Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Restu Tuan Eric


__ADS_3

Tuan Eric mencoba bersikap santai dan tenang saat duduk berhadapan dengan Luis. Padahal sebenarnya dia sangat gugup, bagaimana tidak, ini pertama kalinya dalam hidupnya dia duduk di satu meja dengan pria hebat seperti laki-laki di depannya ini.


Sebenarnya Tuan Eric masih belum benar-benar yakin jika Luis adalah ayah biologis dari cucunya, juga seseorang yang pernah menjalin hubungan dengan putrinya dimasa lalu.


Tetapi saat melihat kemiripan wajah dan sifat antara Luis dan Nathan, semua keraguan itu seolah menguar bersama angin malam. "Saya ingin menikahi putri Anda secara resmi, Paman!!" Sebuah kalimat yang baru saja terucap dari bibir Luis seolah membawa Tuan Eric kembali ke dunia nyata.


Ayah satu anak itu mengambil napas panjang dan menghelanya secara perlahan. "Sebagai orang tua, Papa hanya bisa memberikan restu. Jika kalian berdua memang sudah saling mencintai, Papa akan merestuinya. Apalagi Nathan membutuhkan kehadiran kalian berdua sebagai orang tua yang utuh," ucap Tuan Eric setenang mungkin.


"Memangnya kapan kau akan menikahiku secara resmi?" Jesslyn muncul sambil membawa nampan yang berisi dua cangkir kopi yang kemudian dia letakkan di depan Luis dan ayahnya.


"Secepatnya. Aku akan memberikan pesta yang sangat meriah untukmu. Dan pernikahan kita akan dilangsungkan di Seoul." Jawab Luis.


"Aku tidak tertarik. Membuat pesta yang meriah hanya membuang-buang uang saja. Dari pada uangnya untuk menyewa gedung dan segala macam keperluan pernikahan, lebih baik uang itu untukku saja. Lumayan kan untuk memborong barang-barang mewah sama toko-tokonya!!" Tutur Jesslyn dan langsung mendapatkan jitakan keras dari ayahnya.


"Sejak kapan kau berubah jadi wanita yang boros dan suka menghamburkan uang?! Dari pada untuk membeli barang-barang yang tidak penting, lebih baik uang-uang itu disimpan untuk kebutuhan anak kalian."


Jesslyn mendengus. Jari-jarinya mengusap kepalanya yang baru saja dijitak oleh ayahnya karena sudah bicara sembarangan.


"Kau tenang saja, Pa. Jika hanya untuk membeli barang satu toko, Luis tidak akan kehabisan uang. Lagipula dia itu memiliki gudang sendiri untuk memproduksi uang. Dan hartanya juga tidak akan habis jika dihabiskan 7 turunan. Jadi Papa tenang saja, jangan takut calon menantumu ini akan kehabisan uang jika hanya memborong satu toko." Tuturnya.


"Tapi tetap saja itu pemborosan. Dan Papa tidak setuju!!" Tegas Tuan Eric.


"Baiklah, aku mengalah." Jesslyn mengangkat kedua tangannya. Lalu pandangannya bergulir pada Luis. "Kita adakan pernikahan sederhana saja, cukup keluarga dan orang terdekat saja yang menghadirinya. Kau tidak keberatan bukan?"


Luis menggeleng. "Sama sekali tidak, apapun keputusanmu, aku akan menyetujuinya." Jesslyn tersenyum lebar mendengar jawaban Luis.


Nathan yang merasa bosan mendengar obrolan para orang dewasa memutuskan untuk pergi ke kamarnya. Lebih baik dia melakukan hal berguna dari pada mendengar obrolan mereka.


"Malam ini kau tidurlah bersama putramu, mungkin kalian berdua butuh waktu untuk lebih saling mengenal." Ucap Jesslyn, Luis mengangguk. Meskipun sebenarnya dia ingin satu kamar dengan Jesslyn, tapi Luis menghargai keberadaan tuan Eric.


"Aku akan menemui anak itu sekarang." Jesslyn mengangguk. Dia akan memberikan ruang pada Luis dan Nathan. Mereka memang harus saling mengenal dan bicara dari hati ke hati.

__ADS_1


"Pa, sebaiknya kau pergi istirahat. Jangan sampai kau mengeluh karena kurang tidur lagi. Kurangi begadangmu apalagi menonton bola sampai larut malam."


"Papa mengerti, tidak perlu diingatkan lagi!!"


.


.


"Boleh Daddy masuk?"


Perhatian Nathan teralihkan dari layar monitor di depannya. Bocah laki-laki itu menoleh dan mendapati sang ayah berjalan menghampirinya. Nathan mengangguk, mempersilahkan Luis untuk masuk.


Nathan turun dari kursinya lalu pindah ke tempat tidur. "Malam ini tidurlah disini, pasti Kakek akan melarang kalian tidur bersama meskipun kalian berdua sudah menciptakan aku secara tidak sengaja." Ucap Nathan.


Nathan memang tidak tau seperti apa hubungan yang dulu terjalin antara ayah dan ibunya. Tapi dia yakin jika mereka berdua saling mencintai, meskipun keberadaannya adalah hasil dari kecelakaan, namun itu justru memperkuat ikatan diantara mereka.


"Ternyata benar kata mami, aku sangat mirip denganmu. Mami mengatakan jika aku adalah dirimu versi mini,"


Nathan mengangguk. "Ya, dia mengatakan jika ayahku adalah seorang pria yang sangat hebat. Dia bukan orang Korea asli, tapi seorang pendatang dari China yang kemudian menetap di kota Seoul."


"Sebenarnya masih banyak yang mami ceritakan tentang dirimu, dan satu hari satu malam pun tidak akan cukup untuk menceritakan semuanya."


"Intinya mami sangat bahagia bersamamu meskipun kebersamaan kalian sangatlah singkat, untuk itu jangan pernah berpisah dengan mami lagi. Aku tidak ingin mami diam-diam menangis lagi karena merindukanmu. Dan apakah kau tidak ingin memelukku?"


Luis mengukir senyum tipis di bibirnya. Dia mendekati Nathan lalu membawa bocah itu ke dalam pelukannya. "Jangan pergi. Aku dan mami sangat membutuhkanmu," bisik bocah itu setengah terisak. Antara bahagia dan terharu. Sampai-sampai Nathan tidak kuasa menahan air matanya.


"Daddy, berjanji Nak. Daddy akan selalu berada disisi kalian berdua."


Sungguh indah rencana Tuhan. Dia tau disetiap pertemuan pasti ada perpisahan. Begitu pula yang dulu terjadi antara dirinya dan Jesslyn. Tapi siapa yang menduga jika Tuhan akan mempertemukan mereka kembali dengan cara yang tidak terduga.


Takdir yang dulu membuat mereka berpisah, tapi takdir pulalah yang akhirnya menyatukan mereka.

__ADS_1


-


-


Jesslyn tidak bisa menggambarkan kebahagiaannya saat ini. Pertemuannya kembali dengan Luis membuat dia merasakan kebahagiaan yang dulu pernah hilang. Pria itu kembali muncul dihadapannya setelah 7 tahun berpisah. Dan semua itu berkat campur tangan putra mereka.


Meskipun baru berusia 6 tahun. Tapi Nathan memiliki kelebihan dan pemikiran seperti orang dewasa, berbeda dari kebanyakan anak seusianya yang masih hobi bermain, Nathan justru tidak tertarik sekali dengan hal-hal yang menurutnya sangat membosankan seperti itu.


Dan disini Jesslyn sekarang. Berdiri di balkon kamarnya menikmati malam bertabur bintang, malam ini terlihat lebih indah dan lebih berwarna dari malam-malam sebelumnya.


Cklekk..


Perhatiannya teralihkan dari sang malam setelah mendengar suara decitan pintu kamarnya di buka dari luar. Dia beranjak dari balkon dan kembali ke dalam. Terlihat Luis yang berjalan menghampirinya lalu memeluknya.


"Apa Nathan sudah tidur?"


Luis mengangguk. "Dia baru saja tidur." Jawabnya.


"Aku merindukanmu, Lu. Sangat-sangat Merindukanmu," bisik Jesslyn sambil mengunci sepasang manik mata milik Luis.


"Begitu pula denganku." Luis mengangkat dagu Jesslyn lalu mencium bibir Jesslyn.


Wanita itu menutup matanya saat merasakan ciuman Luis berubah menjadi ciuman panas yang menuntut, sebelah tangan Luis berada di tengkuknya, menekannya lebih dalam agar ciuman mereka tidak mudah terlepas.


Dan melalui ciuman itu. Baik Luis maupun Jesslyn sama-sama ingin meluapkan semua perasaan yang selama ini tertahan dan terpendam di hati masing-masing. Ciuman yang menggambarkan betapa dalam cinta yang mereka miliki.


Tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Kali ini Luis tidak akan membiarkan Jesslyn menghilang lagi dari hidupnya, meskipun hanya satu detik saja.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2