
"RUSA KUTUB, CEPAT BUKA PINTUNYA."
Nyaris saja Jordan menjatuhkan laptop yang ada di pangkuannya karena teriakan nyaring Martin yang super berisik itu. Pria itu mendecih sambil meletakkan laptopnya di atas meja.
Dengan enggan, Jordan bangkit lalu berdiri dan melangkah santai menuju pintu. Segala sumpah serapah telah Ia siapkan untuk tamu pengganggu yang membuatnya hampir terkena serangan jantung.
"Berisik kau, Rubah." Ucap Jordan yang hanya di balas cengiran tanpa dosa oleh Martin.
Jordan menaikkan sebelah alisnya, muncul perempat siku-siku di dahinya. Dosen tampan itu mengamati penampilan Martin dari atas sampai bawah 'Apa kepala rubah bodoh ini baru terbentur sesuatu' Pikir Jordan.
Pasalnya Martin datang dengan penampilan serampangan. Jeans belel, t-shirt putih berlengan pendek di lapisi rompi jeans hitam, rambutnya di biarkan berantakan, ada tindik di telinga kanannya, kalung rantai, gelang berduri. Jika di amati penampilan Martin malah mirip dengan para gangster yang sering muncul di dalam film-film.
"Apa kepalamu baru saja terbentur sesuatu?" ucap Jordan mengomentari penampilan sahabatnya itu.
Martin mendecih, menatap Jordan malas "Yang benar, Rusa. Apa kau melupakan sesuatu? Bukankah kita telah sepakat jika malam ini, ralat-, tapi hanya malam ini saja kita berenam akan kembali menjadi Red Devil. Dean, berhasil mencarikan lawan tangguh untukmu. Dia yang lainnya sudah menunggu kita di Black Royal bar." ujarnya sambil menatap Jordan tak percaya.
"Oh." Jawabnya ambigu. Dan jawaban itu sukses membuat Martin semakin kesal.
"Sialan kau, Rusa. Tidak bisakah kau menjawab dengan bahasa manusia bukan bahasa alien seperti itu. Dasar patung es, menyebalkan." Ujar Martin sambil menunjuk Jordan dan mencak-mencak seperti cacing kepanasan, matanya melotot marah. Bukannya terlihat mengerikan, yang ada dia malah menggelikan.
Jordan memutar matanya jengah, mendecih lalu berlalu begitu saja. Membuat kekesalan Matin semakin memuncak saja "JORDAN, KENAPA KAI BEGITU MENYEBALKAN?!"
"Diam lah, Rubah. Aku akan ganti baju dulu." Ucap Jordan yang sukses membuat senyum Martin terkembang lebar.
Matin mengacungkan jempolnya sambil nyengir Kuda kearah sahabatnya. "Kau memang yang terbaik, kawan." Serunya setengah berteriak, lagi-lagi Jordan mendecih.
__ADS_1
Melirik Martin menggunakan ekor matanya lalu berkata. "Berisik." Ucapnya datar.
Jordan mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamarnya saat melihat pintu kamar Luna terbuka, yang tak lama setelahnya sosok jelita muncul dan sedikit terkejut dengan keberadaannya. "Kau mau pergi?" Tanya Jordan kelewat datar.
Luna menutup kembali pintu kamarnya, lalu menganggukkan kepala. "Ya, Aku merindukan rumahku, dan rencananya malam ini aku akan menginap di sana." Ujarnya. "Oya. Aku seperti mendengar suara berisik, Martin Songsaenim. Apa dia ada di sini?" tanya Luna.
Jordan mengangguk. "Hm, dia ada di ruang tamu."
Luna berpikir sejenak. Itu artinya Jordan akan pergi, meminta dia untuk mengantarnya pulang sepertinya bukanlah pilihan yang tepat. "Ada apa?" Tanya Jordan melihat kebungkaman Luna, wanita itu menggeleng kemudian tersenyum manis.
"Selamat bersenang-senang, aku pergi dulu." Luna menatap Jordan dengan senyum yang sama, melambaikan tangannya dan melenggang pergi.
Baru saja Ia melangkahkan kakinya, namun langkah Luna terhenti karena ada tangan besar dan hangat menahan pergelangan tangannya. "Aku akan mengantar dan menemanimu di sana, tapi sebelum itu aku harus menemui Dean dan yang lainnya. Para gadis juga ada, tunggulah di sini sebentar. Aku akan mengganti pakaianku dulu." ujar Jordan.
15 menit telah berlalu. Jordan keluar dari kamarnya dengan penampilan yang sangat jauh dari pemikiran Luna, bahkan dia sampai harus menahan nafasnya. Jeans belel, kaos putih lengan terbuka yang di lapisi Leather Vest hitam, pierching dark silver, eyeliner yang membingkai mata onyx nya, rantai yang menggantung di pinggangnya, tak lupa Ia juga memakai sarung tangan hitam kesayangannya. Perban yang semula masih melilit kepalanya telah Ia lepas dan luka di pelipisnya di tutup plaster.
"Ge, penampilan mu ini." Ucap Luna memperhatikan penampilan Jordan dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Jordan merasa geli melihat wajah Luna yang memerah saat melihat penampilannya yang serampangan, dia tersenyum tipis. Tangan kirinya meraih tengkuk Luna dan mencium bibir merah muda itu singkat. "Hm, ada apa?" Suara dingin Jordan segera menyadarkan Luna dari lamunannya.
Gadis itu menggeleng "Tidak." Jawabnya singkat
"Apa kau tidak menyukai penampilanku? Aku akan ganti sekarang."
Luna segera menahan lengan Jordan kemudian menggeleng, menatapnya memohon "Jangan, aku menyukainya. Sangat menyukainya malah." Jawabnya tersipu, Luna menundukkan. Menyembunyikan wajahnya yang memerah.
__ADS_1
Jordan tersenyum dan menarik Luna ke dalam pelukannya "Sebelum aku muncul sebagai CEO dan ketua yang baru, malam ini aku ingin lepas dan melupakan semua beban di pundakku. Maukah kau menemaniku? Setelah itu aku akan mengantarmu pulang, dan menemanimu jika malam ini kau memang ingin menginap di sana." Jordan memejamkan matanya seraya mengeratkan pelukannya pada tubuh Luna, menghirup aroma tubuhnya yang menjadi candu untuknya.
"RUSA, CEPAT." Teriak Martin tak sabaran.
Luna menggerutu tidak jelas, pasalnya teriakan Martin menghancurkan moment romantisnya bersama Jordan. Segala sumpah serapah telah Ia siapkan untuk Martin.
"JORDAN CEPAT, KENAPA KAU LAMA SEKA----!!"
Sebuah bantal sofa mendarat mulus di wajah Martin. Siapa lagi pelakunya jika bukan Luna. Dia terlalu kesal pada salah satu dosennya tersebut. "Berisik, tidak bisakah kau tenang dan tidak teriak-teriak seperti di hutan!!" Amuk Luna di depan Martin. Martin terlonjak kaget, Luna benar-benar membuatnya sport jantung
"Luna, kenapa kau memiliki hobi seperti Jordan Rusa? Suka sekali membuat orang terkena serangan jantung." Dia mengusap dadanya sendiri dengan gerakan naik turun.
"Cihh." Jordan mendecih tak suka dengan ucapan Martin.
Mata Matin melebar melihat Jordan datang dengan penampilan lamanya "Rusa, Kau sempurna, kawan." Puji Mati sambil mengacungkan jempolnya.
Jordan menghela nafas panjang. "Kita berangkat sekarang." Jordan menggenggam tangan Luna dan membawanya meninggalkan apartemennya. Di ikuti Martin yang mengekor di belakang mereka.
-
-
-
Bersambung
__ADS_1