Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Mungkinkah Ini Cinta?


__ADS_3

"Huaaa.... Jesslyn, Susan!!"


Maya langsung memeluk sahabatnya itu sambil menangis histeris. Keduanya saling bertukar pandang dan sama-sama mengangkat bahunya. Jesslyn dan Susan tidak tau apa yang membuat Maya menangis begitu histeris.


Kemudian Jesslyn melepaskan pelukannya dan menatap sahabatnya itu penuh tanya. Dia dan Susan membutuhkan penjelasan sekarang.


"Hiks, Martin sangat jahat padaku. Selama ini aku sudah salah berpikir tentang dia. Dia ternyata tidaklah sebaik itu, huhuhu. Ternyata selama ini dia memiliki banyak simpanan diluar sana. Martin selingkuh dariku, sugar baby itu ternyata adalah kekasih gelapnya."


Jesslyn dan Susan sama-sama mendesah berat. Mereka sudah menduganya. Dan mereka lega akhirnya Maya sadar juga jika selama ini dia sudah dikibuli oleh suaminya.


"Lalu dimana suamimu sekarang?"


"Dia bilang mau pergi keluar kota selama beberapa hari. Ada bisnis yang harus dia urus di sana, tapi masalahnya dia pergi bersama sugar babynya itu, huaaaa...."


"Dia bilang mau pergi keman?" Tanya Jesslyn.


"Busan,"


"Tunggu apa lagi, ayo kita kejar dia. Kau apal nomor plat mobilnya bukan? Kita beri pelajaran pada mereka berdua. Kita tidak bisa membiarkan perselingkuhan itu, mereka berdua harus mendapatkan pelajaran!!" Ujar Jesslyn berapi-api.


"Setuju!!" Jawab Susan dan Maya nyaris bersamaan.


Jesslyn tau bagaimana rasanya sakitnya dikhianati. Jadi dia juga mengerti bagaimana perasaan Maya saat ini. Orang seperti Martin jika dibiarkan akan semakin melunjak, dan orang seperti itu harus segera diberi pelajaran.


.


.


"KYYYAAA!!! NYONYA, PELAN SEDIKIT MENGEMUDINYA. AKU INI BELUM MENIKAH APALAGI MERASAKAN BAGAIMANA NIKMATNYA LUBANG BUAYA WANITA, HUAAA...!!!"


Tao menjerit histeris sambil menutup matanya. Kedua tangannya berpegangan erat pada sabuk pengamannya. Ekspresi serupa juga ditunjukkan oleh dua perempuan yang duduk di jok belakang. Mereka terlihat sangat tegang dan ketakutan.


Jesslyn mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia tidak tahan dengan cara mengemudi Tao yang seperti siput, akhirnya dia memutuskan untuk mengambil alih kemudi.

__ADS_1


Mobil yang Jesslyn kemudian menyalip beberapa kendaraan yang melaju di depannya. Tak jarang mobilnya bersinggungan dengan mobil lain, yang membuat mereka nyaris saja mengalami kecelakaan.


"Jess, pelan sedikit. Jika kau ingin mati jangan ajak-ajak kami." Protes Susan.


"Ck, diamlah. Aku tidak mungkin membawa kalian bertiga menuju neraka, jika kita tidak cepat, bagaimana mungkin mobil baj!ngan itu bisa terkejar!!" Jawab Jesslyn sambil melirik Susan dari spion depan.


"Betul juga," jawab Susan membenarkan.


"Itu mobil Martin, yang warna silver." Seru Maya tiba-tiba sambil menunjuk mobil berwarna silver yang sedang melaju dengan tenang di depan sana.


"Bagus sekali, kita akan menghadangnya saat di jalanan yang sepi." Ucap Jesslyn.


Jesslyn mengurangi kecepatan pada laju mobilnya yang dia kemudikan. Tao dan Susan bisa menghela napas lega sekarang, jantung mereka pun. Dengan laju sedang, Jesslyn membuntuti mobil milik Martin.


Dan saat dijalanan yang lumayan sepi, Jesslyn menyalip mobil itu dan menghadangnya. Membuat Martin terpaksa mengerem mendadak. Awalnya Martin ingin membuat perhitungan pada gadis itu, tapi hal itu dia urungkan saat melihat siapa yang ada di mobil gadis itu.


"Sa...Sayang, kenapa kau bisa ada disini?" Gugup Martin.


Mereka sangat bar-bar, Jesslyn dan Susan melepas seluruh pakaian Martin lalu meninggalkannya dipinggir jalan hanya dengan memakai celana pendek dan singlet putih. Mobil Martin dibawah pergi oleh Maya.


Tak hanya mengambil mobil miliknya, tapi Maya juga menceraikan Martin. Dia tidak mau ditipu lagi oleh pria itu. Lebih baik dia hidup sendiri, dari pada harus memiliki suami tapi sakit hati.


-


-


Seorang pria berdiri di depan dinding kaca di sebuah ruangan di lantai 40. Mata coklatnya yang dingin dan tajam menatap pemandangan kota London yang tampak berbeda dari saat siang hari.


Perhatiannya sedikit teralihkan oleh derap langkah kaki seseorang yang datang. Seorang pria berwajah kebarat-baratan berjalan menghampirinya. "Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Lu. Sejak tiba dan sampai sekarang, aku perhatikan kau menjadi lebih banyak melamun." Ucap orang itu 'Roy'


Luis menggeleng. Kemudian dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya."Tidak ada," jawabnya datar.


"Tapi matamu mengatakan sebaliknya, kawan. Aku mengenalmu dengan sangat baik, Lu. Apa kau sedang memikirkan Anna? Pasti kau merindukan istri tercintamu itu kan," tebak Roy.

__ADS_1


Luis menggeleng. "Aku dan Anna sudah bercerai beberapa bulan lalu. Dia mengkhianatiku dan berselingkuh dengan Frangky." Jawab Luis.


"Sungguh?!" Luis mengangguk. "Lalu kau gelisah karena apa? Atau mungkin ada orang lain yang kau cintai?" Tebak Roy 100% benar.


"Aku sendiri tidak tau. Yang aku rasakan padanya cinta atau bukan. Aku merasa rindu saat jauh, hatiku kosong saat dia tidak berada di sisiku, hatiku sakit saat melihat dia meneteskan air mata dan aku merasa takut kehilangan dia." Tutur Luis.


Roy tersenyum lebar. "Sudah jelas sekali, itu adalah cinta hanya saja kau belum menyadarinya. Memang cinta baru terasa saat kau berada jauh darinya, ketika kau telah kehilangannya. Saranku, sebaiknya segera ungkapkan perasaanmu ini sebelum terlambat dan kau kehilangan dia."


"Tapi bagaimana kalau dia tidak memiliki perasaan yang sama denganku?"


"Apapun perasaannya, yang penting kau sudah mengetahui bagaimana perasaan dia padamu dan perasaanmu padanya. Rapat setengah jam lagi, sebaiknya kau segera bersiap-siap. Aku keluar dulu," Roy menepuk bahu Luis dan pergi begitu saja.


Luis mengangkat kepalanya. Sepasang iris matanya menatap langit malam bertabur bintang. Luis mengeluarkan ponselnya lalu mencari kontak nama Jesslyn. Tapi tidak ada jawaban.


Luis memutuskan panggilan itu lalu memasukkan ponselnya ke saku celananya. Kemudian dia melenggang keluar karena rapat akan di mulai sebentar lagi.


-


-


Jesslyn yang baru selesai mandi mengecek ponselnya dan mendapati satu panggilan tak terjawab dari Luis. Jesslyn mencoba menghubunginya balik, tapi nomornya malah tidak aktif.


Gadis itu mengangkat bahunya acuh. Jesslyn meletakkan handuknya lalu duduk di depan meja riasnya. Perawatan rutin sebelum tidur, jika saja ada Luis, pasti dia memiliki teman untuk mengobrol. Tapi sayangnya Luis tidak ada, dia sedang pergi ke luar negeri.


Jujur saja Jesslyn sangat kesepian tanpa Luis disisinya, dia sudah terbiasa dengan kehadiran pria itu. Baru juga satu hari, tapi rasanya dia sudah sangat merindukannya, apakah sungguh ini adalah hal yang wajar?!


"Luis Qin, sebenarnya mantra apa yang kau gunakan untuk menjeratku, huh? Kenapa aku merasa kosong dan sepi saat kau tidak ada, apakah aku benar-benar sudah jatuh cinta padamu?!"


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2