
Jesslyn dan Luis menikmati makan malamnya dalam diam. Pasangan suami-istri kontrak itu sama-sama tidak ada yang bersuara, hanya terdengar suara denting sendok dan piring yang saling bersentuhan.
Makan malam romantis dipinggir pantai, dengan ditemani hembusan angin serta aroma lantai yang khas. Disekitar mereka tampak lilin-lilin dan taburan bunga mawar, bahkan hidangan yang mereka santap pun adalah hidangan hotel bintang lima.
Jesslyn sungguh tidak menduga jika makan malam mereka akan seromantis ini. Ini diluar bayangannya. Jesslyn pikir mereka hanya akan makan malam biasa, tapi ternyata tidak. Karena makan malam mereka lebih dari biasa.
"Lu, sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu sejak lama." Sebuah kalimat yang keluar dari bibir Jesslyn membuat gerakan tangan Luis yang sedang memotong steak-nya terhenti. Pria itu mengangkat wajahnya.
"Apa?"
"Frangky, bukankah orang dari keluarga Qin!!" Ucap Jesslyn sambil menatap mata Luis.
Luis meletakkan garpu dan pisau dagingnya. Fokusnya kembali pada Jesslyn. "Apa yang kau tau tentang masalah ini?"
"Hari itu tanpa sengaja aku mendengar obrolan Bibi Elisa dan paman Bram. Mereka membahas masalah kak Sabet. Paman Bram meminta Bibi Elisa untuk membiarkan dia pergi, tapi dia tidak mau. Dan Bibi Elisa mengatakan jika suaminya tidak akan mengerti."
"Seperti ada yang janggal, kemudian aku menyelidikinya. Dan aku menemukan fakta jika Frangky bukanlah orang dari keluarga Qin, melainkan kak Sabet. Bibi Elisa menukar mereka sejak bayi karena tidak ingin terusir dari keluarga Qin," Tutur Jesslyn panjang lebar.
Penuturan Jesslyn membuat Luis terdiam. Sebenarnya dia sendiri sudah curiga sejak awal kenapa sikap bibinya itu sangat hangat pada Elisabet. Ternyata ini alasannya.
Jika Sabet benar-benar orang dari keluarga Qin yang sebenarnya. Maka tugas Luis selanjutnya adalah membawa dia kembali ketempat dimana seharusnya dia berada, dan mengusir yang palsu dari keluarga Qin.
"Masalah ini tidak perlu dibahas lagi, aku akan segera mengurusnya. Sebaiknya lanjutkan makanmu, sebelum dingin." Jesslyn mengangguk.
Meskipun makan malam romantis, tapi tidak ada hal romantis yang mereka bahas selayaknya pasangan lain yang sedang melakukan dinner date, lagipula hal romantis seperti apa yang harus mereka bahas? Toh mereka bukan pasangan yang sebenarnya.
"Uh, kenapa tiba-tiba jadi dingin begini." Keluh Jesslyn sambil mengusap lengannya.
"Bukankah aku tadi sudah memintamu membawa mantel hangat, kenapa tidak kau dengarkan?" Omel Luis seraya bangkit dari duduknya lalu meletakkan jasnya dipundak Jesslyn.
"Namanya juga lupa, mau bagaimana lagi." Dia membela diri.
Selanjutnya tidak ada lagi obrolan diantara mereka berdua. Keduanya saling diam dan kembali menikmati makan malamnya dengan tenang. Dalam keluarga Qin selalu diajarkan tata krama saat dimeja makan dan berbicara saat makan bukanlah hal yang baik.
__ADS_1
-
-
Malam sudah semakin larut, namun Jesslyn masih tetap terjaga. Gadis itu berdiri dibalkon kamar menikmati udara malam. Luis sedang tidak ada di Villa, dia pergi setelah mengantarkan Jesslyn pulang. Jesslyn sendiri tidak tau kemana pria itu pergi, karena Luis tidak mengatakan apapun.
Jam dinding sudah menunjung angka 00.05 malam. Namun masih belum ada tanda-tanda jika Luis akan segera kembali, dan itu membuat Jesslyn merasa cemas. Tiba-tiba perasaannya jadi tidak enak, dan gadis itu berdoa semoga tidak ada apa-apa pada suami kontraknya.
Sementara itu...
Ditempat dan lokasi berbeda. Seorang pria tengah berkelahi melawan sedikitnya 13 orang. Adu jotos tak lagi bisa terhindarkan, entah apa yang terjadi tiba-tiba ada dua Van yang menghadang mobilnya dan orang-orang di dalamnya langsung menyerangnya secara membabi buta.
Dia yang hanya seorang diri dan tanpa senjata dikeroyok 13 orang bersenjata, namun hal tersebut tak membuat nyalinya ciut apalagi ketakutan. Pria itu membalas serangan mereka tanpa ampun, meskipun beberapa luka menghiasi tubuhnya, namun dia masih bisa berdiri dengan tegap.
"Luis Qin, bekerja samalah dengan baik. Agar kematianmu tidak terlalu mengenaskan," ucap salah seorang dari 6 orang yang tersisa, mereka masih bisa berdiri dengan tegap.
Luis menyeringai. "Jadi kalian ingin membunuhku?! Kalian bermimpi terlalu tinggi!!" Tatapannya berubah dingin dan tajam.
Mereka adalah para Mafia yang dikirim seseorang untuk menghabisi Luis. Tapi sayangnya menghabisi Luis bukanlah perkara yang mudah, mereka akan mendapatkan imbalan yang sangat banyak jika bisa membawakan kep@la Luis pada orang yang mengirim mereka.
Dorr...
Dorr..
Tubuh orang-orang itu bergelimpangan setelah timah panas menembus j*ntung dan kepala mereka. Luis tidak bisa menundanya terlalu lama. Dia bisa mati kehabisan darah jika tetap memaksakan diri untuk melanjutkan perkelahian.
Tersisa satu orang lagi. Luis menghampiri orang itu dan bertanya siapa yang menyuruh mereka untuk membunuhnya. "Sekarang katakan, siapa yang menyuruh kalian untuk menghabisi-ku?" Ujung pistol menempel pada keningnya dan membuat pria itu ketakutan setengah mati.
"Bram Qin, di..dia yang mengirim kami untuk membunuhmu. Dan jika kami berhasil membawa kep*lamu padanya, dia akan memberikan 1 milyar won sebagai imbalannya." Jelasnya.
"Dasar sampah tidak berguna!!"
Dorr...
__ADS_1
Dorr..
Luis melepaskan dua tembakan pada pria itu. Melepaskan dia tidak ada gunanya, toh nantinya juga akan mati. Jadi Luis membantu dia mempercepat kematiannya.
Sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, Luis kembali ke mobilnya, dia harus segera kembali ke Villa karena Jesslyn pasti akan sangat khawatir padanya jika ia tidak segera pulang.
-
-
Brakkk ..
Dobrakan pada pintu membuat Jesslyn terkejut bukan main. Gadis itu segera menoleh, matanya membelalak melihat Luis pulang dalam keadaan berlumur darah. Ia pun segera menghampiri pria itu lalu menuntunnya untuk berbaring.
Jesslyn membuka pakaian Luis dan menemukan luka tusuk diperutnya. Bukan hanya luka tusuk itu saja, tapi masih banyak luka lainnya. Jesslyn berlari ke dapur untuk mengambil air hangat, luka-luka Luis harus segera dibersihkan kemudian diobati.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau bisa seperti ini?" Tanya Jesslyn, suaranya terdengar parau dan matanya berkaca-kaca.
"Bram mengirim orang untuk m*mbunuhku,"
"Bram, jadi ini adalah ulah pamanmu yang biadab itu?!" Luis menganggu.
Setelah membersihkan luka diperutnya dan menutupnya dengan perban. Jesslyn berganti pada luka yang ada diwajahnya, pelipis kirinya robek, mata kirinya membiru dan bengkak, bagian putihnya merah. Luka lain juga tampak pada lengan dan tulang pipinya.
Hati Jesslyn seperti terkoyak melihat keadaan Luis yang seperti ini. Meskipun ini bukan pertama kalinya dia melihat pria ini terluka, tapi kenapa rasanya sangat menyakitkan?!
"Sekalian saja perban dengan matanya, bengkak seperti ini membuatku tidak nyaman untuk melihat," ucap Luis yang kemudian dibalas anggukan oleh Jesslyn.
"Baiklah,"
Itu hanyalah pertolongan awal. Jesslyn tetap akan memanggil dokter untuk menangani luka-luka di tubuh Luis, karena luka di pelipis dan perutnya perlu dijahit. Harus yang ahli yang menanganinya.
-
__ADS_1
-
Bersambung.