Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Kepulangan Nathan


__ADS_3

Atas permintaan ayahnya. Nathan melepas tiga pricing yang menempel di telinganya. Tapi dia menolak untuk mengganti pakaiannya dan hanya membenahi kemejanya yang sebelumnya tak terkancing sempurna. Hanya tersisa 2 kancing teratas yang Nathan biarkan tetap terbuka.


Pemuda itu turun lebih dulu disusul Luis yang kemudian berjalan mengekor di belakangnya. Sepertinya Jesslyn masih belum sadar dengan kepulangan putranya. Buktinya tidak ada penyambutan sama sekali.


Nathan memasuki mansion mewah itu dengan tenang. Beberapa pelayan langsung membungkuk saat berpapasan dengannya. Nathan adalah seorang Tuan Muda, jadi wajar jika dia sangat dihormati dan disegani.


"Kakak!!"


Langkah Nathan terhenti dan perhatiannya teralihkan. Ia menoleh dan mendapati seorang gadis kecil berusia belasan tahun menuruni tangga dengan wajah sumringah.


Tubuh Nathan terhuyung kebelakang. Saat remaja putri berusia 14 tahun menerjangnya dan melompat ke dalam pelukannya. "Kakak, aku merindukanmu." Ucap Lovely sambil mengeratkan pelukannya. Kedua kakinya melingkari pinggang Nathan.


Nathan mendengus geli. Ternyata adiknya ini tidak berubah sedikit pun, Lovely tetap semanja dulu. "Kakak juga merindukanmu," ucapnya.


"Lovely, jangan keterlaluan, Kakakmu lelah jadi cepat turun." Pinta Luis setibanya dia di dalam.


Lovely memanyunkan bibirnya. "Daddy kejam, padahal aku sangat merindukan Kakak." Ucapnya. Dengan terpaksa Lovely turun dari gendongan Nathan.


"Kau bisa manja lagi pada Kakakmu setelah dia istirahat, lalu dimana mamimu?"


"Mami ada di taman, beberapa bunga kesayangannya mati, jadi mami meminta bibi Mia untuk mencabutnya dan menggantinya dengan yang masih segar." Jelasnya.


"Aku temui mami dulu," Nathan beranjak dari hadapan Luis dan Lovely, dia sangat merindukan ibunya dan Nathan sudah tidak sabar untuk bertemu dengan wanita yang telah melahirkannya tersebut.


-


-


Sedih dan kehilangan, Jesslyn merasakan dua perasaan itu saat melihat bunga-bunga kesayangannya terserang hama dan mati. Rasanya dia tidak rela melihat bunga yang telah dia rawat dari kecil dengan sepenuh hati tiba-tiba saja mati.


Kecintaannya pada tanaman memang sudah tidak bisa diragukan lagi. Hampir setiap hari dia selalu menyiram semua tanamannya dan memberinya pupuk seminggu sekali, tapi tetap saja ada bunga yang akhirnya layu dan mati.


"Mia, setelah dicabut, sebaiknya langsung bakar saja biar tidak menular ke pohon yang lain."


"Baik, Nyonya."


Jesslyn menoleh setelah mendengar suara derap langkah kaki seseorang yang datang. Kedua matanya membelalak saat melihat siapa yang sekarang berdiri di depannya sambil mengukir senyum tipis di bibir kiss able-nya.


"Nathan!!" Seru Jesslyn dan langsung berlari memeluk putranya.


Nathan menutup matanya dan membalas pelukan sang ibu. "Mi, aku sangat merindukanmu." Bisik Nathan sambil mengeratkan pelukannya. Selama berada di luar negeri, orang yang paling Nathan rindukan adalah ibunya.


"Mami juga merindukanmu, Nak. Sangat-sangat merindukanmu." Jawabnya.


Nathan melepaskan pelukannya lalu menatap wajah cantik sang ibu yang tidak pernah terkikis oleh waktu. Meskipun usia Jesslyn bukan remaja lagi, tapi dia tetap saja secantik dulu, tetap secantik yang Nathan ingat ketika dia masih anak-anak.

__ADS_1


"Kenapa mau pulang tidak memberitahu, Mami?"


"Kepulanganku tidak direncanakan, tiba-tiba Daddy datang dan membawaku pulang. Dan mulai hari ini kita tidak akan terpisah lagi, aku akan melanjutkan kuliahku di kota ini." Ujar Nathan.


"Itu sangat bagus, dan Mami sangat mendukungnya. Kau pasti lelah, pergilah istirahat. Mami akan segera menyiapkan makanan kesukaanmu, kau pasti lapar." Ucap Jesslyn sambil menangkup sisi wajah putranya.


Nathan mengangguk. "Baiklah, Mi."


-


-


Vivian memasuki sebuah cafe elit yang berada di kawasan Hongdae. Gadis itu hendak bertemu dengan seseorang. Vivian sendiri tidak tau kenapa orang itu mengiriminya pesan dan meminta untuk bertemu.


Seorang pemuda tampan terlihat melambaikan tangannya ketika melihat kedatangan Vivian. Gadis itu tersenyum lalu menghampiri si pemuda.


"Maaf, sudah membuatmu menunggu lama." Sesal Vivian.


Pemuda itu menggeleng. "Tidak, aku juga baru sampai. Oya, kau ingin pesan apa? Kau boleh pesan makanan dan minuman apapun yang ada di cafe ini, aku yang akan membayarnya." Ucap pemuda itu.


"Late saja,"


"Hanya itu?" Vivian mengangguk.


"Oya, Gerald. Sebenarnya ada hal penting apa yang ingin kau katakan padaku, sampai-sampai kau meminta untuk bertemu disini?"


Vivian menghela napas berat. Dia paling benci dengan orang yang banyak basa-basi seperti ini, jika hanya untuk makan dan minum. Waktu berharga yang Vivian miliki sungguh terbuang dengan sangat sia-sia.


"Jika tidak ada hal penting yang ingin kau bicarakan. Sebaiknya aku pergi saja, disini waktuku hanya terbuang sia-sia."


Gerald menahan lengan Vivian ketika gadis itu hendak pergi. "Vivian, tunggu sebentar. Baiklah, aku langsung saja pada intinya. Jadilah kekasihku. Selama ini aku menyukaimu, untuk itu berkencanlah denganku."


Vivian melepaskan genggaman tangan Gerald dan menggeleng. "Maaf, Gerald. Sebaiknya kita berteman saja, untuk saat ini aku hanya ingin fokus pada kuliahku, jadi jangan memaksaku. Sekali lagi aku minta maaf," Vivian membungkuk dan pergi begitu saja.


Kedua tangan Gerald terkepal kuat. Kesal, marah dan kecewa, semua bercampur aduk menjadi satu. Vivian menolaknya, dan dia adalah gadis pertama yang menolak untuk menjadi kekasihnya.


"Sial, berani sekali gadis itu menolakku. Dia pikir dia itu siapa, tunggu saja setelah kau merasakan surgaku. Pasti kau akan bertekuk lutut dan memohon supaya aku menikahimu!!"


-


-


"Nathan, kau mau kemana?" Seru Jesslyn melihat Nathan menenteng helmnya.


"Keliling kota sebentar, Mi. Sekalian bertemu dengan teman-temanku. Malam ini aku makan malam di luar, jadi tidak perlu menungguku."

__ADS_1


Jesslyn menghela napas berat. Baru juga tiba, tapi malah pergi lagi. Bahkan dia tidak berencana makan malam diluar, tapi Jesslyn juga tidak bisa mencegahnya, bagaimana pun juga Nathan sudah dewasa dan dia bukan anak kecil lagi.


.


.


Motor besar milik Nathan melaju kencang pada jalanan kota yang lumayan legang. Dia mengendarai motor besarnya dengan kecepatan penuh, motor besarnya menyalip beberapa kendaraan yang melaju tenang di depannya.


Tidak ada yang berubah pada kota ini, di dalam ingatannya, Seoul adalah kota besar dengan gedung-gedung tinggi pencakar langit. Hanya saja sekarang jauh lebih modern dari pada ketika dia datang untuk pertama kali ke Korea.


Motor besar Nathan kemudian berhenti di Sungai Han. Pemuda itu melepas helmnya kemudian turun dari kuda besi tersebut. Pandangannya tertuju pada satu objek, yakni seorang gadis yang sedang berdiri di tepi sungai.


Tak terlihat seperti apa rupanya, hanya punggung dan rambut panjangnya yang terurai. Sosok itu terlihat asing namun terasa familiar.


Nathan mengangkat bahunya acuh, tujuannya sayang ke sungai ini bukan untuk memandangi seorang gadis, tapi untuk menikmati pemandangannya yang berbeda kala senja tiba.


"Nathan!!"


Gadis itu sontak menoleh setelah mendengar seseorang memanggil nama yang begitu familiar itu. Dan kontak mata diantara mereka berdua pun tak bisa terhindarkan.


Dua pasang mutiara berbeda warna bertemu dan saling menatap selama beberapa detik. Sebelum akhirnya. Nathan sendiri yang mengakhirinya. Tiga pemuda kini tengah memeluknya, siapa lagi mereka jika bukan Aria, Sean dan Dio.


Nathan mengirim pesan singkat pada mereka dan mengatakan jika dia berada di sungai Han. Dan mereka pun langsung datang. Bukan hanya ketiga pemuda itu yang datang, tapi satu gadis berambut hitam juga hadir disana.


"Marissa,"


"Aku yang memberitahunya. Dan Marissa sangat senang saat mendengar kau kembali," ujar Sean.


"Nathan, aku merindukanmu." Marissa hendak memeluk Nathan tapi pemuda itu malah menghindarinya.


"Sudah lama kita tidak berkumpul. Bagaimana kalau malam ini kita pergi ke club', biar aku yang mentraktir kalian," usul Nathan yang langsung disambut baik oleh teman-temannya itu. "Dan kau, Sa. Sebaiknya kau tidak usah ikut, tidak baik bagi seorang gadis mendatangi club' malam. Pulanglah,"


Marissa menundukkan kepalanya. Sedih dan kecewa tercetak jelas diwajahnya. Dia pikir sikap Nathan akan berubah setelah mereka dewasa, tapi ternyata dia salah, Nathan tetap saja dingin dan acuh padanya.


"Aku mengerti, tanpa kau beritahu pun," gadis itu memaksakan diri untuk tersenyum.


"Vivian..!"


Kini giliran Nathan yang terkejut setelah mendengar nama itu disebut. Dia menoleh pada gadis cantik yang berdiri di tepi sungai. Gadis itu melangkah menjauh menghampiri sosok mungil yang memanggilnya itu.


Tiba-tiba jantung Nathan berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Sudut bibirnya tertarik keatas, membentuk lengkungan indah di wajah tampannya.


"Vivian, akhirnya kita bertemu lagi."


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2