
Tao dan si kembar memasang baik-baik indera pendengarannya di depan kamar Vivian. Mereka bertiga berusaha mencari tau apa yang saat ini sedang dilakukan oleh pasangan muda yang baru menikah beberapa jam lalu tersebut.
Suara des*han dan erangan yang berasal dari dalam sana membuat bulu kuduk mereka langsung berdiri, bahkan senjata tempur Tao pun juga ikut berdiri.
Mendengar des*han itu, membuat mereka bertiga saling membayangkan betapa panasnya percintaan yang sedang berlangsung di dalam sana. Malam pertama, adalah malam yang paling berkesan bagi mereka yang baru saja menikah.
"Aaahhh...Nathan sakit... Aaahhh~" Jeritan tertahan Vivian membuat mereka bertiga terlonjak kaget. Disusul rintihan dan des*han yang semakin lama semakin menggila. "Uhhh, Aaahhh... Emmmpphhh!!"
Tao menggigit bajunya, kegiatan panas di dalam sana membuatnya ingin segera menikah. Tapi masalahnya, sampai detik ini dia belum juga mendapatkan pasangan hidup yang tepat dan sesuai kriterianya.
Dan sementara itu...
Vivian yang sudah setengah lemas hanya bisa pasrah di tengah gempuran suaminya. Dia sungguh tidak menyangka jika Nathan adalah seorang pemain yang handal. Dia begitu hebat dan terlihat gagah ketika melakukannya.
Darah segar yang mengalir dari lubang kenikmatan Vivian yang baru merubah statusnya, dari perawan menjadi wanita adalah bukti nyata jika dia adalah milik Nathan seutuhnya.
Nathan terus menusukkan senjata tempurnya sementara kedua tangannya meremas bukit kembar Vivian sambil terus mel*mat bibirnya yang sedikit membengkak.
Kesepuluh jari-jari lentik Vivian berselancar di punggung terbuka suaminya yang bermandikan oleh keringat, malam ini benar-benar terasa panas bagi mereka berdua. Padahal udara di London saat ini lumayan dingin.
"Ahhh..." Vivian kembali mengeluarkan d*sahan hebat ketika tautan bibir mereka sudah terlepas.
Dia menggigit bibir bawahnya sedikit kuat hingga membuat cairan merah keluar dari sela-sela bibirnya.
Mata Nathan membelalak. Kembali dia membenamkan bibirnya agar istrinya tidak menyakiti dirinya sendiri seperti ini. Vivian melakukannya tanpa sadar karena saat ini dirinya sedang diselimuti oleh kabut kenikmatan.
"Punyaku hampir saja keluar, kita pelepasan sama-sama." Ucap Nathan, Vivian mengangguk.
Tubuh Nathan roboh diatas Vivian setelah melakukan pelepasan. Napas mereka naik turun tak beraturan, Vivian dan Nathan saling menatap selama beberapa saat dan mereka sama-sama tersenyum.
Sekali lagi Nathan membenamkan bibirnya pada Bibir Vivian dan mel*matnya seperti tadi. Namun ciuman kali ini lebih singkat dan lebih lembut dari ciuman mereka yang sebelumnya.
"Tidurlah, kau terlihat lelah. Aku mandi dulu." Vivian mengangguk.
Nathan mengecup kening Vivian dan pergi begitu saja. Vivian memang sangat lelah dan ingin segera tidur. Pergulatan panasnya dengan Nathan benar-benar telah menguras seluruh tenaganya.
__ADS_1
.
.
Nathan keluar dari kamar mandi dan mendapati istrinya sudah tertidur pulas. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Nathan menghampiri Vivian kemudian duduk disamping dia berbaring. Jari-jari besarnya mengusap kepala coklat wanita itu penuh sayang.
Rasanya Nathan masih tidak percaya jika statusnya sekarang adalah seorang suami. Padahal dia masih kuliah, tapi itu tentu bukan masalah. Vivian adalah tulang rusuknya yang hilang dan tulang rusuk itu akhirnya kembali padanya.
Nathan berjanji akan selalu menjaga dan melindungi Vivian dengan segenap hatinya. Tidak akan membiarkan dia sampai terluka dan menangis apalagi itu karena dirinya. Kecupan sayang mendarat pada kening Vivian, kemudian Nathan ikut berbaring disampingnya. Nathan juga merasa sangat lelah.
-
-
Suasana di kediaman Xia terlihat berbeda dari biasanya. Jika biasanya hanya ada Rossa dan Junsu, kini justru sangat-sangat berbeda. Selain kedua putri keluarga terpandang itu, ada juga menantu bungsu dan keluarga Qin yang sedang berkumpul.
Rossa terlihat begitu bahagia dengan kehadiran mereka. Dan karena tugasnya sudah selesai, dia akan mengembalikan seluruh harta milik Xia pada pewarisnya yang sah. Meskipun dirinya juga bagian dari keluarga Xia, tapi Rossa merasa tak pantas.
"Kau tidak perlu melakukannya sendiri, bukankah sekarang kita keluarga." Ucap Jesslyn, dia segera membantu Rossa menyiapkan sarapan.
"Apa yang kau katakan, bagaimana pun juga kita sekarang adalah saudara. Sudah sewajarnya jika saling tolong menolong." Ucap Jesslyn menimpali. Rossa tersenyum.
"Bibi, Mama, kalian tidak boleh melupakanku. Aku juga wanita dewasa di sini."
"Lovely juga," seru Lovely yang tidak mau kalah. Silvia tertawa, dia begitu gemas dengan tingkah menggemaskan gadis kecil ini.
Disaat semua perempuan sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Vivian justru masih malas-malasan di kamarnya. Jangankan untuk membantu mereka, untuk bangun saja dia benar-benar malas. Gadis itu kelelahan karena pergulatannya dengan Nathan semalam.
Cklekk...
Decitan suara pintu di buka mengalihkan perhatian Vivian yang masih belum beranjak satu inci pun dari posisi berbaringnya. Aroma maskulin yang begitu khas menelusup masuk ke dalam hidungnya saat Nathan keluar dari dalam sana.
Pemuda itu hanya memakai handuk yang melingkari pinggangnya. Tubuh atasnya polos tanpa tertutup sehelai benang pun. Nathan menghampiri Vivian lalu mengecup keningnya.
"Lelah?" Vivian mengangguk. "Kau ingin sarapan bersama yang lain atau disini?" Tanya Nathan.
__ADS_1
"Aku sarapan dikamar saja. Bisa-bisa aku jadi bulan-bulanan kak Silvia jika melihat jalanku yang sedikit aneh."
Nathan menepuk kepala coklat Vivian. "Aku akan meminta pelayan mengantarkan sarapan untukmu kemari." Ucapnya yang kemudian dibalas anggukan oleh Vivian.
Setelah berpakaian lengkap dan membantu Vivian mandi. Nathan meninggalkan kamar pengantin dan pergi keluar untuk sarapan. Tak lupa dia meminta seorang pelayan mengantarkan sarapan untuk Vivian.
-
-
Gio menghampiri sang ayah yang sedang termenung di kamarnya. Ada rahasia besar yang pria itu simpan darinya selama ini. Gio ingin tau tentang foto sepasang bayi yang dia temukan di laci.
"Apa Papa sibuk?" Tanya Gio setibanya di dalam. Pria paruh baya itu menggeleng. Dia melepaskan kaca matanya lalu meminta Gio untuk masuk.
"Ada apa, Nak? Hal penting apa yang sebarnya ingin kau bicarakan pada Papa?"
Kemudian Gio memberikan liontin yang dia temukan itu pada ayahnya. Di dalam liontin itu terdapat sebuah foto sepasang bayi kembar. Gio ingin tau mengenai foto tersebut. "Aku ingin tau tentang bayi perempuan yang ada di dalam foto ini, Pa. Apakah ini aku dan saudaraku?" Tanya Gio memastikan.
Pria itu mengambil liontin tersebut seraya menggelengkan kepala. "Bukan, tapi orang lain. Dulu saat masih muda, mendiang ibu kandungmu bekerja disebuah rumah sakit ternama di kota London. Dia membantu q seorang wanita yang melahirkan bayi kembar. Karena tak ingin hal buruk terjadi pada anak-anaknya, lalu dia memberikan salah satu bayi itu pada ibumu. Dan dia berjenis kelamin laki-laki."
"Lalu dimana bayi itu? Dan yang perempuan bagaimana?"
"Papa tidak tau. Karena masalah biaya, kemudian Bayi itu kami titipkan di sebuah panti asuhan. Keluarga kita sempat mengalami krisis ekonomi, ditambah lagi kau yang masih bayi dan membutuhkan asupan gizi yang banyak. Jadi terpaksa kami menitipkan bayi itu di panti asuhan." Jelas paruh baya itu.
"Lalu apakah Papa tau dimana anak itu sekarang?"
Pria itu menggeleng. "Papa tidak tau, tapi Papa dengar dia meninggal beberapa tahun yang lalu setelah terlibat tawuran dengan para berandalan."
Gio mengangguk. "Baiklah, Pa. Aku sudah tidak penasaran lagi. Ya sudah aku ke kamar dulu." Gio bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Ternyata bayi di dalam liontin itu bukan dirinya melainkan orang lain.
-
-
Bersambung.
__ADS_1