
Acara berakhir pada pukul 22.00 malam. Tiffany, Sunny dan Karin menculik Luna dan menahannya selama beberapa jam. Membawa wanita itu dan memisahkannya dari suami tercinta, dan tepat pukul 24.00 Para gadis mengembalikan Luna pada Jordan, sementara dia sendiri di tawan oleh Martin cs hingga tidak bisa berkutik apalagi pergi mencari sang mempelai wanita.
Tapi mereka kini bisa bernafas lega, pasangan pengantin baru itu baru saja tiba di rumah yang selama beberapa ini mereka tempati bersama. Jordan duduk di sofa sambil melepaskan satu persatu baju yang melekat di tubuhnya, menyisakan kaos hitam tanpa lengan yang melekat pas di tubuh kekarnya.
"Minum dulu, Ge. Pasti kau haus." Luna meletakkan segelas jus mangga di depan Jordan. Dia tau betul jika suami tampannya ini sedang haus dan membutuhkan minuman yang menyegarkan. Makanya Luna menyiapkan jus segar untuknya.
"Hm, terimakasih Sayang." Ucapnya tersenyum. Kemudian Jordan menarik tengkuk Luna dan mencium singkat bibir merah muda menggoda miliknya, sebelum beralih mengambil gelas dari tangan wanita itu dan meneguk isinya dan menyisakan setengah.
"Bagaimana kau bisa merencanakan semua ini tanpa memberi tahuku, Ge?" Luna menatap Jordan penuh selidik, Ia membutuhkan jawaban sekarang.
"Jangan sekarang, Sayang. Aku sangat lelah, besok saja kita membicarakannya." Tukas Jordan sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa."Kemari lah, Luna." dia menarik lengan Luna dan menempatkan wanita itu di atas pangkuannya.
Jordan membelai wajah cantik Luna sambil memainkan rambut panjangnya, dia sangat menyukai aroma rambut Luna yang sangat memabukkan itu dan memberi candu untuknya.
Luna mengalungkan tangannya pada leher sang suami dengan manja. Pahanya bergesekan dengan milik Jordan hingga menegang. Wanita itu menyeringai tipis. "Kau terangsangg, heh?" Bisik Luna dengan suara seksinya.
"Sial kau, Luna. Kau baru saja membangunkan seekor Singa yang sedang kelaparan." heran Jordan dengan nada rendah.
Jordan semakin tidak bisa menahan hasratnya untuk tidak menelan bulat-bulat wanita tercintanya yang sekarang telah resmi menyandang status sebagai Nyonya Tang tersebut. Jordan kemudian mengangkat tubuh Luna bridal style dan membawanya menuju kamar pengantin mereka.
"Malam ini ku pastikan kau akan memanggil namaku sepanjang malam, Sayang. Dan besok pagi aku buat kau tidak bisa jalan." Bisik Jordan dengan seringai misterius yang membuat bulu kuduk Luna berdiri.
"Ge, kau benar-benar mengerikan!!" Luna menatap Jordan dengan pandangan horor.
Bukannya tersinggung. Dia malah tertawa. Menurutnya Luna sangatlah menggemaskan, dan hal tersebut semakin membuat Jordan tidak tahan untuk menahan diri lebih lama lagi.
Pria itu segara mengungkung tubuh Luna dan menyerangnya bertubi-tubi sampai dia tidak bisa berjalan esok lagi. Dan malam ini akan menjadi malam yang sangat-sangat panjang dan melelahkan bagi mereka berdua.
xxx
"Adik, adik ipar, Kakakmu yang super tampan ini datang."
Seruan keras itu mengalihkan perhatian sepasang pengantin baru yang sedang menyantap sarapannya dengan tenang. Jordan bangkit dari kursinya lalu melenggang meninggalkan meja makan. David datang dengan senyum konyol andalannya. Luna ikut berdiri juga.
"Ge, kau datang. Duduklah dan ikut sarapan bersama kami." Pinta Luna.
David menggeleng. "Lain kali saja aku sedang terburu-buru, aku datang cuma untuk mengantarkan ini." David menyerahkan sebuah memori card pada Jordan.
Jordan memicingkan matanya dan menatap sang kakak penasaran. "Apa ini?" tanya Jordan tanpa basa basi.
"Lihat saja sendiri, kalian pasti akan menyukainya. Kalau begitu Kakak pergi dulu. Selamat menikmati pertunjukan menyenangkan." Ucapnya dan melenggang pergi .
Luna dan Jordan saling bertukar pandang, saling menatap dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Mereka sama-sama penasaran dengan isi video di dalam memory card tersebut. "Ge, kira-kira isinya apa?" ucap Luna penasaran.
Jordan menggeleng. "Aku sendiri tidak tahu. Semoga saja bukanlah hal yang mengerikan." tandas Jordan. Karena sama-sama penasaran, akhirnya kita berdua memutuskan untuk memutar video tersebut.
Luna menggigit bibirnya saat melihat potongan demi potongan video yang sedang Ia saksikan bersama dengan sang suami, itu adalah video saat mereka masih anak-anak. Mereka tidak tau apa maksud David memberikan tekanan video itu, mungkin dia ingin mereka mengenang masa lalu.
Awalnya Jordan merasa ragu karena Ia pikir itu adalah video vulgar mengingat bagaimana mesumnya sang kakak. Tapi tenyata dugaan Jordan salah salah besar.
Benar apa yang kakeknya katakan, jika dulu Luna begitu menempel pada Jordan, dan dia baru sadar jika dulu suaminya begitu menggemaskan namun juga galaknya gak ketulungan.
Wajahnya memerah padam mirip kepiting rebus, sedangkan Jordan hanya diam memasang wajah datarnya untuk menyembunyikan rasa geli dan rasa malu disaat bersamaan. Ia tidak tau jika saat kecil dulu bisa bertingkah seperti itu. Tidak hanya ada ia dan Luna kecil saja, tetapi ada Nathan dan David juga
Kedua pemuda itu hanya tersenyum gemas melihat tingkah kedua adik mereka yang sedang bermain di taman keluarga Tang, seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun yang biasanya hanya memasang wajah datar, terlihat ceria saat bersama gadis kecil berambut coklat yang usianya terpaut lima tahun darinya.
Mereka sedang membuat tenda dari kain yang di ikatkan dari pohon yang satu ke pohon yang lainnya. Namun yang mereka lakukan selalu gagal, mungkin karena tinggi tubuh mereka yang tidak memungkinkan. Dan hal itu membuat dua pemuda yang usianya beberapa tahun lebih tua dari mereka tak mampu menahan untuk tidak tersenyum.
"Nathan-Baby, kau penasaran tidak dengan kedua bocah itu? Aku jadi ingin tau permainan aneh apa lagi yang akan mereka lakukan kali ini, aku berdoa semoga mereka tidak aneh-aneh lagi," Ujar David. Dalam hati Ia terus berkomat-kamit tidak jelas. Dia terus berdoa semoga saja Jordan dan Luna tidak melakukan permainan yang menyimpang dari usia mereka
"Hmm, aku juga berpikir sama. Tapi kita lihat saja, kita amati mereka dari sini," timpal Nathan.
"Oke,"
"Ge, kau tak selius ya?? Lumah kita lubuh telus dali tadi," Keluh seorang gadis kecil berhelaian coklat sebahu sambil berdecak sebal.
Luna, nama gadis kecil itu. Jordan mendengus kemudian berdiri sambil menepuk-kepuk celananya yang kotor karena daun-daun kering
"Kenapa kau malah menyalahkan ku, Luna. Aku ini suamimu," Bentak Jordan kecil pada Luna yang mulai berkaca-kaca, dua pemuda itu 'David dan Nathan' terkesiap. Mereka yakin jika setelah ini pasti Luna akan menangis mengingat jika gadis kecil itu sangat cengeng.
"Kakak, Joldan Gege jahat. Dia... dia .. membentak Luna, padahal Luna ini kan Istlinya," Adu Luna pada sang kakak sambil memeluknya dengan erat.
Nathan mendesah, mengusap punggung Luna dengan gerakan naik turun. Mencoba menenangkan gadis kecil itu. "Baiklah, Kakak akan berbicara pada suamimu. Tunggu disini ya, dan jangan menangis lagi," Bujuk Nathan pada sang adik, Luna mengangguk seraya menyeka air matanya.
"Apa?" Dan Nathan langsung di sambut tatapan dingin serta bentakan oleh Jordan, Nathan menghela nafas lagi.
__ADS_1
"Adik Ipar. Minta maaflah pada istrimu, dia menangis karena ulah mu. Luna pasti sedih karena kau bentak," Nasehat Nathan sambil mengusap punggung Jordan kecil.
"Iya Adik, lihatlah wajah Istrimu. Dia menangis sesenggukan," Sahut David ikut menasehati.
"Ckk, kenapa kau ikut-ikutan membela Luna. Dan kau, Nathan Ge. Sebaiknya tak ikut campur sama urusan rumah tangga adikmu," ujar Jordan dengan tegas.
Nathan yang mendengar hal itu hanya bisa terkikik geli, Ia melihat bagaimana galak dan tegasnya Jordan saat memerankan menjadi seorang Suami dari adiknya yang kelewat cengeng itu.
Jordan kecil dapat memerankan perannya sebagai seorang suami yang galak dengan sempurna, dan bertingkah sok dewasa itu dengan sangat baik.
"Jordan, kami hanya mengingatkanmu," Sahut David dengan gemas.
"Ckk, kenapa kalian semua malah menyalahkan ku? Apa aku ini suami yang buruk di mata kalian? Kalau begitu kita cerai saja, Luna. Lebih baik kau menikah saja dengan David Gege saha," Mata David sontak melebar begitu pula dengan Nathan mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Jordan.
Sungguh, mereka tidak memperkirakan jika Jordan akan berkata seperti itu. Dan ucapan menohok Jordan malah membuat tangis Luna semakin kencang saja. Dan hal tersebut membuat Nathan dan David menjadi sangat panik. Untung itu taman pribadi jadi tidak mungkin ada yang melihatnya.
"Huaaa ... Jordan Gege jahat. Aku tidak mau, aku cintanya cuma sama, Jordan Gege. Aku tidak mau menikah sama Gege cerewet itu," Rengek Luna manja, sontak saja David membulatkan matanya.
Nathan mati-matian menahan diri untuk tidak tertawa mendengar ucapan polos Luna yang baru saja menghina David. Luna segera melompat ke dalam pelukan Jordan, membuat wajah datar Jordan langsung memerah begitu pula dengan Luna.
"Kalau cinta padaku, jangan nangis. Dan sekarang panggil aku suamiku, Istriku," Luna mengangguk antusias setelah mendengar ucapan Jordan . Sedangkan David dan Nathan langsung sweatdrop.
Merasa geli, mereka berdua pun memutuskan untuk mengawasi mereka dari kejauhan. Mereka bertanya-tanya apa yang akan mereka selanjutnya, dahi David dan Nathan mengerut melihat Luna yang menaikkan pakaian belakang Jordan hingga punggung putihnya terlihat.
"Nah, Istriku. Bisakah kau menggosok punggungku, tanganku tidak sampai. Bukankah kau selalu bilang kalau mandi harus bersih. Kita kan suami-istri, bagaimana kalau kita mandi sama-sama. Kau mau kan, Istriku???"
"Aku mau, Suamiku."
Gubrakkkk !!!
David langsung terjengkang kebelakang saking kagetnya dengan ucapan mereka berdua, mereka baru saja sadar jika dua bocah itu sedang bermain mandi-mandian sampai mereka berdua merasakan sesuatu yang janggal. Dahi ketiganya mengernyit bingung melihat Luba tiba-tiba tersipu malu saat menghampiri Jordan.
"Ge," Panggil Luna malu-malu, bocah cantik itu diam untuk beberapa saat. Wajahnya yang semula berseri tiba-tiba tertunduk sedih. Dua bocah itu ikut penasaran dengan apa yang akan Luna katakan, Jordan mengangkat wajahnya lalu berdiri dan menatap Luna dengan pandangan bertanya.
"Ada apa, Luna? Perutmu sakit?" Tanya Jordan cemas. Tapi Luna menggeleng membuat Jordan semakin bingung "Lantas,"
"Aku ... aku ... Suamiku? Aku hamillllllll......" Jerit Luna dan langsung menubruk tubuh Jordan. Nathan dan David sweatdrop seketika. Mereka berdua hanya bisa melongo saking terkejutnya.
"Aku akan jadi, Papa. Luna, bagaimana kalau kita membuatnya lagi? Siapa tau kita bisa memiliki anak kembar empat," Tanpa ragu Jordan mengangkat tubuh mungil Luna bridal style dan membawanya masuk kedalam rumah. Yang menjadi pertanyaannya? Bagaimana mungkin Jordan memiliki kekuatan sebesar itu untuk mengangkat tubuh Luna.
'WHAT?? DASAR BOCAH.' Jerit batin David dan Nathan frustasi.
Luna menutup wajahnya yang memerah dengan kedua telapak tangannya, sedangkan Jordan membuang muka kearah lain. Wajahnya ikut merona, dia malu sendiri dengan tingkahnya saat masih bocah. Namun detik berikutnya mereka sama-sama tertawa hingga keluar air mata.
"Kekeke. Aku tidak tau, jika saat kecil dulu kita begitu menggemaskan," Luna tiba-tiba terkikik geli membayangkan masa kecilnya bersama Jordan.
"Hn, dan kau sangat cengeng," Sahut Jordan menimpali.
"Wajar Kan, Sayang. Saat itu aku masih berusia lima tahun, dan kau sangat galak padaku," Luna mencerutkan bibirnya. Kesal dengan sikap Jordan padanya, apalagi saat dia kecil yang membentaknya hingga membuatnya menangis
"Hm, lalu siapa yang merenggek tidak mau aku ceraikan lalu bilangnya hanya mencintaiku dan tidak mau menikah dengan, Gege cerewet?" Goda Jordan dan membuat wajah Luna semakin memerah.
"Menyebalkan, berhentilah menggodaku, Ge," Luna memukul lengan Jordan dan tersipu malu, karena dia malah menggodanya setelah melihat bagaimana tingkah Luna saat masih kecil yang merengek karena tidak mau diceraikan oleh Jordan.
"Hn, bagaimana jika kita wujudkan hal itu, Sayang? Sekarang kita bisa membuat bayi kembar empat," Goda Jordan dengan seringai mautnya.
"Ma..maksudmu ap..... Eemmmppp---!" Bibir Jordan membungkam bibir Luna sebelum gadis itu. Ralat, tapi wanita itu menyelesaikan kalimatnya.
Jordan melumatt bibir ranum Luna tanpa ampun, menjilat-jilat permukaan. Luna mulai menutup matanya, tangan kiri Jordan menarik pinggang Luna untuk duduk di pangkuannya. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya pada leher Jordan.
Pria itu mengajak lidah Luna untuk menari dan menginvasinya hingga membuat Luna mendessah karena keagresifan Jordan. Salah satu tangan Jordan menekan tengkuk Luna agar ciuman itu tidak mudah terlepas. Sedangkan tangan lainnya Jordan gunakan untuk memeluk pinggang Luna dengan protektif seolah enggan untuk melepaskannya.
Hingga pukulan ringan pada dadanya segera menyadarkan Jordan, segera Ia akhiri ciuman itu saat melihat Luna mulai kehabisan nafasnya. Keduanya sama-sama berlomba untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya, Luna masih mengatur nafasnya yang mulai normal kembali.
"Waktu istirahat sudah habis, sayang." Ucap Jordan sambil meraih tengkuk Luna
"Ta..tapi aku eemmmp..?"
Jordan kembali membungkam bibir Luna dan melumattnya dengan cepat. Merasakan manisnya bibir sang Istri yang sudah lama menjadi candu baginya. Lidah mereka berdua tengah menari dengan indah saling mengikuti permainan masing-masing hingga sejak kapan tangan mereka sama-sama menyingkirkan pakaian pasangannya.
Gaun tidur Luna telah terlepas dan tergeletak di lantai, begitu pula dengan jas hitam Jordan serta syal panjang yang melilit lehernya. Luna sudah dalam keadaan setengah tellanjang dan hanya menyisakan bra berenda serta cellana dallam yang menutupi bagian Miss nya. Sementara Jordan masih dengan turtleneck hitam tanpa lengannya serta celana jeans yang menggantung pas di pinggangnya.
Tangan Jordan menyusuri setiap jengkal tubuh setengah polos Luna untuk merasakan kehangatan serta kelembutan kulit wanitanya. Bahkan Jordan tidak menghiraukan erangan yang keluar dari mulut Luna dan terus menginvasinya.
Tangan Luna yang semula bergelayut manja pada leher Jordan telah berpindah begitu pun dengan pandangan matanya. Pandangan Hazel Luna jatuh pada tribal tatto yang di lengan suaminya yang sangat Ia kagumi.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, Luna mengarahkan tangan kanannya pada ke tribal tatto itu berada. Membelainya perlahan, mengangumi sang tribal dan menikmati texture lengan Jordan yang tidak terlalu besar tapi terbentuk sempurna.
Setelah puas mengobrak abrik seluruh isi dalam mulutt Luna, ciuman Jordan turun ke leher jenjangnya dan meninggalkan bekas kepemilikan di sana. Tangan Jordan bermain di sekitar paha dalamnya dan membuat tubuh Luna mengejang. Jordan menikmati respon tubuh Luna saat menerima sentuhan darinya.
"Kau menikmatinya, sayang?"
"Hu'um," Luna mengangguk, wajahnya tersipu melihat seringai maut suaminya yang begitu menggoda.
"Tapi kita tidak bisa melanjutkannya disini, Baby." Jordan mengangkat tubuh Luna dan menggendongnya ke kamar mereka. "Aku tidak ingin memberi hiburan gratis pada mata-mata jahil yang mungkin saat ini tengah mimisan."
Jordan melirik sekilas pada beberapa orang yang tengah mengintip di balik pintu toilet, bohong jika Jordan tidak menyadari kehadiran mereka di kediamannya. Jordan sengaja membiarkannya, dan seringai kemenangan tercetak di wajah tampannya saat Ia melihat beberapa dari mereka tengah mengusap darah yang menetes dari hidungnya.
Tapi Jordan tidak kehabisan akal agar tubuh setengah polos Luna tidak terlihat oleh mereka. Jelas saja Jordan tidak rela bila tubuh Istrinya sampai di lihat pria lain selain dirinya.
-Skip Time -
"Ugghhh," Luna terbangun dan merasakan sakit pada daerah kewanitaannya. Wajahnya memerah mengingat bagaimana agresifnya Jordan semalam saat mereka melakukannya. Permainan panas yang di mulai pukul sebelas malam dan berakhir pukul dua dini hari.
Luna menolehkan kepalanya namun suami tampannya sudah tidak ada di sampingnya. Tak ingin terlalu ambil pusing, Luna segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak sampai 30 menit, Luna sudah selesai mandi dan mengganti pakaiannya. Dress biru setengah sikut sepanjang lutut membalut tubuh mungilnya, rambut panjangnya yang setengah kering Ia biarkan tergerai mencapai pinggangnya. Langkah kakinya terhenti saat melihat Jordan memakai apron di balik kaos putih dan vest hitamnya.
Luna dapat melihat lengan berotot Jordan yang hanya tertutup lengan kaus pendek ketatnya. Lalu pandangannya bergulir pada satu objek yang selalu dia kagumi selama ini, tribal tatto. Luna tersenyum lebar lalu berjalan perlahan menghampiri Jordan dan memeluknya dari belakang
"Kau sudah bangun??" Jordan melirik sekilas kebelakang saat merasakan sepasang tangan mungil melingkari perut ratanya.
"Umm," Luna menyikapi pertanyaan Jordan dengan gumaman di iringi anggukan.
"Ada yang bisa aku bantu?" Luna melepaskan pelukannya lalu berpindah kesamping Jordan.
"Hn," Jordan hanya menanggapi pertanyaan Luna dengan kata ambigu.
Merasa tidak di butuhkan, Luna berjalan menuju meja makan dan duduk di sana untuk menunggu sang suami tercinta menyelesaikan masakannya. Ia tidak ingin mengganggu konsentrasi Jordan. Luna menopang dagunya dengan tangan kanannya. Mata Hazel nya masih terus memperhatikan gerakan gesit sang suami.
Jordan memang memiliki sejuta pesona, bahkan saat memasak pun Ia tetap terlihat mempesona. Luna benar-benar terpesona saat pria pemilik punggung kokoh itu menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Benar-benar suami idaman, batinnya.
Luna masih terjebak dalam pesona Suaminya hingga Ia tidak sadar jika orang yang sejak tadi Ia pandangi telah selesai dengan masakannya. Semua makanan telah tersusun rapi di atas meja sampai Luna merasakan ada benda lunak dan basah menyentuh permukaan bibirnya. "Kau melamun?" Luna mengerjapkan matanya.
"O-oh sudah selesai, Sayang," Luna gelagapan sendiri dan menjadi sedikit salah tingkah karna tatapan Jordan yang mengintimidasi.
"Hn,"
Jordan segera menempati tempat di sebelah Luna yang dengan sigap mengambilkan nasi untuknya, mengisi piring Jordan dengan beberapa lauk yang bersebelahan dengan nasinya. Pria itu hanya menatap wajah berseri Luna dengan wajah stoic tanpa ekspresi.
Luna yang sadar jika Ia di perhatikan segera mengangkat wajahnya "Ada apa, Ge? Kenapa menatapku seperti itu?" Luna meletakkan sendoknya di atas piring dan membalas tatapan suaminya.
"Kau tidak kuliah?"
"Tidak,"
"Kenapa?"
"Aku mengambil cuti selama satu minggu, aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan suamiku. Tidak boleh?"
Jordan tersenyum tipis lalu menarik Luna kedalam pelukannya. Sungguh betapa bahagia ia memiliki wanita ini di sisinya. Luna bukan hanya wanita yang menyandang status sebagai Istrinya, tapi dia adalah hidupnya, detak jantungnya, nafasnya, denyut dalam nadinya, aliran darahnya dan Jordan tidak akan ada jika Luna tidak ada ,karena dia adalah tulang rusuknya.
"Mau jalan-jalan?" Tawar Jordan yang segera di balas anggukan oleh Luna.
"Mau," Jawabnya antusias
"Kalau begitu segera siap-siap, aku akan membereskan ini dulu. Tanpa berkata-kata lagi, Luna segera melesat menuju kamarnya yang ada lantai dua.
Tidak butuh waktu lama, Luna kembali dengan penampilan lebih baik dari sebelumnya. Luna mengganti dressnya dengan dress lain yang biasa Ia pakai saat berpergian. Rambut panjangnya di ikat keatas dan memperlihatkan leher jenjangnya, dari ujung tangga dia bisa melihat Jordan yang sudah menunggunya.
"Sudah siap?" Jordan menutup koran paginya lalu berdiri saat melihat kedatangan Luna .
Aku tidak salah kostum kan?" Jordan memperhatikan penampilan istri. Dress yang Ia pakai senada dengan kaos putih dan vest hitam yang Jordan pakai. Bungsu Tang itu tersenyum tipis
"Cantik." Jawabnya singkat. Luna tersenyum lebar. Dengan hati berbunga-bunga dia menerima uluran tangan suaminya.
.
.
bersambung
__ADS_1