
Kabar tentang Mirah yang datang ke kantor dan membuat keributan di sana telah sampai ke telinga David. David sangat marah, tentu saja. Wanita yang paling dia benci di dunia ini tiba-tiba datang dan membuat kekacauan.
"Adik, Gege mu yang tampan dan sexy ini datang..."seruan keras itu mengalihkan perhatian Luna dan Jordan yang sedang menyantap makan malamnya.
Mata David langsung berbinar-binar melihat beberapa hidangan lezat yang tersaji di atas meja, kebetulan sekali dia memang sedang lapar dan dihadapannya malah ada makanan.
"Hwa... Kalian benar-benar adik dan adik ipar yang sangat baik. Tau kalau Gege nya mau datang makanya disiapkan makanan-makanan lezat sebanyak ini." Ucap David. Tanpa dipersilahkan oleh sang tuan rumah. David segera dan bergabung dengan mereka berdua. Kemudian dia berseru. "Mari makan..."
David menyantap makan malamnya dengan lahap tanpa menghiraukan si tuan rumah yang tampan kesal menatapnya. Bagaimana tidak, bahkan Luna dan Jordan baru memulainya lalu tiba-tiba ada manusia rakus datang numpang makan tanpa permisi. Membuat selera makan mereka berdua hilang seketika.
David mengangkat kepalanya dan menatap mereka berdua dengan bingung. "Kenapa kalian berdua diam saja? Ayo cepat makan, makanan-makanan ini sangat enak dan membuat nafsu makanku bertambah." Ujarnya. Sampai-sampai David lupa tujuannya datang ke rumah adiknya.
Jordan menghela nafas dan menatap David dengan sebal. "Bagaimana kami berdua mau makan, sementara lauknya kau habiskan sendirian,"
Pupil mata David membulat sempurna mendengar apa yang baru saja Jordan katakan. Lalu pandangannya bergulir pada piringnya dan beberapa piring berisi lauk dan sayuran yang hampir habis. David menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ma..Maaf, aku terlalu bersemangat melihat makanan-makanan lezat ditambah perutku yang keroncongan. Tapi ini masih sisa sedikit kok, kalian bisa berbagi dengan adil dan sama rata." Ucap David yang langsung dihadiahi tatapan tajam dari Jordan.
David menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tidak ingin terkena masalah, buru-buru dia memesan makanan yang sama dari luar. Karena jika tidak, bisa-bisa dirinya di telan hidup-hidup oleh Jordan. Bukan salah Jordan bila marah, karena memang David yang kurang ajar dan tidak tau malu.
__ADS_1
"Jangan menatapku begitu. Gege, akan segara memesan makan untuk kalian berdua." Ucap David.
Tiba-tiba Luna meninggalkan meja makan. David pikir dia marah dan kesal padanya, Jordan juga berpikir demikian. Namun beberapa saat kemudian dia kembali sambil membawa kardus kecil dan diberikan pada David. Membuat David maupun Jordan kebingungan. Jordan pikir Luna hendak memberi hadiah pada David.
"Luna, apa ini?" tanya David dengan bingung.
"Buka saja." Pinta wanita itu.
"Untukku?" David menatap Luna tak percaya. Wanita itu mengangguk. Sebelum membukanya, David menggulirkan pandangannya pada Jordan yang sedang menatapnya kesal. David tersenyum lebar dan menatap adiknya dengan senyum penuh kemenangan.
Pupil mata David langsung membulat sempurna setelah melihat apa isi di dalam kotak tersebut. "Apa ini?!" Dia memekik kencang. Membuat Jordan langsung memicingkan matanya. Penasaran isi kotak tersebut sampai-sampai David histeris setelah melihat isi di dalamnya.
Jordan menyemburkan air yang baru saja masuk ke dalam mulutnya setelah mendengar apa yang Luna katakan. Jadi yang ada di dalam kotak itu adalah atribut wanita dan Luna meminta David untuk memakainya.
"A..Apa kau bilang? Luna, kau pasti bercanda kan? Yang benar saja, masa iya Gege mu yang tampan ini malah kau suruh pakai beginian? Bisa hancur harga diriku sebagai laki-laki sejati, yang lain saja, ya." Rengek David memohon.
Luna menggeleng. "Tidak mau!! Aku tidak mau tahu kau harus memakainya. Ge, ini bukan permintaanku tetapi permintaan calon keponakanmu. A are qpa kau mau dia ngiler saat lahir nanti karena keinginannya tidak terpenuhi?"
"Tentu saja tidak, tapi..."
__ADS_1
"Sudah turuti saja, toh hanya satu hari bukan." Sahut Jordan. Dia menatap kakaknya itu dengan seringai yang tersinggung di sudut bibirnya. Akhirnya David terkena batunya juga.
"Sialan kau bocah." Ucapnya. David mengambil napas panjang dan menghelanya. "Baiklah, demi keponakanku. Akan aku turuti meskipun ini sangat melukai hatiku sebagai seorang laki-laki. Tapi tidak apa-apa, aku tidak mau disebut kejam karena tidak menuruti kemauannya."
Meskipun dengan berat hati. David tetap menuruti permintaan Luna. Meskipun itu sangat melukai harga dirinya sebagai laki-laki, tapi sebagai lelaki sejati, menuruti ibu hamil tidak ada salahnya.
David membawa semua atribut itu ke kamar tamu. Di sana dia akan mengganti pakaiannya. Meskipun sangat memalukan, tapi inilah yang dinamakan pengorbanan. Dan David harus menurutinya.
Tidak sampai sepuluh menit, David keluar dengan penampilan yang berbeda. Dia berubah total, David tampak begitu cantik dalam penampilannya saat ini, seperti bukan dia.
"Luna, bagaimana, apa sekarang kau puas melihat Gege mu yang tampan ini tampak begitu mengerikan?" Ucap David dengan lemas. Dia sungguh-sungguh malu dengan penampilannya saat ini. David merasa jika dirinya sangatlah mengerikan.
Luna menggeleng. "Belum. Ge, aku ingin kau pergi ke lampu merah dan menari di sana."
Pupil mata David lantas membulat sempurna mendengar permintaan gila Luna. "WHAT, MENARI DI LAMPU MERAH?!"
xxx
Bersambung
__ADS_1