Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Berbatang Bukan Berlubang


__ADS_3

"KIM DANTE, BAYAR GAJI KAMI!!"


Keadaan di kantor Dante benar-benar kacau. Para karyawan sedang berdemo menuntut agar gajinya segera dibayarkan. Sudah satu Minggu lebih mereka mogok kerja karena gaji bulanan mereka belum turun juga.


Uang pinjaman yang dia dapatkan Minggu kemarin bahkan tak cukup untuk mengaji para karyawannya, hutangnya sudah terlalu banyak dan tidak adalagi properti miliknya yang bisa digadaikan apalagi dijual.


Dante sudah mengorbankan tiga mobil mewahnya untuk menutupi hutang-hutangnya dan itu masih belum cukup. Uang ditabungannya pun sudah ludes dipakai Yuna untuk foya-foya.


"Presdir, bagaimana ini. Kita harus bagaimana, mereka akan berdemo terus jika gajinya tidak segera dibayarkan."


"Apa mereka tidak bisa memberikan waktu lagi pada kita, hanya uang perusahaan yang tersisa dan kita tidak bisa menggunakannya."


"Mereka tidak mungkin mau memberi waktu lagi, gaji mereka sudah telah selama 2 Minggu dan selama 1 Minggu mereka mogok bekerja. Perusahaan kita benar-benar mengalami kerugian yang sangat besar."


Dante memijit pelipisnya yang terasa pening. Dia benar-benar bingung setengah mati. Tidak ada jalan keluar untuk masalah ini.


"Kalau begitu gunakan uang perusahaan dan bayar setengah dulu. Kita bisa kehabisan uang jika gaji mereka jika bayar secara penuh."


"Baik, Presdir."


Yuna, dia adalah sumber utama dari semua kekacauan ini. Jika saja dia bisa berhemat dan tidak menghambur-hamburkan uang demi menuruti gengsi, pasti semua tidak akan sekacau ini. Dante menyambar kunci mobilnya. Dia akan memberi pelajaran pada wanita itu.


-


Jesslyn menghampiri sang putra yang masih belum tidur. Sudah pukul 22 malam, tapi bocah laki-laki itu masih tetap terjaga, biasanya Nathan selalu tidur lebih awal. Mungkin karena besok adalah hari Minggu makanya dia tidak ingin tidur lebih awal malam ini.


"Kenapa belum tidur?" Tegur Jesslyn kemudian duduk disamping putranya. Apa yang sedang kau pikirkan, cerita sama Mami. Mungkin Mami memiliki solusinya."


"Aku hanya teringat teman lama,"


"Vivian," tebak Jesslyn 100% benar. "Apa kau merindukannya, bagaimana kalau liburan panjang nanti kita ke London untuk mengunjunginya?" Usul Jesslyn.


Nathan menggeleng. "Tidak perlu, perjalanan jauh sangat melelahkan. Lagipula dia pasti juga sudah melupakanku, apalagi aku tidak pernah bersikap baik padanya." Tutur Nathan.

__ADS_1


Jesslyn tersenyum. "Kau sangat peduli padanya, apa karena dia sangat cantik, baik dan menggemaskan?! Mami sangat menyukai anak itu, karena hanya dia satu-satunya anak yang tidak pernah memandang rendah dirimu disaat anak-anak lain menjauhimu."


"Aku memberinya sebuah kalung, dan kami berjanji suatu saat nanti akan bertemu lagi,"


"Anak baik, saran kecil dari Mami. Jangan pernah melupakan sekecil apapun kebaikan orang lain padamu. Kau harus tetap mengingatnya meskipun sampai dewasa. Karena orang baik di dunia ini tidak banyak, kau mengerti kan apa maksud Mami?"


Nathan mengangguk. "Aku mengerti,"


"Ini sudah larut malam, sebaiknya cepat tidur." Jesslyn mengecup singkat kening putranya dan pergi begitu saja. Senyum tipis tersungging di bibir merahnya. "Good night sweet heart,"


Malam ini Nathan tidur bersama kakeknya. Tapi saat ini Tuan Eric masih belum pulang dari menonton film. Mungkin dia merindukan teman-teman lamanya. Bukan hanya Tuan Eric, si kembar dan Tao juga belum pulang. Dan Jesslyn bersumpah akan ada drama menarik malam ini.


.


.


Luis menutup laptopnya saat melihat kedatangan Jesslyn. Laki-laki itu mengulurkan tangannya dan menuntun Jesslyn untuk duduk di pangkuannya. "Oya, Lu. Kemana perginya Kris, kenapa aku tidak melihat batang hidungnya sama sekali."


"Dia pergi keluar, katanya dia memiliki teman disekitar sini. Jadi dia pergi untuk bertemu dengannya," jawab Luis.


"Apa Nathan sudah tidur? Kenapa kau meninggalkannya dan tidak menemaninya dulu sampai papa pulang,"


Jesslyn menggeleng. "Nathan bukanlah anak yang manja yang harus selalu ditemani, lagipula dia juga bukan penakut seperti Rio. Kau tidak perlu mencemaskannya, putramu bukan anak kecil lagi. Kau tadi bilang lelah, sebaiknya kita tidur sekarang. Aku sangat mengantuk,"


Luis mengangguk. "Baiklah


-


"Berbatang?!"


Nyaris saja Tao pingsan saat mengetahui jika yang bersamanya ini bukanlah gadis yang berlubang melainkan gadis berbatang.


Tao benar-benar terkecoh oleh penampilan luarnya, ditambah lagi dengan suaranya yang seperti perempuan. Fisik Lili sangat menyakinkan, sehingga Tao tidak bisa membedakan apakah dia berbatang atau berlubang.

__ADS_1


"Kau mau kemana? Bukankah kau tau bersedia menjadi kekasih Lili?! Jangan kabur, temani Lili saja,"


"Yakk!! Lepaskan aku, jangan menyentuhku!! Aku jijik, aku jijik, aku jijik. Huaaa.. Siapapun tolong aku, lepaskan aku dari gadis cantik tapi berbatang ini!!"


Bukannya menolong, semua orang malah tertawa terbahak-bahak melihat adegan menggelikan itu. Meskipun Lili sangat cantik, tapi tidak ada yang melirik, karena semua pemuda kampung sudah tau jika dia itu berbatang bukan berlubang.


-


Rintik-rintik itu menghasilkan nada yang tegas namun lembut, terdengar dingin dan agak menusuk. Nada yang tipis, nyaris tidak nyata, seperti mimpi. Namun dapat di dengar dengan jelas.


Nada-nada itu berbaur dengan suara angin. Terdengar dekat namun jauh, membuat hati siapa merasa hangat tetapi tubuhnya menggigil. Membuat otak berpikir akan rasa manis, namun menyisakan pahit di ujung lidah. Menimbulkan rasa nyaman, namun mendebarkan.


Langit pagi diselimuti awan tebal. Rintik-rintik hujan berjatuhan membasahi tanah yang kering. Membuat tumbuhan dan bunga-bunga menjadi basah, hujan di pagi hari bukanlah sesuatu yang menyenangkan, karena menahan orang-orang untuk memulai aktifitasnya.


Rencana untuk menikmati keindahan desa dari bukit angin harus dia kubur dalam-dalam. Nathan sudah menyusun agenda untuk pagi ini, tapi sayangnya apa yang dia rencanakan berjalan tak sesuai harapan. Bocah laki-laki itu mendengus berat.


"Kesal karena hujan," tegur Jesslyn melihat wajah murung putranya.


"Rencananya aku mau pergi ke bukit dengan Kakek. Tapi sialnya hujan tiba-tiba turun," bocah laki-laki itu menekuk wajahnya.


"Biasanya setelah hujan akan muncul pelangi di bukit. Kau akan menemukan sebuah keajaiban saat pergi ke sana setelah hujan,"


Mata Nathan memicing. "Sungguh?" Jesslyn mengangguk, dia tidak sedang membujuk apalagi berusaha menghibur putranya. Karena memang itulah yang dulu sering dia lihat setelah hujan.


"Jangan cemberut terus, Mami pergi menyiapkan sarapan dulu." Jesslyn mengacak rambut coklat putranya dan pergi begitu saja.


Nathan pergi ke teras depan, dan dia terkejut melihat keberadaan seorang gadis kecil yang dia ketahui bernama Marissa. "Sedang apa kau disini?" Tanya Nathan pada gadis kecil itu.


"Aku ingin mengajakmu melihat pelangi setelah hujan reda nanti. Dari atas sana, kita bisa melihat pelangi yang sangat indah,"


"Terserah, sebaiknya kau pulang saja sana. Datang lagi setelah hujan berhenti," Perintahnya.


Oke, bye-bye Nathan..."

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2