
Banyak cara yang dilakukan oleh para gadis dan wanita untuk mengucapkan selamat tinggal pada masa lalunya. Salah satunya adalah dengan memotong rambut mereka, dan hal itu pula yang dilakukan oleh Vivian.
Berbeda dari mereka yang memilih memangkas rambut panjangnya, justru Vivian tidak menyentuh rambut panjangnya sama sekali, dia hanya merubah warna dan modelnya saja.
Dan hal itu semata-mata Vivian lakukan untuk membuang sial. Pertemuannya kembali dengan sang kekasih telah membuka luka lama dihatinya, dan Vivian yang sudah tidak ingin terlibat apapun dengan masa lalunya memutuskan untuk melakukan perubahan kecil pada dirinya.
Meskipun kata perpisahan belum terucap dari bibir keduanya, belum ada kejelasan kenapa pria itu sampai pergi meninggalkannya. Apapun alasannya, Vivian tidak bisa menerimanya kembali apalagi sampai memberinya kesempatan kedua. Karena satu kali menyakiti, pasti akan ada hari lainnya lagi dimana dia akan terluka lagi oleh orang yang sama.
"Bagaimana, Vi. Apa kau puas dengan hasilnya?" Tanya si pemilik salon tempat Vivian merubah penampilannya.
Gadis itu memperhatikan penampilan barunya. Rambutnya yang semula lurus berwarna coklat terang, sekarang menjadi lebih gelap dan bergelombang. Vivian tersenyum lebar, dia puas dengan rambut barunya.
"Yes, soal urusan rambut, kau memang ahlinya Bob." Jawab Vivian tersenyum. "Soal pembayaran, seperti biasa, aku akan mentransfernya."
"No, kali ini gratis..tis..tis.. kau adalah pelanggan tetap disini, dan setiap Minggu kau selalu datang kemari untuk perawatan rambut dan kukumu. Jadi anggap saja ini sebagai bonus dari salonku untukmu."
"Thanks, Bob. Kalau begitu aku pergi dulu," ucap Vivian.
Vivian meninggalkan salon langganannya dan bersiap pergi kuliah. Kebetulan tidak ada kelas pagi jadi Vivian lebih bebas untuk datang agak siang. Kebetulan jarak antara salon dan halte hanya beberapa meter saja, jadi Vivian tidak perlu berjalan lebih jauh lagi untuk mencari taksi.
Kedatangan beberapa pemuda membuat perhatian Vivian sedikit tersita. Dari gerak-gerik dan sikapnya, terlihat jelas jika mereka memiliki niat yang tidak baik padanya. Bukannya panik dan langsung pergi, Vivian tetap duduk dan tak terlalu menghiraukan mereka.
Gadis itu mengeluarkan ponselnya lalu memasang headset ke telinganya. Hal yang selalu dia lakukan ketika menunggu busnya datang. Salah satu dari kelima pemuda itu mendekatinya. "Hai, Nona. Kenapa sendirian saja. Kau mau kemana?" Tanya pemuda itu.
Vivian menoleh, menatap dingin pemuda disampingnya. "Kau bertanya padaku?"
"Kalau bukan Nona lalu siapa lagi. Bukankah hanya Nona satu-satunya gadis disini," jawab pemuda itu.
"Jika sendirian, bagaimana kalau Nona pergi bersama kita saja. Kita bisa mengantar Nona ketempat tujuan, bukankah begitu teman-teman." Ucap pemuda lainnya.
"Maaf, adik-adik kecil. Bus ku sudah datang, sedikit nasihat untuk kalian berlima, daripada kalian melakukan hal-hal tidak berguna seperti ini. Lebih baik sekolah yang benar, menjadi berandalan hanya merugikan diri sendiri dan membuat malu keluarga. Oke, Nunna pergi dulu ya." Vivian bangkit dari duduknya dan masuk ke bus yang sedari tadi dia tunggu.
__ADS_1
Setibanya di dalam bus, Vivian ditarik oleh seorang pemuda yang duduk di bangku paling belakang. Bukannya marah dan melayangkan protes, gadis itu justru mengurai senyum lebar. Karena yang menariknya bukan orang asing melainkan Nathan.
"Wow, kau pergi ke kampus dengan wujud aslimu, tapi kenapa tidak membawa kendaraan sendiri?"
"Aku malas mengemudi, lebih enak naik kendaraan umum. Kau mengganti warna dan model rambutmu, ingin membuat perubahan eh!" Tebak Nathan 100% benar.
"Yups, ini adalah salah satu caraku. Ngomong-ngomong penampilanmu hari ini oke juga, serampangan tapi tetap sopan."
"Ck, sebenarnya kau ingin memujiku atau mencibirku?!" Kemudian Nathan membuang muka ke arah lain, dia tidak ingin jika Vivian sampai melihat wajahnya yang memerah.
Nathan memakai celana jeans hitam, t-shirt putih pres body dan jaket kulit hitam. Vivian akui, ini adalah penampilan Nathan yang paling rapi semenjak mereka mereka bertemu setelah dewasa. Karena biasanya pemuda itu selalu memakai celana yang sobek di bagian lututnya dan pakaian lengan terbuka.
"Siapa yang mencibirmu, aku mengatakan yang sebenarnya. Biasanya kau selalu memakai celana yang lututnya compang-camping, tapi sekarang kau pakai celana yang utuh. Apa yang aku katakan ini salah?!"
"Hn,"
"Ck, dasar rusa kutub menyebalkan, sudah dibilang jangan pakai bahasa planet yang tidak aku mengerti!!" Gerutu Vivian.
"Ya, awalnya. Tapi mereka aku berikan sebuah nasehat yang berharga. Lagipula siapa yang berani menggangguku, apa mereka sudah bosan hidup. Jangan salah, begini-begini aku adalah pemegang sabuk hitam dan sedikitnya tiga ilmu bela diri yang aku kuasai. Ingin mencobanya, biasanya bocah begajulan sepertimu jago bela diri,"
"Ck, kenapa kau semakin bawel saja. Kau mau turun atau tidak?" Nathan bangkit dari duduknya dan dia menatap Vivian yang masih belum beranjak dari posisinya.
Vivian melihat keluar, benar mereka sudah sampai. Ia pun buru-buru berdiri dan turun dari bus diikuti Nathan yang mengekor dibelakangnya. Dan kedatangan mereka langsung menyita perhatian banyak pasang mata, terutama para gadis.
Mereka saling berbisik-bisik membicarakan Nathan, bukan lagi tatapan mencemooh seperti yang kemarin mereka tunjukkan ketika Nathan masih dengan penampilan cupunya, melain tatapan kagum penuh damba. Mereka tidak tau siapa pemuda itu, dan berpikir jika dia itu adalah mahasiswa baru.
Vivian dihentikan oleh beberapa gadis lalu menariknya menjauh dari Nathan. "Vi, siapa pemuda tampan yang datang denganmu itu? Apa dia mahasiswa baru di-kampus kita? Lalu siapa namanya?"
"Oh dia. Apa kalian sungguh tidak mengenalnya?! Dia adalah si cupu Thantan, kenapa? Dia jadi tampan ya?"
"WHAT?! JADI DIA SI CUCU THANTAN?!"
__ADS_1
Vivian tersenyum meremehkan. Dia sudah menduga dengan reaksi mereka saat tau jika pemuda tampan yang datang dengannya itu adalah si cupu Thantan. Vivian menghampiri Nathan yang masih menunggunya. Dengan santainya, dia memeluk lengan pemuda itu.
-
Marissa memanfaatkan keadaannya untuk menarik simpatik dari teman satu kampusnya. Beritanya yang hampir dilecehkan telah menyebar dan mengundang banyak simpatik dari berbagai pihak, termasuk pihak kampus sendiri.
Hal itu tentu saja membuat Marissa sangat senang dan gembira. Dia yang sejak kecil tidak begitu diperhatikan kini malah mendapatkan hal tersebut sebanyak berkali-kali lipat.
Saat masih kecil. Marissa memiliki impian dan cita-cita yang setinggi langit. Dia ingin semua orang menyukainya, dan memasang tinggi dirinya. Disanjung layaknya bintang papan atas dunia, dilayani layaknya ratu kerajaan, dan dimuliakan seperti Tuhan. Tapi sayangnya semua itu hanya angan-angan belaka.
"Marissa, pasti kau sangat ketakutan dan trauma dengan apa yang nyaris menimpamu, kami turut prihatin."
"Ya, aku memang sangat ketakutan dan trauma. Aku pikir aku akan kehilangan mahkota berhargaku, tapi Tuhan masih menyayangiku. Dan aku tidak habis pikir dengan orang yang telah menyuruh mereka, apa sebegitu bencinya dia padaku sampai-sampai membayar orang untuk melecehkanku."
"Apa?! Jadi mereka itu ada yang menyuruhnya?"
"Benar, dan orang itu kuliah di kampus ini juga. Begitulah yang dikatakan oleh para pelaku itu."
"Ya Tuhan, jahat sekali dia. Memangnya siapa yang telah melakukannya? Kenapa orang itu begitu tega dan kejam?"
"Aku masih belum tau, tapi yang jelas dia tidak menyukaiku."
Obrolan mereka diinterupsi oleh kedatangan Vivian dan Nathan. Mata Marissa langsung berkaca-kaca ketika melihat kedatangan pemuda itu. Marissa berlari menghampiri Nathan dan langsung memeluknya.
"Nathan, akhirnya kau datang juga. Selamatkan aku, seseorang ingin mencelakai ku. Dia tidak suka kebersamaan kita, jadi dia menyewa para berandalan untuk mencelakaiku."
"Ya Tuhan, jadi itu kekasih Marissa, wah...dia tampan sekali ya. Tapi kenapa malah datang dengan Vivian, jangan-jangan dia adalah orang yang menyewa para berandalan itu untuk mencelakai Marissa karena ingin merebut kekasihnya. Benar-benar gadis jahat!!"
Mendengar hal itu membuat senyum dibibir Marissa mengembang lebar. Usahanya berhasil, Nathan tidak peduli padanya tidak masalah, yang penting dia sudah membuat nama buruk Vivian hancur. Karena itu adalah rencana B yang Marissa miliki.
-
__ADS_1
Bersambung.