
Malam semakin larut, Luna tertidur lelap di atas tempat tidur, tepat di samping Jordan yang sibuk dengan laptopnya. Sesekali dia menatap Luna yang tertidur pulas lalu tersenyum. Diusapnya kepala sang kekasih dengan lembut, sebelum fokusnya kembali pada layar laptop di pangkuannya.
Tiba-tiba perut Luna keroncongan, memaksanya untuk segera membuka mata meskipun terasa berat. Netra Hazel-nya langsung bertemu pandang. "Ge, lapar." Rengek Luna sambil memegangi perutnya.
"Lalu?"
"Buatkan sesuatu untukku." Rengeknya memohon. Dia memainkan matanya untuk menarik perhatian Jordan.
Jordan mendengus. Dengan gemas dia menjitak kepala Luna, lalu bangkit dari duduknya setelah meletakkan laptopnya diatas meja. "Kau ingin dibuatkan apa? Ramyeon atau nasi goreng seafood kesukaanmu?" tanya Jordan memastikan.
Luna tampak berpikir. Dia sendiri bingung ingin makan apa, Ramyeon atau nasi goreng seafood? Penawaran Jordan sama-sama mengiurkan. Dan setelah berpikir selama beberapa detik. Akhirnya pilihan Luna jatuh pada ..
"Ramyeon saja," jawab Luna pada akhirnya. Setelah berkutat dengan pikirannya begitu lama, akhirnya pilihan Luna jatuh pada Ramyeon. Dan memang kebetulan dia memang ingin makan Ramyeon.
Jordan mengangguk. "Baiklah, kau tunggu disini atau ikut ke dapur?"
"Aku ikut saja. Siapa tahu tenagaku berguna di sana." Ucapnya sambil memeluk lengan Jordan dengan mesra. Mereka berdua kemudian pergi ke dapur untuk membuat Ramyeon yang Luna inginkan.
Tidak butuh waktu lama bagi Jordan untuk menyiapkan dia mangkuk Ramyeon. Sekarang mereka sedang menikmati Ramyeon tersebut dengan saling bertukar cerita, terutama tentang hal-hal yang bersifat pribadi.
Hampir satu Minggu menjalin hubungan sebagai kekasih. Baru kali ini Luna tahu jika Jordan sebenarnya takut pada ketinggian. Dan Jordan yang baru tahu ternyata Luna sangat membenci buah melon dan semangka. Sekarang mereka lebih terbuka satu sama lain.
__ADS_1
"Ge, ngomong-ngomong dimana keluargamu? Apa mereka tinggal di China? Dan David, dia kakakmu kan?" tanya Luna yang mulai mengungkit tentang keluarga Jordan. Bukan maksud Luna ingin melewati batasannya. Hanya saja Luna sedikit penasaran dengan keluarga Jordan.
Alih-alih menjawabnya, Jordan malah diam. Sorot matanya berubah dingin dan datar membuat Luna menyesali pertanyaannya. jika tahu situasinya akan seperti ini, dia memilih untuk tidak bertanya apapun padanya.
"Ge, maaf. Kau tidak perlu menjawabnya, anggap saja aku tidak pernah bertanya apapun padamu." ucap Luna penuh sesal.
Jordan menggeleng. "Tidak apa-apa. Lagian tidak ada salahnya bertanya daripada penasaran dipendam. Mama ada di America, sedangkan Papa di China. Orang tuaku berpisah sejak aku masih kecil. Mama, ketahuan berselingkuh kemudian Papa menceraikannya. Dan, David, adalah kakak sulung ku. Kami dua bersaudara, dan aku anak bungsu dalam keluargaku." ujar Jordan. Dia memilih bercerita pada Luna, karena Jordan rasa tidak ada yang perlu dia sembunyikan darinya.
Luna menggenggam tangan Jordan, dan menatapnya dengan sendu. "Tidak apa-apa. Meskipun mereka berpisah, setidaknya kau masih memiliki kakakmu dan aku. Aku pasti akan selalu ada untukmu, dan aku berjanji untuk tidak pernah meninggalkanmu." Tutur Luna sambil mengunci sepasang iris hitam Milik Jordan.
Jordan tersenyum. Dia membalas genggaman tangan Luna dan menggenggam jari-jari lentik itu dengan lembut.
"Terimakasih, Luna, aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir. Sebaiknya segera habiskan Ramyeon mu, setelah ini pergi tidur. Besok ada kelas pagi, dan aku tidak akan mentolerir bagi siapa pun yang terlibat, termasuk dirimu. Di rumah kita memang sepasang kekasih, tapi di kampus kita tetap mahasiswi dan dosen. Aku harap kau bisa memahaminya." Tukas Jordan.
Jordan mendengus. "Baiklah aku berjanji, dan aku tidak akan macam-macam denganmu. Kau sudah puas sekarang?"
Luna tersenyum lebar dan mengangguk. "Ya, sangat puas." selanjutnya mereka menikmati Ramyeon nya dengan tenang.
xxx
Malam yang dingin telah berlalu. Dan hari baru datang menyapa, matahari bersinar dengan cerah dan hangat. Langit ditutupi awan putih yang membuat cuaca hari ini tidak terlalu menyengat, tapi tidak mendung.
__ADS_1
Luna baru saja turun dari mobil Jordan. Dengan tenang gadis itu berjalan menuju kelasnya, Sedangkan Jordan pergi untuk memarkirkan mobilnya. Sekelompok mahasiswi mencegat Luna dan menghalangi jalannya. Luna mendengus dan memutar matanya jengah.
Apa mereka semua tidak pernah bosan mencari masalah dan gara-gara dengannya? Dan tentu saja Luna tahu siapa mereka, dan alasan mencegatnya. Gadis itu menghela nafas berat.
"Apalagi sekarang? Sebenarnya apa yang kalian inginkan dariku?" tanya Luna tanpa basa-basi.
"Sebaiknya segera tinggalkan, Tang Songsaenim, perempuan sepertimu jelas-jelas tidak pantas bersanding dengannya. Kau dan dia tidak selevel, dia yang tampan dan penuh kharisma hanya pantas bersanding dengan Miss Selena." ucap salah seorang dari kelima mahasiswi tersebut.
Luna mendengus, dan menatap mereka satu persatu dengan tatapan meremehkan. "Kalian lucu sekali. Aku tanya pada kalian semua, Memangnya apa yang diberikan oleh wanita itu sampai-sampai kalian begitu mati-matian membelanya? Apa kalian mendapatkan keuntungan dari pengorbanan kalian ini? Apa dia membebaskan kalian dari skripsi, dan hal lainnya? Tidak kan, kalian benar-benar bodoh, bisanya kalian dibohongi dan diperdaya olehnya." Ujar Luna. Dia mencoba mencuci otak mereka, agar mereka Sadar jika hanya dimanfaatkan.
Seketika mereka berpikir setelah mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Luna. Ada benarnya juga yang dia katakan, memangnya apa yang di lakukan Selena untuk mereka setelah berpihak padanya? Zonk, karena dia tidak memberikan apapun pada mereka, yang ada mereka berlima malah dimanfaatkan habis-habisan oleh wanita itu.
"Kenapa kalian diam saja? Apa kata-kataku benar, bukankah yang aku katakan adalah fakta? Buka pikiran kalian, jangan selamanya menjadi orang bodoh yang mudah untuk dimanfaatkan oleh orang lain." Ucap Luna lalu pergi begitu saja.
Kemudian mereka berbalik dan menatap kepergian Luna. Kelima wanita itu tersenyum lebar. Dengan kompak mereka berteriak. "Luna, terimakasih. Kau telah menyadarkan kami," serunya dengan lantang. Tidak ada tanggapan dari gadis itu. Luna hanya melambaikan tangannya tanpa berbalik sedikit pun ke belakang.
Jordan melihat dan mendengar semua yang terlontar dari bibir gadis itu. Sudut bibirnya tertarik ke atas, kekasihnya itu ternyata adalah wanita yang sangat tangguh. Buktinya dia mampu melindungi dirinya sendiri. Sudah seharusnya Jordan bangga pada Luna, dan dia akan memberikan sebuah penghargaan pada sang kekasih.
Kemudian dia melanjutkan langkahnya. Jordan menuju kantor sebelum pergi ke kelas Luna untuk jam pertama.
xxx
__ADS_1
Bersambung