
Luna tak henti-hentinya menghela nafas. Dan entah itu sudah ke berapa kalinya. Wanita itu merasa bosan dan jenuh karena sedari tadi terus diam tanpa melakukan apapun. Jordan pergi bekerja, para pelayan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Padahal Luna sangat membutuhkan teman yang bisa diajak mengobrol.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Jordan menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Jordan menghubunginya diwaktu yang tepat. Tanpa membuang-buang waktu, Luna segera menerima panggilan itu.
"Ge, aku kesepian, kapan kau pulang?" Rengek Luna setelah mengangkat panggilan suaminya.
"Luna, aku meminta sopir untuk menjemputmu. Sebaiknya kau pergi ke rumah Mama saja, malam ini aku lembur dan pulang agak malam. Nanti aku jemput,"
"Lembur, kenapa mendadak sekali? Bukankah kau bilang akan pulang lebih awal, tapi kenapa malah lembur?" Luna menghela napas. Padahal dia ingin supaya Jordan pulang lebih cepat, karena dia sangat merindukannya.
"Ternyata pekerjaanku lebih banyak dari yang aku perkirakan. Sebentar lagi Dastan akan tiba, sebaiknya kau siap-siap. Aku tutup dulu telfonnya," ucap Jordan lalu mengakhiri panggilan telfonnya begitu saja.
Luna menghela napas untuk kesekian kalinya. Padahal dia ingin sekali memeluk suaminya itu, tapi Jordan malah lembur dan pulang terlambat. Luna mengusap perutnya dan berbicara dengan janin di perutnya.
"Sayang, malam ini Papamu pulang terlambat. Kita ke rumah Nenek dan Kakek dulu saja, ya. Supaya kita tidak kesepian." Ucap Luna pada janinnya.
Luna bergegas keluar saat mendengar deru suara mobil memasuki halaman. Dastan tiba untuk menjemputnya. Meskipun tidak ingin, namun akhirnya Luna pergi juga karena dia akan sangat kesepian di rumah tanpa suaminya.
xxx
Suara ketukan terdengar tepat setelah Jordan mengakhiri sambungan teleponnya. Iya meminta orang itu untuk masuk. Seorang wanita menghampiri Jordan yang tampak acuh melihat kedatangannya.
__ADS_1
"Presdir, ada tamu untuk Anda." ucapnya tanpa basa-basi
Lantas Jordan mengangkat kepalanya dan menatap wanita itu penuh tanya. "Siapa?" tanya lelaki itu.
Wanita itu menggeleng. "Saya sendiri tidak tahu , Presdir. Dia seorang wanita paruh baya dan seorang pria yang usianya lebih muda dari Anda. Wanita itu bernama, Kim Mirah."
Gerakan tangan Jordan terhenti setelah mendengar nama yang baru saja disebutkan oleh sekretarisnya tersebut. Dia urung untuk menandatangi berkas di depannya. "Siapa kau bilang?" tanya Jordan memastikan.
"Mirah Kim,"
Tangan Jordan terkepal kuat. Sorot matanya berubah dingin dan tajam. Auranya terlihat suram dan sedikit mengerikan. Membuat wanita itu merinding dibuatnya. "Suruh mereka pergi, bilang saja aku sedang sibuk." ucapnya dingin.
"Beginilah sikapmu setelah lama tidak bertemu, Putraku." seru seseorang dari arah pintu.
Apa telinganya tidak salah dengar? Wanita itu memanggil Jordan dengan sebutan 'Putraku' yang artinya dia adalah ibu dari atasannya tersebut. Dan melihat dari sikap Jordan, dia sangat yakin jika mereka berdua memiliki hubungan yang kurang baik.
Menghancurkan lalu bergulir pada sekretarisnya, dan menatapnya dengan pandangan datar. "Kau keluarlah dulu," pinta Jordan dan dibalas anggukan oleh wanita berkacamata tersebut.
Selepas kepergian sekretaris itu, di ruangan menyisakan 3 orang, satu wanita dan 2 pria termasuk Jordan sendiri. Wanita itu dan putranya memasuki ruangan.
Lelaki yang berjalan disamping Mirah tampak terkagum-kagum melihat bagaimana luas, megah dan bagusnya ruangan dimana ia berdiri sekarang. Karena seumur-umur dia belum pernah datang ke perusahaan sebesar ini, apalagi pergi ke ruangan CEO.
__ADS_1
"Wahh, ruangan ini sangat besar dan megah. Ma, aku rasa, aku cocok di ruangan ini." ucap lelaki tersebut.
Mirah tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja Evan, karena mulai hari ini ruangan ini akan menjadi milikmu." Ucap Mirah sambil membelai pipi putranya dengan lembut.
Mata Evan tampak berbinar-binar mendengar apa yang baru saja ibunya katakan. "Sungguh Ma, aku benar-benar akan menjadi CEO dan pemimpin di perusahaan ini? Lalu bagaimana dengan dia, apa dia rela melepaskan posisinya dan memberikannya padaku?" Evan menunjuk Jordan yang sedang menatap dingin ia dan ibunya.
"Tentu saja dia harus meninggalkan posisinya, bukankah begitu Jordan? Sudah seharusnya seorang Kakak memang harus mengalah pada adiknya, jadi tinggalkan posisimu saat ini dan serahkan pada Evan."
Jordan menyeringai dan menatap mereka berdua dengan sini. "Kenapa kau percaya diri sekali? Memangnya siapa yang akan menyerahkan perusahaan ini pada anakmu itu, kalian berdua hanya orang asing disini. Jadi cepat pergi sebelum aku meminta satpam untuk menyeret kalian," pinta Jordan.
"Jordan, kau~"
"Pergilah, aku sangat sibuk dan tidak memiliki waktu untuk meladeni kalian berdua." Kata Jordan.
"Kenapa kau serakah sekali jadi orang, bukankah kau sudah menikmati harta itu selama bertahun-tahun? Dan sekarang giliran adikmu yang menikmatinya." Ujar Mirah.
Jordan tertawa sambil menatap wanita itu dengan pandangan meremehkan. "Kau itu lucu sekali, Mama. Aku menikmatinya karena harta itu adalah milik keluarga Tang, sementara dia... bahkan aku tidak tahu siapa laki-laki itu. Berhenti membuat keributan dan jangan bermimpi disiang bolong. Pergilah dengan hormat, karena security sedang menuju kemari untuk menyeret kalian pergi." Ujar Jordan sambil menatap mereka berdua dengan tajam.
Nyonya Mirah menatap marah putranya tersebut. Dia pikir Jordan bersedia menyerahkan posisinya, namun nyatanya tidak. Dan Mirah tidak akan menyerah begitu saja. Dia bersumpah akan jordan menggeser posisi Jordan dari kursi CEO dan menggantinya dengan putra sulung dari suami keduanya tersebut.
xxx
__ADS_1
Bersambung