
"Halo, sobat."
Nathan hanya menatap datar Gavin dari balik kacamata bulatnya. Tatapan tak suka dan tak bersahabat dia berikan pada pemuda itu. Entah angin apa yang membuat sikapnya berubah drastis, padahal saat pertama kali Nathan menginjakkan kakinya di kampus ini, dia adalah orang pertama yang membullynya.
"Omo!! Apa yang terjadi pada pelipismu? Kenapa sampai diperban dan apakah lukanya parah? Lihatlah darah pada perbannya itu, pasti lukanya masih baru ya? Apakah sangat sakit?"
Pemuda berkaca mata itu menyentak tangan Gavin dari bahunya. "Jangan sok akrab kau!! Itu menjijikkan dan ingin membuatku muntah!!" Ucapnya dan pergi begitu saja.
Gavin menatap kepergian Nathan dengan tatapan tak percaya. Apa telinganya tidak salah dengar, si cupu itu berbicara dengan nada sinis dan tajam padanya?! Bahkan Gavin melihat tatapan Nathan yang sangat tajam dibalik kacamata bulatnya.
"Apa-apaan itu tadi?! Apa si cupu itu sudah bosan hidup?! Berani sekali dia berbicara dengan nada menyebalkan seperti itu padaku. Mentang-mentang Vivian selalu membelanya dia jadi ngelunjak, benar-benar minta diberi pelajaran rupanya!!"
Tubuh Gavin terhuyung ke depan dan nyaris saja terjungkal karena toyoran pada kepala belakangnya. Sontak dia menoleh dan mendapati trio Arya, Sean dan Dio berdiri dibelakangnya.
"Yakk!! Kalian sudah bosan hidup ya?!" Bentak Gavin emosi.
"Siapa yang mau kau beri pelajaran?! Jangan macam-macam pada Thantan, jika kau tidak ingin berakhir mengenaskan!!" Ucap Arya memperingatkan. Kemudian mereka bertiga pergi begitu saja.
Gavin semakin kesal dan emosi. Pemuda itu berteriak sambil mencak-mencak tidak jelas. Dan tingkahnya yang menggelikan mengundang cemoohan orang-orang yang ada disekitarnya. Tapi Gavin tidak menghiraukannya sama sekali. Dia sangat-sangat kesal setengah mati.
-
"Minggir, kau menghalangi jalan!!"
Marissa mendorong Nathan dengan keras ketika pemuda itu hendak masuk ke dalam kelas. Bagus Nathan memiliki keseimbangan yang bagus sehingga dia tidak jatuh tersungkur. Lalu gadis itu melewatinya begitu saja.
Vivian yang kebetulan ada di dalam kelas menghela napas berat. Dia bangkit dari kursinya lalu menghampiri Nathan, dia penasaran dengan wajah pemuda itu yang terlihat kesal.
"Kau baik-baik saja?" Tanyanya memastikan.
__ADS_1
"Hn,"
"Jawaban macam apa itu?! Masih saja suka memakai bahasa planet!!" Gerutu Vivian sambil menekuk wajahnya. Dia paling benci dengan kata 'Hn' yang menjadi andalan pemuda itu jika dia sedang tidak dalam mood yang baik.
"Aku sedang tidak ingin berdebat, Vivian. Jadi diamlah dan jangan banyak bertanya!!" Ucapnya.
Nathan menepuk kepala Vivian dan melewatinya begitu saja. Dan apa yang Nathan lakukan tentu saja menarik perhatian orang-orang yang ada di kelas termasuk Marissa.
Entah kenapa semakin lama dia menatap si cupu Thantan, Marissa justru semakin merasa seperti mengenalnya, Thantan terlihat tidak asing sama sekali. Tapi dia tidak ingat kapan dan dimana pernah bertemu dengan pemuda itu sebelumnya.
Bruggg...
Tubuh Nathan tersungkur dan kepalanya membentur sudut meja. Membuat pelipisnya yang sudah terluka semakin banyak mengeluarkan darah. Gelak tawa seketika memenuhi ruangan yang semula hening tersebut.
Tidak ada yang merasa iba dan kasihan padanya. Mereka justru menjadikan Nathan sebagai bahan lelucon, kecuali Vivian yang selalu menunjukkan kepeduliannya pada pemuda itu.
"GIO!!" Bentak Vivian penuh emosi. Gadis itu hendak menghampiri si pembuat onar tersebut namun ditahan oleh Nathan. Pemuda itu mengangkat tangannya mengisyaratkan agar Vivian tetap diam di tempatnya.
"Sebenarnya apa masalahmu denganku?! Kenapa kau suka sekali mencari gara-gara denganku?! Jangan hanya karena aku cupu dan kutu buku, maka aku tidak berani padamu. Jika kau memang jantan, malam ini aku tunggu kau diarea Sungai Han. Kita lihat, apa kau masih berani mencari masalah denganku atau tidak!!"
"Kau~"
Nathan menahan kepalan tangan Gio yang hendak memukulnya lalu menghempaskannya dengan keras. Pemuda itu beranjak dari hadapan Gio dan pergi begitu saja. Semua orang di dalam ruangan itu dibuat bungkam oleh sikap Nathan. Si cupu yang mereka kenal culun dan kampungan berani menantang Gio, yang notabenenya adalah preman kampus.
Nathan menyeka darah yang mengalir di wajahnya dengan punggung tangannya. Vivian meninggalkan kelasnya dan segera mengejar Nathan yang kemungkinan pergi ke UKS untuk mengobati lukanya. Dan Marissa yang penasaran akan sosok si cupu itu segera menyusul mereka berdua.
.
.
__ADS_1
"Aku mencarimu di ruang kesehatan dan ternyata kau ada disini?"
Nathan mengangkat wajahnya setelah mendengar suara yang begitu familiar ditelinganya. Vivian berdiri dibelakangnya sambil menenteng kotak kecil yang di dalamnya berisi alat-alat medis seperti obat luka dan sejenisnya.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Yakk!! Pertanyaan macam apa itu?! Aku disini karena aku mencemaskanmu, dasar manusia kutub menyebalkan!! Ya sudahlah, kalau kau memang tidak ingin aku disini, sebaiknya aku pergi saja!!"
Baru saja satu langkah, tapi genggaman pada pergelangan tangannya menghentikan langkah gadis itu. "Aku hanya bercanda, kenapa kau serius sekali?! Duduklah," pinta Nathan sambil menuntun Vivian untuk duduk disampingnya.
Darah segar mengalir turun dan melewati dagu Nathan. Perban putih itu kini berubah warna menjadi merah karena banyaknya darah yang keluar. Nathan memundurkan kepalanya ketika Vivian hendak menyentuh perbannya.
"Perbannya sudah kotor, biar aku saja. Nanti tanganmu jadi penuh bakteri,"
Vivian berdecak sebal sambil memukul tangan Nathan dan menatapnya kesal. "Apa yang kau katakan?!" Memangnya kenapa kalau tanganku terkena darahmu, aku juga tidak akan mati oleh bakteri itu!! Jadi sebaiknya kau diam saja dan jangan banyak bicara!!"
Nathan menghela napas panjang. Tidak berubah, tetap saja keras kepala. Semakin dilarang, malah semakin menjadi, dan memang begitulah Vivian. "Terserah kau saja!!"
"Nah begitu dong, nurut. Sekarang lepas kaca matamu," pinta Vivian yang tengah sibuk menuangkan cairan antiseptik pada kapas yang hendak dia pakai untuk membersihkan darah pada luka di pelipis Nathan.
Nathan menurut, dia melepas kaca mata bulatnya seperti permintaan Vivian. Membuat sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka dari kejauhan langsung membelalak sempurna.
Orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Marissa langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat tau jika orang yang selalu dia hina dan dia rendahkan ternyata adalah Nathan. Marissa menggeleng, rasanya dia masih tidak percaya jika Thantan adalah Nathan.
Dan sekarang dia dalam masalah besar, karena sudah pasti Nathan akan sangat membencinya. Dan Marissa tidak mau hal itu sampai terjadi, karena di benci oleh orang yang dia cintai rasanya sangat menyakitkan.
Buru-buru dia pergi dari sana dan mencari teman-teman Nathan, mereka harus tau jika sebenarnya Thantan adalah Nathan.
-
__ADS_1
Bersambung.