Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Sial


__ADS_3

"Aduhhh..."


Tubuh Luna jatuh dengan tidak elitnya. Gadis cantik itu baru saja bangun dari mimpi indahnya, dan hendak pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka dan menggosok gigi sebelum pergi ke dapur untuk melihat apa yang bisa Ia lakukan untuk membantu Jordan dalam menyiapkan sarapan.


Tapi sial !!!!!


Kaki kanannya tidak bisa di ajak kompromi, bukannya membantu. Kaki sialnya itu malah membuatnya terjatuh.


Tak ingin terlihat bodoh karena duduk lantai seperti penyandang cacat, susah payah Ia mencoba untuk berdiri dan kembali ke tempat tidurnya, jika saja Ia tidak merasakan nyeri yang luar biasa pada pergelangan kakinya. Luna melihat ada memar yang sedikit membengkak di sana.


Ia tidak menyangka akan menjadi separah itu, padahal semalam Jordan sudah mengompresnya. Semalam terjadi insiden kecil yang membuat Luna dan Jordan sama-sama terluka.


Decitan pintu terbuka mengalihkan perhatian gadis itu, dengan segara Luna menoleh dan mendapati Jordan masih dengan pakaian yang sama seperti yang di pakainya semalam. Kaos putih polos tanpa lengan dan jeans hitam, masuk dengan membawa nampan berisi makanan dan segelas susu.


"Luna," dia meletakkan nampannya asal, bahkan Ia tidak peduli jika nampan itu akan terjatuh lalu menumpahkan semua isinya.


Dia buru-buru menghampiri Luna yang tampak tak berdaya itu, tanpa berkata apa-apa. Jordan segera mengangkat tubuh Luna bridal style dan membaringkan di atas tempat tidur.


Luna meneguk ludahnya sedikit bersusah payah melihat tatapan super dingin Jordan yang jelas di tujukan padanya. Sepertinya dia akan segera kena Omelan. Begitulah yang Luna pikirkan.


"Kau sadar, apa yang kau lakukan?" Jordan berkata dengan nada sedikit meninggi. Kesal terdengar di setiap katanya. "Bagaimana jika bengkaknya semakin parah." Sambungnya dengan nada yang sama.


Namun tak ada jawaban dari Luna. Dia hanya terus menunduk, menghindari tatapan tajam dosen muda tersebut. Ada rasa hangat dan rasa sesak yang Ia rasakan secara bersamaan, hangat karena Jordan peduli padanya, dan sesak karena pria itu membentaknya meskipun dia tau jika Ia memang pantas mendapatkannya.


Luna buru-buru menggeleng, tidak seharusnya dia berpikir yang tidak-tidak tentang dosen menyebalkan ini.


Dan untungnya Jordan bukanlah ibunya, telinga Luna bisa sakit jika sang ibu yang memarahinya. Karena omelannya tidak cukup jika hanya 10-20 menit saja. Sang Ibu membutuhkan waktu berjam-jam untuk memarahinya, saking lelahnya mendengar ocehan ibu tercintanya yang kelewat cerewet. Luna pernah sampai ketiduran.

__ADS_1


"Makanlah, aku sudah membuatkan sarapan untukmu." pinta Jordan, dan membuyarkan lamunan Luna.


Gadis itu sedikit terlonjak dalam posisi duduknya, mendengar suara baritone Jordan yang terlewat dingin masuk ke dalam pendengarannya. Luna terlalu larut dalam dunianya hingga Ia tidak sadar jika pria itu duduk di sampingnya. Mengangkat wajahnya, memberanikan diri untuk menatap wajah sang dosen muda.


Rasa bersalah menyergap memenuhi perasaannya, ketika melihat Luka di wajah Jordan. Luka di tulang pipinya juga sudah tertutup perban. Luna tidak tau kapan pria itu mengobati lukanya sendiri, karena semalam Ia sempat jatuh pingsan dan setelah sadar. Luka di wajah pemuda bermata hitam itu sudah diobati dan ada perban yang membalut lukanya.


"Songsaenim, karena kakiku masih sangat sakit. Boleh tidak, untuk hari ini saja aku..."


" -----Hari ini kau tidak perlu pergi ke kampus." Potong Jordan, muncul perempatan siku-siku di dahi Luna. Jordan mendengus geli melihat ekspresi menggemaskan gadis itu. "Kondisi kakimu masih buruk, Luna. Jika kau memaksakan, itu hanya akan memperburuk keadaan kakimu saja." Lanjut Jordan memberi penjelasan.


Luna diam. Jordan memang ada benarnya, tapi hari ini Ia ada ulangan dan Luna tidak ingin melewatkannya. Tapi mengingat kondisi kakinya tak memungkinkan juga untuk Ia pergi ke kampus. Jalan saja susah, yang ada justru merepotkan Jordan dan teman-temannya.


"Tentang ujian hari ini?" tebak Jordan 100% benar.


Luna mengangguk. "Dia akan memberiku nilai buruk jika sampai tidak mengikuti kelasnya, dan ulangan hari ini sangat penting untukku." Luna menundukkan wajahnya, ekspresi sedih tampak jelas di raut wajahnya.


"Aku akan memintanya untuk menunda ulangan itu sampai kakimu sembuh." Sahut Jordan.


"Jangan cemas, wanita itu tidak akan menolak jika aku yang memintanya." Ujarnya yang seakan dapat membaca isi kepala Luna.


"Tapi-----.???"


"Sup mu hampir dingin, aku harus bersiap-siap." Jordan bangun dari duduknya dan bersiap pergi meninggalkan kamar Luna, sebelum ada tangan mungil menahan lengannya. "Ada apa?" Jordan menoleh lalu membalikkan tubuhnya.


"Terimakasih, maaf harus merepotkan mu."


Jordan tersenyum tipis, sangat tipis. Bahkan senyum itu tidak lebih tebal dari selembar tisu. "Hn, tidak perlu sungkan." Ucapnya dan pergi begitu saja.

__ADS_1


Wajah Luna tiba-tiba memerah, entah kenapa tiba-tiba dia merasakan perasaan yang aneh dan tidak biasa. Rasa hangat menyelimuti perasaannya, Luna merasakan perasaan asing yang dia sendiri tidak tahu apa maknanya.


-


Setelah dress up dengan kemeja putih polos yang di padukan waistcoat hitam yang senada dengan celana bahannya. Jordan meninggalkan kamarnya dan kembali menghampiri Luna.


Gadis cantik itu sedang duduk di atas tempat tidur queen size yang super nyaman sambil memandang keluar jendela. Menikmati pemandangan kota dari jendela kaca yang ada di samping kirinya.


"Luna,"


Merasa namanya di panggil. Luna menoleh dan mendapati Jordan yang berjalan menghampirinya."Kau, sudah mau berangkat?" Luna mengamati penampilan Jordan dari ujung rambut sampai ujung kaki, tak ada celah sedikit pun. Penampilannya begitu sempurna dan waistcoat itu menambah kesan cool pada penampilannya.


"Hn." Jordan menyahut lalu duduk di depan Luna.


"Apa sungguh tidak apa-apa jika aku tidak pergi kuliah? Aku tidak enak pada teman-teman yang lain jika ujiannya sampai di tunda, apalagi itu sangat penting untuk kami semua." Ujar Luna.


Jordan mendengus geli. Dia mengangkat tangannya lalu mengacak rambut coklat muda Luna dengan gemas. "Ck, kau sangat cerewet, aku bilang tidak ya tidak." Ucapnya datar.


"Ais, kenapa kau merusak tatanan rambutku, menyebalkan." Luna memanyunkan bibirnya, membuat siapa pun akan tergoda untuk mencium bibirnya termasuk Jordan.


Jika saja Jordan adalah si mesum kakaknya, pasti Ia sudah menyerang bibir Luna dan mellumatnya tanpa ampun. Tapi sayangnya Jordan bukanlah dia.


Pandangan Jordan lalu bergulir pada lengan kiri Luna yang terbungkus perban "Bagaimana dengan lenganmu? Apa masih terasa nyeri?" Jordan mengangkat wajahnya menatap langsung sepasang Hazel milik Luna.


Gadis itu mengangkat lengannya sebatas dada, Hazel-nya bergulir pada perban yang melilit lengannya lalu menggeleng. "Sudah jauh lebih baik, meskipun masih sedikit ngilu." Jawabnya.


Jordan mengangguk, di liriknya Richard Mille di pergelangan tangannya. "Aku berangkat." Jordan menepuk-nepuk kepala Luna dan membuat pipinya merona. "Aku akan segera pulang." Lanjutnya dingin dan pergi begitu saja.

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2