Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Sahabat Menyebalkan Jordan


__ADS_3

Jordan menjatuhkan tubuhnya pada kursi kerjanya. Kepalanya terasa pening, pekerjaan di Minggu pertamanya membuat dia mendesah berat. Seberat apa pun, tapi Ia tidak akan menyesali keputusannya. Ia hanya ingin mewujudkan impian kecil sang Ibu, yang belum terwujud hingga akhir hayatnya. Yakni menjadi seorang dosen.


Brakkk ... !!! ...


"RUSA!!"


Nyaris saja Jordan terkena serangan jantung dadakan karena ulah seseorang yang tiba-tiba muncul sambil berteriak dan mengejutkannya. Untung saja di ruangan itulah sedang tidak ada orang lain selain Jordan,karena dosen yang lain sedang mengajar.


"Martin Oh, apa kau sudah bosan hidup," geram Jordan dengan pandangan tajam.


Martin Oh tersenyum tiga jari sambil melangkah menghampiri meja sang Adonis. Tidak tampak raut bersalah di wajahnya, hanya cengiran konyol andalannya.


"Maaf, aku terlalu bersemangat saat mendengar jika dosen baru itu adalah dirimu. Aku tidak masuk beberapa hari karena sakit panu. Oya bagaimana hari-harimu selama satu Minggu ini? Kau memiliki kesan khusus?" Martin memandang Jordan yang hanya di balas tatapan sebal olehnya.


Martin mendengus karena tak mendapat jawaban memuaskan dari Jordan, pasalnya pria itu memilih untuk bungkam.Tak ingin ambil pusing, Jordan mengambil ancang-ancang untuk meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


"Sudah waktunya, kelasku akan di mulai 10 menit lagi. Nanti ketemu lagi." Jordan melambaikan tangannya sebelum sosoknya menghilang di balik pintu


Jordan menghela napas. Kenapa dia harus memiliki sahabat aneh seperti Martin? Tapi justru sikap konyolnya itulah yang membuat Jordan sering terhibur. Tak ingin ambil pusing, Jordan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


xxx


"Luna, disini." seru Tiffany saat melihat kedatangan sahabatnya tersebut. Tiffany sedang menyantap makan siangnya bersama Devan.


Dengan tenang, Luna menghampiri mereka berdua. Namun tanpa sengaja dia malah bertabrakan dengan seseorang. Beruntung orang itu langsung menahan pinggang Luhan sehingga dia tidak berakhir mengenaskan di lantai.


Luna menggeleng. "Aku tidak apa-apa senior, aku baik-baik saja. Bukan salahmu juga, aku saja yang kurang berhati-hati. Maaf, aku permisi dulu." Luna beranjak dari hadapannya dan pergi begitu saja.


Laki-laki yang dipanggil senior oleh Luna lantas menoleh dan menatap gadis itu yang semakin menjauh. Sudut bibirnya tertarik keatas, kemudian dia berbalik dan melanjutkan langkahnya melenggang pergi meninggalkan kantin.


"Kau mau pesan apa? Biar aku pesankan untukmu." ucap Tiffany.

__ADS_1


Luna menggeleng. "Tidak perlu. Aku masih kenyang, tapi kau bisa memesankan minuman dingin untukku. Aku haus," jawabnya.


Tiffany memicingkan matanya. "Apa kau sudah makan siang?" tanya Tiffany memastikan. Luna mengangguk. "Kapan, kenapa aku tidak melihatnya, bahkan aku sudah disini sedari tadi, bukankah begitu Dev?" Devan mengangguk.


Luna menghela napas. "Kenapa lama-lama, kau malah seperti detektif saja sih. Aku memang tidak makan siang disini, tapi di atap kampus. Sudah jangan tanya lagi, cepat pesankan aku minuman dingin, tapi sekalian makanan juga tidak apa-apa. Aku belum terlalu kenyang." Ucapnya.


Tiffany menghela napas. Jika saja bukan Luna, pasti Tiffany sudah memukul kepalanya. Tapi berhubung itu Luna, jadi dia tidak berani. Bukan karena tidak berani , tapi dia tidak ingin mencari masalah dengan sahabatnya ini. Bukan apa-apa, hanya saja Luna sangat mengerikan jika sedang kesal dan marah. Bisa-bisa dia mendiaminya selama 7 hari 7 malam.


Sementara itu. Alasan Luna tidak memberitahu Tiffany dengan siapa dia makan siang, adalah untuk menghindari huru-hara. Luna tahu betul mulut sahabatnya ini. Bisa-bisa dia membuat kehebohan dan akan terjadi huru-hara besar yang mengerikan.


"Baiklah, tunggu sebentar." Ucapnya dan pergi begitu saja.


Luna menyapukan pandangannya. Dan tanpa sengaja matanya bersirobok dengan mata hitam senior yang tadi tidak sengaja bertabrakan dengannya. Entah hanya perasaanya saja, atau benar adanya kalau dia terus memperhatikannya. Tetapi Luna tak mau ambil pusing. Toh dia memiliki mata, jadi terserah dia mau menatap siapa.


xxx

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2