Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Selalu Melindungiku


__ADS_3

Dorrrr...


"VIVIAN!!"


Nathan berteriak histeris melihat peluru itu menerjang kekasihnya. Ia menahan tubuh Vivian yang terhuyung kebelakang. Dengan gemetar Vivian menyentuh dadanya yang tertembak tadi dan menemukan peluru itu menancap sapa liontin yang Nathan berikan padanya sewaktu mereka masih kecil dulu.


Rossa, Jesslyn dan Nathan menghela napas lega melihat Vivian baik-baik saja. "Kalungmu menyelamatkanku," ucap Vivian dengan suara gemetar. Nathan meraih tengkuk gadis itu dan memeluknya dengan erat.


Dan sementara itu. Luis tak tinggal diam, dia merebut pistol dari tangan salah satu anak buah Junsu lalu menembak tepat di telapak tangan kanannya dan membuat senjata di tangannya lepas seketika.


Luis menghampiri Junsu lalu memukulnya dengan brutal. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, saat sedang marah dan emosi Luis tetap semengerikan dulu. "Kau benar-benar pria yang tidak berhati. Bagaimana bisa kau mengorbankan istrimu sendiri hanya untuk menutupi semua kesalahanmu!!"


"Bajingan, apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku brengsek!!" Teriak Junsu.


Vivian menghampiri Luis dan berseru."Paman, hentikan!!" Dia mendekati kedua paruh baya itu. Saat Luis sudah menjauh, Vivian langsung menarik pakaian depan ayahnya.


Junsu menggeleng. "Vivian, kau mau apa, Nak? Jangan lakukan apapun, aku adalah Papamu."


"Kau.. bukan ayahku!! Karena aku tidak pernah Sudi memiliki ayah sebejat dan sekejam dirimu. Kau yang membuatku kehilangan Ibuku, dan kau juga yang membuatku terpisah dari kakak juga adikku. Dan penjara saja tidak akan cukup untuk menebus semua kesalahanmu!!"


Vivian mengepalkan tangannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Dia hendak memukul pria paruh baya itu namun di tahan oleh Luis.


"Tidak perlu melakukan itu, Nak. Jangan kotori tanganmu hanya untuk bajingan seperti dia. Biar polisi yang memproses semua kesalahannya. Ayo kita pergi dari sini, pulang ketempat dimana seharusnya kau berada." Ucapnya sambil mengusap kepala coklat Vivian.


"Paman, kau~"


"Aku merestui kalian berdua. Maafkan Paman, Vivian. Karena emosi sesaat hampir saja Paman memisahkan kalian berdua yang saling mencintai. Paman tau bagaimana rasanya terpisah jauh dari orang yang kita cintai, karena Paman sudah pernah merasakannya. Dan Paman tak akan membiarkan apa yang menimpa kami dulu terjadi juga pada kalian berdua. Karena kalian berhak bahagia."


Vivian menyeka air matanya. Jesslyn dan Rossa mendekatinya lalu memeluk gadis itu dengan erat. Sungguh pemandangan yang sangat mengharukan. Senyum bahagia terlihat di bibir mereka.

__ADS_1


Tak berselang lama polisi datang membekuk Xia Junsu dan anak buahnya yang menyerang Vivian tadi. Mereka digiring ke kantor polisi dan akan di jatuhi hukuman yang sangat beras, Vivian menuntut agar ayahnya di jatuhi hukuman mati. Karena keegoisan ayahnya, ia kehilangan ibu kandungnya.


.


.


Masalah sudah selesai. Dan keluarga Qin menunda kepulangan mereka. Atas permintaan Nyonya Rossa, mereka setuju untuk menginap di kediaman Xia.


Nyonya Rossa juga memanggil Silvia untuk pulang. Dan saat ini perempuan cantik itu masih sedang dalam perjalanan.


Jesslyn dan Rossa sedang menyiapkan makan malam di dapur. Sedangkan Vivian dan Nathan berada di kamar gadis itu, Luis sedang di kantor polisi untuk mengurus beberapa hal.


Vivian menyandarkan kepalanya pada bahu Nathan sambil memeluk lengannya. "Apa kau tau, aku hampir saja terkena serangan jantung. Aku pikir peluru itu benar-benar menembus tubuhmu." Ucap Nathan memecah keheningan.


"Aku sendiri berpikir jika aku sudah mati. Tapi ternyata kalung pemberianmu yang menyelamatkanku. Kau selalu ada untuk melindungiku."


Vivian menutup matanya saat merasakan sesuatu yang lembut dan basah menyentuh permukaan bibirnya yang disusul lum*tan dan pagutan yang semakin lama dalam. Ciuman Nathan semakin lama semakin menuntut, sebelah tangannya menekan tengkuk Vivian agar ciuman itu tidak mudah terlepas.


Kedua tangan Vivian memeluk leher Nathan. Dan nyaris saja dia jatuh dari posisinya, jika saja sebelah tangan Nathan tidak memeluknya dengan erat.


Des*han yang keluar dari sela-sela bibir Vivian ia manfaatkan untuk mendapatkan akses lebih. Lidah Nathan menelusup masuk ke dalam mulut hangat Vivian.


Lidah Nathan mulai agresif di dalam sana. Menyapu dinding-dinding mulut Vivian, lalu mengabsen satu persatu barisan gigi putihnya yang rapi, dan terakhir mengajak lidahnya menari bersama. Dan ciuman itu berakhir saat Nathan merasakan pukulan pelan pada dadanya.


Nathan menyeringai. "Kemajuanmu dalam berciuman lumayan juga, Sayang."


Vivian meninju pelan dada bidang kekasihnya itu. "Jangan mengatakan omong kosong. Kau sengaja ingin membuatku malu ya, sudahlah aku mau membantu mama dan bibi Jesslyn menyiapkan makan malam." Kemudian Vivian meninggalkan Nathan begitu saja.


Pemuda itu tersenyum simpul. Nathan pikir cintanya dan Vivian akan berakhir mengenaskan. Tapi ternyata takdir baik masih berpihak pada mereka berdua.

__ADS_1


Dan tugas Nathan selanjutnya adalah menjaga hubungan itu agar tetap baik dan berjalan selayaknya. Yakni dengan menikahi Vivian sesegera mungkin.


.


.


Usai makan malam. Mereka berkumpul di ruang keluarga. Rossa adalah kakak kandung Jia, yang artinya dia adalah Xia yang sebenarnya. Sayangnya dia tersingkir atas ulah Junsu.


Semua orang dari keluarga Xia menganggap jika Rossa telah meninggal dalam sebuah kecelakaan yang direncanakan oleh Junsu, tapi nasib baik berpihak padanya. Demi balas dendam pada Junsu dan melindungi Vivian, Rossa melakukan operasi plastik pada wajahnya sehingga dia tidak di kenali lagi.


"Bibi, em maksudmu Mama. Tentang saudara kembarku, apakah dia masih hidup?" Tanya Vivian memastikan. Vivian bingung harus memanggil wanita di depannya ini ibu atau bibi. Dia bibinya, tapi disisi lain dia adalah ibunya.


Rossa tersenyum. "Jangan bingung harus memanggilku dengan sebutan apa, Vi. Panggil saja sesuka hatimu. Dan mengenai saudara kembar-mu, informasi terakhir yang Mama dapatkan saat ini dia berada di Seoul. Dia kuliah di Universitas yang sama denganmu."


"Apakah dia perempuan atau laki-laki?"


"Laki-laki. Dia memiliki tanda lahir di leher sebelah kirinya. Seperti tahi lalat tapi agak sedikit besar. Dia dibawa oleh sepasang suami-istri seorang perawat dan suaminya dosen."


Nathan teringat sesuatu. Dan tanda lahir itu mengarahkannya pada satu orang. "Sepertinya aku tau siapa orang itu, Vi. Tapi aku kita tidak bisa gegabah dan harus menyelidikinya terlebih dulu. Untuk memastikan benar dia atau bukan." Tutur Nathan.


Sontak Vivian menatap kekasihnya itu penuh tanya. Dia benar-benar penasaran sekali, siapa orang yang dimaksud oleh Nathan. "Kau memiliki pandangan, lalu siapa orang itu?" Tanya Vivian penasaran.


"Gio!!"


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2