
Jordan memagut dirinya di depan cermin. Dia tampak tampan dan gagah dalam balutan setelah jas hitamnya. Dia telah mengambil keputusan, mulai hari ini akan mengambil alih posisi CEO yang selama ini ditempati oleh David Tang, kakaknya.
Kedatangan Luna menyita sedikit perhatiannya, Jordan menoleh membuat dua pasang mata berbeda warna itu saling bertemu dan bersirobok."Ge, kau terlihat tampan dan gagah dalam balutan jas itu." Ucap Luna.
"Tentu saja, siapa dulu yang memilihkannya." jordan menarik pinggang Luna hingga wanita itu jatuh ke dalam pelukannya. Tangan kanan Jordan melingkari pinggang Luna, sementara tangan kirinya membelai pipi putih nan mulus milik wanita itu.
"Aku," jawab Luna.
Luna mengangkat kedua tangannya dan memeluk leher Jordan. Pandangannya tertuju pada bibir Kiss Able milik pria itu. Luna mendekatkan wajahnya lalu mengecup singkat bibir suaminya.
"Manis, pantas saja aku tidak pernah bosan menikmatinya." Ucap Luna setelah melepaskan tautan bibirnya.
"Kau semakin berani saja, Sayang. Dan sesingkat itu tidak cukup untukku," timpal Jordan dan berbalik mencium bibir Luna, memagut dan melumattnya dengan penuh penekanan.
Namun ciuman tersebut tidak berlangsung lama, Jordan mengakhirinya tepat di menit ke satu, dan setidaknya lebih panjang ciuman Luna sebelumnya.
"Kau benar-benar akan mulai kerja hari ini?" Luna melepaskan pelukannya lalu membantu Jordan memakai jasnya kemudian merapikan dasinya yang masih sangat-sangat berantakan.
Jordan mengangguk. "David, dan yang lain sudah membuat rencana. Hari ini akan di adakan rapat para pemegang saham, dan ini sudah saatnya untuk aku mengakhiri semua kekacauan ini!" ujar Jordan dengan mantap.
"Aku mendukungmu, Ge. Apa pun keputusanmu, aku yakin itu adalah yang terbaik!" ucap Luna, dia tersenyum tulus membuat hati Jordan menghangat. Dia merasa beruntung memiliki wanita ini di sisinya, Ia memang tidak salah memilih pendamping hidup, Luna memang yang terbaik diantara yang terbaik .
Luna sedikit tersentak saat Jordan tiba-tiba saja menarik tengkuknya dan mendaratkan sebuah ciuman di bibirnya. Itu ciuman ketiga mereka pagi ini. Memberikan lumattan-lumattan kecil pada bibir merah muda sang dara, mereka sama-sama menggerakkan kepalanya seirama.
Jordan semakin memperdalam ciumannya dengan sedikit menekan tengkuk Luna agar ciuman itu tidak mudah terlepas. Tak ingin di anggurkan, tangan satunya memeluk pinggang Luna dengan protektif. Setelah lebih satu menit, Jordan melepaskan ciumannya dan membawa wanita itu kedalam pelukannya.
"Terimakasih, Luna, aku beruntung memilikimu di sisiku," ucap Jordan setengah berbisik.
Luna mengerutkan dahinya, tidak biasanya sang suami mengucapkan terima kasih "Terima kasih? Untuk apa?" dia melonggarkan pelukan Jordan dan menatapnya penuh tanya.
Jordan tersenyum lembut, mengangkat tangan kanannya kemudian mengusap kepala berhelaian coklat milik Luna dengan lembut, membuat wajah cantik itu langsung memerah karena mendapatkan perlakuan istimewa dari suaminya. Apa yang Jordan lakukan adalah hal yang dulu sering David lakukan padanya, sebagai tanda sayangnya.
"Untuk segalanya," jawabnya tanpa memudarkan senyum di bibirnya. Luna membalas senyum Jordan dan kembali memeluknya.
Seharusnya yang berterimakasih bukanlah Jordan, tetapi dirinya. Karena Luna menemukan kebahagiaan yang selama ini dia impikan, tapi bukan berarti dia tidak bahagia, karena keluarganya memberikan kebahagiaan dan cinta kasih yang sangat-sangat berlimpah di hidupnya. Namun kebahagiaan yang dia rasakan saat ini tentu berbeda, sangat-sangat berbeda.
xxx
Jordan tiba Tang Group. Dia tidak datang sendirian, namun bersama beberapa kolega penting yang sebelumnya telah membatalkan semua kontrak kerjasamanya dengan Tang Group, ketika perusahaan itu mulai diambil alih oleh Jimmy. Dan kedatangan mereka tentu saja mengejutkan banyak pihak, apalagi ini pertama kalinya Jordan menginjakkan kakinya di Tang Group.
Suasana kantor yang awalnya begitu tenang mendadak riuh karena kedatangan mereka. Para karyawan membicarakan mereka, bertanya-tanya siapa sosok-sosok tampan tersebut. Dan mereka seperti mendapatkan angin segar di tengah padang pasir yang tandus.
"Siapa para tuan muda itu? Mereka tampan-tampan sekali, rasanya aku mendapatkan banyak asupan vitamin A setelah melihat mereka."
"Aku tidak tahu, di antara semua pria tampan itu hanya satu orang yang aku kenal, yakni Tuan Muda Martin, karena dia satu-satunya yang pernah datang dan sering berkunjung kemari."
"Ya, benar sekali."
__ADS_1
"Astaga, Kenapa bisa ada orang-orang setampan mereka? Apalagi yang berjalan paling depan, dia sangat tampan dan penuh pesona."
"Tapi kenapa jika dilihat-lihat, Dia terlihat mirip dengan CEO, mungkinkah dia masih ada hubungannya dengannya?"
"Aku tidak tahu, dan aku tidak mau tahu. Yang penting aku mendapatkan banyak asupan Vitamin lagi ini."
Jordan mendengus di tengah langkahnya. Dia merasa geli sendiri dengan sikap para karyawan tersebut yang menurutnya sangat berlebihan. Dan Jordan tidak mau ambil pusing. Dia berjalan tenang menuju ruang rapat, lalu berikan kejutan pada Jimmy dan antek-anteknya.
xxx
"Maaf, aku terlambat!" ucap Laura penuh sesal.
Jimmy menggeleng. "Tidak masalah. Apa kau membawa yang aku minta?" tanya Jimmy memastikan.
Laura mengangguk. "Ya, aku membawanya dan persis seperti yang Tuan arahkan." Ucapnya.
Jimmy menyeringai. "Kerja bagus, Laura. Kau memang yang terbaik," Jimmy menepuk bahu Laura dan melewatinya begitu saja.
"Apa semuanya sudah datang?" Tanya Bryan dan di balas anggukan oleh Laura.
"Sudah, semua sudah menunggu di dalam. David Tang, juga sudah tiba." Dia berbicara layaknya seorang profesional.
Bryan dan Jimmy tersenyum. "Bagus, kita bisa mulai rapatnya!"
Mereka bertiga bersama-sama memasuki auditorium. Laura berjalan paling belakang, Ia segera menyusul Jimny dan Bryan setelah menutup pintu ganda tersebut. Semua kursi telah terisi penuh. Rupanya mereka yang bersangkutan telah datang semua.
Waktu terasa berjalan dengan begitu besar lambat. Tanpa terasa rapat telah berlangsung selama lebih dari satu jam ketika Laura membahas mengenai kekacauan yang terjadi di perusahaan ketika berada ditangan David Tang.
Dan untuk itu, para Investor menyetujui usul tim Jimny untuk melengserkan David dari posisinya sebagai CEO
Di tengah perdebatan alot mengenai kekacauan itu, tiba-tiba Jimmy memberi kabar yang sangat mengejutkan semua pihak, namun kabar itu tidak untuk Nathan dan David, karena mereka berdua telah mengetahui permainan yang dilakukan oleh Jimmy antek-anteknya.
Laura mengambil sebuah dokumen yang kemudian dia berikan pada Jimmy. Jimmy segara memperlihatkan pada semua pemegang saham yang ada di ruangan tentang kepemilikan saham tersebut.
Dalam dokumen itu menyebutkan jika Dialah pemilik dari 60% saham yang selama ini menjadi misteri. Ketika ada yang bertanya, Jimmy beralasan karena tidak ingin luar tau jika Ia lah pemilik saham tersebut. Dia tidak ingin beritanya menjadi heboh.
"Ini adalah bukti-bukti jika saya adalah pemilik saham tersebut. Jika Anda sekalian tidak percaya, silahkan di periksa keasliannya!" ujar Jimmy sambil menunjukkan dokumen tersebut pada semua pemegang saham.
"Kenapa kami harus mempercayai Anda jika dokumen itu asli bukan palsu? Bisa saja Anda memalsukannya dan mengklaim jika saham 60% itu sebagai milik Anda!" Nathan terlihat kesal dengan pernyataan Jimmy. Ia yang sedari tadi diam pun akhirnya angkat bicara.
"Anda meragukannya, Tuan Muda Qin? Kenapa? Sepertinya Anda sangat membela David, apa kalian telah melakukan persekongkolan? Dan jangan-jangan, kaulah dalang di balik penggelapan dana perusahaan?" tuding Jimmy dengan nada telak.
"Jaga bicaramu, Paman!!" Jimmy yang tidak terima sahabatnya di fitna, ia langsung berdiri dan melayangkan keberatannya.
"Anda bisa kami tuntut atas pencemaran nama baik," sahut Nathan menambahkan.
"Kenapa anda harus marah? Apa karena Tuan Muda Qin adalah sahabatmu, makanya kau tidak terima atas tuduhan itu?" Jimmy menyeringai melihat raut kesal David. "Aku hanya menyampaikan asumsi saja," lanjutnya.
__ADS_1
"Kenapa bicara Anda seperti ingin menjatuhkan CEO terdahulu dengan sengaja? Atau jangan-jangan Anda memang memiliki maksud terselubung?" Sahut salah seorang peserta dalam pertemuan itu menyampaikan pendapatnya.
"Silahkan Anda ingin berbicara apa saja, Tuan Han. Tapi itu tidak akan menutup fakta jika Presdir David bukanlah seorang pemimpin yang baik. Jia dia bersungguh-sungguh dalam memimpin perusahaan ini, tidak mungkin perusahaan mengalami masalah seserius ini," ujar Jimmy dengan seringai liciknya.
"Jadi apa yang kau inginkan, Paman?" David menatap Jimmy dengan pandangan tidak bersahabat.
"Kau meninggalkan kursi kepemimpinan dan menyerahkan posisi itu padaku sebagai pemegang saham terbesar, itu yang aku inginkan. Dan untuk anda sekalian. Anda bisa menentukan mana yang terbaik, mempertahankan pemimpin lama dan membiarkan perusahaan tetap dalam posisi kritis seperti ini, atau mengikuti saya dan membuat perusahaan menjadi lebih baik. Silahkan Anda putuskan!"
Para pemegang saham saling berbisik-bisik, sementara David tampak tenang-tenang saja seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi hal yang berbeda justru di rasakan oleh Tuan Han, Ia resah dan takut jika perusahaan akan jatuh ke tangan Jimmy yang jelas-jelas gila posisi itu.
Dia tahu betul Jimmy orang yang seperti apa. Bukannya membaik, perusahaan akan semakin hancur. Dan Ia menyimpan besar harapan pada Jordan, Tuan Han sangat berharap jika bungsu Tang akan hadir dalam rapat ini meskipun kemungkinan itu sangat kecil.
"Bagaimana jika kita melakukan voting untuk menentukan siapa yang lebih pantas dan lebih kayak untuk menjadi pemimpin tertinggi Tang Group selanjutnya." Laura memberi usul untuk memecahkan kemelut di dalam ruangan auditorium yang jelas telah di rencanakan oleh Jimmy dan antek-anteknya
"Untuk apa kita melakukan voting? Karena pemimpin Tang Group yang sebenarnya sudah ada disini!!" sahut seseorang dari arah pintu.
Beberapa pria memasuki ruangan auditorium dan mengejutkan semua orang yang ada di sana, Jimmy terutama. Dia benar-benar tidak memperkirakan jika orang itu akan datang. Tidak hanya sendirian, tetapi bersama beberapa CEO muda yang sebelumnya telah menarik semua investasinya dari Tang Group. Mereka adalah Jordan, Minho, Key, Ren dan Dean.
Jordan menghampiri Jimmy lalu menyerahkan sebuah dokumen kepemilikan saham yang 60% itu. Seringai tampak menghiasi sudut bibirnya.
"Ini adalah dokumen yang asli, disini tertulis jelas siapa pemilik saham misterius tersebut. Saham 60% itu adalah milikku, dan dengan bangganya kau mengakuinya dengan memalsukan bukti kepemilikannya. Paman, kau telah kalah." ujar Jordan dengan seringai tajamnya.
Jimmy menggeleng. Dia mengambil dokumen tersebut lalu memeriksanya, Jordan tidak berbohong. Dia benar-benar pemilik saham itu, dan dokumen yang dia tunjukkan asli. Jimmy menggeleng, dia tidak terima, dia tidak bisa menerima kekalahan seperti ini.
Suasana di ruangan itupun menjadi riuh. Semua orang saling berbisik dan membicarakan tentang kebohongan Jimmy. Tapi Bryan tidak tinggal diam, masalah ini masih bisa diatasi, dan kali ini dirinyalah yang akan turun tangan.
"Jangan mengada-ada, Tuan Muda Tang. Bagaimana jika dokumen yang kau tunjukkan itu justru Palsu? Tuan Jimmy, tidak mungkin berbohong dan asal mengklaim saja.Lagipula sudah ada buktinya jika saham tak bertuan itu adalah miliknya. Anda datang-datang membuat kehebohan!" ucap Bryan melayangkan protesnya.
"Aku tidak mengada-ada, karena yang aku katakan adalah fakta. Kenapa kau tampak begitu kesal, Tuan Song? Ah, jangan-jangan Anda terlibat persekongkolan dengan Pamanku ya? Aku datang bersama pengacara keluarga Tang, orang yang sudah bekerja pada Kakek selama bertahun-tahun. Jika Anda meragukannya, silahkan periksa sendiri."
"Semua data-data mengenai kepemilikan saham itu sah di mata hukum. Jika anda sekalian tidak terima silahkan di periksa!" ujar Jordan. Dia menyerahkan beberapa berkas asli mengenai kepemilikan saham 60% persen itu pada beberapa pemegang saham. Orang-orang itu saling berbisik-bisik kemudian mengembalikan dokumen itu pada Jordan.
"Tapi, Tuan Muda. Perusahaan membutuhkan suntikan dana dan Investasi yang sangat besar. Sedangkan beberapa perusahaan memutuskan untuk menarik semua sahamnya dan membatalkan kerjasamanya dengan perusahaan kita." Ucap salah seorang pemegang saham.
Jordan menoleh dan menatap orang itu. "Anda tidak perlu cemas, tiga perusahaan yang dulu telah menarik sahamnya kini bersedia menyuntikkan dana untuk perusahaan ini dan menanam sahamnya kembali!" semua merasa lega dan bertepuk tangan.
Tatapan Jordan bergulir pada Bryan, Jimmy dan Laura yang sudah memucat. Seringai kemenangan tercetak jelas di wajah tampannya.
Masalah telah teratasi, dan tiga orang itupun dilaporkan ke polisi atas tuduhan pemalsuan dokumen, pencucian uang dan berbagai masalah lainnya. Tang Group telah kembali ke tangan yang tepat.
Dan mulai detik ini, perusahaan akan diambil alih oleh Jordan, dia akan menempati posisi CEO, sedangkan David akan menggantikan posisi sang adik sebagai dosen. Karena menjadi dosen lebih menyenangkan daripada menjadi CEO yang jelas-jelas sangat memusingkan.
"Kerja bagus, Jordan. Kau memberikan pukulan telak pada mereka bertiga. Sekarang Tang Group sudah berada ditangan yang tepat. Kakek dan Papa pasti akan merasa senang dan tenang. Untung ada dirimu, kalau tidak, mungkin aku akan digantung hidup-hidup oleh mereka karena kelalaianku selama ini. Adik, kau adalah penyelamatku. Dan sebagai ucapan terimakasih, Kakak akan mentraktir kalian semua. Kemenangan ini harus dirayakan dengan sangat meriah." Ujar David dengan semangat berapi-api.
Semua mengangguk antusias, kecuali Jordan yang terlihat biasa-biasa saja dengan pose cool-nya."Kalau begitu malam ini traktir kami semua minum sampai puas." Ucap Jordan dan beranjak pergi.
"Bukan masalah."
__ADS_1
xxx
Bersambung