
Luna memasuki kamar Jordan dan menemukan pria itu sedang berkutat dengan laptop miliknya, di temani kaca mata berframe hitam yang setia bertengger di hidung mancungnya. Luna tersenyum tipis melihat wajah tampan kekasihnya yang terlihat serius. Saking seriusnya, sampai-sampai Jordan tak menyadari kehadirannya.
Tak ingin mengganggu kesibukan Jordan, Luna berjalan menuju kasur super empuk milik pria itu dan berbaring di sana.
Dreett.. Dteeett .. Dreett ..
Detik berikutnya terdengar dering ponsel Jordan berbunyi, raut wajahnya semakin datar setelah melihat sederet nama yang tertera di layar ponsel pintarnya.
"Hm." Kata ambigu yang mengawali percakapan itu.
"Jordan, kau sudah menerima emailku?" Tanya lawan bicara Jordan.
"Hm." Lagi-lagi kata ambigu yang keluar dari bibir Jordan.
Raut wajahnya sudah tak lagi bersahabat sejak beberapa saat yang lalu. Bisa saja Ia langsung menyerang lawan bicaranya, jika Ia tidak membutuhkan penjelasan lebih "Jelaskan." Pinta Jordan, nada bicara lebih dingin dari biasanya.
"Paman Jimmy, dia bekerja sama dengan Bryan dan Kim Doori untuk menjatuhkan keluarga kita. Mereka menggunakan berkas palsu untuk mengklaim jika saham 60% milikmu yang selama ini jadi misteri sebagai miliknya, dan sekarang----"
"MEMANGNYA APA SAJA YANG SELAMA INI KAU KERJAKAN, DAVID TANG." Amuk Jordan penuh kemarahan.
__ADS_1
Dia bicara dengan nada tinggi penuh intimidasi. David terkesiap begitu pula dengan Luna yang sedari tadi berbaring di tempat tidur Jordan, karena selama mengenalnya. Belum pernah dia melihat Jordan semarah itu.
"Aku pikir, selama ini aku sudah berusaha sebaik mungkin, tapi--."
"Nyatanya kau malah mengacaukannya." Sela Jordan dengan nada tajam "Kau selalu sibuk dengan para wanita murahan itu dan mengabaikan TANGGUNG JAWABMU SEBAGAI SEORANG PEMIMPIN."
Terdengar helaan nafas panjang meluncur dari bibir Jordan. Ia bersyukur karena saat ini tidak berhadapan langsung dengan muka seram Jordan yang sedang marah.
Bisa-bisa Ia akan mati berdiri melihat tatapan mematikan adiknya, mendengar suara kemarahannya saja sudah membuat David merinding, sampai-sampai Ia melupakan bagaimana caranya untuk bernafas. Apalagi jika harus berhadapan langsung dengannya.
"Jordan, kau hampir saja membuatku jantungan. Aku tau, ini memang salahku. Dan kita harus menemukan cara untuk mengatasi masalah ini."
"Prokkk ,, Prokkk ,, Prokkk." Jordan mengerutkan dahinya mendengar tepukan tangan dari seberang sana.
"Apa yang perlu kau soraki?" Jordan berkata ketus. David terkekeh.
"Tidak apa-apa, hanya saja suatu kejutan mendengar mu bicara panjang lebar." Sahut David, Jordan mendecih tidak suka. Sebelum sang kakak semakin banyak bicara, Jordan memutuskan sambungan telfonnya dan melemparkannya begitu saja.
Jordan memijit keningnya yang masih terlilit perban, kedua lengannya bertumpu pada meja di depannya. Sasuke mengacak rambut coklatnya."SIA!" Teriaknya marah.
__ADS_1
Dengan kasar Jordan mendorong mundur kursi putar yang Ia duduki lalu berdiri. Terkejut saat mendapati Luna duduk di atas tempat tidurnya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tubuh Luna menegang saat melihat Jordan menghairinya, auranya sungguh mengerikan. Tatapannya dingin penuh intimidasi, buru-buru Ia menundukkan wajahnya tak sanggup menatap mata tajam itu lama-lama.
"Luna, sejak kapan kau ada di kamar ini?" pertanyaan itu membuat dia tersadar.
Luna mengangkat wajahnya, matanya bersirobok dengan mata kelam milik Jordan "Apa kau mendengar semuanya?" Ucapnya dingin,
Luna kembali menundukkan wajahnya. Tak berani membalas tatapan Jordan yang super mengerikan itu. "Maaf, aku tidak bermaksud untuk menguping pembicaraanmu dengan, David Gege. Aku datang kesini karena aku merasa bosan, aku masuk sebelum kau menerima panggilan dari kakakmu." Tuturnya panjang lebar.
Jordan mendengus. "Lalu kenapa kau tidak langsung menegurku?" Tanya Jordan lagi.
"Kau terlihat sibuk jadi aku tidak berani mengganggumu." Jawabnya lirih.
Luna kembali menundukkan wajahnya, Jordan menarik nafas panjang kemudian mengambil tempat di samping wanita itu, sedikit bersalah melihat wajah takut kekasihnya. Kemudian dia menarik bahu Luna dan membawa wanita itu kedalam pelukannya. Luna mencengkram kuat pakaian yang membalut tubuh Jordan. "Gomen." Ucap Jordan penuh penyesalan.
Luna menggeleng tanpa melepaskan pelukannya. Bersandar pada dada bidang sang kekasih "Mau jalan-jalan keluar?" tawar Jordan, dia melonggarkan menatap Luna dengan senyum tipis.
Wajah Luna yang sebelumnya murung seketika berseri, dengan cepat Ia mengangguk sebagai jawabannya. "Aku ganti baju dulu." Jordan bangkit dari duduknya dan berjalan kearah ruangan tempat pakaiannya di simpan. Luna pun melakukan hal yang sama. Segera Ia pergi ke kamarnya dan berganti pakaian
xxx
__ADS_1
Bersambung