Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Terjatuh Dan Terluka


__ADS_3

Pulang pergi naik bus umum. Kini sudah menjadi rutinitas Nathan setiap harinya. Pemuda itu harus rela berdesak-desakan dan panas-panasan di dalam kendaraan umum karena sang ayah tak mengijinkannya membawa mobil sendiri.


Penampilan Nathan yang bisa dibilang sangat menggelikan menyita perhatian banyak pasang mata. Mereka saling berbisik membicarakannya, menatapnya dengan geli bahkan beberapa dari mereka juga mati-matian menahan tawa.


Nathan tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya menghela napas dan berusaha untuk sabar. Ada bangku yang kosong dan Nathan bermaksud untuk duduk di sana. Tapi seorang penumpang menjulurkan kakinya hingga Nathan jatuh tersungkur dan membentur besi pada bangku bus. Akibatnya pelipisnya terluka dan berdarah.


"Makanya kalau jalan pakai mata jangan pakai dengkul, punya mata empat tapi tidak dimanfaatkan dengan baik." Ucap seorang perempuan yang disusul gelak tawa oleh penumpang bus yang notabenenya adalah pelajar dan anak kuliahan.


PLAKKK..


"Yakkk!!" Perempuan itu memekik keras saat seseorang tiba-tiba menamparnya dengan keras, seorang gadis berdiri di depannya dengan tatapan membunuh.


"Jaga mulutmu!! Dan sebelum menilai orang lain, sebaiknya kau bercermin dulu. Apakah dirimu lebih baik dari orang itu. Lihat saja penampilanmu yang mirip badut pasar malam, kau lebih menggelikan dari pemuda ini!!"


"Kau~"


"Kenapa? Kau tidak terima dan ingin menamparku?! Lakukan saja, kau pikir bisa menggertak ku?!"


"Benar-benar kau ya, kau ingin mati ya?!"


Grepp...


Nathan berdiri dan menahan tangan perempuan itu. Pemuda itu menatap perempuan di depannya dengan tajam dari balik kacamata bulatnya yang tebal. "Berani menyentuhnya, aku tidak akan segan-segan mematahkan lenganmu!!" Ucap Nathan penuh ancaman.


"Kau!! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan, sakit!!" Jerit perempuan muda itu. Dia merasakan sakit yang luar biasa pada pergelangan tangannya karena cengkraman Nathan.


"Nathan, cukup!! Kau bisa mematahkan tulangnya, sebaiknya kita turun saja dan pergi dengan taksi. Paman, tolong hentikan busnya." Seru gadis itu yang tak lain dan tak bukan adalah Vivian.


Setelah bus berhenti. Vivian menarik Nathan turun dari kendaraan umum tersebut. Mereka masuk ke sebuah apotek, Vivian membeli obat luka, kapas, alkohol, perban dan plester. Luka di pelipis Nathan harus dibersihkan dan diobati.


Dan disini mereka sekarang. Vivian membawa Nathan kesebuah taman yang tak jauh dari apotek tadi. Mereka duduk disebuah kursi panjang dengan posisi berhadapan. Dengan pelan dan telaten, Vivian membersihkan darah di pelipis pemuda itu.

__ADS_1


"Apa kau selalu menggunakan kendaraan umum ketika pulang dan pergi?" Tanya Nathan mengakhiri keheningan.


Vivian mengangguk. "Sebenarnya Papa mengusulkan supaya aku membeli mobil saja, tapi aku menolak. Aku lebih suka menggunakan fasilitas umum dari pada pergi dengan mobil pribadi, dan jika jarak tempuh dari rumah ketempat yang aku tuju tidak jauh, aku lebih suka berjalan kaki." Ujar Vivian.


"Kau tidak berubah sama sekali. Tetap sesederhana dulu, aku ingat betul saat kita masih kecil, kau selalu meminta agar supirmu menurunkanmu agak jauh dari gerbang sekolah. Agar orang lain tidak tau jika kau seorang Nona Muda. Dan ternyata itu masih bertahan sampai sekarang. Kau sungguh membuatku kagum, Vi."


Vivian terkekeh. "Kau terlalu berlebihan, dan berhenti memujiku ini dan itu. Kau tau, aku bisa besar kepala karena dirimu." Ucapnya.


Setelah memastikan darahnya sudah bersih, Vivian mengoleskan salep luka pada pelipis Nathan lalu menutupnya dengan perban dan merekatkan dengan plester.


"Sudah selesai, ayo. Kita bisa terlambat tiba di kampus jika tidak berangkat sekarang." Vivian bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangannya pada Nathan. Nathan menyambut tangan itu dan keduanya berjalan beriringan meninggalkan taman.


-


-


"Daddy!!"


"Aduh Lovely, kau ini bukan anak kecil lagi. Bagaimana kalau kita berdua malah terjatuh karena Daddy tidak siap pas kau melompat seperti tadi,"


"Aigoo, Daddy ini. Belum juga 50 tahun, masa sudah payah. Ayo gendong aku sampai dalam."


"Dasar kau ini, kenapa jam segini masih di rumah? Apa kau tidak sekolah?"


Lovely menggeleng. "Sekolah libur selama dua hari. Jadi hari ini dan besok aku bebas."


"Lalu dimana Mamimu?"


"Mami ada di dalam. Dia sedang menyidang kak Rio dan kak Marcell. Semalam mereka pulang larut malam lagi, dan apa Daddy tau, Paman Tao sampai ketiduran mendengar Omelan Mami yang tidak ada ujungnya. Paman Tao adalah dalang utamanya." Ujar Lovely panjang lebar.


Luis tidak merasa heran apalagi terkejut. Karena hal semacam itu sudah biasa terjadi. Dan Tao selalu jadi tersangka utama karena dia mengajarkan yang tidak-tidak pada si kembar. Tao pernah mengajak mereka menginap di rumah pel*curan selama dua malam. Dan pulang-pulang mereka langsung disidang oleh Jesslyn.

__ADS_1


"Bibi, itu Paman pulang!!" Seru Rio sambil menunjuk Luis. Sontak perhatian Jesslyn teralihkan. Dan kesempatan itu mereka bertiga manfaatkan untuk melarikan diri.


"Yakk!! Kalian mau kabur kemana? Aku belum selesai," teriak Jesslyn. Tapi mereka tak mendengarnya. Wanita itu mendengus berat.


Kemudian Jesslyn menghampiri Luis. "Apa mereka berulah lagi?" Jesslyn mengangguk. Dan tanpa memberitahu Luis pun, suaminya sudah pasti tau mereka pergi kemana.


"Kau mandilah dulu, aku siapkan sarapan untukmu. Pasti kau belum sempat sarapan. Lovely, turun dari gendongan Daddy-mu. Ayo bantu Mami membuat sarapan untuk Daddy,"


"Oke, Mi."


-


-


Setelah sampai di depan gerbang kampus, seluruh mata tertuju pada Nathan dan Vivian. Mereka memandang keduanya dengan berbisik-bisik. Ada yang menatapnya dengan kaget, dan ada juga yang menatapnya sinis. Pasalnya Nathan si culun sedang berjalan bersama dengan Xia Vivian, yang notabene adalah primadona di kampus.


Nathan yang melihat itu dari balik kacamata besarnya hanya terdiam, lalu melirik Vivian. Gadis itu terlihat acuh. "Vi, sepertinya mereka tidak suka melihat kita bersama.." Gumam Nathan, namun masih bisa di dengar oleh Vivian.


"Hmm..biarin saja, itu 'kan menurut mereka.." Jawab Vivian mengabaikan omongan Nathan.


Nathan menatap Vivian heran, "Maksudmu?" Tanya pemuda itu.


"Iya, itu 'kan menurut mereka, tapi aku senang kita bersama.." Jawab Vivian enteng sambil tersenyum.


Untuk sesaat Nathan menahan nafas, tidak pernah dia bertemu dengan gadis seperti Vivian, ck, sial! Senyum Vivian sangat tidak baik untuk kesehatan jantung Nathan yang saat ini berdetak cepat.


Tiba-tiba dia teringat pada perkataan ayahnya itu sewaktu di luar negeri. Nathan terdiam. Sampai akhirnya Vivian memanggilnya untuk pamit duluan karena harus ke perpustakaan terlebih dulu. Dan Nathan pun mengangguk singkat lalu menatap Vivian yang berlari menjauhinya dengan pandangan yang sulit di artikan.


-


-

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2