Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Noda Misterius


__ADS_3

Jesslyn mencengkram kepalanya yang terasa ingin pecah. Efek alkohol yang dia minum semalam masih belum hilang. Kedua matanya perlahan terbuka, dia merasa bingung dengan rasa dingin yang menerpa kulit tubuhnya. Mata Jesslyn membelalak.


Dia menyibak selimutnya dengan cepat dan menemukan sebuah bercak merah di sana. Antara terkejut dan tidak percaya. Lalu pandangannya bergulir pada Luis yang masih tertidur pulas disampingnya.


Jesslyn merubah posisinya. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam tapi tidak bisa. Efek alkohol yang dia minum semalam membuatnya tidak bisa mengingat apapun tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Luis.


Berbeda dengan Jesslyn yang tidur dalam keadaan bulat, semalam Luis nasib sempat memakai kembali celana dan kemejanya sebelum tidur sambil memeluk Jesslyn semalaman.


Tanpa menghiraukan Luis yang masih tertidur pulas, Jesslyn beranjak dan pergi ke kamar mandi. Mungkin dinginnya air shower bisa menjernihkan kepalanya saat ini. Kepalanya benar-benar kosong, sehingga Jesslyn tidak bisa berpikir apapun untuk saat ini.


.


.


Dinginnya air shower mulai menghujam setiap inci kulitnya yang terbuka dengan ganas. Memberikan sensasi dingin namun menyejukkan, menutup rapat-rapat kedua matanya dan menikmati setiap tetes air yang jatuh membasahi setiap inci kulitnya.


Otaknya tak bisa berpikir jernih. Apa yang terjadi diantara dirinya dan Luis semalam begitu mengganggu pikirannya, apalagi bercak merah yang dia temukan dan rasa nyeri disekitar paha dalamnya. Telah terjadi sesuatu diantara mereka semalam, namun sama-sama tak ada yang menyadarinya.


Setelah puas, Jesslyn mematikan shower lalu meraih handuk yang tersampir di belakang pintu. Dengan berbalut handuk putih itu, dia melenggang keluar meninggalkan kamar mandi. Tampak Luis duduk sambil memegangi kepalanya yang serasa ingin pecah.


"Kau sudah bangun," tegur Jesslyn. Gadis itu membuka lemari pakaian lalu mengeluarkan sehelai dress dari dalam sana.


"Jess, apa yang kau lakukan?!" Kaget Luis melihat Jesslyn membuka handuk itu di depannya.


"Kenapa? Bukankah kita adalah suami-istri, hal semacam ini sangat biasa dan wajar dong," ucapnya.


Luis tak memberikan jawaban apa-apa. Dia hendak beranjak namun terpaku saat melihat noda merah di sprei. "Jangan berpikir yang tidak-tidak, itu adalah darah ha!d, aku datang tamu bulanan satu satu hari lebih awal makanya sampai tembus ke sprei." Ucap Jesslyn.


Jelas sekali itu bukan darah bulanan, karena ini belum waktunya Jesslyn datang bulan. Entah apa yang Jesslyn pikirkan, sampai-sampai dia mengatakan kebohongan pada Luis.


"Kau tidak sedang menipuku, bukan?" Ia memicingkan matanya dan menatap Jesslyn penuh selidik.


"Tentu saja tidak, itu tidak ada gunanya untukku." Jawabnya. "Mandilah, aku sudah menyiapkan air panas untukmu."


Luis menatap Jesslyn yang terlihat berbeda dari biasanya. Kedua matanya yang selalu memancarkan kehangatan tampak sedikit redup. Senyum lebar yang biasanya menghiasi bibirnya tergantikan oleh senyum tipis yang Luis sendiri tidak ketahui maknanya.


Fakta bahwa ibu kandungnya adalah orang ketiga yang menghancurkan rumah tangga orang tua Luis membuat Jesslyn terguncang. Di bibirnya dia memang menebar senyum seolah menyakinkan Luis jika dirinya baik-baik saja, tapi dihatinya menangis perih.


"Jess," panggil Luis dengan suara lirih dan nyaris tak terdengar.


"Aku akan menyiapkan sarapan dulu. Cepat mandi, nanti airnya keburu dingin." Ia berbalik dan melenggang pergi.

__ADS_1


Luis tersenyum samar. Itu adalah orang yang ingin dia hancurkan, tapi bagaimana Luis bisa melakukannya. Bagaimana bisa dia melukai dan menyakiti Jesslyn, karena pada kenyataannya dia adalah korban dari kekejaman wanita itu. Sama seperti ia dan mendiang ibunya.


.


.


Jesslyn menoleh setelah mendengar kedatangan seseorang di dapur. Bukan pelayan ataupun si kembar apalagi Roona, melainkan Luis. Pria itu terlihat lebih fresh setelah mandi dan berganti pakaian.


"Kau sudah bangun, kopi untukmu aku letakkan dimeja." Ucap Jesslyn tanpa menatap lawan bicaranya. Luis mengangguk tanpa mengatakan apa-apa.


Dia menatap punggung Jesslyn dengan tatapan tak terbaca. Wanita itu begitu dekat, tapi rasanya sangat jauh. Ia merasa seperti ada dinding tak kasat mata yang menghalangi mereka.


"Kau baik-baik saja?" Luis mencoba berbasa-basi.


Jesslyn menoleh. Bibirnya mengukir senyum tipis. "Memangnya aku kenapa? Apa aku tidak terlihat baik-baik saja," ucapnya.


Luis menggeleng. "Mungkin hanya perasaanku saja. Jess, jujur saja ada sesuatu yang mengganggu pikiranku sampai saat ini. Tentang noda merah di seprei dan bagaimana kita bisa berada di kamar utama, bukankah semalam kita berdua minum sampai mabuk di kamar lamamu. Benarkah tidak terjadi sesuatu?" Luis mencoba mengorek kebenaran dari Jesslyn.


"Aku sendiri tidak ingat apa-apa. Mungkin saja kita berjalan saat sedang mabuk. Dan mengenai noda merah itu. Itu adalah darah ha!d, kau tidak perlu terlalu memikirkannya." Jelas Jesslyn.


Jelas sekali itu bukan darah ha!d, tapi darah keper*wanannya. Karena saat ini Jesslyn sedang dalam masa subur. Meskipun mereka suami-istri, tapi Luis tidak tau kapan waktu Jesslyn datang bulan.


"Hm, baiklah kalau begitu. Aku sangat cemas jika itu adalah... Aku takut semalam aku berbuat macam-macam padamu." Jesslyn menggeleng, meyakinkan pada Luis jika itu memang darah bulanannya.


Pisau tajam itu terlepas begitu saja dari genggaman Jesslyn setelah tanpa sengaja menggores ujung jarinya. Luis segera berdiri dan menghampiri Jesslyn, dia menghisap darah di tangan Jesslyn lalu menutupnya dengan plester.


"Kenapa kau sangat ceroboh dan tidak berhati-hati?! Duduklah, biar aku saja yang memasak."


"Tapi, Lu~"


"Tidak ada tapi-tapi!!"


Jesslyn mendengus berat. Akhirnya dia pun memilih mengalah dan membiarkan Luis yang lanjut memasak. Sementara Jesslyn hanya menjadi penonton saja. Dia tak sedikit pun melepaskan pandangannya dari Luis. Jesslyn ingin memandang Luis sepuas-puasnya sebelum ia pergi.


.


.


"Hoek... sebenarnya makanan apa yang kau berikan padaku eo? Kenapa rasanya aneh begini? Jika tidak bisa masak, lebih baik tidak usah memasak, apa kau ingin meracuniku dengan makanan samp*hmu ini?"


Pranggg...!!

__ADS_1


Roona menyentak piringnya hingga hancur menjadi beberapa bagian, membuat makanan di dalamnya berserakan di lantai.


"Wow.. wow.. sepertinya kau menuduh orang yang salah. Bukan Bibi Jesslyn loh yang memasak semua makanan ini, tapi Paman Luis," ucap Rio dan membuat mata Roona membelalak saking kagetnya.


"A..p..a? Jadi yang memasak bukan boneka r*ngsokan itu? Ta..pi... Kakak?" pekik Roona tidak percaya. Wajahnya memucat.


"Yakkk.... wanita penyihir. Berhenti memanggil Bibi Jesslyn dengan sebutan boneka rongsokan, di bandingkan dirimu. Dia itu jauh lebih baik kemana-mana. Jago masak, rajin bersih-bersih, cantik luar dalam, kalem dan tidak kecentilan sepertimu." Marcell langsung melayangkan protesnya karena tak terima Jesslyn terus-terusan dihina oleh Roona.


"Yakkk...!! Bocah setan, apa kau sudah bosan hidup eo? Kau cari mati, huh?"


"Kenapa? Bukankah yang aku katakan memang fakta. Jadi terima saja..."


"KAU...!"


"CUKUP." bentak Luis menengahi perdebatan Roona dan si kembar.


Laki-laki itu menggebrak meja di depannya seraya bangkit dari duduknya. "Tidak bisakah kalian tenang saat berada di meja makan? Hargai aku sedikit saja, kalian bertiga benar-benar membuatku tidak berselera lagi." ujar Luis dan berlalu begitu saja.


Menghela nafas, Jesslyn meletakkan sendoknya dan meninggalkan meja makan. Menyisakan si kembar dan Roona di sana.


"Aarrrkkkhhh... kenapa semua jadi begini? Dan sebenarnya apa sih istimewanya dia? Sampai-sampai semua orang begitu membelanya. Tapi aku tidak mungkin kalah darinya, karena bagaimana pun juga, hanya akulah yang lebih layak untuk Kakak!!"


"Cih, mimpi saja terus. Sampai kambing beranak singa, Paman Luis juga tidak akan melirikmu!!"


"Diam!!"


-


-


Bersambung.


-Spoiler Bab Selanjutnya-


"Sebaiknya kontrak nikah itu kita akhiri saja hari ini. Aku tau, meskipun di depanku kau bersikap tidak peduli. Tapi sebenarnya hati kecilmu sangat tersiksa hidup satu atap dengan putri wanita yang paling kau benci."


"Aku tidak akan menahanmu, jika ini pilihanmu dan menurutmu yang terbaik. Maka pergilah, dan sebagai mantan suamimu, aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu."


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2