
Jesslyn mengambil gulungan perban, plester, kapas alkohol dan satu tube salep antiseptik povidone. Ia duduk di samping Luis dan mulai membersihkan darah dan luka di-pelipisnya tanpa menunggu titah.
Wanita itu membersihkan luka dengan alkohol agar tidak infeksi, kemudian mengoleskan salep berwarna coklat kemerahan pada luka terbuka di pelipis orang terkasihnya. Pelipis Luis mengalami robek akibat terhantam gelas kristal yang Jesslyn lemparkan.
Sebenarnya target Jesslyn bukan Luis, tapi Tao. Tapi naasnya gelas kristal itu malah menghantam dan melukai pelipis Luis sampai robek.
Saat ini, hanya ada suara napas dari dua berbeda gender yang duduk berdampingan dan sesekali ringisan dari si korban ketika lukanya itu sengaja ditekan.
"Maaf, Lu. Aku benar-benar tidak sengaja. Kau juga sih, kenapa harus muncul tiba-tiba!!" Jesslyn mengangkat wajahnya dan mengunci manik mata Luis.
Luis menghela napas. "Kalian berdua seperti bocah, selalu saja bertengkar saat bersama."
"Itu bukan salahku, tapi salah panda sialan itu. Dia yang memulai duluan, sudah tau aku sangat benci pada mentimun malah memaksaku memakannya. Parahnya lagi dia membandingkan mentimun itu dengan milikmu!!"
Uhukk... Uhukk... Uhukk...
Luis langsung terbatuk karena tersedak salivanya sendiri setelah mendengar apa yang Jesslyn katakan. Dengan gamblang, Jesslyn mengatakan jika Tao membandingkan senjata tempurnya dengan mentimun.
Jesslyn yang panik segera mengambil air putih lalu dia berikan pada Luis. "Minum dulu, kenapa bisa sampai tersedak. Dasar kau ini," Luis malah kena omel, padahal dia tersedak karena ulahnya.
Kemudian dia kembali pada pekerjaannya. Luka itu sudah diobati dan ditutup perban.
Kemungkinan agak lama sembuhnya karena lukanya yang agak dalam dan panjang. Padahal pernikahan mereka hanya tersisa dua hari lagi, dan sepertinya sang mempelai pria masih harus bersahabat dengan perban itu dihari pernikahannya.
"Kenapa lama sekali, bukankah jarak rumah dan sekolah Nathan tidak terlalu jauh?"
"Ada beberapa hal yang harus aku lakukan dan selesaikan. Aku juga sudah mengurus kepindahan Nathan, kita tidak bisa menunggunya sampai kenaikan kelas. Karena lebih cepat maka lebih baik,"
Jesslyn terdiam beberapa saat. Dia menatap Luis yang sedang menutup mata. "Apa ini karena pembullyan yang putra kita terima di sekolah? Kau sudah mengetahuinya?"
Mata yang sebelumnya tertutup itu kembali terbuka. Manik mata Luis yang dingin menatap Jesslyn dengan tatapan datar. "Ya, dan ternyata anak-anak itu adalah putra dari rekan Bisnisku. Dan aku sudah memutuskan kerjasama dengan perusahaan ayah mereka."
"Kau mengambil tindakan sampai sejauh itu?!"
__ADS_1
"Ya, dan mereka harus tau dengan siapa berhadapan. Sebagai seorang ayah, aku tidak terima jika putraku ditindas oleh orang lain. Dan aku akan melakukan apapun untuk memberi hukuman pada para penindas itu!!"
Jesslyn menundukkan wajahnya, sorot matanya berubah sendu. "Ini semua salahku, jika sejak awal aku memberitahumu, pasti Nathan tidak akan mendapatkan perlakuan kejam dari mereka. Hanya karena dia terlahir dan tumbuh besar tanpa seorang ayah, jadi teman-temannya dan orang-orang disekitar memandangnya dengan sebelah mata." Tutur Jesslyn, suaranya terdengar parau seperti menahan tangis.
Luis membawa Jesslyn ke dalam pelukannya dan mendekap tubuh wanita itu dengan erat. Laki-laki itu menggeleng. "Itu bukan salahmu, kau adalah ibu yang hebat. Untuk itu berhenti menyalahkan dirimu sendiri." Ucapnya setengah berbisik.
Jesslyn tak mengatakan apapun. Dia membalas pelukan Luis dan semakin menggenggam kan dirinya di dalam pelukan laki-laki itu. Hangat dan nyaman, hanya pelukan Luis yang bisa membuatnya tenang.
Laki-laki itu melepaskan pelukannya, jari-jarinya menghapus jejak air mata di pipi Jesslyn.
"Kita masih harus membeli gaun pengantin, bersiap-siaplah. Setelah ini kita pergi ke boutique,"
Jesslyn menggeleng. "Aku rasa itu tidak perlu, karena aku sudah memilikinya." Dia bangkit dari duduknya lalu mengeluarkan sebuah gaun pengantin yang selama 7 tahun tersimpan rapi di dalam sebuah lemari kaca.
Mata Luis memicing, dia seperti mengenali gaun itu. Dan ingatannya kembali ke waktu 7 tahun yang lalu. "Gaun itu, bukankah itu adalah gaun yang kau beli saat kita masih terikat kontrak nikah?" Jesslyn mengangguk.
"Ini adalah gaun pengantin yang aku beli siang itu. Dan aku akan memakainya dihari pernikahan kita nanti. Bagaimana menurutmu, gaun ini cantik bukan?"
Luis mengangguk. "Sangat cantik, meskipun terlihat sederhana, tapi tampak luar biasa. Kau pasti akan menjadi pengantin tercantik dengan gaun ini." Ucap Luis kemudian mengecup singkat bibi Jesslyn.
Sungguh betapa Jesslyn sangat merasa bersalah pada Luis, tapi insiden itu terjadi karena tidak disengaja.
-
-
Vivian menghampiri Nathan yang sedang duduk sendiri dibawah pohon Cherry Blossom, gadis kecil itu membawa sebuah kotak makanan. Vivian ingin mengajak Nathan makan siang bersama.
Sebenarnya Nathan juga membawa bekal makan siang yang disiapkan oleh Ibunya, tapi kotak makannya diambil oleh anak-anak nakal itu dan dibuang ke tempat sampah.
"Mau apa kau kesini?" Sinis bocah laki-laki itu melihat kedatangan Vivian.
"Ayolah, sampai kapan kau akan bersikap dingin begini padaku. Aku dengar kau mau pindah ke luar negeri, setidaknya bersikaplah baik padaku disisa hari-harimu disini,"
__ADS_1
"Bagaimana kau tau?"
"Tidak penting bagaimana aku bisa tau. Tapi jujur saja aku sedih karena harus berpisah denganmu. Meskipun kau sangat menyebalkan, tapi aku senang memiliki teman sekelas sepertimu. Aku harap kau tidak pernah melupakanku."
Nathan menatap gadis kecil disampingnya. Bahkan Vivian masih bisa tersenyum meskipun dia selalu bersikap dingin dan kasar padanya. Dan dia adalah satu-satunya anak yang mau berteman dengannya.
"Simpanlah kalung ini, saat dewasa nanti, aku pasti akan langsung mengenalimu jika kau terus memakainya."
Nathan memberikan sebuah kalung berliontin bunga sakura pada Vivian. Rencananya dia akan memberikan kalung itu pada ibunya. Tapi sepertinya akan lebih berguna jika dia memberikannya pada Vivian.
"Baiklah, aku akan menyimpannya. Semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi."
-
-
"Wow, Amazing. Gadis-gadis disini sangat cantik-cantik dan molek, mataku sungguh beruntung karena menemukan pemandangan seindah ini." Ujar Tao.
Bagi pria mata keranjang seperti Tao. Melihat banyak gadis-gadis cantik merupakan sebuah surga dunia.
Gadis-gadis bule ternyata tidak kalah cantik dari gadis-gadis China atau Korea, mereka justru lebih menarik dimatanya. Apalagi mereka yang berambut pirang dan bermata biru. Itu lebih mengairahkan lagi.
"Paman, kondisikan liurmu. Terpesona sih terpesona, tapi tidak segitunya juga kali," komentar Rio. Rio geli sendiri melihat ekspresi Tao saat melihat gadis-gadis cantik itu.
Saat ini Tao dan si Kembar sedang berjalan-jalan menikmati keindahan Kota London. Mumpung masih disini dan belum kembali ke Seoul, mereka berencana mengunjungi berbagai tempat menarik dan bersejarah di Kota ini.
"Kau terlalu cerewet bocah, diamlah dan biarkan aku menikmati surga dunia." Ucap Tao lalu meninggalkan mereka berdua.
"Yakk!! Paman, tunggu kami!!"
-
-
__ADS_1
Bersambung.