
Suara burung mengawali pagi hari si cupu tampan ini. Nathan memperhatikan penampilannya di depan cermin dan menghela napas panjang. Ada yang berbeda dengan penampilannya pagi ini, jika biasanya dia terlihat urakan dengan style serampangannya, tapi tidak untuk kali ini.
Dia memakai kacamata tebal, pakaian yang sedikit kedodoran, rambut belah tengah dan tidak ketinggalan sebuah tompel besar di pipi sebelah kanannya.
Nathan merasa ngeri sendiri dengan penampilannya saat ini, dan apakah harus seperti ini? Bukankah ini terlalu berlebihan?! Dan dia tidak tau bagaimana nasibnya nanti setelah tiba di kampus barunya, akan dihargai atau justru menjadi santapan empuk bagi para pembully yang ada di sana. Nathan benar-benar tidak bisa membayangkannya.
Pemuda itu meninggalkan kamarnya dan pergi untuk sarapan bersama keluarganya. Jesslyn yang melihat putranya sedang menuruni tangga langsung melongo, tapi detik berikutnya tawanya pecah. Ibu dua anak itu tertawa keras tanpa sadar.
Nathan mendecih sebal. "Ck, apa Mami puas melihatku seperti ini? Saran Mami sungguh hebat!!" Ucapnya dingin.
Jesslyn masih tidak bisa berhenti tertawa, bahkan Luis yang baru tiba pun mati-matian menahan tawanya setelah melihat penampilan Nathan. Tompel dan rambut belah tengah adalah ide Jesslyn, dan siapa yang menduga jika Nathan malah menyetujuinya.
"Ck, aku bukan bahan lelucon, jadi berhenti tertawa. Kalian semua sungguh menyebalkan!!" Geram Nathan dan pergi begitu saja. Bahkan dia tidak menghiraukan panggilan ibunya. Nathan benar-benar kesal setengah mati.
.
.
Setelah memasuki kawasan kampus, banyak yang menatapnya dengan pandangan merendah dan mencaci, dan yang bisa Nathan lakukan sekarang hanya diam, tidak seperti saat di kampus lamanya dulu, dia yang berkuasa.
Pandangan Nathan menyapu, dan suasana semacam ini mengingatkannya pada masa kecilnya dulu. Dimana hampir semua anak disekolahnya selalu menatap rendah dirinya. Tapi ini lebih parah dari yang dia alami dulu.
BRUK!
"Ups..Sorry.." Seseorang menabraknya dengan sengaja.
Nathan terjatuh dan buku yang dibawanya berhamburan kemana-mana. Pemuda itu menghela nafas berusaha sabar. Bahkan pemuda yang terlihatnya sengaja menabraknya itu tak ingin membantu, dia hanya tersenyum meremehkan kearah Nathan, sambil bersedekap dada.
Namun saat Nathan akan mengumpulkan semua bukunya yang berserakan itu, tampak sebuah tangan mungil yang ikut memunguti bukunya. Nathan terkejut, bahkan Pemuda yang menabraknya tadi ikut terkejut.
"Vivian, apa yang kau lakukan?" Bentak pemuda itu. Dia frustasi melihatnya.
__ADS_1
Sontak Nathan mengangkat wajahnya. Tepat didepannya , seorang gadis tengah tersenyum lembut padanya, kejadian yang membuatnya Dejavu. Dan ini adalah gadis yang sama yang ia lihat di sungai Han kemarin sore. Vivian, seseorang yang berasal dari masa lalunya.
"Vivian, cepat berdiri dan menjauh dari si cupu itu!!"
Namun Vivian tidak menghiraukan amarah pemuda di belakangnya, dia hanya terus memunguti buku-buku itu lalu menyerahkannya pada Nathan. Nathan masih terdiam menatap gadis di depannya itu.
Sedangkan Vivian hanya tersenyum manis sambil mengulurkan tangannya, menyerahkan buku yang dipungutnya tadi. Nathan tetap tidak bereaksi, dia hanya diam seperti patung.
"Jadi kau adalah mahasiswa dari luar negeri itu ya? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya dan baru melihatmu hari ini.." Tanya gadis itu ramah.
Nathan masih terdiam di tempatnya, Entah kenapa darahnya berdesir mendengar suara gadis itu. Dia tidak pernah merasakan seperti ini sebelumnya, bahkan dengan mantan pacarnya sendiri. Bukan hanya bentuk fisiknya yang berubah, tapi sikapnya juga semakin ramah.
"Hei!" Panggil gadis itu sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Nathan.
Nathan segera tersadar dan mengambil cepat buku yang sebelumnya berada di tangan Vivian itu. "Terimakasih," Gumam Nathan. Suatu keajaiban, karena Nathan tak pernah mengucapkan kata terimakasih pada orang lain.
Pemuda yang menabraknya tadi menghampiri mahasiswi cantik itu. "Ck, Vivian… sedang apa kau dengan si culun ini, pergi darinya sekarang juga"
Muncul perempatan siku-siku di kening Nathan, namun tidak mungkin dia marah dan mencari masalah dihari pertama ia masuk di kampus barunya. Nathan berusaha untuk menahan dirinya.
Vivian mengangkat wajahnya dan menatap pemuda itu dengan tak suka. "Siapa kau berani memerintahku ,hah?! Sebaiknya kau saja yang pergi dari hadapanku, Cepat!" Omel Vivian menuntut.
Pemuda itu mengerutkan keningnya heran, dan tak percaya. "Apa? Kau mengusirku demi si cupu ini?! Vivian, yang benar saja. Kenapa kau malah menaruh perhatian pada orang asing yang entah muncul dari planet mana!!"
"Oh, Kalau kau tidak ingin pergi, biar aku saja yang pergi.." jawab Vivian.
Namun tanpa Nathan duga, Vivian menggandeng tangannya. Sambil tersenyum lebar dia berkata. "Ayo, aku antar kau ke ruang rektor.." Ujar Vivian dengan senyum yang sama, Lalu setelah itu ia pergi sambil menarik tangan Nathan.
Dan apa yang Vivian lakukan tentu saja membuat pemuda arogan itu menjadi sangat kesal dan marah. Dia yang sudah payah mendekatinya, tapi anak baru itu yang lebih beruntung darinya.
Nathan menoleh kebelakang dan menatap pemuda itu dengan seringai meremehkan. Mata pemuda itu sontak membelalak, apa dia tidak salah lihat, bocah cupu itu menyeringai. Rasanya sangat mustahil.
__ADS_1
"Tidak, mungkin aku hanya salah lihat saja." Gumamnya dan pergi.
.
.
Nathan yang baru saja keluar dari ruang rektor terkejut melihat Vivian ternyata menunggunya. Gadis itu duduk di kursi panjang samping ruang rektor. Dan Vivian segera berdiri saat melihat kedatangan Nathan.
"Kau menungguku?" Vivian mengangguk. Mereka kemudian berjalan beriringan meninggalkan ruang rektor. Kebetulan Vivian dan Nathan berada di kelas yang sama dan di jurusan yang sama.
"Aku tidak sampai hati untuk meninggalkanmu. Pasti Reno akan kembali mengganggumu, jadi aku memutuskan untuk menunggu sampai kau keluar dari dalam sana." Ujar Vivian.
"Kenapa kau sangat baik padaku? Bukankah kita tidak saling mengenal? Kenapa kau tidak ikut membullyku juga seperti yang lain?"
"Untuk apa? Hanya karena penampilanmu yang aneh ini?! Aku bukan mereka, apalagi yang kau alami ini mengingatkanku pada teman masa kecilku. Dia juga selalu dibully di sekolah hanya karena anak itu tumbuh tanpa seorang ayah." Ujarnya.
Nathan terdiam selama beberapa saat. Jadi Vivian masih mengingatnya. Dan lagi-lagi dia dilindungi oleh seorang gadis, bukankah itu sangat memalukan?! Nathan tersenyum sinis. Dia menertawai dirinya sendiri.
"Ngomong-ngomong siapa namamu? Aku masih belum mengetahuinya," tanya Vivian, mereka berjalan santai menuju kelas.
Nathan menutup kedua matanya. Mampus, dia lupa mencari nama samaran, bagaimana ini? Apa dia harus memakai nama asli? Dan memberitahu Vivian jika ini adalah dirinya, Nathan menggeleng, penyamarannya tidak boleh sampai terbongkar sekarang. Dan Nathan sedang memutar otaknya untuk menemukan sebuah nama yang tepat.
"Thantan, itu namaku." Konyol, nama macam apa itu. Tapi lebih baik daripada harus memberitahu nama aslinya. Lagipula Nathan bisa hilang muka di depan Vivian jika dia sampai memberi tahu nama aslinya.
Vivian tersenyum. "Nama yang sangat unik. Ayo, kelas sudah hampir dimulai." Ucap gadis itu yang hanya dibalas anggukan oleh Nathan.
-
-
Bersambung.
__ADS_1