
Sang raja siang telah kembali ke peraduannya sejak beberapa jam yang lalu. Digantikan sang dewi malam yang menawan. Beberapa bintang bermunculan untuk menemani sang dewi malam agar tak kesepian.
Seorang gadis dan seorang pemuda tengah menikmati keindahan kota Seoul pada malam hari. Si gadis berjalan beberapa langkah di depan, dan si pemuda mengekor dibelakang. Manik matanya yang dingin tak lepas sedikit pun dari sosok itu.
Tiba-tiba si gadis menghentikan langkahnya saat tanpa sengaja ia melihat penjual cotton candy diseberang jalan. Kemudian dia menoleh kebelakang pada si pemuda.
"Nathan, lihatlah di sana ada yang menjual permen kapas, aku ingin membelinya." Ucap gadis itu yang pastinya adalah Vivian.
"Tunggu sampai jalan agak sepi baru menyebrang," ucap Nathan menimpali.
"Tapi~"
"Tidak ada tapi-tapian atau aku tidak akan membiarkanmu pergi?!" Nathan menyela ucapan Vivian sambil memberikan sedikit ancaman padanya.
Nathan menggenggam pergelangan tangan Vivian agar dia tidak bisa pergi kemana-mana, Nathan tau seceroboh apa gadis itu. Bisa saja Vivian menyeberang jalan dengan tidak sabaran jika ia tidak menahannya. Dulu saat masih kecil, Vivian pernah hampir tertabrak mobil karena sikap cerobohnya tersebut.
Vivian memanyunkan bibirnya. Pandangannya lalu bergulir pada pergelangan tangannya yang di genggam oleh Nathan. Apa pemuda dingin ini benar-benar tidak akan melepaskan genggamannya?! Padahal Vivian sudah sudah sabar untuk membeli permen kapas itu.
Sebagai pencinta makanan dan minuman manis, tentu saja Vivian tidak bisa melewatkan salah satu makanan kesukaannya itu. Sejak kecil cotton candy sudah menjadi makanan ringan kesukaannya.
"Sudah sepi, ayo menyebrang," seru Vivian.
Dengan tidak sabaran, Vivian menarik Nathan menuju seberang jalan. Dan disaat bersamaan, sebuah mobil sedan dengan kecepatan tinggi muncul dari arah kanan mereka. Silau lampunya yang terang membuat keduanya terkejut.
Dengan sigap Nathan menarik lengan Vivian hingga dia jatuh ke dalam pelukannya lalu membawanya menyisih ke tepi jalan. Nyaris saja mereka tertabrak jika Nathan tidak bergerak dengan sigap.
"Hei, anak muda, kalau mau nyebrang lihat kanan kiri dulu." Omel si pengendara mobil.
"Bangsat, kau yang salah. Matamu buta ya, sampai-sampai tidak melihat rambu-rambu untuk pejalan kaki!!" Bentak Nathan tak mau kalah.
Pandangan pengemudi itu lalu bergulir pada lampu lalu lintas. Dan benar apa yang Nathan katakan. Tapi tetap saja dia tidak mau disalahkan. "Tetap saja kalian yang salah, karena menyebrang sembarangan!!"
BRAK...
Dengan kasar Nathan menendang mobil itu dibagian pintu samping kemudi. "Benar-benar sudah bosan hidup kau ya?!" Bentak Nathan penuh emosi.
"Kau yang bosan hidup, apa kau mampu mengganti rugi jika mobil kesayanganku ini sampai lecet?!"
__ADS_1
"Jangankan untuk membayar ganti rugi, untuk menyumpal mulutmu saja aku mampu!!" Jawab Nathan menimpali.
"Kau~"
"CUKUP!!" bentak Vivian menengahi. Ia menatap Nathan dan pengemudi itu bergantian. "Kita sama-sama salah, kau yang mengemudi tidak memperhatikan rambu-rambu jalan, dan kami berdua yang asal menyebrang. Masa kecil seperti ini tidak perlu diperbesar lagi. Sebaiknya kau pergi sebelum aku hilang kesabaran."
"Hei, Nona. Diamlah, sebaiknya nasehati kekasihmu itu. Kalau salah ya salah saja, jangan malah melemparkan kesalahan pada orang lain!!"
Vivian menutup matanya. Tangannya terkepal kuat, dengan marah dia menatap si pengemudi tersebut. Vivian menghampiri pria itu, dia membuka pintu mobilnya dengan paksa lalu menariknya keluar. "Katakan sekali lagi!!" Pinta Vivian.
"Ka..Kau mau apa?" Tanya dia terbata-bata.
"Memberi pelajaran pada manusia berotak udang sepertimu. Jika kata damai tidak bisa, bukankah lebih baik memberi orang sepertimu pelajaran?!"
Lama-lama Vivian geram sendiri. Padahal dia sudah mengalah dan mengajak untuk damai, tapi pengemudi sombong dan arogan ini malah memperpanjang masalah yang sebenarnya hanya sepele saja.
Nathan tak bereaksi, dia memicingkan matanya. Ia sungguh penasaran dengan apa yang hendak gadis itu lakukan pada si pengemudi arogan tersebut.
"Hei, betina. Jangan main-main, begini-begini aku menguasai 5 bela diri dan pemegang sabuk hitam ilmu bela diri. Jadi jangan mencari masalah denganku!!"
Vivian menyeringai sinis. "Benarkah?! Tapi baru kali ini aku melihat si pemegang sabuk hitam terkencing di celana." Ucapnya meremehkan.
"Banyak omong!!"
Bruggg...
Vivian memukul pria itu dan membuat tubuhnya merosot seketika. Matanya membulat, kedua tangannya memegangi perutnya yang baru saja dipukul oleh Vivian. Padahal gadis itu hanya menggunakan sedikit tenaga saja, tapi si pengemudi sombong itu malah tumbang.
"Makanya jangan suka meremehkan wanita. Nathan, ayo pergi. Dan satu lagi, pemuda serampangan ini bukan kekasihku, tapi sahabatku!!" Vivian menarik Nathan pergi.
Mereka menjadi pusat perhatian pengendara lain karena keributan tersebut. Tapi Vivian tidak peduli, dan niatnya untuk membeli cotton candy pun harus dia urungkan. Dia sudah tidak berselera lagi untuk memakannya.
"Antarkan aku pulang," rengek gadis itu.
"Bukankah kau ingin membeli permen kapas?"
Vivian menggeleng. "Tidak jadi, sudah tidak berselera lagi," jawabnya acuh tak acuh.
__ADS_1
Nathan menghela napas berat, ternyata mood seorang gadis memang cepat berubahnya. "Baiklah, Ayo."
-
-
"Aduh..."
Tubuh Vano dan Marissa sama-sama terhuyung kebelakang setelah tanpa sengaja mereka bertabrakan. Vano yang sadar jika yang ditabraknya adalah seorang gadis pun tak tinggal diam. Dia segera membantu Marissa memunguti barang-barangnya.
Awalnya Marissa ingin marah dan membuat perhitungan dengan Vano. Namun hal itu dia urungkan saat melihat wajah tampan yang penuh rasa bersalah itu. "Nona, kau tidak apa-apa kan? Maaf, aku tidak sengaja."
Marissa menggeleng. "Tidak, aku tidak apa-apa. Tapi lain kali tolong hati-hati ya, bagaimana jika orang lain sampai celaka karena kecerobohanmu ini." Ucap Marissa sesopan mungkin. Tidak mungkin dia meninggalkan image buruk di depan pria setampan Vano.
"Baiklah, lain kali aku pasti akan lebih berhati-hati lagi." Jawabnya.
"Aduh kakiku, sepertinya terkilir."
"Benarkah. Ayo, duduk dulu disitu." Vano menunjuk sebuah kursi panjang di sebelah kanannya.
Marissa mengangguk. "Aaahhh, aku tidak bisa berdiri." Gadis berseru pelan. Dan Vano pun langsung mengangkatnya dan lalu mendudukkannya di kursi tersebut. Vano berlutut di depan Marissa. Dia melepas sepatu gadis itu, tapi kakinya terlihat baik-baik saja.
"Sepertinya tidak serius, dimana rumahmu aku akan mengantarmu pulang."
Marissa menundukkan kepalanya. "Aku tidak punya rumah. Ibuku mengusirku, dia menyebutku anak pembawa sial. Makanya aku diusir keluar dari rumah. Dan aku sendiri tidak tau harus tinggal dimana." Jawabnya. Marissa mencoba menarik simpatik pria ini.
Vano berpikir sejenak. Dia memiliki apartemen kosong mungkin membiarkan Marissa tinggal di sana tidak ada salahnya. Ia merasa kasihan padanya.
"Kalau begitu kau tinggal saja ditempat tinggalku, kebetulan aku memiliki sebuah apartemen yang tidak aku tempati."
Marissa tersenyum. "Baiklah, kalau kau memaksa. Aku tidak akan menolaknya." Gadis itu menyeringai.
Rencananya berhasil. Sepertinya memanfaatkan pria berjas mahal ini bisa merubah nasibnya. Terlebih lagi jika dia berhasil mendapatkan hatinya. Marissa tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang dia miliki.
-
-
__ADS_1
Bersambung.