Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Memasak Makan Malam


__ADS_3

"Tuan, Anda memanggil saya?"


Kris memasuki ruang kerja Luis setelah mendapatkan panggilan dari sang majikan. Luis menyerahkan sebuah dokumen pada Kris yang didalamnya berisi data-data penting tentang ibu tirinya.


"Aku ingin kau menyelidiki masa lalu wanita itu. Temukan putrinya yang telah dia telantarkan selama puluhan tahun, lakukan secepatnya dan aku akan memberimu waktu satu Minggu."


Kris mengangguk. "Baik, Tuan. Akan segera saya lakukan. Oya, Tuan, ada kabar dari rumah sakit. Nyonya Elisa meninggal siang tadi, dia meninggal karena kehilangan banyak darah ditambah luka di kepalanya yang sangat parah. Dan sampai sekarang jasadnya masih berada di rumah sakit."


"Segera sebarkan berita tentang kematiannya. Dan pastikan publik tau jika kematiannya ditangan suaminya sendiri. Ungkap juga rahasia tentang putri yang telah dia telantarkan demi mengamankan posisinya dalam keluarga Qin, dan satu hal lagi, sebarkan berita jika Frangky bukan lagi bagian dari keluarga ini."


"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." Kris membungkuk dan segera meninggalkan ruangan tersebut.


Luis menyeringai. Satu langkah lagi, kehancuran Bram sudah ada di depan mata. Dan Luis akui, jika kemenangan besar ini tidak akan berhasil tanpa ada campur tangan Jesslyn.


Untuk itu, Luis berencana memberikan sebuah penghargaan pada istri kontraknya tersebut, karena Jesslyn sudah banyak membantu dirinya selama ini.


-


-


Jesslyn membuka pintu rumah sederhana itu lalu masuk ke dalam. Tiba-tiba dia sangat merindukan ayahnya, dan satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah datang ke rumah lamanya ini yang menyimpan jutaan kenangan dengan sang ayah.


Gadis itu merebahkan tubuhnya di sofa ruang keluarga. Kali ini Jesslyn pergi sendiri tanpa Luis. Saat Jesslyn meninggalkan rumah, Luis sedang pergi menemui seseorang yang Jesslyn sendiri tidak tau siapa orang itu.


Suara dering yang masuk ke ponselnya mengejutkan Jesslyn. Nyaris saja ponsel itu jatuh dan menimpa hidungnya, jika dia tidak menangkapnya dengan cepat. Tanpa membuang banyak waktu, Jesslyn pun menerima panggilan itu.


"Kau dimana?" Sebuah suara masuk dan menyapu gendang telinganya. Nadanya dingin dan datar, dan siapa lagi yang menghubunginya jika bukan Luis.


"Rumah lamaku,"


"Tetap di sana dan jangan pergi kemana pun, aku akan tiba dalam waktu dua puluh menit."

__ADS_1


"Baiklah," kemudian Jesslyn memutuskan sambungan telfonnya.


Dia tidak bisa mencegah dan melarang Luis untuk datang, karena dilarang pun dia akan tetap datang mengingat betapa keras kepalanya suaminya itu.


Lalu pandangan Jesslyn bergulir pada jam yang menggantung di dinding, dan waktu sudah menunjuk angka 17.00 sore. Masih ada dua jam menuju jam makan malam.


Jesslyn bangkit dari berbaringnya. Untung saja dia tadi membeli beberapa bahan makanan seperti udang segar, daging segar, cumi dan sayur mayur. Karena dia memang berniat untuk bermalam di rumah ini.


Tepat saat Jesslyn menyelesaikan masakan pertamanya, terdengar deru suara mobil yang memasuki halaman rumah. Tanpa melihat pun, tentu saja dia tau siapa yang datang. Itu adalah Luis, suaminya.


"Aku sedang menyiapkan makan malam, kau bisa menunggu sambil istirahat di kamar." Ucap Jesslyn pada pria yang berjalan kearahnya.


"Kenapa kau pergi tanpa memberitahuku?" Sebuah pertanyaan meluncur dari bibir Luis.


Kemudian Jesslyn menoleh dan membalas tatapan Luis. "Aku tau kau sedang sibuk jadi aku tidak mau mengganggumu, jika suatu hari aku menghilang dan kau tidak menemukanku di rumah. Kau bisa langsung pergi kesini, karena hanya ini satu-satunya tempat yang menjadi tujuanku." Jawab gadis itu.


"Jangan mengatakan omong kosong. Memangnya siapa yang mau membiarkanmu pergi, jadi jangan pergi sembarangan tanpa memberitahuku terlebih dulu!!" Luis memberikan peringatan pada istri kontraknya itu.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Luis menarik pinggang Jesslyn, sebelah tangannya menelusup ke dalam helaian panjangnya yang terurai lalu menekan bagian tengkuknya, selanjutnya sebuah benda lunak dan basah menyapu permukaan bibirnya yang disusul lum*tan-lum*tan kecil pada permukaan bibir ranumnya.


Jesslyn menerima ciuman itu dengan sangat baik. Gadis itu mengangkat kedua tangannya dan memeluk leher Luis, bahkan Jesslyn tak ragu lagi membalas ciuman Luis yang semakin lama semakin menuntut.


Tangan Kevin yang semula berada di tengkuk Jesslyn berpindah dan menekan belakang kepalanya. Luis semakin memperdalam ciumannya sambil sesekali bermain lidah.


Namun ciuman itu harus berakhir ketika mereka sama-sama mencium aroma masakan yang gosong.


Kedua mata Jesslyn sontak membelalak. Dia berbalik badan dan... "NO, MASAKAN KU GOSONG!!" serunya histeris. Dia terlalu terlena oleh ciuman Luis dan melupakan masakannya yang sekarang berubah menjadi arang.


"Sudah tidak bisa dimakan, sebaiknya buang saja. Sekarang minggirlah, biar aku saja yang memasak makan malam untukmu," ucap Luis lalu melepas jasnya dan menyerahkan pada Jesslyn.


Menyisakan kemeja hitam lengan terbuka dan singlet putih sebagai menjadi lapisan dalam kemejanya. Jesslyn mundur dan memperhatikan skill memasak suaminya yang bisa dibilang tidak kaleng-kaleng.

__ADS_1


Luis terlihat begitu ahli dalam urusan memotong sayur dan daging, gerakan tangannya juga sangat terampil dan cepat. Dia sudah seperti chef, chef hotel bintang lima. Dan Jesslyn tidak sabar untuk mencicipi bagaimana rasanya.


.


.


Tepat pukul 18.51, Luis menyelesaikan menu terakhirnya. Ada empat menu makanan yang Luis masak, dan satu menu masakan Jesslyn. Melihat makanan yang begitu menggiurkan diatas meja, membuat Jesslyn tidak sabar untuk segera menyantapnya.


"Wah, aromanya sangat mengiurkan. Boleh aku mencicipinya lebih dulu?" Jesslyn mengangkat wajahnya dan menatap Luis penuh harap.


Laki-laki itu mendengus melihat eskpresi Jesslyn yang seperti bocah itu. "Makan saja, tapi jangan memasang ekspresi menggelikan seperti itu." Jawabnya dan membuat sudut bibir Jesslyn tertarik keatas.


Tanpa menghiraukan aturan dimeja makan, Jesslyn pun mulai menyantap makan malamnya dengan tenang. Dia makan dengan sangat lahap, tak menghiraukan Luis yang sedari tadi terus menatapnya, sudut bibir pria itu tertarik keatas.


"Dasar bocah, makan pelan-pelan sedikit Napa. Tidak ada yang merebut makananmu," ucapnya sambil mengusap nasi yang menempel disudut bibir Jesslyn.


"Habisnya ini enak sekali, masakanmu mengingatkanku pada papa. Dia selalu memasakanku. Hampir setiap malam dia yang menyiapkan makan malam. Meskipun masakanmu tidak sesempurna miliknya, tapi aku memberikan nilai 9/10 karena ini benar-benar enak." Tuturnya.


Luis tak memberikan jawaban apa-apa. Bahkan dia tak terlihat marah sama sekali meskipun telah dibandingkan dengan pria lain. Dia malah tersenyum simpul, tidak ada orang yang sejujur Jesslyn.


Selama ini orang-orang selalu mengatakan kebohongan di depannya, mereka tak pernah mau jujur apalagi mengatakan yang sebenarnya hanya demi tidak membuat dirinya marah. Tapi Jesslyn tidak seperti mereka, karena gadis itu selalu jujur dan apa adanya.


"Jangan banyak bicara lagi, sebaiknya telan makanan di mulutmu itu. Makan pelan-pelan saja," nasehat Luis, dan Jesslyn hanya mengangguk patuh.


"Baiklah,"


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2