
"NATHAN?!"
Ketiganya memekik sekencang-kencangnya dengan kedua mata membulat sempurna. Antara terkejut dan tidak percaya, jika ternyata si cupu yang selalu mereka ganggu ternyata adalah Nathan.
Wajah Arya, Dio dan Sean seketika berubah pucat ketika melihat seringai tajam yang tercetak dibibir pemuda itu. Mereka tidak tau bagaimana nasibnya setelah ini, dan mereka berharap semoga Nathan tidak melakukan hal mengerikan pada mereka, bisa berbahaya jika Nathan sampai mengamuk dan menghajar mereka semua.
"Hehehe.. Santai Kawan. Aku sudah menduga jika ini adalah dirimu, apalagi kau terlihat tidak asing. Dan tadi kita bertiga hanya bercanda dan bermain-main saja kok." Ucap Sean yang segera di susul anggukan oleh Dio dan Arya.
Kemudian Arya menghampiri Nathan dan langsung memeluknya. "Kenapa tidak beri tau kalau kau kuliah disini juga, kau memberi kami kejutan dengan penampilanmu tadi, dan kami juga cuma main-main saat membullymu tadi. Ini uangmu aku kembalikan," Arya mengembalikan lembaran won yang dia ambil tadi pada si pemilik.
"Hyung, bagaimana kalau aku traktir kau makan siang. Kau belum makan siang bukan, tenang saja, Mr.Dolar akan membayar semua yang kita pesan. Bukan, tapi yang kau pesan. Benar kan, Sean Hyung?"
Sean mengangguk membenarkan apa yang Dio katakan. Dia masih belum sadar, dan detik berikutnya kedua matanya membulat sempurna. "Yakk!! Kau yang mengajak dan akan mentraktirnya, tapi kenapa malah aku yang harus membayarnya?!" Pekik Sean. Dia tidak rela jika dolar-dolarnya melayang hanya demi beberapa porsi makanan.
"Ayolah, Hyung. Nanti aku akan membantumu dekat dengan Vivian Nunna, bagaimana?" Usul Dio dan membuat mata Sean berbinar.
"Boleh, boleh. Ayo kita turun, tapi ajak Vivian juga ya. Makan siang ini batal aku bayar jika Vivian tidak ikut!!"
"Beres!!"
Muncul perempat siku-siku di kening Nathan. Vivian? Kenapa mereka menyebut-nyebut nama gadis itu?! Apa mungkin Sean menyukainya? Nathan sangat penasaran.
"Vivian, kenapa kau bersemangat sekali saat bocah panci ini menyebut namanya?! Apa kau menyukainya?" Tanya Nathan penuh selidik.
"Kau belum tau, Kawan. Vivian adalah primadona di kampus ini. Selain sikapnya yang baik dan wajahnya yang cantik luar biasa, dia adalah seorang Dewi di kampus ini. Semua mata pria selalu tertuju padanya, itulah kenapa banyak sekali gadis yang merasa iri pada Vivian dan menjauhinya. Dia tidak punya banyak teman perempuan, hanya memiliki satu sahabat, namanya Sania." Terang Arya panjang lebar.
"Wajar, karena dia baik dan tidak pernah memandang rendah orang lain. Gadis itu, memang tidak pernah berubah," Nathan memakai kembali kaca mata bulatnya dan pergi begitu saja.
Mereka bertiga segera tersadar. "Yakk!! Nathan tunggu!!" Seru Arya dan segera menyusul pemuda itu. Disusul Sean dan Dio. Tiba-tiba Nathan berhenti membuat mereka bertiga ikut berhenti juga.
"Rahasiakan tentang siapa diriku dari semua orang, termasuk Marissa. Biarkan semua orang mengenaliku sebagai pemuda cupu dan si kutu buku. Dan jika diantara kalian ada yang berani membocorkannya, maka siap-siap untuk menerima hukuman berat dariku!!" Nathan menatap ketiganya satu persatu.
Glukk...
Mereka bertiga menelan salivanya sedikit bersusah payah. Melihat tatapan Nathan yang dingin dan kurang bersahabat membuat nyali mereka semakin menciut. Tak ingin mendapatkan masalah dari iblis kecil seperti Nathan, mereka pun langsung mengangguk, berjanji.
"Baiklah, kita bertiga berjanji."
__ADS_1
"Bagus." Jawabnya dan pergi begitu saja.
-
Kesal, marah, cemburu. Semua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu. Lima kali Vivian menolaknya, dan sekarang dia malah dekat dengan anak baru yang terkenal karena penampilannya yang cupu. Padahal dia yang lebih dulu mengenalnya dan mengejar cintanya.
Gavin, nama pemuda itu. Dia adalah senior Vivian di kampus ini. Gavin jatuh cinta pada Vivian sejak gadis itu itu menginjakkan kakinya di S.N.U.
Mendekati Vivian dan mendapatkan hatinya tentu bukanlah perkara yang mudah bagi Gavin, sudah hampir satu tahun, tapi dia belum juga bisa meluluhkan hatinya. Dan disaat dirinya yang berjuang dengan keras, justru seorang anak baru langsung mencuri perhatiannya. Dan itu membuat Gavin kesal setengah mati.
"Langsung kasih pelajaran saja, Bos. Supaya dia tidak semakin melunjak, tunjukkan pada si cupu itu siapa yang berkuasa di kampus ini!!"
"Tapi masalahnya tidak semudah itu. Jika aku menghajar si cupu itu dan Vivian mengetahuinya, sudah pasti dia akan menggantungku hidup-hidup!!" Bentak Gavin frustasi.
"Benar juga, lalu kita harus bagaimana? Atau lebih baik kita ajak si cupu itu berteman saja?! Dengan begitu kau memiliki nilai yang baik dimata Vivian, siapa tau dia akan luluh saat tau ternyata kau itu sangat baik, Bos."
Gavin berpikir sejenak. Ide anak buahnya yang bodoh ini ternyata bagus juga. Jika dia bisa merangkul Nathan dan berteman dengannya, pasti Vivian akan lebih respect pada dirinya.
"Idemu boleh juga. Tidak lama lagi Vivian akan kagum padaku, kemudian dia menyukaiku, lalu mencintaiku dan akhirnya kami jadian. Aku pergi dulu, kalian berdua boleh makan apapun di kantin sepuasnya. Hari ini biar aku yang membayarnya."
"Panjang umur, Bos. Selamat berjuang!!"
-
PRANG..!
Nathan terjatuh dan semua makanannya tumpah berserakan, Kacamatanya terlepas jatuh entah kemana.
Seluruh pengunjung kantin menertawakannya. Trio ajaib yang melihat itu terkaget-kaget dan menghampiri Nathan. Cemas seketika menghinggapi perasaan ketiganya ketika melihat tangan Nathan yang terkepal kuat.
"Ups, sorry.." Ujar seorang pemuda samb tersenyum menyeringai. "Setimpal 'kan, untuk orang yang telah mendekati primadona di-kampus ini. Seorang Gavin saja tidak sepadan dengannya, apalagi kau yang cupu ini, mimpimu terlalu tinggi untuk mendekati Vivian..." Lanjutnya.
Nathan langsung bangkit dan menantang pemuda itu, matanya yang tidak terhalang kacamata itu menatap sangar mata pemuda di depannya dengan tajam. Dia mencengkram kerah kemeja pemuda itu dengan keras,
"Apa masalahmu.." Gumam Nathan tajam dan dingin.
Tidak peduli dia akan membongkar semua penyamarannya, tidak peduli si jika ayahnya akan memarahinya, dan dia tidak peduli akan membuat gempar seluruh sekolah ini. Natha sekarang hanya bernafsu untuk mengeluarkan amarahnya dan meninju muka pemuda itu saat ini.
__ADS_1
"Omo!! Hei lihat itu si cupu,.."
"Ya Tuhan, apa benar itu dia, si culun?"
"Tampan juga ya.."
Bisik-bisik pun mulai terdengar di sekelilingnya, Nathan melihat sekelilingnya tanpa melepaskan cengkramannya pada kerah kemeja pemuda yang menjegalnya. Arya, Sean dan Dio menggeleng. Memohon agar Nathan tidak melakukannya. Pemuda itu menghela napas berat.
Dengan kasar Nathan melepaskan cengkramannya lalu menyambar kaca matanya yang ada di lantai dan pergi begitu saja. Semua orang yang ada di kantin tercengang. Rasanya mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat.
"AAARRRKKKHH!! BRENGSEK, SIALAN KAU CUPU!! APA KALIAN LIHAT-LIHAT?!" Bentak pemuda itu penuh emosi.
Dia lalu meninggalkan kantin, dalam hatinya ia bersumpah akan membalas perbuatan Nathan dan memberi pelajaran berharga padanya.
.
.
Tak..
Tak..
Tak..
Derap langkah kaki seseorang yang datang mengalihkan perhatian Nathan. Pemuda itu menatap datar sosok gadis yang berjalan menghampirinya. Saat ini Nathan sedang berada di atap gedung.
"Kau baik-baik saja? Aku dengar kau terlibat keributan di kantin. Apa Gio menyakitimu?" Tanya gadis itu yang pastinya adalah Vivian.
Nathan menggeleng. "Tidak, dia hanya membuatku terjatuh dan menumpahkan semua makan siang ku." Jawabnya datar.
Vivian duduk disamping pemuda itu lalu membuka sebuah kotak yang dibungkus dengan kain merah. Di dalam kotak tersebut berisi makanan-makanan lezat seperti sushi, telur gulung, tempura dan nugget.
"Kebetulan hari ini aku membawa makan siang sendiri dari rumah. Ayo, kita makan siang sama-sama. Aku ingat betul saat masih kecil kau sangat menyukai sushi dan tempura. Dan kebetulan hari ini aku membawanya."
Nathan tak memberikan respon apa-apa dan hanya menatap gadis di depannya ini dengan tatapan tak terbaca. Kemudian dia mengambil sumpit yang Vivian berikan padanya. Dan selanjutnya mereka berdua menyantap makan siangnya dengan tenang.
-
__ADS_1
Bersambung.