
Tubuh Elisa mengalami kejang dan segera dilarikan ke rumah sakit setelah mendapatkan penyiksaan dari suaminya. Elisa mengalami pendarahan hebat di kepalanya akibat hantaman benda tumpul. Bram juga terluka meskipun tak separah Elisa.
Bram sangat marah pada istrinya itu karena sudah membohonginya selama bertahun-tahun.
Tak ada lagi hal menyenangkan yang bisa dilihat. Luis dan Jesslyn masuk ke kamar mereka. Padahal itu tadi sangat seru tapi sayangnya harus berakhir dengan cepat dan itu membuat Luis kecewa.
"Apakah wanita itu akan mati?" Jesslyn menghampiri Luis sambil membawa kotak p3k. Perban di pelipis dan perut suaminya sudah harus diganti.
Luis mengangkat bahunya. "Entah, aku sendiri tidak tau. Mungkin saja, dia terluka parah dan kehilangan banyak darah. Dan jika wanita itu mati, aku bisa memanfaatkan hal itu untuk membuat Frangky dan Bram saling membunuh."
"Bram yang marah karena Frank bukan anak kandungnya, dan Frank yang tidak terima Elisa dibunuh oleh ayahnya. Bukankah aku tidak harus turun tangan sendiri untuk menyingkirkan benalu-benalu itu," Luis menyeringai.
"Diam-diam menghanyutkan, kau seperti arus air sungai yang tenang tapi berbahaya. Kau benar-benar sulit ditebak, Lu." Ujar Jesslyn sambil membersihkan keringat disekitar luka di perut Luis.
"Itu karena kau belum mengenalku dengan baik, Jess. Sejak kecil aku hidup dalam dunia yang keras. Kakekku adalah mantan Bos mafia, sejak berusia 10 tahun, aku sudah dikenalkan pada dunia hitam."
"Pertumpahan darah, permusuhan dalam bisnis, penghianatan. Sejak kecil aku selalu bersahabat dengan hal-hal mengerikan seperti itu. Saat usiaku baru menginjak 15 tahun, aku menggantikan posisi Kakek karena dia yang mulai sakit-sakitan. Dan saat aku berusia 20 tahun, aku diberi tanggung jawab besar untuk memimpin keluarga ini."
"Tatapan kebencian, permusuhan dari orang-orang yang di dalam tubuhnya mengalir darah keluarga Qin, selalu mengiringi langkahku. Sejak awal aku selalu sendirian, semua orang di keluarga ini selalu menginginkan kematian ku, terutama Paman Bram."
"Jujur saja, terkadang aku lelah dan ingin berhenti saja. Kemudian aku berpikir, jika aku berhenti sekarang, lalu siapa yang akan melindungi keluarga ini dari orang-orang serakah itu. Karena Kakek memberikan tanggung jawab ini padaku."
Jesslyn sampai tidak bisa berkata apa-apa setelah mendengar kata demi kata yang keluar dari bibir Luis, dia menceritakan tentang masa lalunya dan kerapuhannya. Ternyata Luis tidaklah sekuat yang terlihat.
Dan sekuat apapun dia, dia tetaplah manusia biasa seperti dirinya. Jesslyn ingin selalu berada disisinya jika memungkinkan, tapi rasanya itu tidak mungkin. Karena kebersamaan mereka akan segera berakhir.
Yang bisa Jesslyn lakukan sekarang hanyalah membantu Luis semampunya. Berada disisinya sampai waktunya tiba. Dan selama itu, Jesslyn tidak akan pernah meninggalkannya.
"Aku sudah mengganti perbannya. Sebaiknya sekarang kau istirahat. Aku mandi dulu, sekujur tubuhku terasa gerah." Ucap Jesslyn yang kemudian dibalas anggukan oleh Luis.
__ADS_1
"Baiklah."
Baru juga Luis hendak menutup matanya. Namun ponselnya tiba-tiba berdering. Alis pria itu saling bertautan melihat nomor asing yang tertera di layar ponselnya. Karena tidak ada jawaban, kemudian sebuah pesan singkat masuk.
Di dalam pesan itu. Orang yang menghubungi Luis mengatakan ingin bertemu dengannya besok siang. Dan Luis mengiyakannya karena dia penasaran siapa yang mengirim pesan padanya.
-
-
"Untuk apa kau mengajakku bertemu?!" Tegur Luis pada wanita paruh baya yang telah menunggunya di salah satu cafe elit yang ada dikawasan kota Seoul.
Merasa ada yang menegurnya. Wanita itu segera menoleh dan mendapati sosok pria muda berdiri di belakangnya tengah menatapnya dingin.
"Luis, kau sudah tiba, duduklah." Pinta wanita itu mempersilahkan.
Wanita itu menghela nafas panjang dan menghempaskan sedikit kasar. Wanita itu meraih cangkir berisi kopi di hadapannya dan menyeruput isinya.
"Untuk apa kau buru-buru putra tiriku tersayang? Bukankah kita sudah lama tidak bertemu." Wanita itu meletakkan cangkir kopi di tangannya pada tempatnya semula dan menatap Luis dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Putramu? Memangnya sejak kapan kau menjadi ibuku?! Lagi pula aku tidak pernah menganggap wanita yang telah menghancurkan keluargaku sebagai ibuku. Karena Aku hanya memiliki 1 ibu, yakni wanita yang telah kalian bunuh. Dan bagiku, kau tak lebih dari seorang wanita murahan!!"
Wanita itu mengepalkan kedua tangannya setelah mendengar penuturan Putra tirinya. Kedua matanya menatap Luis tajam. Jika bukan karena suaminya yang bodoh itu gagal meminta bantuan pada Luis, dia pun tidak Sudi bertemu dengannya.
"Berani sekali kau berbicara seperti itu padaku, Luis Qin?! Apa kau tidak tau siapa aku?!"
"Tentu saja aku tau, kau tidaklah lebih dari seorang pengemis jalanan yang kemudian masuk dan menjadi benalu dalam keluargaku. Dan karena kebodohan pria iru, kemudian kau menjelma menjadi nyonya besar di sana." tutur Luis.
"Luis Qin, cukup." bentak wanita itu sambil mengangkat tangan kanannya dan...
__ADS_1
PLLLAAKKK .. !!! ..
Dengan cepat Luis menahan tangan Yuna yang hendak menamparnya. Selama ini dia diam saja bukan berarti Luis membiarkan para penjahat yang telah menghabisi ibunya berkeliaran bebas. Tapi Luis memiliki sebuah pertimbangan lain.
"Aku tidak tau apa masalahmu denganku sehingga kau begitu membenciku. Terima atau tidak terima, kau harus bisa menerimaku sebagai bagian dari keluargamu karena ayahmu sendiri yang menginginkanku." ungkap wanita itu.
"Memangnya apa hakmu memintaku untuk bisa menerimamu? Dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan ini, selama aku masih hidup dan bernafas. Jangan harap kau bisa hidup dengan tenang. Karena aku, Luis Qin, tidak akan membiarkanmu mencapai tujuanmu, camkan itu." Tegas Luis yang kemudian beranjak dan berlalu begitu saja dari hadapan Yuna.
"Baiklah jika itu yang kau inginkan. Maka jangan menyalahkanku jika aku menghancurkan makam ibumu!!" Luis menghentikan langkahnya setelah mendengar ancama yang baru saja terlontar dari bibir Yuna.
Pria itu berbalik dan menghampiri Ibu tirinya yang sedang menatapnya dengan senyum penuh kemenangan, Yuna tau jika Luis tidak akan bisa berkutik jika sudah berhubungan dengan makam ibunya.
"Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Karena sebelum itu terjadi, aku akan lebih dulu menghancurkanmu. Aku akan menemukan Putrimu yang kau campakkan itu, aku akan merenggut sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya dan aku akan menghancurkannya sampai kau tidak mampu lagi menghadapi dunia."
Tak ingin kalah dari Yuna, Luis pun memberikan ancaman pada wanita itu. Dan ancaman Luis berhasil membuat Yuna kehilangan kata-katanya, Luis tersenyum miring. Tanpa sepatah kata pun Ia beranjak dari hadapan Yuna dan berlalu begitu saja.
"Brengsek kau Luis Qin, aku tidak akan membiarkanmu menyentuh apalagi sampai menyakiti Putriku. Aku tidak akan membiarkanmu menemukan dia. Tidak akan pernah." teriak Yuna melemparkan makiannya pada Luis.
Luis tersenyum miring mendengar teriakan frustasi Ibu tirinya itu. Apa wanita itu berpikir jika dirinya bodoh, ancaman semacam itu tidak mempan baginya. Luis sudah menemukan letak makam ibunya. Bahkan dia telah memindahnya tanpa sepengetahuan mereka berdua.
Dan Luis ingin melihat kehancuran mereka berdua secara perlahan-lahan. Karena kematian cepat hanya akan mengurangi penderitaan mereka. Luis akan mengurus mereka setelah dia berhasil menyingkirkan Bram dan Elisa.
"Ini baru awal, karena permainan sesungguhnya akan segera di mulai. Sebelum dirimu, aku akan lebih dulu menemukan gadis itu. Dan tunggu pembalasanku."
-
-
Bersambung.
__ADS_1