Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Menikah


__ADS_3

Gio menatap sebuah foto usang yang tersemat pada sebuah liontin yang dia temukan secara tidak sengaja. Sepasang bayi kembar laki-laki dan perempuan, dan Gio tau jika bayi laki-laki itu adalah dirinya. Yang menjadi pertanyaannya, siapa bayi perempuan disampingnya tersebut.


Dia ingin sekali bertanya pada ayahnya, tapi saat ini dia masih berada di kampus dan belum pulang. Karena hanya ayahnya yang bisa memberitahunya tentang liontin tersebut.


"Tuan Muda, ada beberapa pemuda aneh yang mencari Anda. Mereka bilang, mereka adalah teman-teman Anda." Lamunan Gio buyar oleh kedatangan seorang pelayan yang memberitahunya jika ada beberapa pemuda datang mencarinya.


Mata Gio memicing. "Siapa?" Tanyanya penasaran.


"Kita bertiga!!" Sahut ketiga orang itu dari arah pintu. Mereka adalah Arya, Sean dan Dio.


Gio menatap mereka dengan mata memicing penuh tanya. "Kalian, bagaimana bisa tau alamat rumahku? Dan sedang apa kalian bertiga disini?" Tanya Gio meminta penjelasan.


"Kami dengar dari ayahmu kau sedang sakit. Jadi kami datang kemari untuk menjengukmu. Lihatlah apa yang kita bawakan untukmu. Kelapa muda, pisang satu tandu, dan nanas matang." Arya menunjukkan barang bawaannya.


"Ada juga ikan segar dan otak monyet. Kata orang tua, otak monyet sangat berkhasiat menyembuhkan segala macam penyakit, apalagi dicampur dengan ******** monyet betina dan jantungnya." Ujar Dio.


"Hoek!!"


Gio langsung mual dan segera berlari ke kamar mandi. Dio benar-benar membuatnya mau muntah. "PERGI KALIAN SEMUA DARI SINI!! AKU TIDAK BUTUH SEMUA BARANG YANG KALIAN BAWA ITU!!" teriak Gio dari kamar mandi.


"Oke kita akan menunggu!!"


"Kalian bertiga sinting!!"


-


-


Atas semua perbuatannya. Xia Junsu dijatuhi hukuman yang sangat berat. Ditambah lagi dengan tuntutan Vivian yang ingin agar dia dihukum mati. Dan pengadilan mengabulkannya setelah terkumpul semua bukti kejahatannya.


Mungkin yang Vivian lakukan adalah sebuah tindakan yang sangat kejam. Tapi itu sebanding dengan nyawa ibunya yang melayang sia-sia ditangan orang seperti Junsu. Saat sidang berlangsung, hanya Silvia dan Rossa yang datang. Vivian tidak Sudi melihat muka ayahnya lagi.

__ADS_1


Kasih sayang dan rasa hormat yang dulu dia miliki untuk sang ayah, hilang dalam hitungan detik saja. Tergantikan dengan rasa benci yang sudah mendarah daging.


Disaat Xia Junsu sedang meratapi nasibnya. Vivian justru melangsungkan pernikahan. Atas permintaan dua keluarga besar, mereka pun melangsungkan pernikahan secara sederhana yang dihadiri oleh keluarga dekat saja.


Tak ada tamu undangan, jamuan besar-besaran apalagi pesta meriah di hotel berbintang. Bukan karena tidak mampu, tapi itu juga atas permintaan Vivian dan Nathan. Mereka tidak ingin jika pernikahannya dilangsungkan secara meriah.


Vivian terlihat cantik dalam balutan gaun pengantin berwarna putih tulang yang mengikuti lekuk tubuhnya. Itu adalah gaun yang sama yang dipakai oleh Jesslyn ketika menikah dengan Luis dulu.


Jesslyn memberikan gaun pengantin miliknya pada sang menantu sebagai bentuk kasih sayang dan bukti jika Vivian telah di terima di keluarga Qin. Dan yang menjadi wali untuk Vivian adalah Kris, karena Luis harus mendampingi putranya.


Meskipun belum menikah sampai detik ini. Tapi Kris merasa terharu saat mengantar gadis itu menuju altar. Dan rasanya Kris seperti memiliki seorang putri.


"Nathan, kau harus menciumnya!!" Teriak Rio dengan sangat heboh.


"Benar, kau harus menciumnya!!" Imbuh Marcell tak mau kalah.


"Cium...!! Cium...!! Cium...!!" Si kembar dan Tao begitu heboh, mereka berteriak dan meminta supaya Nathan mencium Vivian. Bahkan mereka bertiga tidak peduli dengan delikan tajam Jesslyn. Mereka berteriak sementara di ruangan itu ada Lovely juga.


"Sayang, lihatlah putra kita. Dia sudah dewasa dan Nathan mengingatkanku pada masa mudaku dulu," ucapnya berbisik. "Malam ini mereka pecah gawang. Bagaimana kalau kita juga bercocok tanam?!"


"Jangan bicara sembarangan, bagaimana kalau Lovely sampai mendengarnya, apa kau ingin mati!!" Ucap Jesslyn setengah berbisik.


Luis terkekeh. Dia geli sendiri melihat ekspresi istrinya di tambah rona merah pada kedua pipinya. Sangat mengemaskan, jika ini bukan tempat umum di tambah lagi dengan keberadaan Lovely, pasti Luis sudah menyerangnya dari tadi. Tapi dia harus bisa menahannya sampai mereka pulang ke Seoul.


.


.


Hari berlalu begitu cepat. Sang Surya telah merangkak turun untuk kembali ke peraduannya. Langit biru dengan hiasan awan putih pun telah berganti warna.


Dan ketika senja tiba, matahari akan menampakkan warna terindahnya. Dari permukaan bumi, matahari senja bernuansa merah, orange, peach, dan kuning keemasan yang membentang di horizon.

__ADS_1


Tubuh itu sedikit tersentak saat merasakan sepasang tangan kekar yang memeluknya dari belakang. Detik berikutnya sudut bibirnya tertarik keatas membentuk lengkungan indah di wajah cantiknya. "Kenapa kau menyukai senja, hm?" Tanya orang yang memeluknya itu.


"Karena senja mengajarkan kita akan perjuangan, awan gelap yang mengadang, senja tak pernah rapuh berdiri meski sendirian."


Pemuda itu melepaskan pelukannya lalu memutar tubuh si gadis, dan mereka berdua berdiri saling berhadapan. "Namun ada makna lain dibalik senja." Ucap si pemuda sambil menatap langsung ke dalam manik mata si gadis.


"Apa itu?"


"Senja membawa bumi menuju malam. Malam itu tenang dan sunyi. Malam adalah saat dimana kau melepaskan semua lelahmu karena siang. Dan pada malam hari, kau selalu hadir di dalam mimpiku." Ujar si pemuda dan langsung membuat wajah gadis di depannya memerah.


"Dasar Nathan tukang gombal, sejak kapan pemuda dingin sepertimu bisa menjadi seorang penyair dan menciptakan kata-kata menggelikan seperti itu." Ucap Vivian sambil menundukkan wajahnya.


Rasanya aneh mendengar Nathan yang dingin dan kaku tiba-tiba mengatakan sebuah kalimat romantis seperti itu. "Ini malam pertama kita, apa kau sudah mempersiapkan dirimu dengan baik?"


Degg..


Pertanyaan Nathan membuat Vivian terbungkam. 'Malam Pertama?!' oh Tuhan, apakah mereka benar-benar akan melakukannya malam ini juga?! Rasanya Vivian masih belum siap, apalagi saat membayangkan senjata tempur milik Nathan yang kemungkinan besar sangat mengerikan.


"Em. Sepertinya aku melupakan sesuatu, aku tadi sedang meminta mama membuatkan jus buah untukku. A..Aku keluar dulu ya," ucap Vivian dan bersiap melarikan diri. Tapi dihentikan oleh Nathan dengan cepat.


Nathan mengungkung tubuh Vivian hingga gadis itu tidak bisa kabur kemana-mana lagi. Seringai dibibir pemuda yang telah resmi menjadi suaminya itu membuatnya menelan ludah.


"Kau pikir bisa kabur dariku," bisik Nathan lalu menarik dagu Vivian dan mencium bibirnya.


Jantung Vivian berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Apakah malam ini dia akan kehilangan mahkotanya yang paling berharga, dan apakah dia benar-benar sudah siap melepaskannya untuk pemuda yang berstatus sebagai suaminya?! Vivian benar-benar tidak tau dan hanya mengikuti alurnya.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2