Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Perasaan Tanpa Kepastian


__ADS_3

Hari demi hari berlalu. Tidak terasa pernikahan kontrak Luis dan Jesslyn sudah memasuki bulan ke 6, hanya tersisa 6 bulan lagi kontrak pernikahan mereka berakhir.


Jelas-jelas mereka sama-sama tahu bahwa mereka hanya saling memanfaatkan dalam sepi. Yang tak ubahnya bagai manusia munafik. Yang saling memanfaatkan untuk mengusir sepi, tapi tak pernah benar-benar ingin membentuk relasi.


Mereka berdua bukan lagi remaja tanggung yang baru mengenal cinta monyet. Bukan anak muda yang baru pertama merasakan jatuh hati. Bukan pula anak baru gede yang tak menyadari perasaan yang dimiliki masing-masing, atau tak berani menyatakan apa yang ada di hati.


Mereka adalah dewasa yang sebentar lagi akan menginjak usia 26. Mereka berdua sama-sama pernah jatuh cinta dan pernah dikhianati. Mereka kesepian, tapi tak pernah benar-benar berusaha untuk membunuh rasa sepi tersebut.


Mereka begitu dekat, tapi seperti ada sekat. Saling membagi waktu, namun di saat bersamaan juga saling mengunci waktu untuk sendiri-sendiri.


Mereka berbagi kabar setiap hari. Namun hari-hari masih saja terasa seperti sendiri. Mereka seperti saling menyayangi, tapi juga bagai memagari hati yang tak ingin dibagi. Mereka saling tersenyum. Namun tak benar-benar tersenyum. Mereka matang. Tapi seperti masih setengah matang.


Baik Jesslyn maupun Luis sangat tahu bahwa mereka tak bisa hidup sendiri. Keduanya juga sadar bahwa mereka butuh cinta untuk menemani. Luis tahu bila Jesslyn benci sepi dan kesendirian. Dan Luis tau bahwa Jesslyn butuh pasangan sebagai sandaran.


Mereka adalah seseorang yang pernah terluka. Mereka adalah seseorang yang pernah dengan tulus mencintai, kemudian malah dikhianati.


Mereka adalah sosok rapuh yang sedang mencoba bangkit berdiri. Mencoba untuk tetap kuat dan tegar. Tetapi mereka saling memahami bahwa masing-masing tak sekuat dan setegar yang orang kira.


Mereka adalah korban pengkhianatan. Baik Luis maupun Jesslyn tak ingin kesendirian. Mereka mengatakan membutuhkan kasih sayang. Tetapi hanya menjadikan diri masing-masing sebagai pelampiasan.


Semua orang berpikir Jesslyn dan Luis menjalin hubungan spesial. Bahkan sebagian dari mereka menduga jika keduanya adalah tipe pasangan yang pacaran diam-diam, lalu tiba-tiba menggemparkan seluruh dunia dengan berita jika mereka telah menikah.


Sungguh! Mereka dibuat ingin tertawa keras dengan opini-opini semacam itu. Mereka hanya berdelusi. Atau ... entah imajinasinya saja yang terlalu tinggi.


Mereka sama sekali tidak memiliki relasi. Mereka berdua hanya saling melengkapi. Menutupi bongkahan-bongkahan sepi yang membelit hati. Tanpa ada kepastian yang hakiki.


"Aku sudah menyiapkan beberapa setel pakaian yang akan kau pakai selama di sana. Setibanya di sana langsung kabari aku,"


"Kau ingin aku bawakan apa saat kembali nanti?"


Jesslyn menggeleng. "Tidak perlu membawa apapun, aku sudah memiliki semuanya." Jawabnya.

__ADS_1


Luis mengangguk. "Baiklah, aku pergi dulu." Ucapnya lalu mengecup kening Jesslyn sebelum beranjak pergi.


Hari ini sampai beberapa hari ke depan. Luis ada perjalanan bisnis ke luar negeri. Sebenarnya dia bisa memerintahkan Kris untuk menggantikannya, tapi Kris mabuk ketinggian dan dia tidak ingin jika asisten pribadinya itu sampai mati diperjalanan.


Selepas kepergian Luis. Jesslyn merasa kosong. Mungkin karena Jesslyn sudah terbiasa dengan kehadiran Luis di hidupnya. Jesslyn berjalan menuju dinding kaca disamping tempat tidurnya. Mobil sedan hitam itu baru saja meninggalkan halaman.


"Luis baru saja pergi, dan kau kenapa masih disini?!"


Jesslyn menoleh setelah mendengar teguran seseorang dari arah pintu. Gadis itu menatap datar pada Elisa yang berjalan menghampirinya. "Sudah tidak ada lagi yang melindungimu di rumah ini,"


"Lalu?" Jesslyn menyela ucapan Elisa.


"Itu artinya sudah tidak ada lagi alasan untukmu tetap berada disini, pergilah dan jangan pernah datang lagi. Saat Luis bertanya, aku akan mengatakan jika kau merindukan ayahmu dan ingin menemuinya,"


Jesslyn menyeringai sinis. "Kenapa aku harus pergi, jika kau tidak suka aku disini, sebaiknya kau saja yang pergi. Dan satu hal lagi, apa kau lupa dengan posisiku di mansion ini?! Aku adalah seorang Nyonya dan memiliki hak untuk mengusir siapa pun keluar dari rumah ini, termasuk kau!!" Ujar Jesslyn sambil menunjuk Elisa tepat di depan mukanya.


"Oh, kau berani menantang ku rupanya?! Apa kau benar-benar sudah bosan hidup, hah?!" Bentak Elisa marah.


"Apa maksudmu?!"


"Tentang rahasia besar yang kau sembunyikan dari keluarga Qin!! Jangan berpikir jika rahasiamu aman, Bibi. Jadi berpikirlah dua sebelum mencari masalah denganku jika kau ingin rahasiamu itu aman. Keluarlah, aku tidak nyaman jika ada orang lain di kamarku!!"


"Jesslyn Qin!!"


Dengan terpaksa Elisa meninggalkan kamar Jesslyn. Elisa tidak tau bagaimana Jesslyn bisa mengetahui tentang rahasianya. Akan sangat berbahaya jika rahasia itu sampai tersebar dan diketahui oleh banyak orang.


-


-


Semakin hari hidup Anna semakin menyedihkan. Tubuhnya kurus kering karena tidak terurus. Dia selalu menolak makanan yang diantarkan perawat padanya. Dia malah berteriak dan memaki perawat yang datang membawakan makanan untuknya.

__ADS_1


Berat badan Anna menurun drastis. Dari 50 kilo kini menjadi 40 hanya kurang dari 2 bulan. Dia selalu menolak makanan apapun, sekalinya mau makan itupun hanya satu kali dalam dua hari.


Anna mengidap asam lambung kronis, dokter sudah memperingatkan padanya supaya makan secara teratur, tapi Anna tak mau mendengarnya dan menolak untuk makan.


"Kau harus makan, apa kau ingin mati membus*k disini?!" Perawat itu sudah mulai kehilangan kesabarannya menghadapi Anna yang begitu keras kepala.


"Ya, aku memang mau mati. Kenapa kalian tidak langsung membuatku mati saja, hah!!" Bentak Anna penuh emosi.


"Dasar sinting. Orang lain ingin sehat dan berumur panjang. Tapi kau malah ingin mati, benar-benar tidak waras!! Terserah kau mau makan atau tidak, aku tidak peduli lagi!!"


Perawat itu meletakkan makanan yang ia bawa di samping Anna berbaring. Makanan itu terdiri dari nasi, sepotong ayam goreng dan sayuran hijau.


Melihat makanan yang begitu menggiurkan itu membuat Anna ingin sekali memakannya, tapi dia terlalu gengsi. Sehingga Anna memilih menahan lapar daripada ditertawakan.


-


-


Langkah kaki Luis terasa berat ketika dia hendak memasuki pesawat yang akan membawanya ke London karena setengah hatinya tertinggal di Seoul.


Sebenarnya Luis tidak tega jika harus meninggalkan Jesslyn sendiri, tapi dia tidak bisa mengesampingkan masalah pribadi dan pekerjaannya. Luis mengeluarkan sebuah foto dari dalam dompetnya, sudut bibirnya tertarik keatas.


"Baru juga berpisah denganmu selama beberapa menit, tapi hatiku terasa sakit. Lalu apakah aku benar-benar mampu untuk melepaskanmu pergi?!"


Luis menutup matanya. Kepala dan punggungnya bersandar pada kursi pesawat. Entah bagaimana perasaan yang sebenarnya dia rasakan pada Jesslyn saat ini, apakah itu cinta atau hanya sekedar rasa kagum semata? Luis akan menyerahkan pada waktu, biarkan waktu yang menjawab semuanya.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2