Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Masa Kecil Yang Konyol


__ADS_3

Tang Yuan hanya bisa menatap cucu bungsunya itu dengan tatapan perihatin, wajah tampan tanpa ekspresi itu di hiasi beberapa luka memar dan perban yang menutup pelipis kanan serta tulang pipi kirinya.


Tang Yuan telah mendengar semuanya dari Martin, sahabat terdekat Jordan perihal yang terjadi pada Pria 25 tahun tersebut. Sebagai kakek, tentu saja Yuan menjadi sangat marah mendengar apa yang dialami oleh cucunya, hampir saja Ia mengirim orang-orangnya untuk mencari dan memberi pelajaran pada orang yang menyebabkan Jordan jadi


Tapi hal itu segera Ia urungkan setelah mendapatkan pencerahan panjang lebar dari besannya, yakni Jackie Wang. Akhirnya Tang Yuan pun mengerti dan memutuskan untuk tidak ikut campur dengan urusan pribadi cucu kesayangannya itu.


Dari Jordan, pandangan Tang Yuan bergulir pada sosok jelita bersurai Coklat terang, bermata Hazel cantik yang begitu mengagumkan. Raut wajahnya berubah seketika ketika memandang mata teduh Luna, tatapannya melembut dan penuh kejahilan. Sangat berbeda dengan tatapannya beberapa saat lalu.


Tidak di sangka, jika Ia akan bertemu dengan cucu dari sahabatnya sekaligus cinta pertamanya. Tang Yuan tidak bisa menahan senyumnya setelah mengetahui jika gadis itu adalah kekasih dari sang cucu.


"Jordan, kenapa tidak pernah bilang pada kakek jika kau memiliki kekasih secantik ini Dan kau juga tidak mengatakan jika Luna kekasihmu adalah cucu dari kenalan lama, Kakek," Jordan yang sebelumnya sibuk dengan ponselnya mengalihkan pandangannya pada sang kakek.


"Kau tidak bertanya." Jawabnya acuh tak acuh.


"Hahaha, pasti kau bertanya-tanya bagaimana Kakek bisa tau jika Luna adalah cucu dari----."


"Tidak." Potong Jordan menyela ucapan Kakeknya. .


Tang Yuan mendengus kesal, cukup lama tidak bertemu dengan Jordan, ternyata tidak ada yang berubah dari cucunya itu. Dia tetap sedingin dulu, bahkan jauh lebih dingin dari terakhir mereka bertemu.


Tidak salah jika David selalu menyebutnya patung es, dan memang itulah faktanya. Sedangkan Jackie malah terkikik geli melihat ekspresi Yuan yang terlihat sangat mengemaskan ketika sedang kesal. Ekspresi yang jarang sekali Ia tunjukkan di depan siapa pun, kecuali orang terdekatnya.


Sifat dingin Jordan menurun dari Ayahnya 'Tang Xiao'. Putra Tang Yuan itu memang terkenal dingin dan pelit ekspresi, mirip seperti Jordan. Tapi di banding Tang Xiao, Jordan tentu masih jauh lebih dingin dengan tatapan tajam dan wajah stoic tanpa ekspresi.


Bahkan saat masih bocah, tidak banyak teman yang Ia miliki, hanya Martin, Dean dan Ren yang tahan berteman dengan Jordan yang pendiam dan irit bicara.


Serta satu teman lagi, teman perempuan satu-satunya yang dia miliki pada saat itu. Dan hanya padanya Jordan mau menunjukkan sisi hangatnya selain pada Ibunya. Gadis itu adalah Luna, siapa sangka di masa lalu mereka telah saling mengenal bahkan mereka pernah mengikat janji akan menikah suatu saat nanti.


Tapi itu adalah angan-angan dan keinginan bocah berusia 6 tahun, yang masih terlalu polos yang tabuh akan cinta apalagi mengerti arti dari ikatan suci pernikahan. Janji sepasang anak manusia yang kemudian di pisahkan oleh benang merah, sebelum akhirnya benang merah pula yang mempertemukan dan mempersatukan mereka.


Lain Jordan, lain pula David. Berbeda dari sang adik yang kelewat dingin. Dia adalah pribadi yang sangat hangat dan mudah bersosialisasi, terutama pada mereka kaum hawa. Tidak salah jika julukan playboy melekat pada dirinya, David sering bergonta-ganti pasangan yang kemudian berakhir di ranjang hotel.


David memang tidak bisa menahan hasratnya, saat melihat wanita cantik dan sexy yang memiliki dada besar serta pantat berisi, tapi kebiasaan buruknya itu berakhir setelah Ia bertemu dan mengenal seorang gadis bersurai hitam legam bernama Jia. Dan hebatnya lagi, hubungan mereka sudah memasuki tahun ke 1.


Jia adalah satu-satunya wanita yang berhubungan terlama dengan David, karena biasanya hubungan David dan kekasihnya tak pernah lebih dari 1 minggu saja.


"Luna, senang bertemu lagi denganmu. Kau tumbuh menjadi gadis yang cantik dan manis. Padahal terakhir kita bertemu kau masih sangat kecil, kalau tidak salah saat itu kau masih berusia 5 tahun." Tutur Tang Yuan membuat Luna terkejut


"Ehh?" Gadis itu menoleh menatap Kakek Tang dengan tatapan bingungnya. Tapi juga menggemaskan


"Hahaha. Luna sayang, ekspresimu lucu sekali. Pasti kau bingung, ya? Baiklah akan aku jelaskan. Dari zaman nenek moyang, keluarga kita adalah sahabat dekat. Dan persahabatan itu terus turun-temurun hingga Nathan dan David, meskipun mereka berbeda negara."


"Dari dulu orang tuamu, dan orang tua Jordan sangat dekat, kalian sering main ke mansion Tang dan begitupun sebaliknya. Saat kau masih kecil Ibumu sering membawamu, Nathan ke rumah kami. Dia selalu menghabiskan waktunya bersama David. Sedangkan kau selalu lengket pada, Jordan." Mata Luna terbelalak mendengar nama Jordan di sebut oleh Kakek Tang Yuan. Satu pertanyaan besar muncul di benaknya.


"Umm, kakek. Maaf aku bertanya, apa maksud kakek aku selalu lengket padanya." Tanya Luna malu-malu, wajahnya memerah mirip tomat matang. Ia semakin gugup karena Jordan terus menatap dengan mata onyx nya.


"Hahahha pasti kau bingung ya? Dulu saat masih anak-anak kau dan Jordan sangat dekat. Pada saat itu usiamu baru menginjak 5 tahun, sedangkan Jordan baru 7 tahun. Terlalu kecil untuk kalian bisa mengingatnya, saat main ke rumah kami. Orang pertama yang kau cari adalah Jordan, begitu pun sebaliknya saat kami main ke mansion keluargamu".


"Kalian selalu bermain Putri dan Pangeran, pura-pura menikah kemudian hamil. Hahaha, aku masih sangat ingat ketika kau berteriak 'Aku hamil anak, Jordan Gege' lalu di sambut oleh Jordan 'Aku akan menjadi seorang Ayah. Bukannya terkejut semua orang malah tertawa, kemudian David dan Nathan sepakat untuk menjodohkan kalian sejak hari itu."


"Tapi kebersamaan kalian tidak berlangsung lama, karena Jesslyn dan Luis memutuskan untuk pindah ke Korea lagi. Dan di hari keberangkatan keluarga kalian kembali ke Seoul, Jordan kecil berjanji akan menikahi mu suatu saat nanti. Bahkan dia juga menyiapkan sebuah cincin berlian bermahkota kan bunga mawar kesukaanmu."


"Hahaha Kakek ingat betul, Jordan merenggek meminta agar Ibunya membelikan cincin berlian untuk Luna, sampai mogok makan selama 2 hari dua malam. Hahaha." Kakek Tang Yuan mengakhiri ceritanya dengan tawa lepas di akhir kalimatnya.

__ADS_1


"Cihh." Jordan mendecih, membuang muka sedangkan Luna menunduk dalam.


Pandangan matanya tertuju pada cincin berlian yang menjadi bandul kalungnya. Cincin itu memiliki ciri-ciri seperti yang di sebutkan oleh kakeknya. Luna menggenggam cincin itu tanpa melepaskannya, tiba-tiba Ia tersipu. Sudut bibirnya tertarik keatas, lalu mengangkat wajahnya yang masih memerah


"Emm, Kakek. Apa cincin yang kau maksud adalah cincin yang ini." Ragu-ragu Luna menunjukkan cincin itu pada Kakek Tang Yuan.


"Tidak salah lagi." Sahut Jackie Wang. Pria berambut putih itu bangkit dari duduknya lalu menghampiri Luna. "Memang ini cincinnya, karena pada saat itu aku sendiri yang menemani putriku membeli cincin ini."


"Hahaha, aku masih ingat wajah sumringah Jordan setelah melihat cincin ini. Dia melompat kegirangan sambil berteriak 'Luna, aku akan melamarmu', bocah es ini sampai melupakan statusnya sebagai Tang yang memiliki harga diri tinggi." Jackie Wang tersenyum sambil mengusap surai panjang Luna."Dan secara tidak langsung, kalian telah bertunangan, Nak." Lanjutnya.


"Hahaha aku jadi tidak sabar untuk menikahkan kalian berdua." Sambung Kakek Tang Yuan.


"Berisik, sudah malam. Kakek, sebaiknya kalian berdua pulang saja." Pinta Jordan pada kedua kakeknya.


Tidak ada rasa kesal apalagi keterkejutan, mereka berdua sudah terbiasa dengan sikap Jordan yang kurang ajar. Karena memang seperti itulah dia, dingin, angkuh, arogan dan pemarah "Tidak sopan." Sahut Kakek Tang Yuan sambil menjitak kepala Jordan gemas.


"Ck, Kakek, kenapa menjitak ku." keluh Jordan sambil mengusap kepalanya yang berdenyut sakit.


"Hahaha, itu hukuman untukmu, Cucuku yang menyebalkan." Balas Kakek Yuan.


"Sudah malam, sebaiknya Kakek pulang. Cepat sembuh, Cucuku." Jackie Wang bangkit dari duduknya lalu berjalan kearah pintu di ikuti Tang Yuan.


"Kakek, pulang dulu ya anak-anak. Oya, jangan lupa kunci pintunya agar tidak ada yang ngintip." Goda Kakek Tang Yuan sambil menggerlingkan sebelah matanya.


" KAKEEEKKKKK-------"


" HAHAHAHA."


xxx


Luna menoleh mendengar pintu kamar mandi terbuka, senyum lebar menyambut sang kekasih. Jordan telah mengganti pakaian rumah sakit yang telah Ia pakai sejak kemarin lusa dengan pakaiannya. Jeans hitam, kemeja gelap lengan terbuka.


Senyum Luna semakin lebar, itu artinya Ia akan lebih leluasa melihat tribal di lengan kiri kekasihnya itu. Apalagi mereka pulang dengan di jemput Martin, yang artinya Jordan tidak perlu menyetir sendiri.


"Luna, Rusa, sudah siap?" Tegur Martin yang baru saja tiba bersama sang kekasih 'Karin.


"Hn."


Martin pun mendadak pundung dengan jawaban ambigu Jordan, wajahnya merengut dan bibirnya mencerut. Dia terlihat menggemaskan, tapi tidak menurut Jordan. Di mata Jordan, Martin justru terlihat menggelikan.


"Cihh, kekanakan." Cibir Jordan lalu melewati Martin begitu saja. Meninggalkan tiga manusia yang masih mematung di tempatnya. "Ckk, sampai kapan kalian akan berdiri sana." Suara dingin Jordan menyadarkan ketiganya. Segera mereka menyusulnya yang berjalan semakin menjauh.


.


.


Suasana di dalam mobil Martin mendadak hening. Martin yang biasanya cerewet mendadak menjadi pendiam dan sibuk pada jalanan, sedangkan Karin memilih membaca novel favoritnya, Luna memainkan game di ponselnya. Sedangkan Jordan, menyandarkan punggungnya sambil menutup matanya.


Tidak tidur, hanya sekedar menutup mata saja. Kepalanya masih terasa pening, Luna mematikan ponselnya kemudian pandangannya bergulir pada sang kekasih lalu berpindah pada tangan besarnya yang bertumpuh pada pahanya. Luna meletakkan tangannya di atas tangan besar Jordan dan menggenggamnya lembut. Sontak saja Jordan membuka matanya.


"Ada apa, sayang." Suara lembut Jordan menyapu indra pendengaran Luna, Martin dan Karin.


Martin mendengus kesal. "Uhhh, Dasar Rusa menyebalkan. Giliran pada Luna, sikapnya melembut. Dasar patung es." dia terus menggerutu sambil melihat pasangan itu dari kaca spion. Jordan mendecih seraya menatapnya dingin.

__ADS_1


"Cihh."


"Luna, bagaimana kalau kita berhenti dulu. Pasti kalian belum sarapan?" Karin menoleh dan menatap pasangan di jok belakang itu bergantian.


"SPAGHETTI." Sahut Martin dengan lantang.


Pukkk .. !!! ..


"Sakit." Satu pukulan mendarat di bahu Martin. "Luna, kenapa kau malah memukulku?"-


"Habisnya Martin Songsaenim yang memulai duluan, sudah tahu jika Jordan baru saja keluar dari rumah sakit. Kau malah mengusulkan untuk makan Spaghetti. Yang benar saja." Luna mengomeli Martin habis-habisan karena usul konyolnya.


Martin menoleh, menunjukkan cengiran khasnya."Hahaha maaf Luna, aku hanya terlalu bersemangat saat mendengar Karin mengungkit soal sarapan. Padahal pagi ini aku sudah menghabiskan 5 porsi Pizza besar di tempat langganan ku. Hehehe." Martin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Dasar rakus." Sindir Jordan dengan wajah stoic nya.


"Biarin." Martin menjulurkan lidahnya, sedangkan kedua gadis itu hanya bisa mendengus dan menggeleng kepala melihat tingkah mereka berdua.


.


.


Setelah makan siang, mereka berempat memutuskan untuk mampir ke pusat perbelanjaan. Para pria ingin membelikan sesuatu untuk gadisnya, seseorang yang sangat mereka cintai dan kasihi.


"Baby, pilih pakaian apa pun yang kau mau, aku akan membelikan untukmu." Martin menarik Karin ke dalam sebuah boutique dan meminta gadis itu untuk memilih pakaian yang Ia inginkan.


Karin pun terkejut, wajahnya memerah karena sikap romantis Martin. "Oppa," Ucapnya tersipu.


"Karin Sayang, aku hanya ingin menjadi yang terbaik untukmu. Aku ingin kau selalu bahagia saat di sisiku, aku akan memberikan apa pun yang kamu inginkan. Asalkan itu membuatmu selalu di sisiku." Wajah Karin pun semakin memerah mendengar ucapan Martin yang penuh keromantisan namun penuh gombalan.


Jordan dan Luna yang baru saja tiba merinding mendengar gombalan Martin untuk Karin, entah kenapa mereka malu sendiri melihat sikap Martin yang menurut mereka sangat-sangat menggelikan. Martin lebih mirip para playboy di luaran sana.


"Luna, Tang Songsaenim, kalian sudah kembali." Ucap Karin melihat kedatangan Jordan dan Luna.


"Jordan, apa saja yang kau belikan untuk istrimu? Kenapa hanya ada 3 paper bag saja." Tunjuk Martin pada belanjaan Luna yang sangat sedikit menurut Martin.


Mendengar Martin menyebut kata 'Istrimu' ketika bertanya pada Jordan membuat Luna tersipu dan merona. Buru-buru Luna menutupinya dengan sikapnya agar tidak ada yang menyadari kegugupannya.


"Songsaenim, maksudmu dia pelit, begitu? Dia sudah menawariku banyak barang mewah dan mahal tapi aku menolaknya." Sahut Luna sebelum Martin lebih banyak bicara.


Martin tampak terkejut. "Kenapa malah menolaknya, Luna? Itu adalah moment yang sangat langkah, Rusa itu biasanya sangat pelit apalagi padaku. Aku minta Pizza atau Spaghetti dia selalu mengomel. Padahal tidak banyak, cuma 10 porsi jumbo saja." Ujar Martin yang seolah tidak sadar dengan apa yang di ucapkan.


Luna mendengus kasar "Pantas saja dia menolaknya, jelas-jelas kau sangat rakus." Sahutnya datar.


"Aku tidak rakus Luna, 10 porsi jumbo itu cuma sedikit. Kau tau, aku bisa menghabiskan lebih dari itu." Kilah Martin membela diri.


"Aku bingung, kenapa gadis Lee ini tahan dengan rubah rakus sepertimu." Cibir Jordan dan membuat Martin merengut kesal. Tapi sedetik kemudian wajahnya kembali ceria.


"Karna Karin sama sepertiku, jika julukan untukku Raja makan yang tak terkalahkan. Maka Karin adalah Ratunya, karena dia juga bisa menghabiskan lebih dari 5 porsi Spaghetti dan Pizza jumbo dalam sekali makan."


"APA?!"


xxx

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2