
Hari ini Nathan ingin istirahat penuh setelah kejadian di kampus barunya yang mengorbankan batinnya.
Agar tidak terbawa emosi. Setelah mandi, Nathan yang hanya memakai celana pendek dan kaos oblong tanpa lengan berbaring di kasur empuknya untuk tidur. Dia benar-benar lemah, bukan hanya fisiknya tapi juga batinnya.
Ting...
Pesan singkat yang masuk ke ponselnya membuat pemuda itu berdecak sebal. Awalnya Nathan hendak mengabaikannya, tapi setelah dia melihat nama si pengirim yang tersemat diakhir pesan singkatnya membuat dia berubah pikiran.
"Nathan, apa aku mengganggumu? Simpan, ini nomor ponselku. Vivian."
Buru-buru Nathan mengirim pesan balasan pada gadis itu dan mengajaknya bertemu di luar malam ini. "Apa kau ada waktu malam ini? Bagaimana kalau kita keluar, sepertinya cuaca malam ini cukup bersahabat."
Ting...
"Baiklah, jam 7. Aku akan Sherlock alamatku padamu nanti. Sampai jumpa nanti malam,"
Nathan melemparkan ponselnya begitu saja keatas tempat tidur, kemudian ia berbaring dengan posisi menghadap langit-langit kamarnya. Masih 5 jam lagi, artinya sekarang Nathan bisa tidur dulu dan mengistirahatkan tubuh dan batinnya yang lelah.
-
-
Jesslyn dan putri kecilnya sedang duduk santai sambil menikmati buah segar di ruang keluarga saat terdengar suara ketukan pada pintu. Ibu dan anak itu saling bertukar pandang, kemudian seorang pelayan pergi untuk membuka pintu.
Seorang gadis cantik berdiri di depan pelayan itu sambil tersenyum manis. "Apa Bibi Jesslyn ada di rumah?" Tanya gadis itu pada pelayan tersebut.
"Ada, Nona. Silahkan masuk, beliau sedang bersantai di ruang keluarga bersama Nona Muda."
"Baiklah, aku akan menemuinya." Lalu gadis itu melewati pelayan tersebut begitu saja. Senyum tak lepas dari bibirnya saat melihat keberadaan Jesslyn. Sebelum menyapa ibu dua anak itu. Dia merapikan dulu penampilannya. "Halo, Bibi. Selamat sore." Sapa gadis itu ramah.
Keduanya lantas menoleh. Lovely menatap tidak suka pada gadis yang baru saja menginjakkan kaki di rumahnya itu. Sementara Jesslyn menunjukkan sikap biasa saja. "Oh, kau rupanya. Marissa, ayo masuk." Kata Jesslyn mempersilahkan.
"Terimakasih, Bibi. Oya, ini Sasa bawakan cake kesukaan Bibi." Marissa menyerahkan bingkisan yang dia bawa pada Jesslyn. Niat hati mau mengambil hati wanita itu.
"Cih, bilang saja ingin menyogok Mami kan?!" Tebak Lovely 100% benar. "Mi, sebaiknya jangan terlalu percaya apalagi terlalu baik pada penjilat seperti dia."
"Lovely, jaga bicaramu. Itu tidak sopan!!"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Bibi. Jangan dimarahi, Lovely masih kecil. Oya, bagaimana kabar Nathan. Apa dia baik-baik saja di New York, kira-kira kapan dia pulang ya?"
Jesslyn memicingkan matanya. Sepertinya Marissa belum tau tentang kepulangan Nathan. Baru saja dia hendak memberitahunya, tapi Lovely sudah nyerobot lebih dulu.
"Nanti setelah dia lulus kuliah, sebaiknya
Kakak jangan terlalu berharap pada kak Nathan. Karena dia sudah punya kekasih!!"
"Kakak tidak berharap padanya kok, Sayang. Hanya berteman saja, kami tidak memiliki hubungan spesial."
"Baguslah, aku juga tidak sudi memiliki Kakak ipar sepertimu. Bermuka dua!!"
Rasanya Marissa ingin sekali meremas mulut Lovely yang terlewat pedas. Tapi demi image, dia harus bersikap lebih sabar dan tidak terbawa emosi. Lagipula Lovely adalah calon adik iparnya. Jadi Marissa harus bisa mengambil hatinya.
"Bibi, kalau begitu Sasa pulang dulu ya. Salam pada Paman Luis dan yang lain."
Jesslyn mengangguk. "Baiklah, hati-hati dijalan."
-
-
Tak ada yang spesial pada penampilannya. Dia hanya memakai blus berbahan brokat setengah lengan dengan pita kecil yang diikatkan ke belakang, jeans ketat yang mengikuti lekuk kaki jenjangnya. Rambut panjangnya diikat ekor kuda dan tak lupa polesan make up tipis yang mempercantik wajahnya.
Sang sahabat tiba-tiba masuk ke kamar tersebut dan memicingkan mata melihat sahabatnya itu yang sudah rapi dan cantik.
"Vi, apa kau mau pergi kencan? Rapi sekali, Omo!! Jangan bilang kalau kau akhirnya berubah pikiran dan menerima cinta salah satu fansmu itu ya?" Tebak gadis itu yang pastinya adalah Sania.
Vivian melemparkan kuas make up-nya pada gadis bertubuh mungil tersebut dan mendelik tajam padanya. "Jangan banyak bertanya, kenapa kau itu kepo sekali. Dan siapa juga yang mau pergi berkencan?! Aku cuma mau keluar sebentar dengan teman lamaku." Ujarnya.
"Teman lama apa teman lama?!" Goda Sania yang hanya disikapi putaran nata jengah oleh Vivian.
"Terserah kau mau percaya atau tidak?!" Dan Sania hanya tertawa melihat wajah sewot sahabatnya itu. Ngomong-ngomong soal teman lama Vivian, Sania jadi penasaran padanya. Memangnya seperti apa teman lama sahabatnya itu?!"
-
-
__ADS_1
Nathan menuruni tangga sambil membawa sebuah kunci mobil di genggamannya. Pemuda itu dalam balutan jeans ketat hitam, tank top putih yang dibungkus Leather Vest hitam pula. Dia menghampiri sang ibu yang sedang menyiapkan makan malam.
"Mi, malam ini aku tidak makan malam di rumah. Aku ada janji dengan seseorang."
Jesslyn menoleh, ia memperhatikan putranya dari ujung rambut sampai ujung kaki dan menghela napas berat. Kenapa putranya yang dulu manis dan sangat memperhatikan penampilan, sekarang malah suka berpenampilan serampangan?
"Jangan menatapku seperti itu!!" Protes Nathan melihat tatapan sang ibu.
"Kau mau pergi dengan penampilan seperti ini?"
"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah?! Aku nyaman dengan penampilanku sekarang, jadi Mami jangan banyak mengaturku. Lagipula aku bukan anak kecil lagi. Aku pergi dulu," Nathan mencium pipi ibunya dan pergi begitu saja.
Jesslyn menatap kepergian putranya. Dia kembali menghela napas berat, ibu dua anak itu menggelengkan kepala.
Wanita itu kembali sibuk dengan pekerjaannya. Jam makan malam hampir tiba, sebentar lagi Luis pulang bekerja. Jesslyn tidak ingin membuat semua orang kelaparan karena terlalu lama menunggu.
-
-
Mobil sport milik Nathan berhenti dihalaman luas sebuah rumah mewah yang memiliki dua lantai. Seorang gadis cantik rupanya sudah menunggu kedatangannya. Pemuda itu tersenyum saat melihat Vivian berjalan menghampirinya.
Nathan membukakan pintu untuk gadis itu tanpa keluar dari mobilnya. "Apa aku terlalu lama?" Tanya Nathan setelah gadis itu masuk ke dalam mobil.
Vivian menggeleng. "Bahkan kau datang dua menit lebih awal." Dia menunjukkan waktu di ponselnya sambil tersenyum tipis.
Sementara itu, Sania yang penasaran dengan teman sahabatnya itu buru-buru keluar saat mendengar suara deru mobil yang memasuki halaman. Tapi sayangnya saat dia tiba di luar, mobil itu sudah melaju pergi.
"Kau sudah makan malam?" Vivian menggeleng. Dia belum sempat makan malam karena terburu-buru. "Kalau begitu kita makan malam dulu saja. Kau tentukan saja tempatnya,"
"Di dekat sini ada cafe. Sebaiknya kita makan malam di sana saja." Usulnya.
Nathan mengangguk. "Baiklah."
Diam-diam Vivian memperhatikan penampilan Nathan. Dia terlihat sangat berbeda dengan penampilan seperti ini. Pantas saja jika teman-temannya sampai tidak mengenalinya. Karena perbedaannya sangat jauh, dan mencapai 180°.
-
__ADS_1
-
Bersambung.