
Langkah kaki Vivian dan seorang pria berpenampilan rapi sama-sama terhenti mana kala dua pasang bola mata berbeda warna itu saling bertemu dan menatap selama beberapa saat.
Vivian tiba-tiba membeku, apakah dia sedang berhalusinasi? Tidak, itu adalah wajah yang selama bertahun-tahun selalu hadir menjadi mimpi buruknya.
Ia bisa mendengar suara derap langkah kaki yang mendekat. Ia bahkan mengenali dengan sangat baik suara langkah kaki itu. Terasa jelas menyentuh tanah. Vivian ingin pergi menghindar, tapi tidak bisa, kedua kakinya terasa kaku untuk di langkahkan, seolah-olah kakinya berubah menjadi batu.
"Vivian, lama tidak bertemu," pria itu menyapa.
Pria itu bersikap seolah-olah mereka hanya kawan lama yang bertemu kembali. Vivian tidak menjawab, ia hanya memasang wajah dingin dan tanpa ekspresi.
Ia membenci laki-laki ini, benci dengan waktu yang mempertemukan mereka kembali. Pertemuan yang telah membuka luka lama dihatinya yang mulai tertutup rapat. "Lama tidak jumpa ya, Vi?" Pria itu mendekat dan memeluk Vivian.
Vivian tetap diam, tubuhnya kaku sesaat, tidak berniat ingin membalas pelukan pria ini. Dia yang tidak menerima respon hanya tersenyum. Kemudian melepas pelukannya. Vivian mengangkat wajahnya dan menatap pria itu dingin.
"Apa saya mengenal Anda, Tuan?! Apa Anda tidak pernah belajar etika sebelumnya?! Bagaimana bisa Anda memeluk orang asing di tempat umum seperti ini?!" Setelah cukup lama bungkam, akhirnya sebuah kalimat menusuk keluar dari bibir Vivian.
"Vivian, apa yang kau bicarakan? Kenapa kau berkata demikian dan bersikap seolah-olah aku ini adalah orang asing?!" Pria itu meminta penjelasan.
Vivian mengepalkan tangannya. "Kita memang tidak saling mengenal, lalu Anda ingin agar saya bersikap bagaimana? Maaf, saya harus pergi sekarang!!" Vivian menyentak tangan laki-laki itu dan pergi begitu saja.
Baru saja dua langkah dia berjalan. Namun sosok Nathan tiba-tiba muncul dihadapannya sambil membawa dua botol air mineral. "Ada apa?" Pemuda itu menatap Vivian dan bertanya.
Vivian menggeleng. "Tidak apa-apa, aku lelah, bisakah kau antar aku pulang." Ucap Vivian yang kemudian dibalas anggukan oleh Nathan.
Nathan menoleh ke belakang dan menatap pria asing yang menatap kepergiannya dengan Vivian, dalam hatinya dia terus bertanya-tanya siapa pria itu dan apa hubungannya dengan Vivian, kenapa setelah bertemu dengannya sikap Vivian jadi aneh.
__ADS_1
"Kau mengenal pria itu?"
Vivian mengangguk. "Dia adalah orang yang pernah aku ceritakan padamu. Pria yang meninggalkanku tanpa kabar dan salam perpisahan. Namanya Vano, aku sendiri tidak tau kapan dia kembali, tiba-tiba kami bertemu begitu saja." Tutur Vivian.
"Kenapa kau tidak bertanya kenapa dulu dia meninggalkanmu?"
"Aku takut jika jawabannya malah membuatku semakin sakit. Mati-matian aku berusaha melupakannya. Dan aku tidak ingin hatiku kembali melemah setelah bertemu kembali dengannya."
"Kau masih mencintainya?"
"Kami bersama selama satu tahun, banyak kenangan yang kami ciptakan bersama. Jadi sedikit banyak perasaan itu masih ada meskipun sebagian besar sudah mati dan menghilang." Jawab Vivian.
Nathan menghela napas berat. Kemudian dia menyalahkan mesin mobilnya. Dan dalam hitungan detik saja, mobil mewah itu melaju kencang di jalanan yang legang.
Tak ada perbincangan diantara mereka berdua. Keduanya sama-sama diam dalam keheningan. Nathan tau betul jika saat ini Vivian sedang dalam suasana hati yang sangat buruk, jadi dia memilih diam dan tidak bertanya apapun padanya.
-
Banyak yang memilih berdiam diri di rumah. Bersantai bersama keluarganya, tapi tak sedikit pula yang memilih club' malam. Salah satunya adalah tiga pemuda yang saat ini sedang menikmati minumannya di meja bartender.
Sambil menyelam minum air. Itulah yang sedang mereka lakukan. Bersantai sambil cuci mata melihat pemandangan yang sangat-sangat luar biasa. Dimana para wanita dengan pakaian minimnya berjalan mondar-mandir di depan mereka bertiga.
Meskipun mereka masih anak kuliahan. Tapi menghabiskan waktu di club' malam hampir menjadi rutinitasnya ketika akhir pekan. Mereka bertiga adalah Arya, Sean dan Dio. Belajar selama satu Minggu lebih membuat kepala mereka nyaris meledak, dan hiburan semacam ini adalah obat paling mujarab untuk mengatasinya.
"Ar, bagaimana kalau kita turun dan bersenang-senang dibawa sana. Rugi jika kita hanya minum tanpa bersenang-senang," usul Sean yang langsung disambut baik oleh Arya.
__ADS_1
"Ide yang bagus, maniak panci, kau kau ikut atau tetap disini?" Tanya Arya pada Dio.
"Kalian pergi saja, aku tidak ikut. Seleraku bukan wanita rendahan seperti kalian," jawabnya.
"Cih, dasar munafik. Jelas-jelas setiap datang selalu menyewa salah satu kucing liar disini, tapi masih saja bersikap sok tidak berminat. Sudah biarkan saja, ayo kita bersenang-senang." Dan akhirnya mereka meninggalkan Dio sendirian di bar stool.
Dio sudah memiliki incaran saat ini, jadi dia tidak ingin menyia-nyiakannya dan akan menghabiskan malam ini untuk bersenang-senang dengan kucing liarnya tersebut.
-
Mereka telah tiba di rumah Vivian. Tapi gadis itu tidak langsung turun dan Nathan juga tidak memintanya untuk segera keluar dari mobilnya. Nathan terus menatap Vivian yang sedari tadi hanya diam sambil menundukkan kepalanya dan menghela napas.
"Jika kau membutuhkan sandaran, aku bisa meminjamkan bahuku untuk kau gunakan. Asal kau berjanji ini pertama dan terakhir kalinya kau menangis, bersedih untuk pria seperti dia!!"
Vivian menatap Nathan. "Apakah boleh?" Pemuda itu mengangguk. Vivian memang butuh sandaran saat ini, ia melepas sabut pengamannya dan berhambur memeluk Nathan.
Nathan tak bereaksi sama sekali saat mendengar suara isakan yang keluar dari bibir Vivian. Suaranya terdengar pilu dan menyayat hati. Apa sesakit itu yang Vivian rasakan saat ini?! Karena sejak kecil mereka berteman, baru kali ini Nathan melihatnya menangis.
Saat dirasa Vivian sudah mulai tenang. Nathan melepaskan pelukannya. Jari-jarinya menghapus lelehan bening yang mengalir dari pelupuk matanya.
"Tidak ada gunanya menangisi masa lalu yang telah menyakitimu. Dan jadikan semua hal yang terjadi padamu sebagai pelajaran hidup. Sudah malam, masuklah dan segera tidur. Besok pagi aku akan menjemputmu, kita berangkat sama-sama." Ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Vivian.
"Nathan," Vivian menghentikan langkahnya dan memanggil pemuda itu. Sudut bibirnya tertarik keatas, terukir senyum tipis. "Kau adalah temanku yang paling baik. Terimakasih sudah meminjamkan bahumu untukku. Aku masuk dulu." Ucapnya dan pergi begitu saja. Dan pemuda itu hanya mengangguk tanpa mengatakan apa-apa.
Setelah memastikan Vivian sudah masuk ke dalam rumahnya. Nathan pun segera meninggalkan rumah gadis itu. Sebenarnya ia sendiri juga sangat lelah, dan Nathan ingin istirahat lebih awal kali ini.
__ADS_1
-
Bersambung.