Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Penderitaan Jordan


__ADS_3

Malam menjelang tiba di kota Seoul. Langit telah berwarna orange menandakan sang raja siang akan turun dari singgasana digantikan oleh sang Dewi malam. Terlihat sepasang keluarga muda sedang berjalan bergandengan tangan, mereka adalah Luna dan Jordan


Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Nathan menggenggam tangan Luna dengan erat. Dia ingin jalan-jalan dan Jordan langsung mengabulkannya.


Tap...


Tiba-tiba Luna menghentikan langkahnya dan membuat pria itu ikut berhenti juga. "Ada apa?" Tanya Jordan sambil menatap Luna sedikit bingung. Wanita itu terlihat memanyunkan bibirnya, membuat Jordan sangat yakin jika ada sesuatu yang dia inginkan.


"Ge, kau lihat pohon itu?" ucap Luna sambil menunjuk sebuah pohon tinggi di depan sana.


Jordan mengangguk. "Ya, aku melihatnya. Memangnya kenapa?"


"Aku ingin memanjat dan duduk batangnya." Rengek Luna dengan manja, sontak membuat Jordan menoleh padanya.


Sontak Jordan menoleh dan menatap Luna dengan pandangan tajam. "Jangan aneh-aneh. Itu terlalu berbahaya. Bagaimana kalau kau sampai jatuh dan membahayakan janin di dalam perutmu? Tidak tidak, aku tidak setuju. Yang lain saja, asal jangan memanjat pohon dan sejenisnya. Apapun yang bisa membahayakan kalian berdua, aku tidak akan mengijinkannya!!" tegas Jordan.


Luna memanyunkan bibirnya, dia merenggut kesal. Jordan benar-benar tidak peka sama sekali."Padahal itu bukan keinginanku." Wanita itu menggerutu. Dia mengusap perutnya yang masih rata. "Ge, percayalah jika itu bukan keinginanku. Tapi keinginan si jabang bayi di dalam perutku. Dia yang ingin naik ke atas pohon dan kemudian duduk di batangnya. Sebentar saja, ya." Rengek wanita itu memohon.


Jordan menggeleng tegas. "Sekali tidak tetap tidak!! Sebaiknya jangan jadikan janin di perutmu itu sebagai alasan untuk keinginanmu yang aneh-aneh." Ucapnya dengan tegas. Jordan benar-benar tidak ingin membahayakan mereka berdua. Permintaan Luna terlalu ekspresi, jadi bagaimana dia bisa mengijinkannya?


Luna mengusap perutnya yang masih rata dengan lembut ."Nak, kau mendengarnya bukan? Papa-mu memarahi Mama dan menolak keinginanmu, jika kau lahir dan sudah dewasa nanti. Mama, tidak akan menghalangi mu untuk marah padanya karena dia tidak mau mengabulkan permintaanmu!!" ujar Luna. Dia bicara dengan janin di dalam perutnya.


Jordan mendengus berat. Dia tidak tau jika wanita yang sedang hamil muda akan semerepotkan ini. Dan Jordan tidak tau bagaimana kedepannya, apakah akan semakin parah atau tidak, dan hanya waktu yang bisa menjawabnya.


"Ge, boleh ya." Rengek Luna memohon.


"Sekali tidak, tetap tidak. Ayo pulang,"


"Ge, benar-benar sangat menyebalkan!!"


.


.


.


Luba terus menekuk mukanya bahkan ketika mereka sudah sampai di rumah. Wanita itu benar-benar kesal setengah mati pada suami tampannya itu. Bisa-bisanya Jordan tidak mengabulkan keinginannya. Padahal yang dia inginkan tidak aneh-aneh apalagi sulit dilakukan.


Luna hanya ingin memanjat pohon, kemudian duduk di batangnya, tapi Jordan tidak mengabulkannya. Bukankah itu sangat menyebalkan.


Jordan mendesah berat. Dia menghampiri Luna yang sangat kesal dan marah padanya, bahkan wanita itu tidak menghiraukan kedatangannya sama sekali. Wanita yang tengah berbadan dua itu bahkan membuang muka ke arah lain. Menghindari untuk menatap suaminya.


"Sampai kapan kau akan bersikap seperti bocah, Luna Tang?!" Tegur Jordan yang sudah berhadapan dengan Luna. Alih-alih menjawab, dia malah membuang muka ke arah lain. "Luna!!"


"Sebaiknya kau jangan bicara denganku lagi, apa kau tidak tau jika aku sedang marah dan kesal padamu? Dan kalau aku marah, itu artinya aku tidak mau bicara sama sekali denganmu. Dan untuk itu kau tidak boleh tanya-tanya padaku lagi, oke!!" ucapnya.


Melihat tingkah Lu a membuat Jordan malah geli sendiri. Akhirnya Ia pun memilih mengalah, berdebat dengan orang yang sedang hamil muda memang tidak ada gunanya. Ujung-ujungnya dia akan kalah juga.


xxx


Malam sudah semakin larut. Tetapi Luna masih tetap terjaga. sedangkan Jordan sudah tidur sejak beberapa jam yang lalu. Luna bangkit dari berbaring yang lalu mendekati Jordan yang berbaring di sampingnya.


"Ge, apa kau sudah tidur?" dia mengguncang lengan terbuka Jordan dengan lembut. "Ge, jangan tidur terus. Cepat buka matamu," rengek Luna dan sekali lagi mengguncang lengan Jordan. Memaksa pria itu untuk segera membuka matanya


Jordan mendecih sebal. Apalagi yang wanita itu inginkan sekarang? Jordan bertanya-tanya. "Ada apa, Luna? Tidak bisakah kau tenang? Ini masih malam dan sebaiknya tidur lagi." Pintanya.


Luna menggeleng cepat. "Ge, aku ingin makan salad buah yang ada di Mall. Jadi ayo pergi ke sana dan membelinya." Rengek Luna sambil terus mengguncang lengan Jordan.


Jordan menghela napas. "Besok saja ya. Ini masih malam, lagi pula mungkin Mall-nya sudah tutup. Tidur lagi," pinta Jordan dan kembali menutup matanya.


Luna menggeleng. Kembali dia mengguncang lengan Jordan dan memaksa pria itu untuk segera bangun. "Tidak mau, pokoknya kalau harus membawaku ke sana sekarang juga. Aku ingin makannya sekarang, bukan besok!!" tegas Luna.


"Minta bibi saja membuatkannya, bukankah salad buah rasanya sama saja?" ucap Jordan


"Huaaa~" tiba-tiba Luna menangis keras dan itu membuat Jordan terkejut bukan main. Bahkan dia sampai terlonjak dari tempat tidurnya. "Ge, apa kau sudah tidak sayang lagi padaku. Kau jahat, padahal aku hanya meminta salad buah. Tapi kenapa kau tidak mau mengabulkannya." Ujar Luna dengan air mata yang mengalir turun dari pelupuknya.


Jordan menggeram rendah. Dia mencoba menahan emosinya. Dia harus sabar menghadapi Luna yang sedang hamil muda. Dan tidak baik jika dia sampai marah-marah apalagi sampai membentaknya. Karena memang begitulah wanita yang sedang hamil muda, Jordan hanya bisa mengusap dadanya dan mencoba untuk sabar menghadapi istrinya.


Dengan mata yang masih setengah terbuka. Dia bangkit dari berbaringnya. "Tunggu sebentar. Aku cuci muka dulu. Ambil mantel hangat mu, kita pergi setelah ini." Ucapnya dengan nada dingin dan datar.


Luna pun bersorak kegirangan. Dia tau jika suaminya yang tampan ini tidak mungkin bisa menolak permintaannya. Apalagi itu adalah keinginan janin di dalam perutnya. Dan anak mereka bisa saja ngiler jika Jordan tidak mengabulkannya. Untuk itu apapun yang Luna inginkan harus dia kabulkan.


Dua menit kemudian Jordan keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih fresh, Dia mengambil Vest hitamnya yang kemudian dia pakai sebagai luaran singlet putihnya. Dia terlalu malas untuk berganti pakaian, toh ini sudah malam, siapa juga yang akan memperhatikan penampilannya


Dia menghampiri Luna yang sedang menunggunya."Ayo." ucapnya dengan nada seperti tadi. Dingin dan datar. Luna mengangguk antusias. Dia memeluk lengan terbuka suaminya dengan manja. Dan keduanya berjalan beriringan meninggalkan kamar.


xxx


Jordan menghentikan mobilnya disebuah mall terbesar di Seoul. Dia dan Luna segera turun dari mobil tersebut lalu melenggang, memasuki Mall tersebut. Luna harus menelan pil kecewa karena salad buah yang dia inginkan sedang kosong. Padahal dia benar-benar ingin memakannya, tapi yang dia cari malah tidak ada.


"Bagaimana? Apa sekarang kau sudah puas? Sudah melihatnya sendiri kan, salad itu tidak ada." Ucap Jordan dan membuat Luna semakin kesal.

__ADS_1


"Dasar menyebalkan, seharusnya kau itu menghiburku, bukannya malah memarahiku. Ge, kau sangat menyebalkan!!" ucap Luna dan pergi begitu saja.


Jordan menutup matanya dan menghela napas. Rasanya dia ingin sekali menghilang dari dunia yang kejam ini. Dia memang sudah mendengar dari ayah mertuanya jika menghadapi wanita yang sedang hamil muda itu sangat sulit. Tetapi Jordan tidak tahu jika kenyataannya lebih sulit dari yang dia bayangkan.


"Baiklah, aku minta maaf. Sekarang kau ingin pergi kemana lagi? Apakah ada makanan lain yang kau inginkan selain salad buah?" tanya Jordan.


Luna menggeleng. "Aku tidak tahu. kan aku belum memikirkannya. Tapi ada satu tempat yang ingin sekali aku kunjungi, wahana bermain. Ge, sebaiknya kita pergi ke sana sekarang. Aku ingin naik kincir angin raksasa dan komedi putar."


"Wahana bermain sudah tutup dari tadi. Ke tempat lain saja yang kira-kira masih buka."


Luna menggeleng. "Tidak mau!! Pokoknya aku mau ke taman bermain, naik komedi putar dan kincir angin raksasa." Luna tetap kekeuh pada keinginannya dan tidak bisa diganggu gugat. Lagi-lagi Jordan hanya bisa menghela napas. Dan entah ini sudah beberapa kalinya.


"Kenapa kau malah menghela napas? Kalau tidak mau ya sudah, aku akan pergi sendiri. Dasar menyebalkan. Kalau sudah tidak sayang bilang saja, tidak perlu bersikap menyebalkan seperti ini." Ujar Luna. dia terus saja menggerutu tidak jelas. .


Dan kesabaran Jordan benar-benar diuji sekarang, tetapi mau bagaimana lagi? Lagi-lagi dia hanya bisa mengalah dan tidak bisa berbuat apa-apa.


xxx


"Papa, paham betul yang kau rasakan, Jordan. Untuk itu kau harus lebih bersabar menghadapi wanita yang sedang hamil muda," ucap Luis menasehati.


Pagi ini Jordan mendatangi perusahaan milik Ayah mertuanya dan menceritakan penderitaannya semalam. "Apakah dulu ketika hamil Mami juga bersikap seperti Luna?" tanya Jordan memastikan.


Luis mengangguk. "Ya, mungkin lebih parah dari Luna. Dia pernah memaksa Papi untuk memakai pakaian serba pink datang ke kantor, sampai-sampai Papai menjadi pusat perhatian. Apalagi saat itu sedang ada pertemuan penting dengan beberapa kolega dalam maupun luar negeri. Sampai-sampai Papai tidak tahu harus ditaruh dimana muka ini, dan itu masih belum seberapa. Jadi Papi harap kau lebih sabar menghadapinya." Ujar Luis.


"Ini belum 2 bulan, tapi rasanya sudah seperti Dua abad. Ketika istri sedang hamil muda, kenapa para suami yang menjadi korbannya?" jordan menghela nafas.


Luis mengangkat bahunya. "Entah, Papi sendiri tidak tahu, mungkin itu sudah menjadi hukum alam." Ucapnya.


Jordan menutup matanya dan menghela napas untuk kesekian kalinya. Dia hanya bisa berdoa dan berharap supaya penderitaannya tidak semakin parah.


"Ya, sudah Pi. Aku pergi dulu. Ada rapat penting siang ini," Jordan bangkit dari kursinya. Dia melenggang pergi setelah berpamitan pada ayam mertuanya.


Luis menatap kepergian Jordan dengan tatapan prihatin. Dia memahami Betul apa yang Jordan rasakan saat ini, karena Luis sudah pernah berada di posisinya, merasakan apa yang dia rasakan bagaimana sulitnya menghadapi wanita yang sedang hamil muda.


xxx


"Mami, aku datang." Seruan keras itu mengalihkan perhatian Jesslyn yang sedang menyiapkan makan malam di dapur.


Wanita itu tersenyum lebar mengetahui kedatangan putrinya. Dia segera meminta pelayan untuk menggantikan pekerjaannya, Jesslyn bertugas keluar untuk menyambut kedatangan Putri tercintanya.


"Luna, kenapa kau datang sendirian? Lalu di mana, Jordan?" tanya Jesslyn melihat kedatangan putrinya yang hanya sendirian, dia tidak ditemani oleh suami tercintanya itu.


"Begitu. Ayo masuk dulu, kebetulan Mami sedang menyiapkan sarapan. Setelah ini kita sarapan sama-sama,"


"Lalu di mana, Papi? Kenapa dia tidak ada di rumah? Apa Papi sedang pergi ke luar negeri?" tanya Luna memastikan.


Jesslyn menggeleng. "Tidak, Papi mu pergi ke kantor. Dia berangkat pagi-pagi sekali karena ada rapat penting. Duduklah, sarapan hampir siap." Ucap Jesslyn dan dibalas anggukan oleh Luna. Tujuan Luna datang ke rumah ibunya karena dia memang merindukan masakan sang ibu. Dan Luna berharap kali ini makanan yang dia makan tidak dia muntahkan.


xxx


"Sabar Jordan, namanya juga sedang hamil. Di trimester pertama memang begitu. Tapi setelah kandungannya memasuki trimester kedua, keadaan akan kembali normal. Meskipun aku masih belum menikah, soal itu aku sangat memahaminya. Karena aku memiliki kakak perempuan yang sama seperti Luna,suka ngidam yang aneh-aneh."


Martine mencoba menghibur sahabatnya itu yang sedang dilanda derita karena menghadapi Luna yang sedang hamil muda. Meskipun dia belum menikah, tetapi Martin juga pernah menjadi korban wanita yang sedang hamil muda. Yakni ketika kakaknya hamil anak pertamanya.


"Ternyata menghadapi wanita yang sedang hamil muda jauh lebih mengerikan daripada bertemu hantu di jalan. Dan semalaman Luna membuatku pusing setengah mati. Dia memiliki banyak permintaan baru dan tidak masuk anak. Dan hal tersebut benar-benar membuatku frustasi." Ujar Jordan.


"Dipakai santai saja. Tidak perlu terlalu diambil hati. Memang begitulah wanita hamil. Lagipula jika bukan padamu, lalu pada siapa Luna akan bergantung. Sabar, karena yang kau alami tidak sebanding dengan apa yang Luna rasakan." Ucap Martin.


Benar apa yang Martin katakan. Menjadi Luna tentu tidakkah mudah, dia harus mengalami yang namanya morning sickness. Setiap pagi dia selalu muntah dan perutnya tidak menerima makanan apapun yang masuk, belum lagi rasa pusing dan macam-macam keluhan lainnya. Jika bukan dirinya yang memahami Luna, lalu siapa lagi?


xxx


Suara decitan pintu di buka dari luar sedikit menyita perhatian Luna. Wanita itu sedang berbaring dengan setengah kaki menggantung ke bawah. Jordan menghampiri sang istri kemudian mengangkat tubuh Wanita itu lalu membaringkannya dalam posisi yang tepat.


Luna mengangkat kedua tangannya lalu mengalungkan pada leher Jordan. "Jika ingin tidur, sebaiknya posisikan dirimu dengan benar atau kakimu akan pegal," omel Jordan seraya membaringkan tubuh Luna di atas kasurnya.


Wanita itu terkekeh. "Dengan begitu maka kau memiliki alasan untuk mengangkat ku ke sini," ucapnya. Jordan mendengus geli. Lagi-lagi dirinya kena jebakan Luna lagi. Dengan pasti, Jordan membaringkan badannya di samping Luna berbaring.


"Anak ini sangat merindukan Papanya, seharian kau tidak menyapanya." Ucap Luna sambil mengusap perutnya yang masih rata.


Kemudian Jordan merubah posisinya, berbaring menyamping dengan menghadap Luna yang berbaring terlentang. Tangan kanannya mengusap perut Luna dengan lembut, karena dia tidak ingin jika gerakannya sampai menyakiti janin di dalam perutnya.


"Hai Nak, bagaimana kabarmu hari ini? Papa, harap kau baik-baik saja. Maafkan Papa, karena tidak bisa selalu bersamamu dan, Mama. Papa, harus bekerja untuk kesejahteraan keluarga kita. Baik-baik ya Nak di dalam sana, dan jaga Mama baik-baik," ucapnya.


Jordan mencoba berbicara dengan janin yang ada di dalam perut Luna untuk membangun ikatan diantara mereka berdua. Dia ingin setelah lahir nanti, bayi itu bisa dekat dengannya maupun Luna.


Luna tersenyum lebar. Diusap perut itu dengan penuh sayang. "Kau dengar itu, Nak. Papa, sangat menyayangi kita. Kau harus tumbuh dengan sehat, Nak. Mama dan Papa, akan selalu sabar menunggumu lahir ke dunia ini." Ucapnya dengan senyum yang tidak pudar sedikit pun dari bibirnya.


Jordan merubah posisinya, kemudian dia menarik Luna dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya, dan memeluknya dengan erat. Satu kecupan ia daratkan pada kening sang wanita dengan penuh cinta, membiarkan bibirnya berlama-lama di sana.


"Aku mandi dulu, setelah ini temani aku makan malam." Ucapnya dan dibalas anggukan oleh Luna.

__ADS_1


"Kalau begitu aku buatkan kopi untukmu," Luna hendak beranjak, namun ditahan oleh Jordan.


Pria itu menggeleng. "Nanti saja. Tunggu aku disini, tidak perlu pergi kemana pun." Ucapnya dan dibalas anggukan oleh Luna.


Di rumah ini mereka hanya tinggal berdua saja, pembantu yang mereka kerjakan hanya sampai sore hari. Saat malam hari mereka memilih memesan makanan dari luar, atau makan malam di luar.


Menunggu membuat Luna semakin mengantuk. Matanya memberat dan sulit untuk diajak kompromi. Dan mata itu tertutup sepenuhnya hanya dalam hitungan menit saja, kurang dari lima menit, wanita itu sudah pergi ke alam mimpi. Luna tertidur pulas.


.


.


Jordan keluar dari kamar mandi dan mendengus geli saat mendapati Luna sudah tertidur pulas dengan posisi yang tidak elit. Setengah badannya menggantung dengan posisi menyamping. Meletakkan handuknya, Jordan menghampiri Luna lalu mengangkatnya dan membaringkannya dengan posisi yang tepat.


Setelah mendaratkan 1 ciuman pada keningnya, Jordan beranjak dan meninggalkan Luna begitu saja. Dia akan makan malam sendirian tanpa sang istri tercinta, melihatnya tertidur pulas membuat Jordan tidak tega untuk membangunkannya.


Jordan membuat sandwich tuna kesukaannya dan secangkir kopi tanpa gula. Seperti ayah mertuanya, Jordan juga tidak menyukai makanan minuman manis.


xxx


Devan menghampiri Tiffany yang sedang asik mengobrol dengan Sunny dan Karin. Tanpa berkata apa-apa, Devan menarik tangan wanita itu lalu membawanya pergi meninggalkan kantin. Tiffany sampai terkejut dibuatnya.


"Devan, apa-apaan kau ini? Kenapa kau asal menarik tanpa mengatakan apa-apa?" ucap Tiffany, dia melayangkan protesnya pada Devan.


"Tiffany, kita perlu bicara, dan ini menyangkut hubungan kita."


Tiffany berhenti, membuat Devan ikut berhenti juga. Wanita itu memicingkan matanya dan Devan penuh tanya. "Memangnya kenapa dengan hubungan kita?" tanya Tiffany penasaran.


"Apa kau masih mencintaiku?"


"Pertanyaan bodoh macam apa itu? Apa kau meragukan perasaanku padamu?" tanya Tiffany tanpa mengakhiri kontak mata di antara mereka berdua.


"Jawab saja, apa kau masih mencintaiku?" tanya Devan sekali lagi.


"Tentu saja, kenapa tiba-tiba kau melemparkan pertanyaan aneh macam itu? Sebenarnya ada apa denganmu, Devan?" Tiffany menatap Devan penasaran.


Tiba-tiba mata Devan berkaca-kaca, bibir bawahnya naik turun seperti orang mau menangis. Dan sikap Devan membuat Tiffany semakin kebingungan dibuatnya. Seketika tangis Devan pun pecah, sikap tegasnya hilang dan tergantikan dengan sikap konyol menggelikan.


Tiffany pun menjadi sangat panik. Dia benar-benar tidak tau apa yang terjadi pada Devan. Dia bersikap sangat aneh. "Devan, sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau aneh begini?" tanya Tiffany kebingungan.


"Kau sudah tidak mencintaiku lagi. Kau berselingkuh dengan muka mayat itu, apa karena dia lebih mapan dariku? Padahal kalau dilihat dari segi manapun aku lebih tampan darinya. Tiffany, kau sangat jahat dan kejam padaku." tangis Devan pecah seketika.


Tiffany mendengus geli. Jadi itu permasalahannya? Dia benar-benar tidak habis pikir dengan Devan, bisa-bisanya dia berpikir ia dan Key memiliki hubungan spesial, padahal kenyataannya tidak.


"Berhenti asal menuduh. Lagipula aku tidak memiliki alasan untuk berpaling padanya dan meninggalkanmu. Sudah, jangan mengatakan omong kosong lagi. Hapus air matamu sekarang juga atau kita putus,"


"JANGAN!! AKU SANGAT-SANGAT MENCINTAIMU,"


xxx


Di ufuk timur sang surya telah terbit sebagai pertanda jika hari baru sudah dimulai. Seberkas sinar matahari masuk melalui celah gorden yang tidak begitu rapat dan seberkas sinar itu sukses membangun seseorang dari tidurnya. Kedua kelopak mata itu mulai berkedut tidak nyaman dan perlahan-lahan terbuka dengan sempurna.


Menampilkan sepasang manik Hazel yang kini menatap sekitarnya dengan jelas walau kesadarannya masih belum maksimal.


Seketika seseorang itu merinding saat merasakan sebuah hembusan nafas di bagian leher belakangnya dan tak lupa sebuah lengan kekar yang bertengger manis di pinggang ramping wanita itu. Wanita itu menoleh kebelakang, sudut bibirnya tertarik keatas membentuk lengkungan indah di wajah cantiknya.


Namun momen itu harus hancur berantakan ketika si wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Luna merasakan mual yang luar biasa. Dia segera turun dari tempat tidurnya lalu berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan semua isi perutnya.


"Hoek Hoek Hoek," suaranya begitu nyaring. Memaksa Jordan yang masih tertidur pulas membuka mata seketika. Ia segara turun dari ranjang empuk dan berlari ke kamar mandi untuk menyusul Luna.


"Sayang, kau tidak apa-apa kan?" tanya Jordan memastikan. Luna menggeleng, meyakinkan pada Jordan jika dia baik-baik saja. "Sungguh?" Luna mengangguk. Inilah yang terjadi setiap pagi hari, dan hal tersebut membuat Jordan cemas.


"Aku tidak apa-apa, Ge. Ini sudah bawaan hamil. Jadi kau tenang saja. Aku akan menyiapkan kopi untukmu. Sebaiknya segara mandi, mungkin sarapan sudah hampir siap." Ucap Luna dan dibalas anggukan oleh Jordan.


Soal kopi, Luna tidak pernah mempercayakan pada orang lain. Jordan hanya mau meminum kopi buatannya, itulah kenapa dia selalu menyiapkan cairan hitam beraroma dengan rasa yang khas tersebut.


"Pagi, Nyonya." Sapa seorang wanita setengah baya yang merupakan pembantu di rumah Jordan dan Luna.


"Pagi juga, Bibi."


"Sarapan sudah hampir siap, saya juga sudah menyiapkan susu hamil untuk Anda." ucap wanita paruh baya itu. Luna tersenyum kemudian mengangguk.


"Terimakasih, Bibi." ucapnya dengan senyum ramah andalannya.


Kopi sudah siap, sarapan juga sudah siap, yang perlu Luna lakukan sekarang adalah memanggil Jordan untuk sarapan.


xxx


Bersambung


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2