan di simpan di mana mukanya.
Luna mendongak, menatap wajah Jordan. "Kau benar, sepertinya aku memang harus ikut les memasak." ucapnya dengan bersemangat.
15 menit telah berlalu, Luna dan Jordan telah menyelesaikan makan siangnya. Makan siang yang di buat oleh Jordan habis tidak tersisa, keduanya telah meninggalkan atap beberapa menit yang lalu. Jordan kembali ke ruangannya, sedangkan Luna kembali ke kelasnya.
xxx
__ADS_1
Bersambung