Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Kakak Vivian


__ADS_3

Suasana kelas ketika jam pelajaran usai tidak pernah hening. Pasti selalu saja ada suara teman-teman yang berbincang-bincang. Entah kenapa kadang hal ini membuat kepala Vivian pusing. Ia memang lebih suka tempat yang hening dan sepi.


Tetapi kadang ia juga merasa iri pada yang lain karena ia tidak pintar bersosialisasi dengan banyak orang. Satu-satunya teman Vivian adalah Sania, tapi anehnya setiap istirahat Sania selalu pergi entah kemana. Sedangkan Nathan sudah diculik oleh ketiga sahabatnya yang bobroknya melebihi batas wajar manusia.


'Lebih baik aku pergi saja', pikir Vivian.


Akhirnya Vivian berdiri dari kursinya dan keluar ruangan untuk mencari tempat yang lebih tenang. Tempat pertama yang muncul dipikirannya itu adalah perpustakaan kampus, tempat yang biasa dikunjunginya ketika senggang.


.


.


Ketika sampai di perpustakaan. Suasana hatinya langsung berubah menjadi tentram. Tempat itu sangat hening dan hanya ada suara bisikkan saja yang terdengar. Perpustakaan ini sangat luas dan dikelilingi oleh rak-rak buku yang tinggi.


Perpustakaan di S.N.U memang terkenal bagus di kota Seoul. Itulah salah satu alasan kenapa Vivian memilih berkuliah di sini. Meskipun bukan kampus unggulan.


Vivian tersenyum dan berjalan menuju rak-rak yang tinggi itu. Ia ingin mengambil buku favoritnya. Setelah mengambil buku itu ia langsung berjalan menuju tempat favoritnya membaca.


Vivian memang lebih suka duduk di lantai dan bersandar di dinding daripada duduk di bangku dengan meja kecil yang sempit. Ia hanya akan duduk di sana ketika ada tugas sekolah saja. Karena itu Ia berjalan ke pojok ruang perpustakaan dekat jendela besar tempat kesukaannya tersebut.


"Aaahhh... Aaahhh... Ahhhh... Pelan sedikit, aahhh... Hyung, jangan keras-keras itu sakit tapi nikmat."


"Diamlah, jangan keras-keras, bagaimana kalau sampai ada yang mendengarnya?!"


"Biarkan saja, Hyung, aku tidak peduli. Aku terlalu menikmati sentuhanmu yang amazing ini. Ya, ya, ya, disebelah situ. Lebih cepat lagi, Hyung. Aaaahhh... Nikmatnya, eemmpphh. Selain besar, milikmu juga yang terbaik."


Degg...


Langkah Vivian terhenti. Tubuhnya terpaku, matanya sedikit membelalak saat indera pendengarannya menangkap sebuah suara yang begitu mengerikan dari balik rak buku. Dan Vivian mengenali betul siapa pemilik suara itu. Itu adalah suara Dio dan Sean, sahabat Nathan.


Penasaran hal gila apa yang sedang mereka berdua lakukan. Vivian pun segera menghampiri mereka berdua, dan dia akan memberikan pelajaran pada kedua pemuda itu jika mereka benar-benar berani berbuat mesum di tempat umum.

__ADS_1


Dan sesampainya di sana, tidak ada hal aneh yang Vivian lihat, hanya Sean yang sedang memijit bahu Dio. Tidak hanya ada mereka berdua, Arya dan Nathan pun ada bersama mereka berdua. Nathan duduk di jendela sambil menghisap rokoknya sedangkan Arya sedang asik menggoda juniornya.


"Jadi suara aneh itu berasal dari kalian yang sedang memijat bahu?!" Pekik Vivian dan membuat perhatian keempat pemuda dan seorang mahasiswi teralih padanya.


"Eo, My Angel. Kau disini untuk bertemu denganku ya." Sean langsung berdiri dan menghampiri Vivian.


Vivian menyentak tangan Sean dan menatapnya tajam. "Ck, jangan sembarangan menyentuhku!! Lagipula untuk apa juga aku mencari maniak dolar sepertimu. Kalian membuatku geli, dasar trio edan!!" Kemudian Vivian berbalik dan pergi begitu saja.


Sean mengulurkan sebelah tangannya. Sedangkan tangan kirinya menyentuh dadanya. Hatinya retak dan patah jadi dua. Sungguh betapa dia patah hati karena Vivian menolaknya lagi.


"Oh Dewiku, kapan kau bisa melihat jika cintaku sangat tulus padamu."


"Dasar mata keranjang, makanya jadi pria jangan plin-plan. Ini mau itu mau, yang ini suka yang itu suka. Kan sekarang jadi ditolak sana sini!!"


"Diam kau tiang listrik, kau itu tidak akan paham dan tidak akan mengerti, jadi jangan sembarangan bicara!!" Cecar Sean yang tidak terima oleh ucapan Arya.


Malas mendengar perdebatan mereka. Nathan pun memilih pergi dari sana. Bergabung dengan trio gila memang bukan pilihan yang tepat, sebaiknya dia mencari Vivian dan mengajaknya makan siang.


.


.


Vivian memicingkan matanya. "Mencariku? Siapa?"


"Saya juga tidak tau, dia seorang perempuan cantik dan tinggi putih. Rambutnya sebahu berwarna hitam." Jawab gadis itu memberitahu ciri-ciri orang yang mencari Vivian.


Mata Vivian langsung berbinar mendengar ciri-ciri yang disebutkan oleh juniornya itu. Tanpa membuang banyak waktu, dia pun segera menemui orang itu. Vivian sudah sangat tidak sabar untuk segera bertemu dengannya, betapa Vivian sangat merindukan sang kakak.


Sementara itu. Nathan yang baru sampai dibelokan memicingkan matanya melihat Vivian berlari keluar dengan tergesa-gesa, wajahnya terlihat sumringah dan senyum lebar menghiasi bibirnya. Penasaran siapa yang akan gadis itu temui, Nathan pun lekas menyusulnya.


.

__ADS_1


.


"KAKAK!!" seru Vivian dan langsung menghambur ke dalam pelukan orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Silvia. "Aku sangat merindukan, Kakak."


Silvia tersenyum. Dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Vivian. Bukan hanya Vivian, karena ia juga sangat merindukan adiknya ini. "Kakak juga merindukanmu," jawabnya.


"Kapan Kakak datang? Lalu kenapa tidak memberitahuku?"


"Karena Kakak ingin memberimu kejutan," jawab Silvia sambil menarik ujung hidung mancung adiknya.


"Apa Kakak datang dengan kakak ipar?" Silvia mengangguk. "Lalu kapan kau akan mempertemukan aku dengannya? Bertahun-tahun kalian menikah tapi sekalipun kau tidak membawanya bertemu denganku, dan kenapa sampai sekarang kau belum memberikan keponakan untukku?"


"Terlalu banyak pertanyaanmu, Vi. Mana yang harus Kakak jawab lebih dulu. Tapi baiklah, akan Kakak jawab satu persatu. Karena kami sama-sama sibuk, besok malam kita makan diluar dan Kakak akan mengenalkan mu padanya. Pernikahan Kakak dan kakak iparmu bukan dilandasi cinta, jadi mana mungkin punya anak. Bahkan sampai sekarang kami belum berhubungan badan sama sekali. Apa kau sudah puas?"


Vivian mengangguk. Dia kembali memeluk Silvia. Terlihat jelas jika keduanya begitu saling menyayangi, dan meskipun Vivian hanya adik tirinya, tapi Silvia sangat-sangat menyayanginya, bahkan dia bersumpah akan memberi pelajaran pada pria yang dulu meninggalkan adiknya ini.


"Kau masih ada kuliah?"


"Ya, dua mata kuliah lagi."


"Kalau begitu belajar dengan semangat. Besok kita bertemu lagi, sekarang Kakak harus pergi." Silvia memeluk Vivian sekali lagi sebelum melenggang pergi.


Baru juga hendak berbalik. Vivian sudah dikejutkan dengan kemunculan Nathan yang secara tiba-tiba. Namun detik berikutnya sudut bibirnya tertarik keatas. Dia menghampiri pemuda itu dan langsung memeluk lengannya.


"Aku lapar, ayo temani aku makan siang. Dan kali ini kau harus mentraktirku," ucap Vivian sambil mengunci manik mata Nathan. Senyum yang sama masih tersungging di bibirnya.


Nathan tak memberikan jawaban apa-apa. Dia hanya mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah gadis disampingnya ini. Dan anehnya kenapa Nathan tidak pernah menolak jika Vivian yang memintanya.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2