
Satu Minggu telah berlalu. Keadaan Luis sudah semakin membaik, luka tusuk diperutnya juga sudah mulai mengering, termasuk luka di pelipis kirinya meskipun perban masih belum mau beranjak dari dua luka itu.
Saat ini Luis tengah bersiap-siap. Dia dan Jesslyn berencana untuk kembali ke Seoul hari ini. Mereka sudah pergi terlalu lama, Luis akan memberikan pelajaran pada pasangan Bram dan Elisa. Mereka harus membayar mahal atas apa yang terlah dilakukan pada dirinya
Luis menghampiri Jesslyn yang sedang bersiap-siap di kamar. "Sudah siap?" Jesslyn mengangguk. "Sebaiknya pakaianmu tinggalkan saja disini, tidak perlu dibawa pulang," ucap Luis. Lagi-lagi Jesslyn mengangguk.
Sebenarnya Jesslyn sendiri tidak berencana membawa pakaian-pakaian itu. Mungkin suatu hari ia akan datang lagi ke Villa ini, meskipun Jesslyn sendiri tidak yakin. Kontak pernikahannya dengan Luis hanya tersisa 5 setengah bulan lagi. Dan itu bukanlah waktu yang panjang.
"Apa yang kau pikirkan?" Tegur Luis melihat kediaman Jesslyn.
Gadis itu menggeleng. "Tidak ada, ayo." Kemudian Jesslyn berlalu begitu saja dan meninggalkan Luis yang masih bergeming dari tempatnya berdiri. Kemudian ia melangkahkan kakinya dan berjalan menyusul Jesslyn yang semakin menjauh.
Ada rasa sesak yang menghimpit dada Luis saat melihat punggung yang semakin menjauh itu. Jesslyn begitu dekat, tapi rasanya sangat jauh dan sulit tergapai.
-
-
Berpesta foya, mengundang teman-temannya adalah hal yang selalu Elisa lakukan selama satu Minggu belakangan ini.
Ibu satu anak itu begitu menikmati hidupnya selama Luis dan Jesslyn tidak ada di rumah, sedangkan Bram selalu mengundang teman-temannya untuk minum ketika malam tiba.
Henry dan Rio turut menikmati pesta yang mereka adakan, namun Elisa dan Bram harus memberi uang tutup mulut pada mereka berdua supaya keduanya tidak mengadu dan mengatakan yang tidak-tidak pada Luis.
Mansion mewah itu disulap menjadi sebuah gedung pesta oleh Elisa dan Bram. Tidak ada bedanya antara siang dan malam, pesta itu berlangsung selama 24 jam penuh.
Satu-satunya penghalang besar pun telah mereka singkirkan. Kris mereka amankan, mereka mengurungnya di ruang bawah tanah setelah membuatnya tak sadarkan diri. Karena Kris sangat merepotkan.
"Kau sangat hebat, Elisa. Setiap hari mengadakan pesta dan jamuan besar-besaran seperti ini," puji salah satu teman Elisa.
Elisa tersenyum lebar. "Jelas dong, aku ini kaya raya dan memiliki banyak uang. Jika tidak digunakan sebaik-baiknya lalu untuk apa, nikmati pestanya dan have fan."
__ADS_1
"Pasti dong."
Disaat Elisa menjamu para tamunya. Sebuah mobil sport memasuki halaman Mansion. Dua orang, perempuan dan laki-laki keluar dari mobil tersebut dan melenggang masuk ke dalam Mansion.
Langkah Luis terhenti di depan pintu saat mata dinginnya melihat sesuatu yang membuat emosinya langsung memuncak. Dengan marah Luis mencabut beberapa ornamen pesta yang ada di pintu dan membanting guci besar hingga mengejutkan semua orang di sana termasuk Elisa dan Bram.
"Siapa yang memberi ijin pada kalian untuk membuat kerusuhan di rumah ini?!" Dia menatap tajam pada Paman dan Bibinya.
"Luis?!" Kaget Bram dan Elisa.
"Semuanya bubar!!" Teriak Luis dengan nada meninggi.
"Jangan usir mereka, mereka adalah tamuku!!" Seru Elisa dan menghalangi Luis untuk mengusir tamu-tamunya.
"Apa hakmu mempertahankan mereka disini?! Aku adalah kepala keluarga Qin, dan aku memiliki hak penuh atas semua hal di rumah ini!! Usir mereka keluar atau aku yang akan menyeret mereka semua keluar dari rumah ini!!"
"Luis, Kau!!"
"Paman, untunglah kau cepat pulang. Kami sudah melarang dan menasehati mereka berdua supaya tidak mengadakan pesta sembarangan selama kau tidak ada, tapi mereka tidak mau mendengarnya. Dan bahkan mereka menyekap Paman Kris diruang dibawa tanah, kami ingin menyelamatkannya tapi tidak berani karena sangat gelap di sana." Ujar Rio yang tiba-tiba muncul diantara berempat.
"Kalian berdua!! Berani-beraninya kalian~"
"Huaaa... Paman, lihatlah Nenek Elisa ingin menelan kami hidup-hidup!!" Rio dan Marcell buru-buru bersembunyi dibelakang Luis. Si kembar menjulurkan lidahnya pada Bram dan Elisa.
"Jess, pergilah keruang bawah tanah bersama mereka berdua, lepaskan Kris." Perintah Luis pada sang istri. Jesslyn mengangguk.
Dia menghampiri Elisa. "Dimana kuncinya?!" Jesslyn mengulurkan tangannya pada Elisa. Gadis itu memberi kode pada Elisa, dan kode itu adalah kode ancaman. Tanpa banyak berpikir Elisa memberikan kunci itu pada Jesslyn.
Semua tamu undangan telah diusir keluar. Hanya tersisa tiga orang saja. Luis, Elisa dan Bram. Bram gemetar melihat tatapan Luis yang dingin dan menusuk. "Bibi, bawa kembali kakak sepupu ke rumah ini!!" Perintah Luis, mata Elisa langsung membelalak.
"A..Apa Maksudmu, bukankah kakak sepupumu sudah tinggal di rumah ini." Ucapnya.
__ADS_1
"Bukan bajingan itu, tapi sepupuku yang sebenarnya, Elisabet. Bukankah dia adalah bayi yang telah kau lahirkan kemudian kau tukar dengan bayi lain hanya untuk mengamankan posisimu di keluarga Qin, bukankah begitu?" Luis menyeringai melihat wajah Elisa yang pucat seperti mayat hidup.
"Ja..Jangan bicara sembarangan. Itu tidak benar, bayi yang aku lahirkan hari itu adalah Frangky bukan Elisabet." Dia mencoba mengelak.
"Benarkah?! Tapi bagaimana dengan keakuratan hasil tes DNA ini. Apa kau masih ingin mengelak lagi? Apa perlu aku bawa perawat yang bekerja di rumah sakit tempatmu melahirkan dulu kubawa kemari, dia bisa memberi kesaksian." Luis menyeringai.
Tubuh Elisa terhuyung kebelakang. Jadi Luis benar-benar mengetahuinya, lalu pandangan Elisa bergulir pada Bram yang menatapnya dengan tajam, seolah meminta penjelasan. Sudah tidak ada lagi urusan dengan mereka berdua, Luis pun melenggang pergi.
Luis akan membiarkan Elisa dan Bram saling membunuh. Dia tidak perlu ikut campur lagi, Luis hanya perlu melihatnya dari kejauhan.
.
.
"Elisa, aku akan membunuhmu!! Beraninya sekali kau membohongiku!!"
"Kau tidak ada bedanya denganku, Bram. Kau pikir aku tidak tau kelakuan bejadmu selama ini, kau bermain gila di belakangku dengan para wanita itu. Menjadikan mereka sebagai sugar baby, memberikan barang mewah dan mahal pada mereka. Bahkan kau memiliki anak lain dari salah satu selingkuhan mu diluar sana, AKU JUGA AKAN MEMBUNUHMU!!"
Luis menikmati wine nya dengan tenang. Dia melihat pemandangan yang begitu indah dari lantai dua mansion mewahnya. Dibawa sana dua orang tengah berkelahi hebat, saling memukul dan menampar. Dan Luis begitu menikmatinya.
"Mereka seperti dua ekor monyet yang sedang berebut pisang," seru seseorang dari belakang.
Luis menoleh dan mendapati Jesslyn berjalan menghampirinya. "Kemarilah, dan berdirilah disampingku. Jarang-jarang bukan ada pertunjukkan seperti itu," ucapnya. Jesslyn mengangguk.
Gadis itu melihat wine ditangan Luis. Kemudian Jesslyn mengambil gelas yang dipegang oleh suaminya lalu meneguk sisa wine di gelas itu. Tak ada protes dari si-empunya, Luis membiarkan Jesslyn menghabiskan wine-nya.
Mereka tak ada yang saling bicara. Sama-sama diam menikmati pertunjukan yang menyenangkan itu.
Luis lebih mendekat kepada Jesslyn, sebelah tangannya memeluk pinggang gadis itu, sudut bibir Jesslyn tertarik keatas, dengan nyaman dia menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
-
__ADS_1
-
Bersambung.