
Hujan turun membasahi seluruh kota malam ini. Tiap butirannya membasuh luka dari setiap orang yang dijatuhinya, baik itu luka di tubuh, mau pun di hati.
Luis duduk termenung di beranda rumahnya.
Ia menatap genangan dan cahaya yang terpantul olehnya. Dipandangnya dengan dalam, seperti menyelami lautan kelam. Sekelam hatinya sekarang.
Tidak ada yang mengusiknya malam ini, selain riak air hujan yang menerjang tanah maupun benda lainnya tanpa henti. Suasana malam ini begitu sunyi, bahkan tak terdengar suara binatang malam sama sekali. Dan hal ini membuat Luis semakin tenggelam ke dalam kesunyiannya.
Tetap terfokus pada rintik hujan yang turun, matanya tertuju pada sinar lampu taman yang terpantul dari genangan air di tanah.. Sejenak, bayangan wajah Jesslyn saat berlinangan air mata singgah sejenak di pelupuk matanya.
Gadis itu begitu terpukul dengan kenyataan pahit jika ibunya adalah dalang dibalik retaknya rumah tangga kedua orang tua Luis, yang semula hangat dan harmonis. Luis memang terluka, tapi Jesslyn justru lebih terluka. Dan Luis memahami betul posisi Jesslyn saat ini.
"Tuan, apa yang sedang Anda lakukan di sana? Di luar sedang hujan, kenapa Anda malah diam di luar? Masuklah, nanti Anda bisa sakit," seru seseorang dari belakang.
Kris datang membawakan pakaian hangat untuk Luis. Dia tidak ingin jika majikannya itu sampai sakit dan masuk angin karena pakaian yang ia pakai sangat kontras dengan udara malam ini.
"Apa Jesslyn sudah tidur?"
"Saya rasa belum, beberapa waktu yang lalu nyonya turun untuk mengambil beberapa botol minuman beralkohol. Dan saya rasa saat ini dia sedang mabuk di kamarnya." Jawab Kris.
Tanpa menghiraukan Kris dan mantel hangat yang dia bawakan, Luis meninggalkan beranda dan pergi menemui Jesslyn. Dia tidak ada di kamar utama, dan Luis mendapati pintu kamar yang dulu pernah di tempati oleh Jesslyn terbuka.
Dan benar saja, gadis itu ada di dalam sana, duduk dilantai sambil meneguk minuman itu langsung dari botolnya.
Jesslyn terlihat sangat kacau, wajahnya cantiknya tampak sembab, rambut panjangnya sedikit berantakan, dan aroma alkohol yang begitu menyengat langsung berkaur di hidung Luis ketika dia menginjakkan kakinya dilantai ruangan tersebut.
"Jangan minum lagi, kau sudah mabuk." Luis merebut botol minuman itu dari tangan Jesslyn lalu menjauhkan dari gadis itu.
"Kembalikan botol itu padaku, Lu. Aku masih belum puas minum, dan aku tidak akan berhenti sebelum mabuk. Jadi kembalikan botol itu padaku," Jesslyn mengulurkan tangannya, meminta supaya botol itu Luis kembalikan padanya.
__ADS_1
Luis menggeleng. "Tidak, kau sudah mabuk dan tidak boleh minum lagi." Jawabnya menegaskan.
"Jahat!! Kenapa kau malah merusak kesenanganku, padahal aku cuma mau minum sedikit lagi tapi kau malah merampas minumanku. Bagaimana kalau kau menemaniku minum?! Jujur saja, minum sendiri itu tidak enak." Ujarnya.
Jesslyn mulai sedikit ngelantur. Rupanya dia sudah mulai mabuk. Dia meminta botol minumannya tapi Luis tetap tidak mau memberikannya, dan akhirnya Jesslyn meminta Luis untuk menemaninya minum. Karena menurutnya minum sendirian itu tidak enak.
Tanpa banyak berpikir, Luis langsung meneguk minuman milik Jesslyn yang hanya tinggal setengah, mereka minum dari botol yang sama. Jesslyn tersenyum lebar, dia membuka segel botol wine kedua dan mulai meneguk isinya.
Semakin lama, keduanya semakin kehilangan kesadarannya. Efek alkohol yang mereka minum membuat mereka berdua mulai kehilangan kewarasannya. Jesslyn merasakan panas pada sekujur tubuhnya, begitu pula dengan Luis.
"Aku kepanasan," tiba-tiba gadis itu melepas dress-nya dan membuangnya asal. "Hik, rasanya tubuhnya sedikit aneh. Seperti terbakar."
"Bodoh, memangnya siapa yang menyuruhmu minum sebanyak itu. Sudah tau tidak bisa minum, tapi masih memaksakan diri," Luis melayangkan omelannya pada Jesslyn.
Gadis itu berdecak sebal. "Ck, kenapa kau malah memarahiku. Aku hanya ingin mencoba apa yang orang katakan. Menurut mereka, efek alkohol sangat bagus untuk menghilangkan semua beban. Dan aku hanya ingin memastikannya!!" Ujar Jesslyn menegaskan.
"Alasanmu tidak masuk akal, Nyonya!!"
"Lu, ngomong-ngomong kau itu sangat tampan. Aku semakin menyukaimu, hik." Jesslyn tersenyum menggoda, dia bahkan tidak sadar dengan apa yang telah ia katakan.
"Jesslyn, kemarilah." Luis menarik lengan Jesslyn lalu menempatkan gadis itu dipangkuannya.
Tanpa aba-aba, Luis mel*mat dengan kasar bibir tipis Jesslyn. Jesslyn juga tampaknya tak mau kalah, gadis itu juga membalas ciuman Luis dengan penuh n*fsu. Bunyi decakan-decakan memecah kesunyian di ruangan itu. Lidah Luis mulai nakal dan menerobos masuk, membuat Jesslyn sedikit kewalahan menghadapi lidah yang agresif itu.
"Haaahh … haahh …" Jesslyn mengambil kesempatan untuk mengambil napas sebelum Luis ******* bibirnya lagi. Tetesan saliva telah keluar dari sudut bibir keduanya karena keganasan ciuman tersebut.
"Haahh … haahh … Lu... Emmpphhh, aku menyukaimu. Bukan, tapi aku mencintaimu …" Jesslyn membelai wajah Luis dengan senyum menggoda. Luis semakin menyeringai. Kata-kata Jesslyn bagaikan angin lalu di-telinganya. Dia tidak sadar dengan apa yang Jesslyn katakan.
Lidah yang tadinya cuma menjamah bibir Jesslyn, kini mulai m*njilati telinga gadis itu, lalu turun ke leher jenjang putihnya. Jesslyn m*mbuka satu kancing atas kemeja Luis demi memudahkan permainannya.
__ADS_1
Luis m*njilat, mengecup, dan menggigit pelan leher jenjang itu sampai menimbulkan beberapa tanda kepemilikan di sana. Bibirnya pun turun ke bukit kembar Jesslyn. Ia menanggalkan d*laman Jesslyn sampai semuanya terekspos dengan indah.
Kabut n*fsu terpancar dari mata keduanya. Luis begitu terpukau dengan keindahan tubuh istrinya. Kulit yang sehalus dan seputih porselen, bukit kembar yang tidak terlalu besar namun begitu menggoda. Jesslyn adalah pahatan maha karya yang luar biasa dimata Luis.
"Kita pindah …" ucap Luis dengan nada khas orang mabuk.
Ia menggendong Jesslyn ke kamar utama dan menidurkan gadis itu di sana. Ia kembali melancarkan aksinya, membuat Jesslyn m*ndesah hebat untuk kesekian kalinya.
"Luuhhh~ngghhh~" D*sahan nikmat itu terus keluar dari bibir Jesslyn saat Luis mulai menjamah setiap jengkal bagian t*buhnya. Ia memekik pelan saat pria itu mulai m*ncumbu bagian bawahnya.
Mereka tidak sadar apa yang telah dilakukannya saat ini. Jesslyn mencengkram dengan kuat sepreinya saat Luis mulai memasuki dirinya.
Sakit luar biasa dirasakan pada bagian bawahnya ketika Luis berusaha mendorong dirinya untuk masuk hingga menembus pertahannya, namun rasa sakit itu langsung tergantikan dengan kenikmatan tiada tara.
Laki-laki itu mulai menggerakkan pinggulnya secara teratur, membuat sebongkah kenikm*tan menjalar di seluruh anggota tubuh Jesslyn.
"Luisshhh~ngghhh~lebih cepat …" Luis mempercepat gerakannya, membuatnya mengeram saat Jesslyn mulai menjepitnya dengan kuat.
Luis terus memompa miliknya dengan kecepatan tinggi. Des*Han yang keluar dari bibir Jesslyn membuat Luis semakin agresif untuk mempercepat gerakannya.
Dan setelah 15 menit, Luis menjatuhkan dirinya di samping Jesslyn saat ia telah memperoleh puncak kenikmatannya. Benih itu ia tembakkan ke rah!m Jesslyn, membuat rasa hangat menyelimuti rah!m gadis itu, ralat.. tapi wanita itu.
Sebagai penutup, Luis mulai mencumbu bibir Jesslyn lagi dan mel*matnya seperti tadi, dan rasa lelah serta efek alkohol membuat mereka berdua jatuh tertidur dengan posisi saling berpelukan.
-
-
Bersambung.
__ADS_1