
Keluarga Cemara. Adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan keharmonisan keluarga kecil Luis dan Jesslyn.
Keluarga Cemara sendiri adalah sebuah keluarga layaknya pohon cemara yang selalu menghijau sepanjang tahun, senantiasa hidup dan tumbuh dalam kasih sayang sebagai sesama anggota keluarga dan erat satu sama lain selamanya.
Begitulah gambaran yang tepat untuk keluarga kecil nan bahagia satu ini. Keluarga kecil Luis dan Jesslyn mampu menghidupkan makna sebenarnya dari sebuah keluarga. Mereka hidup dalam kasih sayang antar sesama anggota keluarga, bahkan ketika masalah mendera.
Tak ada rasa iri dengki dalam keluarga kecil ini. Karena mereka selalu menyayangi satu sama lain. Saling melindungi dan berbagi suka maupun duka bersama.
Aroma lezat makanan yang berasal dari dapur berkaur di dalam indera penciuman. Tiga orang berbeda usia dan gender itu terlihat bangkit dari tempat tidur dan keluar dari kamar masing-masing lalu berjalan ke arah dimana aroma lezat itu berasal. Lalu dimana?Dapur, tentu saja di-sana.
"Wah, apa yang sedang kalian berdua masak? Aromanya lezat sekali." Tegur salah satu dari ketiga orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Luis.
"Mami, Kakak Ipar, boleh Lovely mencobanya?" Tanya gadis kecil itu dengan antusias.
Keduanya mengangguk dengan kompak. "Ya, tentu saja." Jawab Jesslyn mewakili Vivian. Kemudian dia mengambil sendok di samping kanannya lalu mengambil sedikit makanan tersebut dan memberikannya pada Lovely. Ekspresi gadis kecil itu yang begitu riang menandakan betapa lezatnya rasa makanan ibu dan kakak iparnya. "Em, ini sangat lezat."
"Aku ingin mencobanya juga!!" Luis tak mau kalah. Dia mengambil sendok di tangan Lovely lalu mengambilnya sedikit untuk memastikan rasanya.
"Bagaimana? Enak bukan?" Tanya Jesslyn memastikan.
"Ya, ini sangat sempurna." Luis membenarkan apa yang putri kecilnya katakan. Rasa masakan itu memang sangat lezat, tidak salah jika Jesslyn sampai mendapatkan julukan koki terbaik dari suami dan putra-putrinya.
Sementara itu. Hanya Nathan yang tidak ikut mencoba. Dia sudah tau rasa masakan ibu serta istrinya. Tidak ada rasa masakan yang lebih lezat dari rasa masakan mereka berdua, Ibu dan istrinya.
"Buatkan kopi untukku," pinta Nathan pada Vivian. Wanita itu mengangguk.
"Sekalian untuk, Papamu." Ucap Jesslyn.
__ADS_1
Vivian mengangguk. "Baik, Ma." Jawab Vivian.
Kemudian wanita cantik itu menyeduh dua kopi hitam untuk suami dan ayah mertuanya. Nathan dan Luis memiliki selera yang sama, jadi Vivian tidak akan kesulitan.
Setelah siap. Vivian membawa kedua kopi pahit itu pada Nathan dan Luis yang sedang duduk di ruang keluarga. Mereka berdua sedang membahas mengenai proyek yang sempat Nathan ambil alih selama Luis berada di luar negeri.
-
-
Usai makan malam. Keluarga kecil itu kemudian berkumpul di ruang keluarga. Jesslyn membagikan oleh-oleh yang ia beli dari luar negeri pada seluruh keluarga kecilnya, bahkan untuk si kembar pun ada. Tapi sayangnya mereka sedang tak berada di rumah karena Marcell dan Rio pergi ke luar kota sore tadi.
"Astaga, Mi. Berapa ratus juta won yang sudah kau habiskan untuk semua barang-barang ini? Kau tidak perlu menghamburkan begitu banyak uang hanya untuk membeli semua barang-barang ini?!"
"Aishh...!! Dasar anak ini, lagipula semua ini Mami beli untukmu, Vivian dan Lovely. Dan kau tidak perlu cemas, Daddy-mu tidak akan kekurangan uang jika hanya untuk membeli barang-barang ini. Lagipula untuk apa uang Daddy-mu jika tidak dibelikan sesuatu untuk keluarganya sendiri. Mami hanya membantunya sedikit untuk menghabiskannya." Ujar Jesslyn panjang lebar.
Nathan mendengus berat. "Kalian para wanita memang sama saja. Vi, sudah malam. Ayo pulang,"
"Kalian tidak menginap saja?" Tanya Luis sambil menatap keduanya bergantian.
"Lain kali saja. Lagipula aku dan Vivian masih ada proyek penting yang harus dikerjakan!!" Jawab Nathan seraya bangkit dari duduknya.
"Mami tau!! Pasti proyek itu kan, semoga lancar dan segera berikan cucu untuk Mami. Mami sudah tidak sabar untuk segera menggendongnya."
"Jangan terlalu berharap, Mi. Aku dan Vivian masih ingin menikmati masa muda dulu, kalau ingin bayi kalian buat saja sendiri!! Kami pulang,"
Setelah berpamitan. Keduanya meninggalkan kediaman Xiao. Mengisahkan Luis, Jesslyn dan Lovely. Gadis kecil nan cantik itu juga ikut memisahkan diri dari ibu dan ayahnya. Dia pergi ke kamarnya untuk tidur. Lovely ingin tidur lebih awal karena besok ada ulangan harian di sekolahnya, dan dia tidak mau sampai terlambat.
__ADS_1
-
-
Jam dinding sudah menunjukkan angka 23.00 malam. Akan tetapi Luis dan Jesslyn masih tetap terjaga, keduanya masih asik berbincang membahas masa lalu. Setiap kali mengingat masa lalunya, membuat keduanya merasa geli sendiri.
Bagaimana tidak, hubungan yang awalnya hanya untuk saling menguntungkan tiba-tiba berubah menjadi perasaan yang seharusnya tak pernah ada. Meskipun akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah, tetapi pada akhirnya benang merah yang menyatukan mereka kembali.
Luis pun menikahi Jesslyn secara resmi. Dan kemudian mereka dikarunia satu anak lagi yakni Lovely. Si cantik menggemaskan dan selalu ceria. "Apa yang kau tertawaan, Jess? Apakah ada yang lucu?" Luis menatap sang istri dengan heran.
Jesslyn menggeleng. "Tidak ada, hanya merasa lucu saja. Masa lalu kita penuh dengan hal-hal konyol namun menyenangkan. Dan rasanya aku masih tidak percaya jika sekarang kita menjadi sebuah keluarga yang bahagia." Ujar Jesslyn sambil mengurai senyum lebar di bibirnya.
Luis mengangguk. "Ya, itu juga yang aku rasakan sekarang. Aku tidak menyangka jika pada akhirnya akan jatuh cinta pada istri kontrakku sendiri. Dan apa kau tau aku hampir gila setelah kepergian mu hari itu. Benar-benar sebuah takdir yang tak pernah terduga." Tutur Luis.
"Dan tanpa adanya masa lalu yang menyakitkan, tentu saja tidak akan ada masa depan yang membahagiakan seperti ini. Bukankah begitu? Dan aku sangat berterimakasih pada masa lalu."
Luis tersenyum. Dia meraih kepala Jesslyn lalu menyandarkan pada bahu kanannya. Luis memeluk istrinya dengan erat sambil sesekali mengecup keningnya. Jesslyn dan anak-anak adalah harta paling berharga yang Luis miliki. Dan tak ada yang lebih berharga di dunia ini melebihi keberadaan mereka, dan kebahagiaan mereka tentu saja menjadi prioritas utamanya.
"Sudah malam, ayo masuk." Jesslyn mengangkat kepalanya dari bahu Luis lalu bangkit dari duduknya terlebih dulu.
Luis mengangguk. Kemudian keduanya melenggang masuk ke dalam kamarnya. Bukan hanya Jesslyn yang mengantuk, tetapi Luis juga.
-
-
Bersambung.
__ADS_1