
Getaran ponselnya, membuat Luna segera tersadar dari lamunannya, gadis itu mengalihkan pandangannya pada ponsel di tangannya. Satu pesan baru saja masuk, sudut bibirnya tertarik keatas membuat lengkungan indah setelah melihat siapa yang baru saja mengiriminya pesan.
'Jangan banyak melamun, Sayang. Itu tidak baik.'
Luna sedikit terkejut, bagaimana mungkin Jordan tau jika Ia sedang melamun? Apakah sejak tadi pria itu memperhatikannya, Luna menyapukan pandangannya mencoba menemukan keberadaan Jordan, namun nihil.
Drettt .. Drettt ..
Ponsel di tangannya kembali bergetar, ada 1 pesan masuk lagi.
'Kau mencari ku ya?? Arah jam 9 sayang.'
Luna menolehkan kepalanya, dan benar. Ia melihat sang kekasih yang telah berganti dengan pakaian basket tengah berkumpul bersama Martin dan yang lainnya, dari manik hitam Jordan. Pandangan Luna bergulir pada tribal di lengan kirinya. Meskipun dari kejauhan, namun dengan jelas Ia dalat melihat tribal tatto kesayangannya itu. Luna mengirim pesan balasan untuk sang kekasih.
"Berhenti menatapku seperti itu Ge, kau ingin membuatku jantungan? Dan satu lagi, terimakasih sudah memberikan sesuatu yang istimewa untukku. Selain bibirmu, aku merindukan tribal mu."
Dari tempatnya berdiri, Luhan dapat melihat senyum tipis yang menghiasi wajah tampannya. '
'Kau mulai berani, Luna. Baiklah, tunggu beberapa jam lagi. Dan ya, aku rasa pakaian tanpa lengan pilihan tepat saat bersamamu. Apa kau begitu mengagumi tribal ini?'
Luna terkikik geli membaca pesan balasan dari Jordan, tanpa Ia sadari ada beberapa pasang mata yang sejak tadi mengawasinya dan berdiri tepat di belakangnya tanpa suara.
"Oh god, kau memberiku satu ide. Akan ku potong semua pakaian berlengan milikmu tanpa terkecuali."
Drettt .. Drettt ..
Tak sampai 1 menit, Luna merasakan ponsel di tangannya kembali bergetar. Jordan membalas pesannya lebih cepat dari sebelumnya.
'Silahkan jika kau ingin membuat para mahasiswi dan dosen muda di kampus ini histeris, karena melihatku datang dengan pakaian lengan terbuka. Apa aku tidak terlalu berharga untuk bisa kau bagi dengan orang lain?'
Skakmat..
__ADS_1
Luna mendengus sebal. Ucapan Jordan benar-benar membuatnya mati kutu, segera Ia mengetik pesan balasan untuk dosen tampan itu.
"Tentu saja tidak, karena kau hanya milikku. Titik!!"
Luna menggembungkan pipinya, terlihat Jordan yang kembali menarik sudut bibirnya, tersenyum setipis kertas namun masih bisa di lihat jelas oleh Luna.
'Aku tidak akan tergoda. Percayalah, jika aku hanya mencintaimu. Menengok lah kebelakang, ada mata yang terus menatapmu.'
Luna mengerutkan dahinya membaca pesan balasan dari Jordan, gadis itu memutar lehernya dan betapa terkejutnya dia mendapati ke Tiffany, Karin dan Devan berdiri di belakangnya. "Huaaa!!" Luna terlonjak kaget, nyaris saja ponsel miliknya lolos dari genggamannya jika Ia tidak lebih sigap menangkapnya.
"Luna!!" Ucap mereka serempak.
"Se-sejak kapan kalian berdiri di situ?" Tanya Luna terbata-bata.
"Sejak kau berkirim pesan dengan kekasihmu yang tampan itu." Jawab Tiffany.
Tiffany dan Karin melompati kursi penonton dan berdiri mengapit Luna, merangkul bahunya dan menatapnya dengan tatapan yang membuat dia menelan ludahnya.
"Ke-kenapa kalian menatapku seperti itu?" Luna merasa horor dengan tatapan mereka berdua.
2 ...
3 ...
"KKKYYYYAAAA...!! LUNA, KITA BAHAGIA KARENA AKHIRNYA KAU MEMILIKI KEKASIH JUGA."
Doeenggg .. !!!
Luna sweatdrop mendengar teriakan histeris mereka berdua. Ia fikir akan di cincang habis-habisan oleh Tiffany dan Karin. Tapi kenyataannya mereka memberikan respon diluar dugaan.
xxx
__ADS_1
Pritttt ... !!! ..
Wasit meniup peluit tanda pertandingan pun di mulai. Bola orange bergaris hitam yang di lempar oleh wasit ke udara menjadi rebutan dua kapten, yakni Jordan dan Boy.
Jordan berhasil mendapatkan bola orange bergaris hitam itu, dengan gerakan lincah dan cepat, dia membawa bola itu dan melemparkan pada rekannya. "Semangat pria-pria tampan." Teriakan para wanita dari bangku penonton menggema, bersama dengan aksi para pemaian basket di lapangan.
Ren menggiring bola lalu melemparkan ke ring dan.... Berhasil, poin untuk S.N.U. Jordan menyeringai kearah Boy yang tampak kesal karena gagal mendapatkan poin
'Akan ku beri kau pelajaran Hiu.' inner Jordan bergumam.
Jordan dan teman-temannya menguasai permainan, mereka dapat dengan mudah menghalau pergerakan lawan. Bahkan mereka tak memberi satu pun kesempatan untuk tim lawan mendapatkan poin, dan aksi Red Devil hari ini sangat memukau. Membuat para gadis semakin histeris.
Sementara tim lawan mulai merasa cemas, mereka berasumsi jika lawan mereka bukanlah manusia biasa melaiankan jelmaan para Iblis. Mereka memang hebat dan tak pernah terkalahkan, jadi tidak salah jika Jordan cs mendapatkan julukan sebagai Iblis merah.
Skip Time:
Gedung olah raga yang semula riuh mendadak menjadi sunyi, semua penonton tidak ada yang bersuara saat melihat sosok Jordan yang bergerak dengan gesit di tengah lapangan, dengan sangat mudah dia dapat melewati beberapa lawan yang mencoba menghalau dan menghentikan langkahnya.
Mata hitamnya menatap ring yang ada di depan sana dengan tatapan serius, hari ini Ia akan mengukir sejarah baru untuk Seoul University. Ia telah bertekad dalam hati, dan Ia tidak boleh gagal. Karena Jordan sangat membenci yang namanya kegagalan.
Sekilas Ia melirik papan skor, Jordan menyerigai tipis. Tim lawan sangat jauh tertinggal, bahkan Red Devil tidak memberikan sedikit pun kesempatan untuk tim lawan mencetak skor. Mereka benar-benar memukau dan bersinar.
10 menit kemudian pertandingan basket pun berakhir dengan kemenangan bagi tim Seoul University. Mereka mengalahkan tim lawan dengan telak, sungguh sejarah baru, baru saja terukir. Semua orang menyambut kemenangan S.N.U dengan suka cita, para mahasiswi menjerit histeris sambil meneriakkan nama-nama yang tertera di punggung para pemain.
Para Dosen merasa terharu sampai menitihkan air mata, termasuk dosen senior yang merupakan pemilik dari Universitas ini. Mereka saling berpelukan. Ada yang sampai salto penuh semangat masa muda dengan beberapa mahasiswa yang mengikuti jejaknya.
Mereka mengacungkan jempol pada Jordan dan timnya. Jangan lupakan Tiffany, Karin yang juga menangis haru. Ini adalah kemenangan pertama bagi kampus mereka. Jadi wajar jika mereka memberikan reaksi yang begitu berlebihan.
Jordan tersenyum kearah Luna, gadis itu membalas senyuman itu sambil mengacungkan jempolnya. Mata Hazel Luna menyipit saat bibir Jordan bergerak seperti mengatakan sesuatu, detik berikutnya mata itu terbelalak dengan bibir sedikit terbuka. Rasa hangat seketika menjalar di sekujur tubuhnya. Dia benar-benar beruntung memiliki kekasih seperti Jordan.
Jordan memang selalu bersikap dingin dan tak peduli pada orang lain, namun saat bersama Luna Sisi lain dari dirinya akan terlihat. Jordan menjadi hangat dan penuh kelembutan. Ia memperlakukan Luna dengan sangat berbeda, karena Luna sangat berharga untuknya. Untuk seorang Jordan Tang.
__ADS_1
xxx
Bersambung