
"Dokter, bagaimana keadaan suami saya? Apa perlu dirawat di rumah sakit? Apakah luka tusuk diperutnya parah?"
Jesslyn menghampiri seorang pria yang baru saja keluar dari kamarnya. Dia adalah dokter yang dia hubungi tadi. Jesslyn benar-benar sangat mencemaskan keadaan Luis.
"Anda tidak perlu cemas, Nyonya. Suami Anda baik-baik saja. Untung saja luka tusuknya tidak terlalu parah, pastikan dia meminum obatnya dan mengganti perban dengan rutin." Saran dokter itu sebelum beranjak pergi.
Setelah mengantarkan dokter itu sampai depan pintu. Jesslyn menghampiri Luis yang sedang beristirahat di kamar. Gadis itu merasa lega karena lukanya tidak terlalu parah.
"Apa dokternya sudah pulang?"
"Aku baru saja mengantarnya ke depan. Kau istirahat saja, aku juga mau tidur. Mataku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi," ujarnya.
Luis menggeser tidurnya lalu menepuk ruang kosong disampingnya. "Kemarilah, dan tidurlah disini." Jesslyn mengangguk. Kemudian dia berbaring disamping Luis, tubuh Jesslyn menegang ketika Luis melingkarkan sebelah tangannya untuk memeluknya. Dagu Luis bertumpu pada kepalanya.
"Jangan banyak bergerak, ayo kita tidur." Bisik Luis seraya menutup matanya. Jesslyn tak memberikan apa-apa, dia hanya menganggukkan kepala membalas ucapan suaminya.
Tidak sulit untuk Jesslyn tidur, matanya tidak bisa diajak kompromi lagi. Nafas hangat Jesslyn menerpa dada Luis, pria itu membuka kembali matanya yang sebelumnya tertutup. Dipandanginya wajah cantik yang sedang tertidur pulas itu.
Sudut bibir Luis tertarik keatas. Kemudian ia memeluk Jesslyn dengan erat. Tidak sampai lima menit, Luis sudah menyusul Jesslyn ke alam mimpi.
-
-
Bram sedang menunggu kabar dari orang-orang suruhannya dengan bimbang.
Dia gelisah dan cemas, sudah sampai lewat tengah malam tapi belum ada kabar dari mereka, seharusnya mereka sudah menghubunginya. Dan saat Bram hendak menghubungi mereka malah tidak ada jawaban.
Dirinya bisa berada dalam masalah besar jika mereka sampai tertangkap dan mengatakan pada Luis siapa yang menyuruhnya. Hidupnya bisa berakhir ditangan keponakannya tersebut.
"Sebenarnya apa yang sedang kau cemaskan, Bram? Ini sudah jam dua dini hari, kenapa kau tidak tidur dan malah mondar-mandir tidak jelas?" Elisa merubah posisinya, dia duduk dan menatap bingung pada suaminya itu.
"Mereka belum memberiku kabar sama sekali, ini sudah lewat tengah malam. Seharusnya mereka sudah menyelesaikan tugasnya,"
__ADS_1
"Jadi kau cemas karena hal itu? Sudahlah, kenapa tidak besok saja. Mungkin saja mereka belum melakukan tugasnya, jangan banyak berpikir dan cepat tidur!!" Pinta Elisa dan kembali membaringkan tubuhnya.
Berbeda dari Bram yang tampak cemas dan gelisah. Elisa justru terlihat biasa-biasa saja. Dia seolah tak peduli dengan kecemasan suaminya, padahal dirinya juga bisa terseret jika mereka sampai tertangkap dan mengaku.
Bram mendesah berat. Dia menghampiri Elisa kemudian berbaring disampingnya, dia mencoba berpikir positif, mungkin saja mereka belum melakukan tugasnya. Bram akan menghubungi lagi mereka besok.
-
-
Luis terbangun saat merasakan luka tusuk di perutnya berdenyut sakit. Hati-hati dia menarik lengannya yang menjadi bantalan kepala Jesslyn lalu membuka selimut yang membungkus tubuhnya. Perban yang dipakai untuk menutup luka itu basah oleh cairan merah segar yang pastinya adalah darah.
Sambil menahan nyeri yang luar biasa. Luis membuka perban itu dengan hati-hati. Setelah membersihkan darah disekitar lukanya, kemudian dia menutupnya dengan perban baru.
Sebenarnya dokter sudah menyerahkan supaya dia di rawat, tapi Luis menolak. Dia memiliki rawat jalan di rumah daripada harus mendekam di rumah sakit dalam waktu yang lama.
Lalu pandangan Luis bergulir pada Jesslyn yang sedang tertidur pulas. Gadis itu meringkuk karena hawa dingin yang kian menusuk. Luis membetulkan letak selimutnya agar Jesslyn merasa hangat. Kemudian ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju sofa.
Luis mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya lalu menyulutnya. Kepulan asap putih keluar dari sela-sela bibirnya yang kemudian melayang keatas dan hilang tersapu angin. Luis menikmati rokoknya sambil menatap Jesslyn yang sedang tidur pulas.
Luis bangkit dari duduknya lalu kembali berbaring disamping Jesslyn dan memeluknya seperti tadi. Tidak sampai lima menit, Luis sudah kembali terlelap.
.
.
Cicit burung gereja yang hinggap diatas pepohonan turut menyambut datangnya hari baru. Sang Surya telah berada di singgasananya, menyinari sebagain bumi yang dinaungi.
Sinarnya yang hangat memaksa gadis itu untuk membuka matanya yang masih terasa berat. Dan ketika mata itu terbuka sepenuhnya, hal pertama yang tertangkap oleh netra hazel-nya adalah wajah tampan seorang pria yang akhir-akhir ini selalu mencuri perhatiannya.
Sudut bibir Jesslyn tertarik keatas, jari-jari lentiknya mengusap sisi wajah Luis. Lalu jari-jarinya bermain diatas perban yang menutup luka disisi kiri wajahnya, dia merasakan kelopak mata yang tertutup perban itu bergerak-gerak.
"Singkirkan tanganmu dari sana, Jess, dan biarkan aku kembali tidur!!" Kelopak mata itu terbuka, Luis menatap Jesslyn sedikit tajam dan menusuk, membuat bulu kuduk Jesslyn berdiri seketika.
__ADS_1
"Matamu dibalik perban ini bergerak-gerak, dan itu terlihat lucu, makanya aku menyentuhnya." Ucap Jesslyn, Luis menghela napas.
"Siapkan makanan untukku, perutku sangat lapar. Jika sudah siap bangunkan aku. Aku mau tidur sebentar lagi, kepalaku agak sedikit pusing." Ujarnya.
Jesslyn mengangguk. "Baiklah," kemudian dia beranjak dan meninggalkan Luis begitu saja.
Bukan hanya pria itu saja yang lapar. Tapi Jesslyn juga, dia tidak hanya memikirkan perut Luis saja, tapi perutnya juga. Untuk itu dia harus segera memasak setelah mencuci muka dan menggosok giginya.
-
-
"APA?! MEREKA SEMUA MATI?!"
Bram tidak bisa menahan keterkejutannya saat mendengar jika orang-orang sewaannya telah tewas di tangan Luis. Bram memang tidak tau jika Luis menguasai bela diri dengan baik, dia pikir keponakannya itu hanya sekedar bisa saja, karena selama ini dia hanya mengandalkan Kris dan orang-orangnya.
Bukan hanya Bram saja yang panik, tapi Elisa juga. Bagaimana dia tidak panik, Elisa juga ikut terlibat dalam penyerangan pada Luis semalam.
"Apa rencanamu sekarang?"
Bram menggeleng. Dia bingung harus bagaimana sekarang dan Luis tidak memiliki rencana apapun untuk saat ini. "Aku masih memikirkannya. Rupanya bocah itu benar-benar tidak bisa dianggap remeh, dia lebih berbahaya dari yang kita duga." Ujar Bram.
"Kelemahannya!! Kita hanya perlu menemukan apa kelemahannya, karena dengan begitu kita bisa menghancurkannya." Usul Elisa.
"Tidak semudah itu, dia seperti tidak memiliki kelemahan." Ucap Bram.
"Bagaimana dengan istri mudanya itu?! Sepertinya gadis itu sangat berarti bagi baj!ngan kecil itu," ucapnya.
Bram menggeleng. "Aku tidak yakin. Lagipula Jesslyn dan Luis 11-12, dia bukan gadis sembarangan. Dia sangat berbeda dari Anna, dia tidak lemah dan bodoh. Aku akan memikirkannya nanti. Aku masih ada urusan, aku pergi dulu." Bram menyambar kunci mobilnya dan pergi begitu saja.
-
-
__ADS_1
Bersambung.