
Luis dan Jesslyn dalam perjalanan pulang. Waktu sudah menunjuk angka 20.00 malam. Suhu udara tiba-tiba menurun dan sedikit berkabut.
Sepanjang jalan, Jesslyn terus saja berceloteh, banyak sekali hal yang dia ceritakan pada Luis. Tapi sayangnya Luis tidak terlalu menghiraukannya. Sebenarnya ada sesuatu yang sedari tadi mengganggu pikirannya.
Luis teringat pada sikap Yuna tadi. Cara dia menatap Jesslyn sungguh sangat berbeda, ada kerinduan, keputusasaan dan rasa cemas. Mungkinkah mereka berdua sudah saling mengenal, tapi dia tidak mengetahuinya? Saat ini Luis benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Oya, Lu. Kau ingat bibi yang berbicara denganku di depan toilet tadi? Dia sangat aneh," sebuah kalimat yang baru saja Jesslyn katakan seketika menarik perhatian Luis.
Laki-laki itu menoleh dan menatap Jesslyn dengan tatapan menyelidik. "Maksudmu?"
Gadis itu pun segera memberi penjelasan agar tidak membuat Luis bingung. "Wanita itu sangat aneh, dia bertanya tentang tanda lahir di pundakku, liontin yang aku pakai, sampai nama ayahku pun dia tau. Aku juga sangat penasaran siapa wanita itu," ujar Jesslyn.
Semakin banyak teka-teki yang ingin segera Luis pecahkan. Dan pikirannya mengarah pada satu hal, bila Jesslyn adalah putri dari ibu tirinya. Namun Luis segera menepisnya, dan menyakinkan pada dirinya sendiri jika bukan Jesslyn orangnya. Bukan gadis itu orang yang sedang dia cari.
Luis menambah kecepatan pada mobilnya. Dia harus segera tiba di rumah. Ada hal yang harus dia tanyakan pada Kris, entah kenapa Luis merasa jika sejak awal Kris telah menyembunyikan sesuatu darinya.
.
.
Kris menghampiri Luis di ruang kerjanya setelah majikannya itu mengatakan ada hal penting yang ingin dia tanyakan padanya. Kris sangat penasaran, sebenarnya hal penting apa yang ingin Luis ketahui darinya.
"Tuan, Anda memanggil saya," ucap Kris setelah berhadapan dengan Luis.
"Katakan yang sebenarnya, Kris!! Katakan kebenaran yang selama ini kau sembunyikan dariku, tentang siapa sebenarnya putri dari wanita jal*ng itu!!" Pinta Luis menuntut.
Deg...
Kris terkejut. Kenapa tiba-tiba Luis membahas tentang siapa putri dari ibu tirinya. Mungkinkah dia telah mengetahui sesuatu?! Tapi Kris rasa tidak, karena hanya dia sendirilah yang mengetahui tentang kebenaran tersebut.
"Jesslyn, apakah dia putri dari Min Yuna?! Wanita jal*ng yang telah menghancurkan keluargaku dan menjadi dalang utama dibalik kematian mama?"
Kris mulai berkeringat dingin. Dia bingung harus berkata apa sekarang, memberitahu Luis yang sebenarnya atau tetap merahasiakannya. Kris tidak ingin jika majikannya itu sampai melakukan kebodohan dan mengorbankan orang yang tidak bersalah. Apalagi orang itu adalah gadis yang diam-diam telah merebut hati Luis.
__ADS_1
"Sebenarnya~"
"JAWAB!!" bentak Luis menyela ucapan Kris.
Kris semakin gugup dan takut. Jari-jarinya saling meremas. Kris menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Tuan, sebenarnya orang yang Anda cari semala ini sangatlah dekat. Putri ibu tiri Anda adalah, Nyonya!!"
Jleb...
Seperti di tusuk ribuan pedang tajam. Hati Luis hancur berkeping-keping setelah mendengar apa yang baru saja Kris sampaikan. Luis tak menemukan kebohongan di mata itu, Kris mengatakan kebenaran padanya.
"Sebenarnya saya sudah mengetahuinya hal ini sejak lama. Saya ingin memberitahu Anda, tapi saya merasa ragu dan takut. Saya takut Anda tidak bisa menghadapinya saat mengetahui, jika putri dari wanita yang telah menghancurkan keluarga Anda adalah istri Tuan sendiri," Tutur Kris pada akhirnya.
Jesslyn menjatuhkan nampan yang ia bawa setelah mendengar apa yang baru saja Kris katakan. Dengan langkah tertatih dan mata berkaca-kaca. Jesslyn menghampiri mereka berdua.
Dan bagaimana Jesslyn tidak syok, ternyata ibu kandungnya adalah orang ketiga yang menghancurkan rumah tangga kedua orang tua Luis.
"Kris, katakan jika itu tidak benar. Katakan jika bukan aku putrinya, KATAKAN!!" Air mata Jesslyn tumpah dan membahasi wajah cantiknya. "Katakan, Kris." Dia mengguncang tubuh Kris, dan pria itu hanya menundukkan kepala.
Luis menghampiri Jesslyn lalu memeluknya untuk menenangkannya. Jika orang itu adalah Jesslyn, jadi bagaimana mungkin Luis bisa menyakitinya. Karena menyakiti Jesslyn sama saja artinya dengan dia menyakiti dirinya sendiri.
Luis melepaskan pelukannya dan manik matanya mengunci Hazel Jesslyn yang penuh linangan air mata. Jari-jari Luis menghapus jejak air mata di pipi gadis itu yang mengalir tanpa henti. Hatinya terasa perih, bak ditusuk ribuan belati tajam melihat air mata Jesslyn.
"Takdir macam apa ini, Lu. Kesalahan apa yang telah aku lakukan dimasa lalu sehingga Tuhan memberikan karma sebesar ini padaku? Kenapa harus aku, Lu. Kenapa aku harus terlahir dari rahim wanita kejam seperti itu," Jesslyn terisak semakin keras.
Luis menghela napas lalu membawa Jesslyn ke dalam pelukannya. "Kita tidak bisa meminta dilahirkan dari rahim ibu seperti apa, kita juga tidak bisa memilih takdir yang akan terjadi." Luis mencium kepala Jesslyn dan semakin mengeratkan pelukannya.
Jesslyn mengangkat wajahnya dari pelukan Luis. Mata Hazel-nya mengunci manik dingin milik suami kontraknya itu. "Kau pasti sangat membencinya dan ingin menghancurkannya. Aku adalah putrinya, kau bisa melampiaskan semuanya padaku. Aku, aku~" Luis segera membungkam bibir Jesslyn dengan bibirnya sebelum gadis itu semakin banyak bicara.
Luis memang ingin wanita itu hancur, tapi tanpa melibatkan Jesslyn, Luis tidak mungkin menggunakan gadis ini sebagai alat untuk menghancurkan wanita yang telah menjadi duri dalam pernikahan orang tuanya.
"Jangan mengatakan apapun lagi, pergilah ke kamar dan segera istirahat. Aku akan menyusul nanti," pinta Luis. Jesslyn tidak memberikan jawaban apa-apa. Tanpa sepatah kata pun, Jesslyn meninggalkan ruang kerja Luis.
Luis mengusap wajahnya dan menghela napas berat. Lagi-lagi takdir mempermainkan dirinya. Dan Luis tidak tau apa rencana Tuhan yang sebenarnya.
__ADS_1
-
-
"Rio, Marcell, cepat buka pintunya!!"
Suara Roona menggema dan memenuhi setiap sudut ruangan. Si kembar mengunci pintu kamar mandinya ketika dia sedang ada di dalam. Bukan hanya mengunci pintunya dari luar, tapi mereka juga mematikan lampu di dalam kamar mandi.
Roona mengangkat wajahnya. Lampu kamar mandi tiba-tiba kedap-kedip seperti lampu disko. Dia pun menjadi sangat panik. "Yakk!! Kalian jangan bercanda, cepat buka pintunya." Teriak Roona lagi, tapi tak dia hiraukan.
Klotek.. Klotek.. Gubrak...
"Kkyyaaaa!!" Roona berteriak histeris.
Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Dia mulai ketakutan, sampai-sampai Roona terkencing di celananya. Lampu kembali hidup mati secara bergantian dengan tempo yang lebih cepat.
Mata Roona membelalak merasakan tepukan pada pundak kanannya. Tangan yang terasa dingin, dengan ragu dia menolah dan...
"HANTU!!!" Dan Roona pun jatuh pingsan.
Lampu kamar mandi kembali hidup dan sosok Marcell masuk ke dalam ruangan itu, dia menghampiri Rio yang tersenyum puas saat melihat wanita itu pingsan karena ketakutan. Buru-buru dia membuang potongan es batu yang sedari tadi dia genggam ditangannya.
"Dingin, dingin, dingin. Uhhh, dingin sekali. Ngomong-ngomong kita apakan perempuan merepotkan ini?" Rio menatap Marcell dan dia sedang berpikir.
"Kita angkat keluar saja dan baringkan di tempat tidur. Kita bikin seolah-olah tidak terjadi apa-apa." Ucapnya. Dan Rio mengangguk setuju. Mereka pun segera memindahkan Roona ke tempat tidurnya.
"Berat sekali, padahal tubuhnya kecil seperti orang kekurangan gizi. Sepertinya dia keberatan dosa," keluh Rio saat mengangkat tubuh Roona keluar dari kamar mandi.
Rio menjatuhkan tubuh gadis itu lalu menyeret kakinya, sebelum akhirnya dilemparkan ke atas tempat tidur. Dan si kembar bisa tertawa puas setelah berhasil mengerjai si gadis merepotkan ini
-
-
__ADS_1
Bersambung.